Rabu, 31 Agustus 2016

Catatan Kecil Sang Narapidana : Hati Penyair Kepada Sahabatnya

Sahabatku,

Malam ini Purnama timbul tenggelam, bersembunyi di balik tirai malam.





Sahabatku,

indah bukan bila kita bersahabat dan bersaudara,

tapi selama ini kita tak pernah bertatap muka,

berjabat apalagi bercengkrama,

toh kita telah hadir dalam do'a

dalam harapan

dalam jiwa yang tak pernah bersetubuh

apalagi bercinta.





Inilah penjara,

akulah narapidana,

terkurung dalam kepalsuan diri

bercumbu dalam ratapan kata,

lirih, hampir tanpa makna

menitikan bulir air mata

kering ditelan padang pasir.





Sahabatku,

telah berakhir penantian,

telah meluap rindu bak bengawan

kering kerontang.





Bukankah tatapan mata langit meruntuhkan daun kering berguguran?

Kulitku

mataku

kakiku

menjamah flamboyan, merah,

mengingatkanku ketika kau katakan

…akulah cintamu,

akulah hidupmu

akulah matimu

akulah surgamu.





Sahabatku,

penantian telah berakhir

pada saat purnama kan bergulir,

bukan aku cintamu

bukan untukku hidupmu

bukan untukku matimu

bukan untukku surgamu…,





---

Batu Ceper - Tangerang 19 maret 2011 - 01:34

By Muhammad Saroji - Majalah Sastra

© Copyright - All Rights Reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini