Selasa, 25 Oktober 2016

Catatan Kecil Sang Narapidana : Nyanyian Di Tepi Laut

Dari jauh ku dengar kau bernyanyi,

debur ombak di pantai sesekali menelan suaramu,

aku tahu kau bernyanyi tentang kehidupan, kebahagiaan dan kesengsaraan,

tapi kehidupan ini terlalu rumit untuk di nyanyikan.





Mestinya aku tergugah oleh merdunya suaramu,

seperti kicau burung-burung kau merdu merayu,

tapi nyanyian itu hanyalah alunan semu,

kedamaian ku damba engkau tak tahu.





Dari jauh selalu ku dengar

kau bernyanyi,

tapi selalu debur ombak menelan suaramu,

tapi aku tahu kau bersenandung tentang kehidupan,

di mana yang sengsara tetap sengsara,

yang tertindas makin tak berdaya.

Di mana ada kedamaian di bumi yang telah lama merdeka,

sungguh pilu hati merasa

mengeluh di bumi persada nan hijau raya.





Ombak di pantai tetap menderu,

menyapu bersih lengkingan suaramu,

dari jauh terbias warna biru,

langkah kakiku makin jauh meninggalkanmu,

meski kau tetap bernyanyi tiada jemu.





Aku,

tak sekedar butuh nyanyian agar kau membaluti lukaku,

tak sekedar air mata agar kau menghayati dukaku,

apa yang selama ini aku dambakan,

tak lain hanyalah kedamaian,

hanyalah kedamaian,

itu saja.







- - -

Jakarta 27 November 1996.

By Muhammad Saroji

- Majalah Sastra - http://majalahsastra.com

© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini