Langsung ke konten utama

Menyoal Kemaksuman Para Nabi

Masjidil Haram
Forum Muslim - Ketika para pelajar teologis Islam mulai memperbincangkan kemaksuman para nabiyullâh, ternyata masih ada sedikit yang mengganjal dalam benak mereka. Terkadang, kita sendiri juga masih menyimpan beberapa pertanyaan mengenai hal itu, meskipun kita telah menyakini bersama akan kesahihan konsep maksûm bagi para Nabi. Terkadang, kita juga sulit untuk dapat mentransformasikan, karena kita masih dihantui oleh berbagai tanda tanya. Hingga, sedikit demi sedikit, kenyataan ini mulai mengikis keyakinan atau justru menjerumuskan kita pada sebuah rumusan teologis yang keliru.
Benarkah para Nabi maksum? Lalu mengapa Nabi Adam 'Alaihissalâmmasih berbuat durhaka? Dan mengapa Nabi Ibrahim 'Alaihissalâmberani berdusta? Bukankah para Nabi terjaga dari kesengajaan berbuat dusta? Inilah diantara pertanyaan yang menjebak itu.

Konsep 'Ishmah

Ahlu Sunah wal-Jamaah atau Islam 'alâ mazhabi Abi Hasan al-Asy'ari meyakini bahwa segenap para Nabi tidak mungkin melakukan kedurhakaan kepada Allah Subhânahu wata'âla. Para Nabi akan terus berbuat taat dan tidak akan melanggar perintah Sang Pencipta. Jangankan larangan yang tegas (an-nahyul-jâzim), khilâful-'aulâ-pun (menyalahi yang lebih utama) sedapat mungkin mereka hindari.
Kedurhakaan justru akan merusak kesucian para Nabi yang sengaja diutus untuk segenap umat. Apa jadinya bila mereka durhaka sedangkan dirinya diperintah untuk menyampaikan ketaatan? Dan apa jadinya bila mereka berdusta sedangkan dirinya diperintah untuk menyampaikan kebenaran? Tentu akan nampak imposible.

Tidak hanya menurut pandangan Ahlu Sunah wal-Jamaah, segenap sekte teologi Islam juga sepakat akan 'ishmah (keterpeliharaan) para Nabi. Muktazilah, Qadariyah, Jabariyah, dan sekte teologi Islam yang lain telah setuju bahwa para Nabi benar-benar terpelihara dari dosa. Al-Qâdhi Abu Bakar dan Ibnu Hajib telah meriwayatkan adanya kesepakatan umat Islam mengenai 'ishmatul-anbiyâ' dari melakukan dosa besar, serta dosa kecil yang dapat menurunkan martabat kenabian. Namun, meski telah terdapat kesepakatan bersama, ternyata konsep 'ishmah ini masih menyisakan ranah khilafiyah yang cukup sensitif, walau tidak terbilang prinsip. 

Pertama, mengenai sumber yang dijadikan acuan konsep ini. Menurut Al-Qâdhi Abu Bakar, ulama Syafi'iyah, Hanafiyah, dan sebagian pengikut Abu Hasan al-Asy'ari keterpeliharaan para Nabi itu berdasarkan dalil syar'i (Al-Qur'an dan Sunah), semisal firman Allah Subhânahu wata'âla dalam surat Al-Maidah ayat 67 dan An-Najm ayat 107. Pendapat ini ditengarai bertolak belakang dengan pandangan Muktazilah dan beberapa pengikut mazhab Imam al-Asy'ari yang menyatakan bahwa 'ishmah para Nabi itu berdasarkan legitimasi akal atau dalil rasio. Namun, kelompok pertama membantah pandangan tersebut. Menurut mereka, secara rasio tidak satupun alasan logis yang menunjukkan bahwa para Nabi itu terjaga dari perbuatan dosa. 

Kedua, mengenai kapan keterpeliharan ('ishmah) itu dimulai? Sifat 'ishmah -sebagaimana yang telah dipaparkan di atas- merupakan keistimewaan yang dianugerahkan kepada para Nabi dan Utusan Allah Subhânahu wata'âla. Karenanya, masih diperselisihkan apakah sebelum mereka mendapat mandat kenabian juga terpelihara dari perbuatan dosa?

Mengenai permasalahan ini, mayoritas ulama berpandangan bahwa 'ishmah hanya berkaitan dengan derajat kenabian, sehingga sebelum terangkat sebagai Nabi, calon Nabi tidak diberi sifat tersebut. Untuk itu, sah-sah saja apabila para Nabi pernah melakukan kedurhakaan -baik besar atau kecil- sebelum mereka terangkat. Sedangkan menurut Muktazilah, keterpeliharaan para Nabi sebelum terangkatnya hanya tertentu dari perbuatan dosa besar saja. Namun, secara faktual hal tersebut –baik dosa kecil atau besar- tidak pernah terjadi pada diri Nabi sebelum mereka terangkat.

Benarkah Adam 'Alaihissalâm Durhaka?

Setelah memahami konsep 'ishmah bagi para Nabi di atas, maka selanjutnya kita akan di hadapkan pada permasalah lain yang cukup krusial. Konsep -meskipun telah disepakati kesahihannya- ini ditengarai masih berbenturan dengan sebuah realita bahwa salah satu nabiyullâh ada yang berbuat durhaka, yaitu Adam 'Alaihissalâm. Allah Subhânahu wata'âla sendiri telah mengunakan ungkapan durhaka ('ashâ) yang disematkan pada diri Adam Alaihissalâm dalam salah satu firman-Nya (QS. Thaha [20]:121). Selanjutnya Adam Alaihissalâm dihukum atas kedurhakaan itu dengan diturunkan ke bumi (QS. Al-Baqarah [02]:38).
Benarkah kenyataan ini berbenturan dengan konsep maksum dalam akidah Ahlu Sunah wal-Jamaah? Mengenai hal tersebut ulama telah banyak memberikan berbagai komentar dan interpretasi yang membela konsep 'ishmah bagi para Nabi.

Pertama, al-Imâm Syihâbuddîn ar-Ramli menyatakan bahwa peristiwa mengenai keteledoran Adam Alaihissalâm itu terjadi sebelum dirinya terangkat menjadi seorang Nabi. Bagaima beliau dikatakan sebagai Nabi, sedangkan di sana -di surga- masih belum terdapat umat sebagai objek risâlah. Adam Alaihissalâm masih belum terutus untuk menyampaikan wahyu kepada umat. Adam masih selayaknya manusia biasa yang sedang meniti sekenario Tuhan Subhânahu wata'âla .

Nampaknya, melalui pandangannya ini, Imam Syihâbuddîn ar-Ramli cenderung membenarkan pendapat yang menyatakan bahwa keterpeliharaan para Nabi itu hanya tertentu setelah terangkatnya mereka menjadi utusan. Untuk itu, sah-sah saja apabila Adam Alaihissalâm berbuat keteledoran. Namun, keteledoran di sini tidak sampai menurunkan martabat Adam Alaihissalâm sebagai hamba Allah Alaihissalâm yang sedang dipersiapkan sebagai seorang utusan.   

Kedua, pada prinsipnya, Nabi Adam Alaihissalâm tidak melakukan kedurhakaan kepada Allah Subhânahu wata'âla dengan memakan buah khuldi. Larangan memakan buah khuldi bukanlah larangan tegas (an-nahyul-jâzim). Bagi kelompok yang menyakini bahwa surga Adam Alaihissalâm adalah jannatul-khuld (surga keabadian) mereka akan mengarahkan larangan tersebut sebagai an-nahyut-tanzîh, yakni larangan untuk lebih mensucikan pribadi Adam Alaihissalâm.

Interpretasi ini berlandaskan pada sebuah ayat yang menyatakan bahwa di dalam jannatul-khuld tidak terdapat peraturan yang mengikat penghuninya (taklîf), semua hidup damai dan sejahtera di sana.  Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi merupakan salah satu ulama yang membela pandangan ini (Adam Alaihissalâm tidak berdiam di jannatul-khuld). Beliau sengaja menulis sebuah karya yang secara khusus mengkaji misteri Adam Alaihissalâm dan surga yang ditempatinya, yakni kitab Hâdil-Arwah ila Bilâdil-Afrâh. Pembelaan beliau tersebut nampak kentara sekali sejak mengawali tulisannya dalam kitab tersebut.

Maka dari itu, pelanggaran Adam Alaihissalâm merupakan kekeliruan kecil. Namun, kekeliruan tadi nampak besar karena keagungan yang ia sandang. Kekeliruan kecil tersebut tidak lain hanyalah meninggalakan perbuatan yang lebih utama (tarkul-aulâ), yakni lupa akan larangan yang ditujukan untuk lebih mensucikan dirinya.

Ketiga, perlu dipahami bahwa pelanggaran yang dilakukan Adam Alaihissalâm timbul dengan tanpa disengaja (QS. Thaha [20]:115). Allah Subhânahu wata'âla telah menyatakan bahwa Adam Alaihissalâm lupa terhadap janji untuk tidak memakan buah khuldi, meskipun Allah Subhânahu wata'âla menyebut Adam Alaihissalâm durhaka di ayat yang lain. Untuk itu, kesalahan atau ungkapan durhaka yang disematkan pada diri Adam Alaihissalâm tidak lain untuk lebih mengagugkan dirinya atas kebesaran yang ia sandang sebagai manusia pertama. Sedangkan ungkapan zhâlim atau khâsir (QS Al-A'râf [07]:23) merupakan sebuah pengakuan dari Adam Alaihissalâm akan kezaliman terhadap dirinya sendiri dan merugi karena meninggalkan perbuatan yang lebih utama (tarkul-aulâ). Sebuah kalam hikmah menyatakan "Hasanatul-abrâr sayyiatul-muqarrabîn"

Keempat, dapat dimungkinkan juga bahwa pelanggaran Adam Alaihissalâm  terjadi kerena ia keliru dalam berijtihad. Adam Alaihissalâm menduga bahwa larangan memakan buah khuldi merupakan an-nahyu at-tanzîh, sehingga Adam Alaihissalâm mengabaikan larangan tersebut. Namun, ternyata ijtihadnya kurang tepat, sehingga Allah Subhânahu wata'âla menghukum Adam Alaihissalâm atas kekeliruan itu. Akan tetapi, sekali lagi, Adam Alaihissalâm dihukum tidak lain mengingat luhurnya derajat Beliau Alaihissalâm.

Kemungkinan alasan keempat ini sebenarnya masih bersinggungan dengan pandangan lain, yakni pandangan kelompok yang menyatakan bahwa Adam Alaihissalâm tinggal di jannatul-khuld. Artinya, apabila Adam Alaihissalâm keliru dalam berijtihad berarti esensi larangan di atas (larangan memakan buah khuld) adalah an-nahyul-jâzim atau larangan secara tegas. Sedangkan larangan seperti ini tidak mungkin terjadi di dalam jannatul-khuld, karena diantara ciri-ciri surga abadi adalah tidak ada taklîf, perintah dan larangan di sana. Untuk itu, kemungkinan alasan keempat ini, meskipun cukup mendasar, namun masih sulit untuk diterima karena masih banyak bersinggungan dengan alasan teologis yang lain.

Ikhtitam

Walhasil, segenap ulama Ahlu Sunah wal-Jamaah dan segenap pengikut sekte teologi Islam yang lain tetap sepakat atas keterpeliharaan para nabiyullâh, meskipun interpretasi masing-masing dari mereka beragam dalam upaya membela konsep ini. Perbedaan tersebut banyak mewarnai kepustakaan teologis Islam dan hanya berkisar dalam ranah tanawwu'ât (keragaman) bukan tadhâdud (pertentangan). Tulisan ini hanya sekadar membantu untuk memahami konsep tersebut ketika dihadapkan pada sebuah realita yang sering diajukan para pengkaji akidah. Wallâhu a'lam.
Penulis Artikel : Abdurrohim Arief/ LPSI
Referensi:

·         Muhammad bin Abu Bakar bin Ayub ad-Dimisyqi, I'lâmul-Mûqi'în 'an Rabbil-'Âlamîn,
·         Muhammad bin Abu Bakar bin Ayub ad-Dimisyqi, Hâdil-Arwah ila Bilâdil-Afrâh
·         Muhammad bin Muhammad al-Ghâzali, Al-Iqtishâd fi al-I'tiqâd
·         Muhammad bin al-Husain al-Baihaqi, al-I'tiqod alâ Madzhab as-Salaf Ahlu as-Sunnah wa al-Jama'ah
·         Syihâbuddîn ar-Ramli, Fatâwa r-Ramli
__,_._,___

Artikel Terkait

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Ulama Paku Banten paling keramat yang masih hidup - Himayah atau Pemimpin Ulama di Tanah Banten

Forum Muslim - Banten merupakan provinsi Seribu Kyai Sejuta Santri. Tak heran jika nama Banten terkenal diseluruh Nusantara bahkan dunia Internasional. Sebab Ulama yang sangat masyhur bernama Syekh Nawawi AlBantani adalah asli kelahiran di Serang - Banten. Provinsi yang dikenal dengan seni debusnya ini disebut sebut memiliki paku atau penjaga yang sangat liar biasa. Berikut akan kami kupas 3 Ulama Paku Banten paling keramat yang masih hidup. 1. Abuya Syar'i Ciomas Banten Selain sebagai kyai terpandang, masyarakat ciomas juga meyakini Abuya Syar'i sebagai himayah atau penopang bumi banten. Ulama yang satu ini sangat jarang dikenali masyarakat Indonesia, bahkan orang banten sendiri masih banyak yang tak mengenalinya. Dikarnakan Beliau memang jarang sekali terlihat publik, kesehariannya hanya berdia di rumah dan menerima tamu yg datang sowan ke rumahnya untuk meminta doa dan barokah dari Beliau. Banyak santri - santrinya yang menyaksikan secara langsung karomah beliau. Beliau jug

KH.MUNFASIR, Padarincang, Serang, Banten

Akhlaq seorang kyai yang takut memakai uang yang belum jelas Kyai Laduni yang pantang meminta kepada makhluk Pesantren Beliau yang tanpa nama terletak di kaki bukit padarincang. Dulunya beliau seorang dosen IAIN di kota cirebon. Saat mendapatkan hidayah beliau hijrah kembali ke padarincang, beliau menjual seluruh harta bendanya untuk dibelikan sebidang sawah & membangun sepetak gubuk ijuk, dan sisa selebihnya beliau sumbangkan. Beliau pernah bercerita disaat krisis moneter, dimana keadaan sangatlah paceklik. Sampai sampai pada saat itu, -katanya- untuk makan satu biji telor saja harus dibagi 7. Pernah tiba tiba datanglah seseorang meminta doa padanya. Saat itu Beliau merasa tidak pantas mendoakan orang tersebut. Tapi orang tersebut tetap memaksa beliau yang pada akhirnya beliaupun mendoakan Alfatihah kepada orang tersebut. Saat berkehendak untuk pamit pulang, orang tersebut memberikan sebuah amplop yang berisi segepok uang. Sebulan kemudian orang tersebut kembali datang untuk memin

Sholawat-Sholawat Pembuka Hijab

Kaligrafi Muhammad SAW - File Youtube Dalam Islam sangat banyak para ulama-ulama sholihin yang bermimpi Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam dan mendapatkan petunjuk atau isyarat untuk melakukan atau mengucapkan kalimat-kalimat tertentu (seperti dzikir, sholawat, doa dll ). Bahkan sebagian di antara mereka menerima redaksi sholawat langsung dari Rasulullah dengan ditalqin kata demi kata oleh Beliau saw. Maka jadilah sebuah susunan dzikir atau sholawat yg memiliki fadhilah/asror yg tak terhingga.  Dalam berbagai riwayat hadits dikatakan bahwa siapa pun yang bermimpi Nabi saw maka mimpi itu adalah sebuah kebenaran/kenyataan, dan sosok dalam mimpinya tersebut adalah benar-benar Nabi Muhammad saw. Karena setan tidak diizinkan oleh Alloh untuk menyerupai Nabi Muhammad saw. Beliau juga bersabda, "Barangsiapa yg melihatku dalam mimpi maka ia pasti melihatku dalam keadaan terjaga" ----------------------------- 1. SHOLAWAT JIBRIL ------------------------------ صَلَّى اللّٰهُ عَلٰى م

Abuya Syar'i Ciomas Banten

''Abuya Syar'i Ciomas(banten)" Abuya Syar'i Adalah Seorang Ulama Yg Sangat Sepuh. Menurut beliau sekarang beliau telah berrusia lebih dari 140 tahun. Sungguh sangat sepuh untuk ukuran manusia pada umumnya. Abuya Sar'i adalah salah satu murid dari syekh. Nawawi al bantani yg masih hidup. Beliau satu angkatan dengan kyai Hasyim asy'ary pendiri Nahdatul ulama. Dan juga beliau adalah pemilik asli dari golok ciomas yg terkenal itu. Beliau adalah ulama yg sangat sederhana dan bersahaja. Tapi walaupun begitu tapi ada saja tamu yg berkunjung ke kediamannya di ciomas banten. Beliau juga di yakini salah satu paku banten zaman sekarang. Beliau adalah kyai yg mempunyai banyak karomah. Salah satunya adalah menginjak usia 140 tahun tapi beliau masih sehat dan kuat fisiknya. Itulah sepenggal kisah dari salah satu ulama banten yg sangat berpengaruh dan juga kharismatik. Semoga beliau senantiasa diberi umur panjang dan sehat selalu Aaamiiin... (FM/ FB )

Tafsir Al Qur'an Surat Al Fil Ayat 1-5

Tafsir Al Qur'an Surat Al Fil Ayat 1-5 Al-Fil, ayat 1-5 أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5) Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). Ini mempakan nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum Quraisy, karena Allah telah menyelamatkan mereka dari serangan tentara bergajah, yang sejak semula telah bertekad akan merobohkan Ka'bah dan meratakannya dengan tanah hingga tiada bekas-bekasnya lagi. Maka Allah memusnahkan mereka dan menjadikan mereka

Fatwa Darul Ifta Darul Ulum Deobandi India Tentang Zakir Naik

Dr Zakir Naik - File elhooda.net Forum Muslim  -  Dr Zakir Naik, sebuah fenomena baru yang muncul di akhir zaman ini. Sosoknya begitu melejit dan terkenal di Indonesia hingga video-video yang dibawanya pun sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diunggah ke Youtube. Kemampuan berbicara dan berpikirnya yang hebat membuat banyak orang khususnya umat Islam terkagum-kagum dengan sosok Zakir Naik. Seorang orator handal yang ahli dalam bidang perbandingan agama. Terkenal sebagai pendebat yang tak terkalahkan. Tak heran, banyak umat Islam di Indonesia terpesona dibuatnya. Namun, banyak yang tidak tahu bahwa di negara asalnya, di India, dan juga negara-negara sekitarnya seperti Pakistan dan Banglades justru para ulamanya banyak memperingatkan umat Islam akan bahaya Zakir Naik. Para ulama di tempat kelahiran Zakir Naik sampai-sampai harus mengeluarkan fatwa terkait bahaya pemahaman dan pemikiran yang dibawa oleh Zakir Naik. Mungkin karena inilah yang membuat

Profil KH Dimyati Rois Kendal

Forum Muslim -  KH Dimyati Rois merupakan salah satu mustasyar PBNU. Ia merupakan pengasuh pesantren Al-Fadlu wal Fadilah yang ia dirikan di Kp. Djagalan, Kutoharjo, Kaliwungu pada 1985. Sebagaimana tradisi santri pada zaman dahulu, ia menjadi santri kenala dengan nyantri di berbagai pesantren seperti pesantren Lirboyo dan APIK Kaliwungu. Atas prestasi yang dimilikinya, ia diambil menantu oleh KH. Ibadullah Irfan, sesepuh dan tokoh masyarakat Kaliwungu. Kiai Dimyati sendiri dilahirkan di daerah Brebes Jawa Tengah. Akhirnya ia menetap di daerah tersebut.  Sebagaimana tradisi kiai besar di lingkungan NU, ia merupakan orator ulung yang mampu membius massa. Ia dengan setia selalu memenuhi undangan dari masyarakat untuk memberi nasehat dalam berbagai ceramah agama.  Karena pengaruhnya yang besar, rumahnya selalu menjadi jujukan tokoh nasional, namun demikian ia tidak mau terjun langsung menjadi politisi. Ia dikenal dekat dengan Matori Abdul Djalil, ketua umum pertama Partai Kebang

Tafsir Al Qur'an Surat Al Fath Ayat 1-3

Tafsir Al Qur'an Surat Al Fath Ayat 1-3 Al-Fath, ayat 1-3 {إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3) } Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat  (banyak). Surat yang mulia ini diturunkan ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam kembali dari Hudaibiyah dalam bulan Zul Qa'dah tahun enam Hijriah. Saat itu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam di halang-halangi oleh kaum musyrik untuk dapat sampai ke Masjidil Haram guna menunaikan Umrahnya; mereka menghalang-halangi beliau dari tujuannya. Kemudian mereka berubah sikap dan cenderung mengadak

Sejarah Thoriqoh Tijaniyah

Ilustrasi Thoriqoh Tijaniyah- File attijanisampang.blogspot.co.id Forummuslim.org - Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan "Neosufisme". Ciri dari gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari'at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhan. At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di 'Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya.

'Illat Safar : Antara Masyaqqah dan Masafah

Ilustrasi Perjalanan - File popbela.com Oleh :   Ahmad Sarwat A. Musafir Mendapatkan Keringanan Orang yang musafir itu memang mendapatkan beberapa keringanan dalam Al-Quran dan Hadits. Shalatnya boleh dijamak dan diqashar, puasanya boleh diqadha' di hari lain. Dan seterusnya. Kalau ditanya, apa alasan atau 'illat keringanan itu diberikan? Jawabannya adalah karena dalam safar itu ada masyaqaah atau sesuatu yang memberatkan. Bahkan dalam sabdanya sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Nabi SAW sempat menyebut bahwa safar itu bagian dari adzab (السفر قطعة من العذاب). Namun kalau kita bicara tarikh tasyri' atau sejarah perjalanan pensyariatan, masyaqqah yang awalnya masih menjadi 'illat keringanan itu kemudian di masa berikutnya berubah. Catatan penting bahwa perubahan 'illat ini bukan terjadi di masa sekarang, tapi justru terjadinya masih di masa pensyariatan itu sendiri, yaitu di masa wahyu masih turun dari langit dan Nabi SAW masih membersamai para shahabat. o