Langsung ke konten utama

Ijazah Kubro Bersama KH R Azaim Ibrahimy di Malam Ritual Satu Abad Nahdlatul Ulama

Cukupkah Hanya Dengan Al Qur'an Dan Sunnah Saja ?

Ilustrasi Al Qur'an
Forum Muslim - Orang yang hafal 100 ribu hadis, plus hafal ayat-ayat al-Quran beserta nasikh-mansukh-nya, am’ khas-nya, muthlaq muqayyad-nya, mafhum manthuq-nya, perbandingan antar berbagai tafsirnya, asbabunnuzul-nya, dan seterusnya dan seterusnya, bisa saja dia mengklaim “kembali kepada al-Quran dan Hadis”. Padahal, dia menggali nash al-Quran memakai metodologi ijtihad juga, seberbeda apa pun caranya dengan metodologi ijtihad madzhab-madzhab mu’tabar. Berbeda dengan orang-orang yang dengan bangganya menyatakan ingin kembali ke al-Quran dan Sunnah tanpa ilmu-ilmu tersebut di atas; maka, di samping sombong, motto “kembali kepada al-Quran dan Sunnah” semacam ini terdengar sangat tidak mengerti hukum Islam.


 Karena, jangankan kita yang hidup di zaman ini, para sahabat saja harus bertanya kepada Nabi SAW dahulu tentang makna al-Quran, bahkan mengenai suatu istilah dalam hadis. Ini menandakan bahwa memahami naskah-naskah al-Quran dan sunnah itu tidak mudah. Al-Qur’an dan al-Sunnah adalah sumber hukum Islam. Hukum Islam terjadi ketika al-Quran dan Sunnah digali melalui proses ijtihad. Karakteristik hukum Islam yang bersumber dari nash (al-Quran dan Sunnah) yang didukung oleh ra’yu (opini) merupakan ciri khas yang membedakan hukum Islam dengan sistem hukum lainnya. Sunni menyebutnya sebagai qiyas, sedangkan syiah menyebutnya sebagai al-aql, yang sering disebut dengan istilah qiyas manthiqi. 

Contoh qiyas dalam Syiah adalah penyamaan illat memabukkannya narkoba dengan minuman keras; juga bahwa segala hal yang membahayakan semua dilarang. Sebagaimana dimakruhkannya memakan buah delima karena keasamannya, maka illat asam itu bisa dipakai untuk segala buah yang asam tidak boleh dimakan. 

Dalam tradisi ahlussunnah, qiyas dipakai sebagai praktik ijtihad yang dijadikan sebagai salah-satu sumber hukum Islam. Karena illat merupakan barometer dalam istinbath hukum, maka illat adalah hal yang paling penting dalam kehidupan muslim Sunni. Di samping hikmah, illat adalah manath al-hukm (pijakan hukum) yang sangat penting. Sebagai pijakan hukum, maka hukum Islam tergantung pada illat ini. 

Syarat illat harus jelas (dhahir), memiliki standar (mundhabith), serta memiliki relefansi dan mekanisme (munasib). Oleh karena itu, hukum ada jika illat ada; ketika illat tidak ada, maka hukum pun menjadi tidak ada. Ada adagium yang berbunyi seperti ini: 

لأن النصوص محدودة ، والوقائع غير محدودة فلا بد من اللجوء إلى القياس ،و النظر إلى علل الأحكام  

Teks-teks nash itu terbatas sedangkan problematika hukum yang memerlukan solusi tidak terbatas, oleh karena itu diperlukan ijtihad (qiyas) untuk mengintepretasi nash yang terbatas

Ijtihad ini dilakukan agar berbagai masalah yang tidak dikemukakan secara eksplisit dalam nash dapat dicari pemecahannya. 

Pendekatan dalam ijtihad dibagi menjadi dua: Lughawiyah (kebahasaan) dan maqashid (tujuan-tujuan syariah). Pendekatan kebahasaan adalah pendekatan yang menjadikan redaksi nash (al-Quran dan Hadis) sebagai obyek kajian. Dari pendekatan ini kita kenal istilah-istilah semacam al-’amm dan al-khash, al-mutlaq, al-muqayyad, al-manthuq, al-mafhum, muhkam dan mutasyabihat. Sedangkan pendekatan maqasid al-syariah adalah pendekatan yang menekankan penelitiannya pada tujuan-tujuan syariah yang digali dari nash. 

Dari pendekatan maqasid ini kita kenal antara lain al-qiyas, al-istihsan, al-maslahah al-mursalah, al-istishab dan sadd al-dzari’ah. Qiyas adalah mengukur sesuatu dengan sesuatu yang lain atau mempersamakan sesuatu dengan yang tidak memiliki nash mengenai ketentuan hukumnya dengan suatu kasus yang memiliki ketentuan hukum karena memiliki kesamaan illat. 

Dengan demikian illat adalah tempat berpijak atau bergantungnya suatu hukum. Illat dapat dikatakan sebagai hal yang paling utama dalam melakukan analogi atau istinbath hukum. Karena hukum, baik ada maupun tidak adanya, bergantung pada illat-nya, meskipun sebagian ulama’ yang berpendapat bahwa hukum tergantung pada hikmahnya, hal ini menunjukkan betapa pentingnya mengetahui illat dan hikmah dalam istinbath al-hukm. (Zuhaili, 1986: 649) Menurut bahasa, illat bermakna al-da’i atau al-ba-its yang artinya motif, sebab, atau alasan (Ibrahim, 1982: 50). Sedangkan menurut istilah illat adalah: 

ﺍﻟﻌﻠﺔ ﺍﻟﻮﺻﻒ ﺍﻟﻤﻌﺮﻑ ﻟﻠﺤﻜﻢ 

Sesuatu yang memberitahukan adanya hukum. 

Al-amudi menyatakan bahwa illat adalah pendorong terbentuknya hukum melalui qiyas. Sedangkan al-Ghazali mengatakan bahwa illat itu berpengaruh terhadap adanya hukum dengan sebab ketetapan dari Allah (bija’lillah). Yang dimaksud dengan bija’lillah adalah bahwa illat-nya ini bisa diketahui dengan menggalinya dari nash–nash al-Quran dan sunnah. 

Abu Zahrah menjelaskan bahwa pembunuhan sengaja dengan pedang adalah illat qhisash. Dengan demikian segala bentuk penganiayaan dengan alat atau senjata mematikan sama artinya dengan menggunakan pedang yang hukumannya adalah qisash. Oleh karena itu, maka illat haruslah sesuatu yang dzahir (tampak), mundhabith (terukur) dan munasib (memiliki relefansi dan sesuai dengan hikmah hukum). 

Hubungan antara ada dan tidak adanya hukum, sesuai dengan tujuan syara’, yakni menarik maslahah dan menolak mafsadah. Dari sini kita dapat membuat contoh bahwa illat khamar adalah iskar (memabukkan). Sifat memabukkan merupakan suatu kualitas yang dzhahir (jelas), karena memabukkan dapat diindera dan memungkinkan untuk diteliti. 

Memabukkan juga mundhabith, sebab memabukkan itu dapat diukur. Dan yang menjadi madzinnah al-hukm tentang keharaman khamr adalah memabukkan tersebut sesuai dengan tujuan syariat, yakni hifdzul aqli (menjaga akal). 

Dalam beberapa literatur kita akan menjumpai, istilah illat manshushah dan mustanbathah. Illat manshushah ada dua: sharih dan talwih. Illat manshushah al-sharih adalah illat yang disebutkan oleh nash secara jelas. Seperti firman Allah: dalam kasus Haid. 

Sedangkan illat manshushah talwih sama dengan ima’ dan isyarat adalah yang diperoleh dari sifat yang membarenginya. Seperti hadis Nabi: tidak ada harta waris bagi pembunuh. Yang menjadi masalah itu illat mustambathah; illat ini tidak disebutkan oleh nash. Oleh karena itu, untuk bisa mengetahui kualitas suatu illat, para ulama ushul mengembangkan teori-teori pengujian illat hukum yang kemudian dikenal dengan masalik al-illat. Masalik illat ini adalah suatu metode untuk mengetahui illat al-hukm. 

Melalui masalik al-illat ini akan dapat diketahui apakah suatu kasus yang belum ada nash hukumnya dapat dihubungkan dan dihukumkan sama dengan kasus lain yang sudah ada ketetapan hukumnya berdasarkan nash ataukah tidak. Diantara masalik al-illat yang disepakati adalah al-nash, al-i-ma’ (tanbih), al-ijma, al-sibr wa al-taqsim, dan al-munasabah. Semua yang tertulis di  sini hanyalah sebagian kecil dari alat yang dipakai untuk menggali nash–nash al-Quran dan hadis. Para ulama memakainya untuk menghasilkan hukum-hukum. Baik Syiah maupun Ahlusunnah, semuanya memakai cara ijtihad untuk menggali hukum-hukum ini. Tidak ada yang hanya bersandar dengan al-Quran dan Sunnah saja. Hanya orang-orang puyeng saja yang merasa bahwa mereka bisa menghasilkan hukum hanya dengan melihat nash–nash al-Quran. Apalagi jika yang mengatakan itu tak hafal ribuan hadis, tak hafal al-Quran, tak mengerti nasikh–mansukh, tak mengerti ‘am-khash-muthlaq-muqayyad, ilmu sejarah, dan seterusnya. Lebih-lebih—biasanya—mereka yang menganut motto kembali kepada al-Quran dan sunnah ini hanya mengerti al-Quran dan hadis dari kitab-kitab terjemahan. (Sumber : Resistensia)

Artikel Terkait

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafsir Kemenag: Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 154

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌ ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ ( البقرة : ١٥٤) Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al-Baqarah ayat 154) Di antara cobaan yang dihadapi orang mukmin dalam mempertahankan keimanan mereka adalah berperang melawan kaum kafir. Dan jangan-lah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, mereka telah mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadari-nya. Mereka hidup di alam yang lain. Mereka mendapat kenikmatan yang demikian besar dari Allah. Mempertahankan agama Islam suatu perjuangan. Setiap perjuangan akan meminta pengorbanan. Akan ada yang kehilangan harta benda atau keluarga dan akan ada yang gugur di medan perang dan sebagainya. Mereka yang gugur di medan perang adalah syuhada di jalan Allah. Mereka itu menduduki tempat yang amat mulia. M

3 Ulama Paku Banten paling keramat yang masih hidup - Himayah atau Pemimpin Ulama di Tanah Banten

Forum Muslim - Banten merupakan provinsi Seribu Kyai Sejuta Santri. Tak heran jika nama Banten terkenal diseluruh Nusantara bahkan dunia Internasional. Sebab Ulama yang sangat masyhur bernama Syekh Nawawi AlBantani adalah asli kelahiran di Serang - Banten. Provinsi yang dikenal dengan seni debusnya ini disebut sebut memiliki paku atau penjaga yang sangat liar biasa. Berikut akan kami kupas 3 Ulama Paku Banten paling keramat yang masih hidup. 1. Abuya Syar'i Ciomas Banten Selain sebagai kyai terpandang, masyarakat ciomas juga meyakini Abuya Syar'i sebagai himayah atau penopang bumi banten. Ulama yang satu ini sangat jarang dikenali masyarakat Indonesia, bahkan orang banten sendiri masih banyak yang tak mengenalinya. Dikarnakan Beliau memang jarang sekali terlihat publik, kesehariannya hanya berdia di rumah dan menerima tamu yg datang sowan ke rumahnya untuk meminta doa dan barokah dari Beliau. Banyak santri - santrinya yang menyaksikan secara langsung karomah beliau. Beliau jug

KH.MUNFASIR, Padarincang, Serang, Banten

Akhlaq seorang kyai yang takut memakai uang yang belum jelas Kyai Laduni yang pantang meminta kepada makhluk Pesantren Beliau yang tanpa nama terletak di kaki bukit padarincang. Dulunya beliau seorang dosen IAIN di kota cirebon. Saat mendapatkan hidayah beliau hijrah kembali ke padarincang, beliau menjual seluruh harta bendanya untuk dibelikan sebidang sawah & membangun sepetak gubuk ijuk, dan sisa selebihnya beliau sumbangkan. Beliau pernah bercerita disaat krisis moneter, dimana keadaan sangatlah paceklik. Sampai sampai pada saat itu, -katanya- untuk makan satu biji telor saja harus dibagi 7. Pernah tiba tiba datanglah seseorang meminta doa padanya. Saat itu Beliau merasa tidak pantas mendoakan orang tersebut. Tapi orang tersebut tetap memaksa beliau yang pada akhirnya beliaupun mendoakan Alfatihah kepada orang tersebut. Saat berkehendak untuk pamit pulang, orang tersebut memberikan sebuah amplop yang berisi segepok uang. Sebulan kemudian orang tersebut kembali datang untuk memin

Kenapa Mimbar Rasulullah SAW Berada Di Kiri Arsyi ?

Rasulullah Saw bersabda, "Ketahuilah bahwa mimbarnya Nabi Ibrahim AS berada disebelah kanan Arsy dan mimbarku disebelah kiri Arsy-Nya Allah Swt". Maka para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, engkau lebih utama dari Nabi Ibrahim. Kenapa engkau ditempatkan disebelah kiri Arsy, sedangkan Nabi Ibrahim disebelah kanannya Arsy?". Rasulullah menjawab, "Jalan ke Surga berada disebelah kanan Arsy, sedangkan jalan menuju Neraka disebelah kiri Arsy. Aku berada disebelah kiri, supaya aku dapat melihat umatku yang akan dimasukkan ke Neraka dan kemudian aku berikan syafa'at kepadanya". Ketika aku berada dimimbarku, aku mendengar jeritan umatku, berteriak-teriak seraya berkata,"Pahalaku sedikit dan dosaku banyak!". Rasulullah Saw berkata kepada Malaikat,"Jangan masukkan dia ke Neraka". Malaikat menjawab, "Aku adalah Malaikat yang melaksanakan apa saja yang diperintahkan Allah Swt kepadaku". Maka Rasulullah turun dari mimba

Sholawat-Sholawat Pembuka Hijab

Kaligrafi Muhammad SAW - File Youtube Dalam Islam sangat banyak para ulama-ulama sholihin yang bermimpi Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam dan mendapatkan petunjuk atau isyarat untuk melakukan atau mengucapkan kalimat-kalimat tertentu (seperti dzikir, sholawat, doa dll ). Bahkan sebagian di antara mereka menerima redaksi sholawat langsung dari Rasulullah dengan ditalqin kata demi kata oleh Beliau saw. Maka jadilah sebuah susunan dzikir atau sholawat yg memiliki fadhilah/asror yg tak terhingga.  Dalam berbagai riwayat hadits dikatakan bahwa siapa pun yang bermimpi Nabi saw maka mimpi itu adalah sebuah kebenaran/kenyataan, dan sosok dalam mimpinya tersebut adalah benar-benar Nabi Muhammad saw. Karena setan tidak diizinkan oleh Alloh untuk menyerupai Nabi Muhammad saw. Beliau juga bersabda, "Barangsiapa yg melihatku dalam mimpi maka ia pasti melihatku dalam keadaan terjaga" ----------------------------- 1. SHOLAWAT JIBRIL ------------------------------ صَلَّى اللّٰهُ عَلٰى م

Abuya Syar'i Ciomas Banten

''Abuya Syar'i Ciomas(banten)" Abuya Syar'i Adalah Seorang Ulama Yg Sangat Sepuh. Menurut beliau sekarang beliau telah berrusia lebih dari 140 tahun. Sungguh sangat sepuh untuk ukuran manusia pada umumnya. Abuya Sar'i adalah salah satu murid dari syekh. Nawawi al bantani yg masih hidup. Beliau satu angkatan dengan kyai Hasyim asy'ary pendiri Nahdatul ulama. Dan juga beliau adalah pemilik asli dari golok ciomas yg terkenal itu. Beliau adalah ulama yg sangat sederhana dan bersahaja. Tapi walaupun begitu tapi ada saja tamu yg berkunjung ke kediamannya di ciomas banten. Beliau juga di yakini salah satu paku banten zaman sekarang. Beliau adalah kyai yg mempunyai banyak karomah. Salah satunya adalah menginjak usia 140 tahun tapi beliau masih sehat dan kuat fisiknya. Itulah sepenggal kisah dari salah satu ulama banten yg sangat berpengaruh dan juga kharismatik. Semoga beliau senantiasa diberi umur panjang dan sehat selalu Aaamiiin... (FM/ FB )

Kisah Siti Ummu Ayman RA Meminum Air Kencing Nabi Muhammad SAW

Di kitab Asy Syifa disebutkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW punya pembantu rumah tangga perempuan bernama Siti Ummu Ayman RA. Dia biasanya membantu pekerjaan istri Kanjeng Nabi dan nginap di rumah Kanjeng Nabi. Dia bercerita satu pengalaman uniknya saat jadi pembantu Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi Muhammad itu punya kendi yang berfungsi sebagai pispot yang ditaruh di bawah ranjang. Saat di malam hari yang dingin, lalu ingin buang air kecil, Kanjeng Nabi buang air kecil di situ. Satu saat, kendi pispot tersebut hilang entah ke mana. Maka Kanjeng Nabi menanyakan kemana hilangnya kendi pispot itu pada Ummu Ayman. Ummu Ayman pun bercerita, satu malam, Ummu Ayman tiba-tiba terbangun karena kehausan. Dia mencari wadah air ke sana kemari. Lalu dia nemu satu kendi air di bawah ranjang Kanjeng Nabi SAW yang berisi air. Entah air apa itu, diminumlah isi kendi itu. Pokoknya minum dulu. Ternyata yang diambil adalah kendi pispot Kanjeng Nabi. Dan yang diminum adalah air seni Kanjeng Nabi yang ada dal

Al Habib Bakar bin Abu Bakar Assegaf

Orangnya sudah tua dan seringkali tidak memakai pakaian. Ia hanya menggunakan sarung saja. Kalau tidak mengenalinya, orang akan menganggapnya sebagai gelandangan atau orang tidak waras. Namanya dimasturkan (tertutup), namun orang Nganjuk atau Gresik sering memanggilnya Habib Bakar Assegaf. Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Habib Bakar merupakan putra dari Habib Abu Bakar Assegaf dari Gresik. Warga Gresik banyak yang mencari dan merindukannya. Pria bertelanjang dada (mirip dengan penampilan Ra Lilur Bangkalan), berjenggot putih, dan berkopyah ini (kabarnya) memiliki air kencing yang berbau wangi. Ia pernah masuk sumur kemudian Iangsung hilang dan hanya tinggal sarungnya saja. Pernah ia ditemukan di makam kakeknya sedang memeluk nisan. Wali Majdzub merupakan salah satu tingkatan wali yang memiliki sifat Jadzab. Istilah Jadzab ini mungkin bagi sebagian orang awam yang belum mengetahui dunia Tasawwuf atau ilmu Tasawwuf masihlah sangat asing terdengar. Sifat Jadzab dalam kehidupan seh

Tentang Sholawat Buntung

Kaligrafi Sholawat Forummuslim.org - Bacaan sholawat yang biasa kita ucapkan itu bukan sekadar bacaan biasa. Memang bunyinya seakan mendoakan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Secara harfiah memang demikian. Namun, di balik itu semua, ada sebuah rahasia besar yang luar biasa sekali. Jika kita menganggap bahwa sholawat itu semata-mata adalah mendoakan rahmat kepada Kanjeng Nabi, itu salah besar. Kanjeng Nabi itu tidak butuh doa kita. Amalan beliau sudah turah-turah (lebih). Kanjeng Nabi kok butuh doa kita, lha emang kita ini siapa? Bila dikaji dengan secara mendalam, ternyata sholawat adalah kata kunci, semacam "password" untuk menyatukan seluruh frekuensi kehidupan di jagad raya ini. Jadi, bukan sekadar mendoakan rahmat kepada Kanjeng Nabi semata. Oleh karena itu, jika membaca sholawat jangan sampai hanya sebatas "Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad". Secara harfiah itu boleh-boleh saja, tidak salah. Namun itu termasuk "Sholawat Buntung&

Contoh Banner