Rabu, 27 November 2019

Alquran, Umat Islam, dan Persaudaraan Universal

Buya Syafi'i Ma'arif

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Saya tidak tahu apakah ada Kitab Suci selain Alquran yang siap untuk diterima atau ditolak dengan memanggil semua otak-otak besar yang pernah dikenal umat manusia sepanjang sejarah (lih. misalnya s. al-Baqarah: 23; s. al-Isrâ: 107). Tantangan ini akan berlaku sepanjang zaman sampai rapuhnya dunia ini. Dengan pengetahuan yang terbatas tentang Alquran, Resonansi ini akan mencoba mengurai tiga bahasan yang saling berkait itu sebagai bagian dari kegelisahan batin saya yang sudah dirasakan sejak masih kuliah di Universitas Chicago antara tahun 1979 s/d 1982.

Selama di Chicago alm. Fazlur Rahman telah membuka hati dan otak saya tentang makna Alquran bagi umat Islam dan kemanusiaan seluruhnya. Salah seorang mantan mahasiswanya di Chicago, Prof. Frederick Danny, menulis tentang Rahman: “His mind changed, his position evolved but his central coordinate was always the Qur’an.” (Mindanya berubah, posisinya berkembang tetapi koordinat/titik perhatian? utamanya tetaplah Alquran). Bagi Rahman, Alquran punya pandangan dunia tertentu yang utuh-komprehensif, oleh sebab itu pendekatan yang serba ad hoc tidak akan menyingkapkan pandangan dunia itu secara adil. Tuan dan puan yang ingin mengenal pandangan Rahman tentang Alquran setidak-tidaknya dapat diikuti melalui karya pengantarnya: Major Themes of the Qur’an (terbit pertama kali tahun 1980). Perbincangan tentang karya ini telah dilakukan oleh banyak pihak, bisa ditelusuri via Google.

Semakin lama, beban batin terasa semakin berat, sedangkan jalan keluarnya sebenarnya sudah tampak, tetapi selalu saja diterpedo oleh kenyataan pahit umat Islam yang masih saja berendam di dalamnya. Bermacam tafsir Alquran  telah saya baca, tetapi tetap saja menyisakan pertanyaan besar: mengapa Alquran yang begitu dimuliakan gagal difahami secara benar oleh umat ini untuk dijadikan pedoman hidup? Mengapa perintah-perintah utamanya yang sederhana dianggap angin lalu saja oleh umat yang mengaku beriman kepadanya? Pertanyaan semacam ini bisa sangat panjang, tetapi kita cukupkan dua saja dalam tulisan ini.

Kita pusatkan pembicaraan kita pada ayat 10 dan pada saatnya nanti akan dilanjutkan pula ayat 13 dari surat al-Ĥujurât (49), sebuah surat yang diturunkan di masa Madinah sekitar tahun sembilan hijriah (631 M). Ayat 10 yang terjemahan bebasnya adalah: “Sesungguhnya pilihan yang sah bagi orang-orang beriman itu adalah bersaudara. Maka oleh sebab itu damaikanlah antara dua saudara kamu [yang bertikai]. Dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu diberi rahmat.” Awal ayat ini menggunakan ungkapan innamâ yang dalam bahasa Arab bertujuan untuk membatasi (lilĥashr). Artinya dalam konteks ini, orang beriman itu hanya punya satu pilihan yang sah dalam hidup kolektif mereka: bersaudara. Titik!

Tetapi mengapa dalam berbagai periode sejarah bahkan sampai hari ini, umat Islam memilih jalan hidup yang tidak sah dengan sering bertikai dan berperang sesama mereka? Jawaban yang tersedia dalam hati saya adalah karena ego, kepentingan sesaat, dan hawa nafsu yang tak terkendali di kalangan sebagian umat. Manakala ego, kepentingan, dan hawa nafsu mengalahkan kekuatan firman Allah, berarti kita telah berkhianat terhadap Alquran, tetapi mengapa kita masih saja mengaku beriman kepada Kitab Suci ini? Tiga nilai buruk itu bisa saja dibungkus dalam selimut nasionalisme seperti yang sekarang berlaku antara Iran dan Saudi Arabia. Dalam kasus dua negara ini, yang dominan adalah sifat hegemonik, bukan karena perbedaan mazhab keagamaan.

Dalam skala yang lebih kecil, penyebab perbelahan antara partai-partai dan golongan-golongan Islam di Indonesia tidak akan jauh dari ketiga faktor di atas: ego, kepentingan, dan hawa nafsu. Ironisnya, semuanya ini tidak jarang ditutupi dengan dalil-dalil agama yang dikutip tanpa rasa tanggung jawab iman. Alangkah sulitnya menundukkan egoisme kepada kehendak wahyu. Jika wahyu tidak mampu lagi membimbing prilaku kolektif umat Islam, lalu apa lagi yang masih tersisa yang dapat dipedomani? Tidak ada lagi yang tersisa.


Umat Islam yang sekarang jumlahnya sekitar 1,6 miliar di muka bumi adalah bagian dari kemanusiaan universal, tetapi perannya masih berada di buritan peradaban. Banyak faktor, internal dan eksternal, yang terlibat di dalamnya mengapa situasinya demikian menyedihan, apa pun ukuran yang dipakai orang untuk itu. Antara al-Qur’an dan umat Islam terbentang jurang yang lebar sekali. Sedikit contoh di atas telah menjelaskan apa yang kita maksud. Contoh lain bisa berjibun

Dalam Mukhtashar min Tafsîr al-Imâm al-Thabarî dan Qur’ân Karîm: Tafsîr wa Bayân ma’a Asbâb al-Nuzûl li-‘l-Suyûthî, ayat 10 surat al-Ĥujurât di atas tidak diberi penjelasan tentang betapa pentingnya ungkapan innamâ di awal ayat itu. Saya heran mengapa kedua mufassir klasik yang berbeda abad itu tidak membahas prinsip utama tentang persaudaraan orang beriman ini. Mungkin dianggap ayat itu sudah sangat jelas, karenanya tidak perlu diberi penjelasan lagi. Atau mungkin juga karena yang saya cek ini adalah ringkasan kedua tafsir itu, di dalamnya ayat 10 itu tidak disertakan penjelasannya oleh yang meringkas.

Dalam suasana perpecahan masif dunia Islam sekarang ini, ayat ini perlu disuarakan dengan sangat lantang, sebab siapa tahu masih ada hati umat Islam yang akan menjadi lembut dan tersentuh oleh kandungannya yang terang benderang itu. Kita semua sadar bahwa perpecahan pasti bermuara kepada kehancuran atau kekalahan, tetapi ajaibnya kita tidak mau memasang rem untuk mencegahnya.

Sebagian mufassir kontemporer memang memberi ulasan terhadap ayat 10 itu. Muĥammad ‘Alî al-Shabûnî dalam Shafwat al-Tafâsîr, (1405 H/1985), Vol. 3, misalnya memberikan ulasan atas ayat 10 itu sebagai berikut: “Tidak ada persaudaraan kecuali antara orang-orang yang beriman, tidak ada persaudaraan antara seorang mu’min dengan seorang kafir…persaudaraan Islam lebih kokoh dari pada persaudaraan berdasarkan keturunan” (hlm. 235). Ungkapan terakhir inilah sebenarnya yang mesti dipedomani oleh umat Islam sedunia bahwa ikatan keturunan, latar belakang sejarah, dan bangsa tidak boleh menghancurkan bangunan persaudaraan universal berdasarkan agama. Tetapi yang berlaku adalah sebaliknya: persaudaraan imaniah berantakan akibat perbedaan suku, bangsa, mazhab, dan latar belakang sejarah. Betapa jauhnya bangunan dunia Islam dari cita-cita mulia Alquran.

Adalah mufassir A Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an (cet. 1975, hlm. 1405 catatan no. 4928) yang dengan bagus sekali memberi penjelasan atas ayat 10 itu sebagai berikut: “The enforcement of the Muslim Brotherhood is the greatest social ideal of Islam. On it was based the Prophet’s Sermon at the last pilgrimage, and Islam cannot be completely realized until this ideal is achieved.” (Pelaksanaan/penguatan Persaudaraan Muslim merupakan cita-cita sosial Islam yang terbesar. Atas`dasar itulah Khutbah Nabi saat di haji wada’ disampaikan, dan Islam tidak mungkin diwujudkan dengan sempurna sampai cita-cita ini berhasil diraih). Bagi saya, Yusuf Ali telah menangkap dengan sempurna pesan historis dari ayat 10 ini.

Bagaimana pula mufassir Hamka menjelaskan ayat 10 itu? Inilah kutipannya: “Maka ayat 10 Surat ini menjelaskan yang lebih positif lagi, bahwasanya kalau orang sudah sama-sama tumbuh iman dalam hatinya, tidak mungkin mereka bermusuhan. Jika tumbuh permusuhan lain tidak adalah karena sebab yang lain, misalnya karena salah faham, salah terima” (lih. Tafsir al-Azhar (2007, Juz XXV-XXVI, hlm. 199). Hamka benar, tetapi yang berlaku di dunia Islam sekarang tidak saja salah faham. Jauh melampaui itu. Kepentingan dan perlombaan duniawi telah mengalahkan cita-cita agung tentang persaudaraan yang demikian tajam, tetapi puitis, disampaikan Alquran puluhan abad yang silam. Dengan mengabaikan pesan ayat 10 ini, jangan terlalu berharap bahwa rahmat Allah akan turun kepada kita sebagaimana terbaca di ujung ayat itu. Ada tiga syarat untuk mengundang turunnya rahmat itu: kokohnya persaudaraan, perdamaian, dan sikap taqwa yang tulus. Nilai-nilai inilah yang tengah absen dalam komunitas Muslim di berbagai bagian dunia.

Tetapi tuan dan puan jangan sampai kehilangan asa mengikuti penjelasan Resonansi ini. Penulisnya tetap optimis bahwa pada saatnya nanti umat Islam akan sadar dan mau berunding dengan Alquran dengan kesediaan mengoreksi prilakunya yang menyimpang selama ini dari ketentuan agama yang benar, khususnya yang bertalian dengan persaudaraan imaniah.

Prinsip persaudaraan berdasarkan iman telah kita jelaskan dengan cita-cita sosial mulia yang menyertainya dan rintangan-rintangan utama yang menjadi sandungannya. Pada bagian ke-3 nanti, kita tengok pula gagasan Alquran tentang prinsip persaudaraan universal di antara umat manusia yang berbeda iman atau dengan mereka yang tidak beriman sama sekali. []

Kita kutip makna ayat 13 surat al-Hujurat secara lengkap, “Wahai manusia! Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan puak agar kamu saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahasadar.”

Yang dipanggil oleh ayat bukan hanya orang beriman. Mufasir Muhammad Asad dalam The Message of the Qur'an (1980, halaman 792) memberi ulasan tentang etika sosial yang terkandung dalam ayat 13 ini. Kita kutip, “Bermula dengan penghormatan yang ditujukan kepada Nabi (dalam ayat 2-7) dan implikasinya kemudian atas kepemimpinan umat yang benar sesudahnya, diskursus ini mencapai puncaknya pada prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman (ayat 10), dan dalam pengertian yang terluas, persaudaraan seluruh umat manusia (ayat 13).”

Panggilan “Wahai Manusia!” dengan sendirinya bersifat umum, satu iman atau dalam lintas iman, lintas bangsa, dan lintas puak, atau lebih luas dari itu. Muhammad Asad dengan mengutip pendapat para mufasir Zamakhshari, Razi, dan Baydhawi bahwa penciptaan manusia dari seorang ayah dan seorang ibu mengandung prinsip “persamaan asal-usul biologis yang merefleksikan persamaan martabat manusia yang bercorak umum buat semua” (halaman 792 catatan no 15). Tetapi posisi termulia di mata Allah tetaplah diberikan kepada mereka yang paling bertakwa, sebuah posisi yang terbuka untuk semua manusia berdasarkan ayat 13 itu.

Dalam bacaan saya atas Alquran, memang banyak perintah agar manusia itu beriman yang terdapat dalam belasan ayat karena dengan iman itu manusia akan punya urat tunggang sebagai pegangan batinnya yang paling kuat. Tetapi, ada sebuah ayat dalam surat al-Nisa' (4): 136 yang memanggil orang yang sudah beriman untuk beriman, “Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya dan [kepada] Kitab yang diturunkan atas rasul-Nya dan [kepada] Kitab yang telah Ia turunkan sebelumnya. Dan barang siapa yang tidak percaya kepada Allah dan malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya dan hari akhir, maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”

Jelas di sini bahwa seorang yang sudah beriman pun masih diperintahkan agar bersungguh-sungguh dalam imannya, tidak boleh bermain-main dengan iman itu. Tetapi karena manusia diberi kemauan dan pilihan bebas untuk beriman atau tidak beriman dengan segala risikonya, maka terbacalah ayat berikut, “Berimanlah kamu kepadanya atau janganlah kamu beriman.” (QS al-Isra': 107); juga ayat ini, “Apakah engkau [Muhammad] ingin memaksa manusia agar mereka semuanya beriman?” (QS Yunus [10]: 99).

Selengkapnya makna ayat itu adalah sebagai berikut, “Dan jika Allah menghendaki, sungguh berimanlah seluruh umat manusia, apakah engkau ingin memaksa manusia agar mereka semuanya beriman?” Ada lagi ayat dalam surat al-Baqarah (2): 256, “Tidak ada paksaan dalam agama.”

Rupanya masalah iman ini bukanlah masalah sederhana. Rumit dan penuh misteri! Memerlukan izin Allah untuk beriman itu (lihat ayat 100 surat Yunus). Terus terang saja, saya gamang karena tidak tahu pasti apakah iman saya ini sudah benar atau belum. Ada doa untuk itu, “Ya Muqalliba al-qulub, tsabbit qalbi 'ala dinika wa 'ala tha'atik” (Wahai Zat yang membolak-balik hati! Teguhkan hatiku atas agama-Mu dan dalam sikap taat kepada-Mu).

Berdasarkan pengalaman empirik manusia sepanjang sejarah, ternyata tidak semua orang mau beriman di atas Planet Bumi ini. Ayat-ayat di atas membenarkan fakta itu semua. Dengan perkataan lain, pilihan bebas manusia telah membawa mereka kepada iman atau tidak beriman. Pertanyaan krusial yang muncul dari sini adalah apakah mungkin tercipta sebuah persaudaraan universal antara kelompok manusia beriman dan kelompok mereka yang tidak beriman?

Mungkin pandangan selintas akan mengatakan: persaudaraan antara orang beriman saja sulit diwujudkan, apalagi persaudaraan antara mereka yang beriman dan mereka yang tidak beriman. Agak masuk akal juga pandangan ini, tetapi menyesatkan jika kita mengacu kepada Alquran.

Penciptaan persaudaraan universal sangat mungkin dengan syarat kita menyepakati beberapa prinsip etika sosial yang dihormati semua pihak. Pertama, harus diakui dulu bahwa Planet Bumi ini adalah untuk seluruh manusia, beriman atau tidak beriman. Tak seorang pun yang punya hak monopoli atasnya dengan alasan apa pun. Kedua, harus ada pengakuan atas prinsip kesatuan umat manusia, sekalipun terdiri dari berbagai suku, bangsa, dan latar belakang sejarah. Pengakuan ini harus disertai dengan kesediaan menegakkan keadilan dan persaudaraan yang tulus antarmanusia. Ketiga, harus dikembangkan kultur toleransi yang luas di antara sesama umat manusia.

Saya sadar sepenuhnya bahwa cita-cita besar di atas sangat sulit untuk direalisasikan, tetapi pilihan di depan kita hanya dua: bersaudara atau terus bermusuhan dengan “memaksa” bumi ini untuk semakin menjadi membara. Alquran tidak diragukan lagi memerintahkan agar umat manusia menggiring bola sejarah ke arah pilihan yang pertama: mewujudkan persaudaraan universal! Bagi saya, pada akhirnya, demi keamanan ontologis manusia, maka persaudaraan universal adalah sebuah keharusan metafisis.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, 7 January 2015
Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar