Minggu, 28 Agustus 2016

Penantian dan Perjuangan

"Mbah, siapa lelaki yang duduk lesu di bawah pohon itu, Mbah?" tanya

udin kepada Nyai Kumprung.



"Mana le? Ngawur kamu, wong nDak ada siapa-siapa je! Cepetan, buruan,

iket kayunya yang kenceng, kayu sebanyak ini cukuplah buat nanak nasi

aking dua hari" jawab Nyai Kumprung.



"Itu Mbah, itu…..duduk di bawah pohon akasia mati di sebrang kali

itu…" teriak udin sambil menunjuk ke arah barat di seberang kali di

depan gubug reotnya.



"oh, itu le…wis-wis!, jangan diurusin, nanti kamu ketularan

penyakitnya" jawab Nyai Kumprung sambil bergegas membawa ikatan kayu

bakar masuk ke gubug reotnya. Dan Si Udin pun mengikuti di

belakangnya. Nampaknya memang senja itu cuaca sedang mendung, mungkin

sebentar lagi akan turun hujan.



"Le, buruan mandi, udah maghrib, ngaji ya le biar pinter kaya ibumu"

teriak Nyai Kumprung dari dapur sambil meniup nyala api di tungku yang

kadang mati tertiup angin. Tapi nampaknya Udin tak menghiraukan

teriakan neneknya.



"huuh…! beginilah kalo sudah tua, udah jatuh ketiban tangga pula!"

guman Nyai Kumprung seakan menyesali nasib di kandung badan.

"Emange kenapa Mbah? Mbah nggak jatuh, nggak ketiban tangga pula.."

jawab Si Udin yang tiba-tiba menyela.

"walah, kamu leee…thole, mbok ya disuruh mandi, sembayang maghrib,

ngaji, gitu aja ko' repot, ini loh Mbah-mu, nglairin ibu-mu, merawat

ibu-mu, sekarang momong kamu, aku kurang payah gimana lee…, udah setua

ini, ntar kalo Mbah mati siapa yang ngirim doa, hiks, hiks…!"gerutu

Nyai Kumprung sambil menangis menyesali diri.



"Le, kamu tau ndak, itu lelaki yang di bawah pohon akasia itu? Itu

arwah bapakmu le?" kata Nyai Kumprung.



"arwah bapakku Mbah? Katanya Bapak ke Arab, jadi TKI?" jawab Si Udin heran.



"yang jadi TKI itu ibumu, Bapakmu mati penasaran, menunggu ibumu ndak

pulang-pulang" kata Nyai Kumprung.



"kenapa Mbah?" tanya Udin.



"Bapakmu orangnya pemalas, ndak mau kerja, tapi maunya makan enak,

akhirnya ibumu jadi TKI, dan bapakmu selingkuhi bini orang" jawab Nyai

Kumprung,



"terus gimana Bapak, Mbah?" tanya Udin. "mati dikroyok orang" jawab Nya.





7 Juni 2011 17:08

By Muhammad Saroji

Majalah Sastra

© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini