Senin, 29 Agustus 2016

Perjalanan Tak Bertepi

Ku pandangi dirimu dari puncak tebing ini,

diri yang selalu melangkah, tertatih-tatih

ku hela nafas panjang sesekali

menggelengkan kepala, menyesali mengapa mesti terjadi perjalanan ini,

perjalanan yang tak pernah bertepi.





Sesekali antara batu dan jari kaki bertaut

darah menitik, meringis perih

duh, inikah kenikmatan penderitaan

dari hati manusia tersisih.





Gelak tawa peri bidadari

mendekap awan dalam peraduan mimpi,

sejoli hati melenguh sedih

di antara langit dan bumi.





Kemanakah hendak mengepakkan sayapnya,

dirimu perkasa bertahta bak maharaja

duh, mawar berduri keringlah sudah

terpinggirkan dari melati putih…





Di sinilah meredakan kemarahan,

di puncak tebing…



6 Mei 2011 17:26

By Muhammad Saroji

Majalah Sastra

© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini