Senin, 29 Agustus 2016

Cinta Berbalut Gerimis

Kau,

bisu menerawang pada lazuardi senja,

setia menunggu kembalinya si kecil dari ujung pematang sawah,

rindu itu seperti jilatan api kecil,

temaram seperti cahaya lilin ditiup angin.



Kau,

selalu bernyanyi tra la la, tri li li....,

padahal suaramu sumbang seperti kaleng rombeng,

percayalah, tapi itu bukan suara hatimu,

suara hatimu adalah dendam dan kebencian,

tentang penindasan dan kebiadaban

dari orang-orang yang mendakwakan diri sebagai penguasa,

sebagai penegak hukum,

pengemban amanat,

padahal pengkhianat.



Kau,

Lantang suaramu memekak telinga,

berisik mengusik di antara deru angin dan rinai gerimis.



Di negeri ini,

kau bebas bersuara bukan?

bebas mengaji dan berdzikir,

itulah kemerdekaan.



By Muhammad Saroji

Majalah Sastra

© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini