Sabtu, 26 September 2020

Memahami Ilmu Agama Tidaklah Dapat Disederhanakan Dengan Kalimat Ikuti Saja Sunnah

Memahami ilmu agama tidaklah dapat disederhanakan dengan kalimat "ikuti saja sunnah". Diperlukan perangkat untuk dapat mengikuti sunnah sebagaimana yang dipahami oleh para ulama--dalam konteks ini para sahabat radhiyallāhu ta'āla anhum merupakan kelompok terdepan dalam barisan ulama. 


Menyederhanakan pemahaman ilmu agama, dengan kalimat "ikuti saja sunnah" membuka kemungkinan bagi kalangan awam untuk terjerumus ke dalam kesesatan. Syaikh Ibnu al-Wahhāb rahimahullah, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Muhammad Awwāmah, mengatakan: 

الحديث مَضلَّةٌ الَّا للْعلَماءِ

Hadits merupakan tempat yang membuat orang (awam) menjadi sesat, kecuali bagi para ulama. 

Kesesatan yang dimaksud di dalam pandangan Syaikh Ibnu Wahhab di atas adalah sesat pikir di dalam memahami hadits karena tidak menggunakan perangkat ilmu. Di antara contoh sesat pikir itu, adalah kekeliruan di dalam memahami hadits berikut: 

أَيُّمَا إِمرأةٍ اسْتعْطرتْ فَمرَّتْ عَلَى قَوْم ليجدوا ريْحَها فهِي زانيةٌ

Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu ia berjalan melintas suatu kaum dengan maksud supaya mereka mengetahuinya, maka perempuan itu adalah pezina...(riwayat Ibnu Hibban, Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan al-Nasa'i) 

Sebagian orang awam memahami hadits sebagai keharaman bagi perempuan memakai minyak wangi. Sebab itu, tidak sedikit muslimah yang mengenakan hijab menganggap haram pemakaian wangi. Padahal, di dalam hadits itu ada penekanan tentang tujuan (maqshad) dari celaan Nabi terhadap perempuan yang memakai minyak wangi, yaitu bertujuan untuk mengalihkan perhatian banyak orang dengan wewangian yang digunakannya. Sehingga, karena kekeliruan di dalam memahami hadits, sebagian ustadz dadakan atau sebagian akhwat hijrah memberi label "pezina" atau "pelacur" terhadap perempuan yang memakai minyak wangi, wal 'iyādzu billāh.

Untuk menghindari kesalahan di dalam memahami sunnah itu, para ulama menyusun ilmu fikih, dengan epistemologi dan metodologi yang matang. Ilmu fikih tidak sekedar menyajikan ayat al-Qur'ān dan hadits seperti parade dalil. Tapi juga menyajikan penalaran yang lurus di dalam memahami kandungan, konteks, dan relasi dari kedua sumber ajaran Islam tersebut. 

Di dalam kitab Tuhfat ul-Habib bi Syarh il-Khathib atau yang popular dengan sebutan Hasyiah al-Bujairimy, epistemologi dan metodologi itu disajikan secara apik oleh Syaikh Sulaiman ibn Muhammad al-Bujairimy, salah satu ulama al-Azhar masa lalu. 

Syaikh al-Bujairimy rahimahullah, di dalam komentarnya terhadap Syarah Iqna Syaikh al-Khatib al-Syirbini ini, menyuguhkan pemahaman yang runtut terhadap ibarot-ibarot (narasi deskriptif) gurunya Syaikh al-Khatib al-Syirbini. 

Sependek pemahaman saya terhadap Hasyiyah al-Bujairimy ini, Syaikh Sulaiman al-Bujairimy mengetengahkan analisis yang lengkap dari banyak sisi, mulai dari ilmu nahwu, balaghah, tafsir, hadits, aqwāl ul-Ulama (pendapat para ulama mazhab), dan tasawwuf. 

Bagi pembelajar matan Alfiyyah, Hasyiyah al-Bujairimy, menyajikan penerapan kaidah-kaidah nahwu, sebagaimana termuat di Alfiyah Ibnu Malik, di dalam kalimat-kalimat yang digoreskan oleh Syaikh al-Khatib al-Syirbini. 

Di pesantren-pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kitab Hasyiyah al-Bujairimy ini dibaca dan diulas hingga khatam. Sehingga dengan mempelajari kitab ini, para pembelajar dapat memahami sebagian dari khazanah keilmuan mazhab Imam al-Syāfi'i radhiyallāhu 'anhu. 

Dengan mempelajari kitab ini pula, dan juga kitab-kitab fikih lainnya, kita seperti diajak untuk mengarungi lautan keilmuan Islam yang sangat luas. Dari situ kita bisa memahami ayat: 

(قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادࣰا لِّكَلِمَـٰتِ رَبِّی لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَـٰتُ رَبِّی وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدࣰا)

Katakanlah (Muhammad), "Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."

[Surat Al-Kahfi 109]

Jadi, berhijrahlah dengan benar sebagaimana para ulama dahulu melakukannya. Jangan berhijrah asal lari dan asal beda (beza). Itu bukan hijrah tapi minggat dan mengganti identitas...😁

Tidak ada komentar:

Posting Komentar