Senin, 02 November 2020

Untuk kami benar, untuk kalian salah

Untuk kami benar, untuk kalian salah

Sering membantah argument orang lain yang membawakan fatwa atau pendapat ulama dengan menyatakan bahwa "ucapan atau fatwa ulama bukan dalil, ulama juga bisa salah". Tapi di sisi lain sering membawakan fatwa atau pendapat ulama untuk membela pendapatnya. Padahal sama-sama tidak disebutkan dalilnya. Dengan tema dan perbuatan yang sama, bisa divonis berbeda.  Untuk 'kami' benar dan untuk 'kalian' salah. Standar ganda.

Jadi, masalah sebenarnya bukan ada tidaknya dalil, atau disebutkan tidaknya dalil, tapi sesuai tidaknya dengan pendapat 'kami'. Jika sesuai, walau tanpa dalil atau tanpa disebutkan dalilnya tidak masalah. Tapi kalau tidak sesuai, berapapun dalil yang dibawakan akan ditolak, apalagi tidak disebutkan dalilnya. Pokoknya yang benar cuma 'kami' dan yang lain harus salah. Ini salah satu bentuk ta'ashsub (fanatik buta) yang sering tidak disadari oleh para pelakunya.

Saudaraku, fatwa atau pendapat ulama memang bukan dalil. Kita juga tidak pernah menjadikannya sebagai dalil. Yang namanya dalil itu Qur'an, Hadis, Ijma' dan qiyas. Ini yang disepakati. Yang diperselisihkan masih banyak. Maka, saat kita mendapatkan pendapat ulama  yang tidak disebutkan dalilnya, hendaknya kita berhusnu dzan (baik sangka) kepada mereka bahwa sebenarnya ada dalinya, tapi dengan berbagai pertimbangan "sengaja tidak disebutkan". Mungkin untuk meringkas, atau untuk meringankan orang awam dalam memahaminya, atau khawatir memberatkan, atau pertimbangan yang lain.

Bagaimana mungkin mereka berpendapat tanpa didasarkan kepada dalil ? Sedangkan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, berilmu, amanah, dan merupakan pewarisnya para Nabi. Pantaskah kita mengklaim diri kita senantiasa di atas dalil sedangkan mereka (para ulama) kita tuduh tidak di atas dalil ? Kalau tidak tahu dalilnya, jujur saja katakan tidak tahu. Kalau tidak paham dalilnya, jujur saja katakan tidak paham. Jangan sampai seorang menggunakan kebodohannya  untuk menyalahkan orang lain. 

Menuduh ulama Rabbani berpendapat tanpa dalil, itu sama saja berburuk sangka kepada mereka.Buruk sangka kepada mereka, sama saja dengan merendahkan mereka. Merendahkan mereka, sama saja merendahkan Allah dan Rasul-Nya. Kalau misalkan kita tidak sependapat dengan mereka dalam suatu permasalahan, maka cukup tidak sependapat saja tanpa harus dibumbui dengan berbagai tuduhan dan buruk sangka. Tidak sependapat itu boleh, menghormati mereka hukumnya wajib, sedangkan merendahkan mereka hukumnya haram.

Imam Ibnu Asakir (w. 571 H) rh dalam kitab "Tabyin Kadzibil Muftari", hlm. (29) berkata  : 

إِن لُحُوم الْعلمَاء مَسْمُومَة وَعَادَة اللَّه فِي هتك أَسْتَار منتقصيهم مَعْلُومَة لِأَن الوقيعة فيهم بِمَا هم مِنْهُ برَاء أمره عَظِيم والتنَاول لأعراضهم بالزور والافتراء مرتع وخيم

"Sesungguhnya daging ulama itu beracun. Dan kebiasaan Allah dalam mengoyak tirai orang yang merendahkan mereka adalah perkara yang pasti. Karena sesungguhnya mencela mereka dengan suatu alasan yang mereka berlepas diri darinya merupakan perkara yang besar (tanggungjawabnya). Dan membicarakan kehormatan mereka dengan keburukan dan kedustaan, merupakan fitnah yang sangat berat."

Wallahu Al-Muwaffiq ila aqwam Ath-Thariq

16 Rabi'ul Awwal 1442
Abdullah Al-Jirani

Sumber : (Facebook)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar