Selasa, 28 April 2020

Al Basthu dan Al Qobdhu (2)

Ilustrasi


 البَسْطُ تاءْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهاَ بِوُجُودِ الفَرَحِ والقبضُ لاَ حَظَّ للنَّفْسِ فِيْهِ 

" Didalam keadaan lapang (bashtu), hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam keadaan sempit (qobdhu) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu."

Hikmah ini menjelaskan hikmah sebelumnya tentang sulitnya menjaga adab/ tatakrama kepada الله dikala keadaan Basthu,maka dari itu sedikit sekali orang yang bisa menepati adab kepada الله dikala Basth.
 karena itu manusia lebih aman dalam kesempitan, karena hawa nafsu tidak dapat berdaya dan tidak dapat bagiannya.
Syeih Abul Hasan Assayadzily رضي الله عنه. berkata: Alqobdhu wal Basthu (  susah /sedih dan senang dalam hati) itu selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih bergantinya siang dan malam.Dan sebabnya qobdhu (susahnya hati) itu salah satu dari tiga: karena dosa atau kehilangan dunia. atau dihina orang. maka jika seseorang merasa berdosa maka segeralah bertaubat. jika kehilangan dunia, maka harus rela dan menyerahkan kepada hukum الله. dan jika dihina orang  harus sabar. dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan orang lain, 
Dan apabila terjadi qobdh yang tidak di ketahui penyebabnya, maka harus tenang dan menyerah kepada الله. ان شاء الله tidak lama akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang, adakalanya terangnya bintang, yaitu ilmu. atau sinar bulan yaitu tauhid. atau matahari yaitu ma'rifat. tetapi jika tidak tenang di masa gelap (qobdh) mungkin akan terjerumus kedalam kebinasaan.
Adapun masalah basthu (riang/senangnya hati), maka sebabnya adalah satu dari tiga ini: karena bertambahnya kelakuan ibadah/taat dan bertambahnya ma'rifat atau bertambahnya kekayaan atau kehormatan dan yang ke tiga karena pujian dan sanjungan orang kepadanya. 
maka adab seorang hamba :jika merasa bertambah kelakuan ibadahnya dan ilmu ma'rifatnya, harus merasa bahwa itu semata-mata karunia dari الله,dan berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari hasil usahanya sendiri. dan jika mendapat tambahnya harta dunia, maka ini pula sebagai karunia dari الله juga, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya. adapun jika mendapat pujian dari orang lain kepadamu, maka kehambaanmu harus bersyukur kepada الله yang telah menutupi kejelekanmu/ aibmu, sehingga orang lain hanya melihat kebaikanmu. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar