Langsung ke konten utama

Profil KH. Dimyati Hasbulloh Selopuro – Blitar

 

KH. Dimyati Hasbulloh Selopuro



“Belajarlah seperti melukis di atas batu, jangan belajar seperti melukis diatas air”.


KH. Dimyati atau dikenal dengan panggilan Mbah Dim adalah salah satu seorang ulama sekaligus wali yang berasal dari Kabupaten Blitar, tepatnya lahir di Dusun Baran, di Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, Kabupten Blitar. Beliau lahir pada Jum’at Pahing 1921 M, dan beliau wafat pada tahun 1409 H.
Mbah Dim berasal dari keturunan yang ‘alim, dan zuhud. Sehingga sejak masa kecilnya sudah begitu mencerminkan sosok yang berbeda dari teman-temannya yang lain. Sejak kecil beliau dikenal sangat pendiam dan gemar menyendiri, dan cerita terkenal dengan keistiqomahan Dimyati muda adalah sejak masih sekolah (baca: SR) tidak pernah melepaskan kopyah serta rajin mengaji kepada ayahnya sendiri yakni Kiai Hasbulloh. Menurut cerita, Kiai Hasbulloh pernah membelah sebuah semangka dan berkata, “diantara anak-anakku ada salah satu yang kelak dapat membelah pintu langit”; yang dimaksud adalah Kiai Dimyati.
Ngansu Kaweruh di Lirboyo
Setelah menamatkan sekolah SR, Kiai Dimyati melanjutkan perjalanannya spiritual dan intelektualnya di Pondok Pesantren Lirboyo asuhan Mbah Kiai Abdul Karim yang terkenal ‘allamah (sangat ‘alim) dan tawadhu’. Kedatangan Dimyati muda waktu itu menjadi pelipur lara bagi Sang Kiai, karena putra kesayangannya bernama Gus Nawawi wafat di tanah suci Makkah.
Selama kurang lebih sebelas tahun Kiai Dimyati ngansu kaweruh di Lirboyo. Selama di pesantren, Kiai Dimyati terkenal rajin dan istiqomah dalam mengaji baik al-Qur’an maupun kitab kuning. Selain itu, ia dikenal istiqomah dalam menjalankan setiap amaliyah yang diberikan oleh gurunya, Mbah Kiai Abdul Karim. Menurut cerita, Kiai Dimyati begitu betah membaca wirid dibelakang Mbah Karim, serta selalu menunggu kiai menyelesaikan wiridnya. Setiap pagi beliau sudah siap menata gamparan dan menyalakan lampu, sambil menunggu Mbah Karim keluar dan mengantar ke masjid, sampai pulang ke ndalem lagi, sekitar pukul 08.00 pagi.
Kiai Mahurin Grompol Prambon Nganjuk menceritakan, Mbah Dim seringkali tiba-tiba datang memberi makanan dengan lauk-pauk lengkap yang tidak mungkin ada di waktu malam. Menurut cerita Mbah Imam Hanafi Kaniten Mojo, ketika Kiai Dimyati menerima kiriman dari orang tuanya, ia langsung memasak semua dan mengajak teman-temannya makan bersama. Setelah itu Kiai Dimyati tidak makan setelah beberapa hari, hanya mencukupkan dengan minum air.
Setelah dari Lirboyo, Kiai Dim menikah dengan seorang gadis dari Desa Batokan bernama Rufi’ah Mondo. Saat pernikahan pertamanya beliau dikaruniai seorang putra yang bernama Mahfud. Selang beberapa tahun kemudian, Kiai Dimyati menikah dengan Munawarah, dan dikaruniai empat putri yaitu Lailatul Badriyah, Nqatiqulloh, Umi Mukarromah, dan Barroh. Ketiga putri Kiai Dimyati dengan Ibu Nyai Munawwarah meninggal lebih dulu, kecuali Umi Mukarromah. Tidak ada keterangan lebih lengkap mengenai alasan Kiai Dimyati menikah untuk kedua kalinya setalah Ibu Nyai Rufi’ah Mondo.
Mengabdi di Masyarakat
Setelah setelah sekian lama ngansu kaweruh menimba ilmu di Lirboyo, Kiai Dimyati kembali ke kampong halamannya di Blitar dan mengabdi kepada ayahnya di pondok yang diasuhnya. Mengawali pengabdiannya dengan mengajar sekolah diniyah dan mengajar mengaji al-Qur’an serta beberapa kitab. Diceritakan bahwa ketika Kiai Dimyati mengajar santri-santrinya, sangat berbeda dengan para ustadz yang lain dalam cara pengajarannya. Kiai Dimyati mengajar tidak dengan metode memaknai kitab kemudian diterangkan, melainkan dengan menggunakan metode ruhaniyah atau metafisik, yaitu dengan isyarat-isyarat.
Seorang santri bernama Nafisah menceritakan setiap akan ganti pasal (bab) dalam pelajaran maka berbeda ujiannya. Nafisah saat itu disuruh pergi sendiri di sebuah kolam yang sepi dan sunyi. Di sana Nafisah diminta untuk merenungkan (baca: kholwat/uzlah) akan hidupnya selama ini. Apabila sudah dinyatakan lulus dari ujian tersebut, maka yang bersangkutan dianggap memahami pasal (bab) yang diajarkan, kemudian dapat melanjutkan ke pasal-pasal berikutnya.
Hingga saat ini, banyak satri-santri Kiai Dimyati tetap menjalankan amaliyah yang diajarkan. Walaupun Mbah Dim telah wafat, para santri merasa tetap disowani ke rumahnya masing-masing seakan-akan ia masih hidup.
Kisah lain mengenai karomahnya, pernah suatu ketika Kiai Dim menunjukkan perbedaan antara perbuatan syirik atau bukan, dengan mengajak para santri ke sebuah makam auliya’ dan menunjukkan mana yang dikatakan perbuatan syirik dan perbuatan bukan syirik.  Namun hal itu bisa terjadi apabila santri dapat menjalankan amaliyah ijazah yang diberikan dengan khusyuk.
Pernah suatu ketika saat keponakan Kiai Dim yang bernama Kiai Ayub Ismail akan meninggal, Kiai Dim mendatangi Ibu Nafisah untuk memasakkan ingkung kemudian meminta Ibu Nafisah memberikan ke dalemnya Kiai Ayub. Ibu Nafisah berpikir, ada isyarat apa dengan ini? Hal itu pun terjawab pada malam harinya ketika Kiai Ayub meninggal dunia. Makna dari ayam ingkung itu seperti keadaan orang yang meninggal.
Cerita lain ketika Kiai Dimyati menemukan sebuah bom di Bandar lalu dibawalah ke kamar pondok, tiba-tiba bom tersebut meledak dan kamarnya hancur berantakan, tetapi Kiai Dimyati selamat dari ledakan.
Sepulang dari pondok, beliau membawa buah semangka. Ayahnya Kyai Hasbulloan kepada  heran, kenapa pulang dari pondok dengan membawa semangka? dan Kiai Dim kemudian memberikan pertanyaan kepada ayahnya, “Abah! coba tebak apakah semangka ini ada isinya atau tidak?” Kiai Hasbulloh pun tak dapat menebak dan menjawab pertanyaan dari putranya tersebut. Kemudian Kiai Hasbulloh membelah semangka tersebut, ternyata tidak ada isinya. Kiai Hasbulloh kemudian berkata bahwa dari sekian banyak anakku yang dapat membuka pintunya langit hanyalah Dimyati.
Kehidupan Sehari-Hari
Semasa Mbah Dim masih hidup dan bertempat tinggal di Desa Baran, beliau sangatlah diseganai oleh masyarakat, karena hidup beliau telah di dramabaktikan kepada semua lapisan masyarakat tanpa memandang bulu. Hebatnya lagi ada wasilah kepada Mbah Dim akan mulai berhasil, cepat atau lambat. Setiap harinya tidak dari seratus orang yang datang dan sowan untuk meminta barokah dan ijazah.
Beliau sangat condong dengan ilmu agama. Beliau sangat senang sekali kalau ada anak mondok, kemudian beliau berbaur dengan santri-santri yang ngaji weton. Dan beliau mendalami ilmu agama sejak kecil kepada ayahnya KH. Hasbulloh, kemudian tak hanya samapai disitu, beliau melanjutkan nyantri di Lirboyo, dan perjuangan dalam mendalami ilmu agama tetep beliau istiqomahkan walaupun sudah lulus dari pondok pesantren.
Beliau begitu Zuhud, beliau begitu meninggalkan kemewahan dunia. hari-hari beliau hanya digunakan untuk mengabdikan diri pada Allah SWT. Dimanapun, kapanpun, dengan siapapun hati dan pikirannya hanya tertaut pada Allah SWT, karena bagi beliau kahidupan dunia adalah kehidupan yang fana. Sifat zuhud beliau mulai terlihat saat beliau sekolah SR. padahal kalau beliau ingin hidup menjadi orang yang kaya, beliau bisa menjadi orang terkaya.
Mbah Dim, gemar juga menanam pohon sendiri, seperti menanan pohon jambu dan pohon sirkaya. Karena bagi beliau selain itu merupakan sebuah hobi menanam pohon buah-buahan sangat bermanfaat, dan dapat menahan diri dari hal-hal yang menimbulkan mudharat, hal-hal yang dapat menyeretnya menuju hal-hal yang haram dan syubhat. Sebab, siapa yang takut kepada hal yang syubhat, maka dia telah membebaskan kehormatan dan agamanya, dan barang siapa yang berada dalam syubhat berarti dia berada dalam hal yang haram, seperti penggembala di sekitar tanaman yang dijaga, yang begitu cepat ia masuk kedalamnya. Begitulah wujud sifat wira’i yang dimiliki Mbah Dim.
Beliau juga sangat ikhlas, sabar dan tawadhu’, serta santun. Setiap beliau sowan ke Lirboyo, ketika diberi jamuan makan, maka beliau sendiri yang membersihkan meja dan kemudian diletakkan kebalakang dan dicuci sendiri. beliau tidak senang apabila ada orang yang memuji dan beliaupun sukar untuk dikhidmati.
Pada suatu hari ada orang yang bertanya tentang bagaimana cara memperingatai maulid Nabi Muhammad SAW, apakah dengan pengajian, atau membaca al-Qur’an, atau membaca sholawat barzanji atau diba’, dan jawaban beliau begitu singkat: “Lalah yang Lillahi Ta’ala”
Beliau senang sekali mendokan orang yang sudah meninggal dan menziarahi kubur. Terutama beliau senang menziarahi makam auliya’ dan guru-guru beliau, dan yang paling penting bagi Mbah Dim adalah menziarohi makam kedua orang tuanya.  Apabila setelah ziaroh ke makam kedua orang tuanya, lalu beliau menghampiri makam Mbah Ngiso, salah seorang guru Mbah Dim saat masih sekolah SR.  Itulah bukti sifat keta’dhiman Mbah Dim.
Mbah Dim memiliki sifat bashiroh dan ilmu laduni. Beliau mengetahui suatu hal sebelum dijelaskan dan ditanya. Dan jawaban-jawaban beliau itu, bukan menjawab dengan lisan lansung, namun banyak menggunakan isyarat-isyarat sebelum kejadian. Seperti membakar daun pakis aji, pada waktu akan wafatnya Gus Kaffi dari Ponpes Sanan Gondang. Kemudian saat wafatnya Gus Ngatiq, Mbah Dim membuat kuburan kecil. Dan belum lama ini saat wafatnya KH. Ayub Ismail, beliau mendatangi Bu Nyai Nafisah untuk memasakkan ayam ingkung dan sdiantarkan ke ndalemnya KH. Ayub Ismail. Lalu saat ibunya Ny. Hj. Maryam ketika towaf, Ny. Hj. Maryam jatuh, tiba-tiba Mbah Dim menangkap ibunya. Dan ibunya pun heran.
“lho le, kog ono ndek kene?” (Loh Nak, kok ada di sini?)
Padahal saat itu Mbah Dim tidak ikut melaksanakaan ibadah haji bersama ibunya. Tirakat beliau pun, selalu beliau istiqomahkan. Mbah Dim sangat jarang dan sedikit makan dan juga jarang tidur. Namun Mbah Dim tidak banyak menjalankan puasa sunnah.Mbah Dim juga dikenal dengan sosok yang dermawan, gemar bersedekah. Beliau juga tak pernah membuat repot orang lain apalagi sampai menyakiti orang lain. Karena, beliau begitu menghorrmati orang lain.
Mbah Dim sangatlah teliti dan begitu memeperhatikan denagn kebersihan sesuai dengan hukum agama. Beliau selalu rutin mencuci kopyahnya, mencuci sajadah, dan mencuci dipan (ranjang tempat tidur). Beliau tidak bisa melihat ada barang beliau yang kotor sedikitpun, apalagi barang tersebut, barang yang biasa beliau gunakan untuk ibadah.
Bacaan wirid yang selalu beliau amalkan diantaranya adalah mengistiqomahkan memebaca al-Qur’an, membaca kitab Dalail dan membaca Hauqolah (laa haula wa la quwata ila billahil ‘aliyil ‘adzim). Oleh karenanya, Kiai Dimyati selama hidupnya dikenal sebagai kiai yang memiliki karomah yang tinggi. Tak hanya itu, Kiai Dimdikenal sebagai  kiai yang sangat dermawan dan pandai merahasiakan sedekah. Serta tidak pernah membuat repot, apalagi menyakiti orang. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, KH Dimyati mendapatkan sebutan sebagai Kiai Pendito. Tak hanya itu, beliau juga gigih dan berani menegakkan kebenaran.
Kiai Dim wafat pada tahun 1989 dalam usia 68 tahun. Sebelum wafat, Mbah Dim berwasiat kepada salah satu putrinya yang masih hidup yaitu Umi Mukarromah, bahwa kalau aku mati, jangan diratapi dan jangan sampai kuburanku dijadikan sandaran.
Sumber : Tasamuh.id

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Populer

Prahara Aleppo

French Foreign Minister Bernard Kouchner takes off a Jewish skull-cap, or Kippa, at the end of a visit to the Yad Vashem Holocaust Memorial in Jerusalem, Tuesday, Sept. 11, 2007. Kouchner is on an official visit to Israel and the Palestinian Territories. (AP Photo/Kevin Frayer) Eskalasi konflik di Aleppo beberapa hari terakhir diwarnai propaganda anti-rezim Suriah yang sangat masif, baik oleh media Barat, maupun oleh media-media “jihad” di Indonesia. Dan inilah mengapa kita (orang Indonesia) harus peduli: karena para propagandis Wahabi/takfiri seperti biasa, mengangkat isu “Syiah membantai Sunni” (lalu menyamakan saudara-saudara Syiah dengan PKI, karena itu harus dihancurkan, lalu diakhiri dengan “silahkan kirim sumbangan dana ke no rekening berikut ini”). Perilaku para propagandis perang itu sangat membahayakan kita (mereka berupaya mengimpor konflik Timteng ke Indonesia), dan untuk itulah penting bagi kita untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Suriah. Tulisan i

3 Ulama Paku Banten paling keramat yang masih hidup - Himayah atau Pemimpin Ulama di Tanah Banten

Forum Muslim - Banten merupakan provinsi Seribu Kyai Sejuta Santri. Tak heran jika nama Banten terkenal diseluruh Nusantara bahkan dunia Internasional. Sebab Ulama yang sangat masyhur bernama Syekh Nawawi AlBantani adalah asli kelahiran di Serang - Banten. Provinsi yang dikenal dengan seni debusnya ini disebut sebut memiliki paku atau penjaga yang sangat liar biasa. Berikut akan kami kupas 3 Ulama Paku Banten paling keramat yang masih hidup. 1. Abuya Syar'i Ciomas Banten Selain sebagai kyai terpandang, masyarakat ciomas juga meyakini Abuya Syar'i sebagai himayah atau penopang bumi banten. Ulama yang satu ini sangat jarang dikenali masyarakat Indonesia, bahkan orang banten sendiri masih banyak yang tak mengenalinya. Dikarnakan Beliau memang jarang sekali terlihat publik, kesehariannya hanya berdia di rumah dan menerima tamu yg datang sowan ke rumahnya untuk meminta doa dan barokah dari Beliau. Banyak santri - santrinya yang menyaksikan secara langsung karomah beliau. Beliau jug

Sholawat-Sholawat Pembuka Hijab

Dalam Islam sangat banyak para ulama-ulama sholihin yang bermimpi Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam dan mendapatkan petunjuk atau isyarat untuk melakukan atau mengucapkan kalimat-kalimat tertentu (seperti dzikir, sholawat, doa dll ). Bahkan sebagian di antara mereka menerima redaksi sholawat langsung dari Rasulullah dengan ditalqin kata demi kata oleh Beliau saw. Maka jadilah sebuah susunan dzikir atau sholawat yg memiliki fadhilah/asror yg tak terhingga.  Dalam berbagai riwayat hadits dikatakan bahwa siapa pun yang bermimpi Nabi saw maka mimpi itu adalah sebuah kebenaran/kenyataan, dan sosok dalam mimpinya tersebut adalah benar-benar Nabi Muhammad saw. Karena setan tidak diizinkan oleh Alloh untuk menyerupai Nabi Muhammad saw. Beliau juga bersabda, "Barangsiapa yg melihatku dalam mimpi maka ia pasti melihatku dalam keadaan terjaga" ----------------------------- 1. SHOLAWAT JIBRIL ------------------------------ صَلَّى اللّٰهُ عَلٰى مُحَمَّدٍ SHOLLALLOOH 'ALAA MUHAMMA

KH.MUNFASIR, Padarincang, Serang, Banten

Akhlaq seorang kyai yang takut memakai uang yang belum jelas  Kyai Laduni yang pantang meminta kepada makhluk Pesantren Beliau yang tanpa nama terletak di kaki bukit padarincang. Dulunya beliau seorang dosen IAIN di kota cirebon. Saat mendapatkan hidayah beliau hijrah kembali ke padarincang, beliau menjual seluruh harta bendanya untuk dibelikan sebidang sawah & membangun sepetak gubuk ijuk, dan sisa selebihnya beliau sumbangkan. Beliau pernah bercerita disaat krisis moneter, dimana keadaan sangatlah paceklik. Sampai sampai pada saat itu, -katanya- untuk makan satu biji telor saja harus dibagi 7. Pernah tiba tiba datanglah seseorang meminta doa padanya. Saat itu Beliau merasa tidak pantas mendoakan orang tersebut. Tapi orang tersebut tetap memaksa beliau yang pada akhirnya beliaupun mendoakan Alfatihah kepada orang tersebut. Saat berkehendak untuk pamit pulang, orang tersebut memberikan sebuah amplop yang berisi segepok uang. Sebulan kemudian orang tersebut kembali datang untuk memi

Kisah Siti Ummu Ayman RA Meminum Air Kencing Nabi Muhammad SAW

Di kitab Asy Syifa disebutkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW punya pembantu rumah tangga perempuan bernama Siti Ummu Ayman RA. Dia biasanya membantu pekerjaan istri Kanjeng Nabi dan nginap di rumah Kanjeng Nabi. Dia bercerita satu pengalaman uniknya saat jadi pembantu Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi Muhammad itu punya kendi yang berfungsi sebagai pispot yang ditaruh di bawah ranjang. Saat di malam hari yang dingin, lalu ingin buang air kecil, Kanjeng Nabi buang air kecil di situ. Satu saat, kendi pispot tersebut hilang entah ke mana. Maka Kanjeng Nabi menanyakan kemana hilangnya kendi pispot itu pada Ummu Ayman. Ummu Ayman pun bercerita, satu malam, Ummu Ayman tiba-tiba terbangun karena kehausan. Dia mencari wadah air ke sana kemari. Lalu dia nemu satu kendi air di bawah ranjang Kanjeng Nabi SAW yang berisi air. Entah air apa itu, diminumlah isi kendi itu. Pokoknya minum dulu. Ternyata yang diambil adalah kendi pispot Kanjeng Nabi. Dan yang diminum adalah air seni Kanjeng Nabi yang ada dal

Abuya Syar'i Ciomas Banten

''Abuya Syar'i Ciomas(banten)" Abuya Syar'i Adalah Seorang Ulama Yg Sangat Sepuh. Menurut beliau sekarang beliau telah berrusia lebih dari 140 tahun. Sungguh sangat sepuh untuk ukuran manusia pada umumnya. Abuya Sar'i adalah salah satu murid dari syekh. Nawawi al bantani yg masih hidup. Beliau satu angkatan dengan kyai Hasyim asy'ary pendiri Nahdatul ulama. Dan juga beliau adalah pemilik asli dari golok ciomas yg terkenal itu. Beliau adalah ulama yg sangat sederhana dan bersahaja. Tapi walaupun begitu tapi ada saja tamu yg berkunjung ke kediamannya di ciomas banten. Beliau juga di yakini salah satu paku banten zaman sekarang. Beliau adalah kyai yg mempunyai banyak karomah. Salah satunya adalah menginjak usia 140 tahun tapi beliau masih sehat dan kuat fisiknya. Itulah sepenggal kisah dari salah satu ulama banten yg sangat berpengaruh dan juga kharismatik. Semoga beliau senantiasa diberi umur panjang dan sehat selalu Aaamiiin... (FM/ FB )

ALASAN ALI MENUNDA QISHASH PEMBUNUH UTSMAN

Oleh :  Ahmad Syahrin Thoriq   1. Sebenarnya sebagian besar shahabat yang terlibat konflik dengan Ali khususnya, Zubeir dan Thalhah telah meraih kesepakatan dengannya dan mengetahui bahwa Ali akan menegakkan hukum qishash atas para pemberontak yang telah membunuh Utsman.  Namun akhirnya para shahabat tersebut berselisih pada sikap yang harus diambil selanjutnya. Sebagian besar dari mereka menginginkan agar segera diambil tindakan secepatnya. Sedangkan Ali memilih menunda hingga waktu yang dianggap tepat dan sesuai prosedur. 2. Sebab Ali menunda keputusan untuk menegakkan Qishash adalah karena beberapa pertimbangan, diantaranya : Pertama, para pelaku pembunuh Ustman adalah sekelompok orang dalam jumlah yang besar. Mereka kemudian berlindung di suku masing-masing atau mencari pengaruh agar selamat dari hukuman. Memanggil mereka untuk diadili sangat tidak mungkin. Jalan satu-satunya adalah dengan kekuatan. Dan Ali menilai memerangi mereka dalam kondisi negara sedang tidak stabil sudah pas

Kenapa Mimbar Rasulullah SAW Berada Di Kiri Arsyi ?

Rasulullah Saw bersabda, "Ketahuilah bahwa mimbarnya Nabi Ibrahim AS berada disebelah kanan Arsy dan mimbarku disebelah kiri Arsy-Nya Allah Swt". Maka para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, engkau lebih utama dari Nabi Ibrahim. Kenapa engkau ditempatkan disebelah kiri Arsy, sedangkan Nabi Ibrahim disebelah kanannya Arsy?". Rasulullah menjawab, "Jalan ke Surga berada disebelah kanan Arsy, sedangkan jalan menuju Neraka disebelah kiri Arsy. Aku berada disebelah kiri, supaya aku dapat melihat umatku yang akan dimasukkan ke Neraka dan kemudian aku berikan syafa'at kepadanya". Ketika aku berada dimimbarku, aku mendengar jeritan umatku, berteriak-teriak seraya berkata,"Pahalaku sedikit dan dosaku banyak!". Rasulullah Saw berkata kepada Malaikat,"Jangan masukkan dia ke Neraka". Malaikat menjawab, "Aku adalah Malaikat yang melaksanakan apa saja yang diperintahkan Allah Swt kepadaku". Maka Rasulullah turun dari mimba

Daun Pepaya Jepang, Aman Untuk Pakan Kambing di @kapurinjing

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Ma'idah Ayat 109

  ۞ يَوْمَ يَجْمَعُ اللّٰهُ الرُّسُلَ فَيَقُوْلُ مَاذَٓا اُجِبْتُمْ ۗ قَالُوْا لَا عِلْمَ لَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ  ( الماۤئدة : ١٠٩) (Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka): "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?". Para rasul menjawab: "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib". ( QS. Al-Ma'idah ayat 109 ) Ingatlah suatu peristiwa penting pada hari kiamat, ketika Allah mengumpulkan para rasul, sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, lalu Dia bertanya kepada mereka, "Apa jawaban atau tanggapan umat terhadap misi dakwah kamu sekalian? Apakah mereka menanggapinya dengan iman atau dengan kufur? Apakah dengan iman yang taat atau iman yang fasik?" Mereka, para rasul, menjawab, saat itu umat hadir guna menyaksikan tanya jawab ini, "Kami tidak tahu tentang itu setelah kami wafat. Sesungguhnya Engkaulah sendiri Yang Maha Menget