Selasa, 25 Desember 2018

Mendiamkan Penyiksaan Uighur, Jokowi Lecehkan Umat Islam Indonesia

Etnis Uyghur


Presiden RRC Xi Jinping sungguh-sungguh brutal luar biasa. Sangat biadab. Dia siksa kaum muslimin Uighur di Provinsi Xinjiang tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun. Badan mereka disetrika. Para petugas penyiksa mematikan rokok mereka di badan para korban. Mereka dipaksa melepaskan agama Islam. 

Sebagian objek siksaan dimasukkan ke dalam drum yang berisi air. Direndam sampai kelujutan. Ada yang diinjak-injak. Dipukuli sampai pingsan berlumuran darah.

Begitulah laporan-laporan yang dikirim keluar dari Xinjing secara sangat rahasia oleh sejumlah warga Uighur yang memiliki alat komunikasi berinternet. Mereka ini sangat berani ambil risiko demi menyebarkan informasi tentang kekajaman pemerintah RRC.

Pemerintah China memaksa sekitar sejuta umat Islam Uighur masuk ke kamp re-edukasi (pendidikan kembali). Di kamp konsentrasi ini, mereka dipaksa menggunakan bahasa Mandarin. Mereka dipaksa juga memakan makanan yang tak halal seperti daging babi, dlsb.

Tidak ada alasan lain untuk penyiksaan itu kecuali karena warga Uighur menganut agama Islam. Presiden Xi Jinping memaksa kaum muslimin agar menjadi komunis atau atheis. Tetapi di tengah paksaan yang diikuti penyiksaan itu, mereka tetap teguh pada keimanan dan aqidah mereka. Itulah yang menyebabkan mereka disiksa. Penguasa China menganggap kaum muslimin sebagai orang yang mengalami gangguan mental.

Situasi yang terjadi di Uighur tidak banyak dilaporkan oleh media resmi. Penguasa diktator China tidak membolehkan media asing masuk ke wilayah Xinjiang. Foto-foto dan berbagai video tentang penyiksaan di sana 'diseludupkan' ke luar dengan cara yang menantang maut. Jika mereka ketahuan mengirimkan bukti penyiksaan, bisa dipastikan akan selesai hidup mereka.

Sangat kejam. Sangat brutal, dan sangat biadab.   

Anehnya, tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan pemerintah Indonesia tentang kebiadaban pemerintah RRC. Kekejaman dan kebrutalan Presiden Xi Jinping menyiksa warga muslim Uighur dibiarkan begitu saja oleh Presiden Jokowi. 

Jokowi pribadi mungkin berhutang budi kepada Presiden RRC. Bisa dipahami. Kita tahulah bahwa Xi Jinping memberikan pinjaman dan investasi yang besar kepada Indonesia. Tapi, sebesar-besarnya hutang budi kepada China, tidaklah pantas diam seribu bahasa menyaksikan kebrutalan pemerintah Beijing itu. Warga Uighur hanya ingin hidup normal seperti orang lain yang memiliki keyakinan kepada Tuhan. Mereka itu tidak bersenjata. Tidak mungkin melakukan perlawanan.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sepantasnyalah pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Jokowi, melancarkan protes keras. Seharusnya Jokowi melupakan dulu soal investasi RRC di Indonesia. Lagi pula, investasi mereka itu lebih banyak dinikmati oleh mereka juga. Mereka buat pabrik, mereka bangun sendiri, mereka kerjakan sendiri dengan buruh mereka, kemudian mereka bawa sendiri hasilnya ke RRC.

Kebijakan brutal Xi Jinping tidak boleh dibiarkan begitu saja. Dia tidak akan pernah memberikan ruang bagi kebebasan beragama. Pak Jokowi harus berani mendamprat presiden yang tak punya nurani itu. Xi Jinping tak akan berhenti menyiksa warga muslim Uighur.

Pak Jokowi, we are all watching you. Kami semua memperhatikan langkah Anda. Sebagai penguasa tertinggi di negeri ini, Anda berkewajiban mewakili kaum muslimin Indonesia melihat penindasan yang dilakukan oleh Presiden Xi Jinping.

Kalau Anda tetap diam, tidak melayangkan protes keras kepada RRC, itu sama artinya dengan melecehkan umat Islam Indonesia. Itu maknanya Anda tidak menggubris kesedihan dan kepedihan kaum muslimin di sini. Cukuplah "garis diam" yang ditunjukkan oleh para diplomat Indonesia ketika membahas soal pelanggaran HAM internasional. 

Sikap sejumlah negara Islam lain yang tidak memberikan respon terhadap kekejaman Xi Jinping, tidak bisa dijadikan teladan. Diam dalam menghadapi kebrutalan China bukanlah opsi. Sebaliknya, Indonesia justru pantas tampil sebagai contoh dengan menunjukkan sikap tegas terhadap RRC.

(Penulis adalah wartawan senior)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar