Senin, 10 Februari 2020

Syar'u Man Qablana dalam Al-Quran

By. Ahmad Sarwat, Lc.MA

Dalam Al-Quran banyak sekali termuat kisah umat sebelum kita. Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik.

Namun jangan lupa bahwa syariat mereka tidak selalu sama dengan syariat yang turun kepada kita. Ilmunya ada dalam ushul fiqih, yang disebut : syar'u man qablana.

1. Sujud Kepada Manusia

Misalnya dikisahkan dalam Al-Quran bagaimana malaikat sujud kepada Adam, atau ayah ibu dan saudara-saudara nabi Yusuf sujud kepadanya. Kita tahu sujudnya mereka bukan sujud ubudiyah, tapi sujud penghormatan. 

Namun dalam syariat kita tetap saja sujud kepada selain Allah itu dilarang, meskipun sekedar untuk penghormatan. 

2. Bikin Patung

Nabi Sulaiman memerintahkan untuk bikin patung-patung (tamatsil). Pastinya tidak untuk disembah. Hal semacam itu disebutkan dalam Al-Quran.

Namun dalam syariat kita, kebanyakan para ulama sepakat mengharamkan patung 3 dimensi berupa makhluk hidup seperti manusia dan hewan. Sedangkan gambar di atas bidang datar mereka beda pendapat akan larangannya.

3. Memelihara Jin

Kisah Nabi Sulaiman memelihara jin yang siap disuruh-suruh itu ada dalam Al-Quran. Namun bolehkah kita umat Muhammad memelihara jin berkolaborasi? 

Kebanyakan ulama melarangnya. Meski ada satu dua yang membolehkan.

4. Dosa Langsung Diazab

Kisah umat terdahulu dalam Al-Quran rata-rata tidak ada yang happy ending. Kebanyakan kisah mereka di dalam Al-Quran langsung disiksa dan diazab denga beragam teknik.

Ada yang dibenamkan dalam banjir bandang,  ditenggelamkan di laut merah, dijebloskan ke dalam bumi, ditiupkan angin ribut,  digoyang gempa, dikejutkan suara suara memekakkan telinga, dan lainnya.

Malah ada yang dikutuk jadi monyet selama beberapa hari sebelum akhirnya dimatikan. Pokoknya semua horor. Dan hukuman itu dibayar kontan.

Berbeda dengan perlakuan Allah kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Meski orang senegara kafir semua, bahkan pada jadi atheis sekali pun, ternyata hukuman buat mereka tidak langsung dibayar kontan. Ada semacam penangguhan dari Allah.

Seandainya hukuman model umat terdahulu masih berlaku saat ini, maka peta demografi dunia berubah. Bencana alam kiriman Allah hanya akan melanda negeri yang bukan muslim saja. Negeri Islam dijamin aman-aman saja. 

Bencana yang mematikan manusia hanya sebatas Benua Eropa, Australia, Amerika, sebagian Asia dan Afrika.

Dan negeri yang mayoritas muslim seperti Indonesia, Pakistan, Turki, dan negara-negara Arab pastinya steril dari bencana. 

Bayangkan akan terjadi migrasi besar-besaran dari sejumlah negara kafir ke negara-negara Islam. Dan akan ada antrian panjaaaaang untuk masuk Islam. Halaman masjid dipenuhi calon muallaf yang waiting list berbulan-bulan. 

Tapi . . .

Syariat kita tidak sama dengan syariat umat terdahulu. Tidak mentang-mentang suatu negeri banyak orang kafirnya, lantas diturunkan azab. Sebaliknya, tidak mentang-mentang suatu negeri banyak muslimnya, dijamin aman dari bencana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar