Rabu, 23 Maret 2016

Sikap Hati-Hati dalam Menggali Hukum dan Mencuplik Dalil (3)

Ketiga, ayat 'am, tetapi yang dimaksud khas, seperti ayat "Alldzina
qala lahumun nas innan nas qad jam'au lakum fakhsyauhum wa zadahum
imana" (QS. Alu Imrân/3: 173). Nas artinya manusia, redaksinya umum
(digunakan untuk banyak orang), tetapi di ayat ini maksudnya hanya
satu orang, yaitu Nu'aym ibn Mas'ud al-Asyja'i.
Ayat lain "Am yahsudunan nas 'alâ maatahumullahu min fadhlih (QS.
An-Nisâ'/4: 54). Nas yang dimaksud di ayat ini juga satu orang, yaitu
Nabi Muhammad SAW.

Keempat, ayat khas dan memang dimaksudkan khas, seperti ayat, "Ya
nisa'an nabiyy lastunna ka ahadin minan nisa" (QS. Al-Ahzab/33: 32)
danayat, "Wa ma lakum an tu'dzu rasulallahi wa la an tankihu azwajahu
min ba'dihi abada (QS. Al-Ahzab/33: 53). Dua ayat ini menjelaskan
kekhususan istri-istri Nabi dan tidak berlaku umum, yaitu larangan
menikah dengan pria lain selepas ditinggal Nabi. Ayat lain, "Wa minal
layli fa tahajjad bihi nafilatan laka" (QS. Al-Isra'/17: 79) dan ayat,
"Wamra'atan mu'minatan in wahabat nafsaha lin nabiy in aradan nabiyyu
ay yastinkaha khalisatan laka min dunil mu'minin" (QS. Al-Ahzab/33:
50). Dua ayat ini menjelaskan kekhususuan Nabi dan tidak berlaku umum,
mencakup kewajiban dan hak. Kewajibannya, salat tahajud wajib hukumnya
bagi Nabi. Haknya, Nabi boleh menikahi lebih dari empat wanita.

Kelima, ayat khas, tetapi dimaksudkan 'am, seperti ayat-ayat berikut:
"Fa idza qara'tal qur'ana fastaidz billah" (QS. An-Nahl/16l: 98);
"Wa idza kunta fîhim fa aqamta lahumus shalata" (QS. An-Nisa'/4: 102);
"Khudz min amwalihim shadaqatan tuthohhiruhum wa tuzakkihim" (QS.
At-Tawbah/9: 60);
"Ya ayyuhan nabiyyut taqillah" (QS. Al-Ahzab/ 33: 1).
Dalam empat ayat ini, khitab-nya mufrad (hanya untuk Nabi), tetapi
isinya berlaku umum.

Jenis ketiga adalah ayat nasikh-mansukh, terbagi ke dalam 3 (tiga)
jenis, yaitu:

Pertama, naskhut tilawah wal hukmi (teks dan hukumnya dihapus semua).
Contoh, riwayat A'isyah tentang jumlah susuan yang berdampak kepada
garis darah, sebelumnya berbunyi, "asyru radha'at ma'lumat" (sepuluh
susuan), tetapi kemudian di-nasakh dengan "khamsin ma'lumat" (lima
susuan). Teks dan hukumnya dihapus semua.

Kedua, naskhul hukm dunat tilawah (hukumnya dihapus, teksnya tidak).
Contoh, ayat "wa ala-l ladzina yuthiqunahu fidyatun" (QS.
Al-Baqarah/2: 184), di-nasakh dengan ayat sesudahnya, "Fa man syahida
minkumus syahra fal yashumhu" (QS. Al-Baqarah/2: 185).
Mufassir menyebut, hukum puasa Ramadlan sebelumnya opsional, antara
puasa atau membayar fidyah. Setelah itu hukumnya wajib bagi semua,
kecuali bagi orang sakit dan bepergian.
Ayat lain, "Ittaqullah haqqa tuqatih" (QS. Ali Imran/3: 102):
"Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa," di-nasakh
dengan ayat, "Fattaqullah ma-statha'tum" (QS. At-Taghabun/64: 16):
"Bertakwalah kamu kepada Allah semampumu."
Contoh lain ayat, "La taqrabu-s shalata wa antum sukara hatta taqulu
ma la ta'lamun (QS. An-Nisa'/4: 43)," di-nasakh dengan ayat, "Innamal
khamru wal maysiru wal anshabu wal azlamu rijsun min amalis syaithâni
fajtanibuhu (QS. An-Nisa'/4: 43).
Hukum arak sebelumnya halal (QS. Al-Baqarah/2: 219), kemudian haram
ketika shalat (di luar shalat tidak haram), kemudian haram dalam semua
kondisi.

Ketiga, naskhut tilawah dunalhukm (teksnya dihapus, tetapi hukumnya tetap).
Contoh, diriwayatkan Aisyah sebelumnya terdapat ayat berbunyi, "idza
zana al-syaikhu was syaikhatu farjumûhuma al-battata nakalan minallahi
wallahu 'azizun hakim."
(Jika laki-laki dan perempuan tua/sudah menikah berzina, maka rajamlah
keduanya sebagai balasan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa
dan Bijaksana). Teks ayat ini terhapus, tetapi hukum zina muhshan
(orang yang sudah menikah) tetap berlaku.

Jenis keempat adalah ayat muthlaq dan muqayyad.

Muthlaq adalah ayat yang berlaku mutlak tanpa syarat, sementara
muqayyad sebaliknya. Contoh ayat muthlaq dan muqayyad,
"Ya ayyuhal ladzina amanu athiullaha wa athi'ur rasula wa ulil amri
minkum" (QS. An-Nisa/4: 59):
"Hai orang-orang yang beriman, taatillah Allah dan taatilah rasul-Nya
dan pemegang kekuasaan di antara kamu."

Taat kepada Allah dan rasul-Nya mutlak, tanpa syarat, tetapi kepada
pemimpin politik muqayyad (bersyarat). Dari mana kita tahu bahwa
ketaatan kepada pemimpin politik muqayyad? Dari hadits Nabi, "'Alal
mar'il muslim as-sam'u wa-t tha'atu fîma ahabba wa kariha illa an
yu'mara bi ma'shiyyatin. Fa in umira bi ma'shiyyatin fa la sam'a wa la
tha'ata (HR. Muslim, Kitabul Imarah, Bab Wujubi Thu'atil Umara' fî
ghairi Ma'shiyyatin wa Tahrimiha fil Ma'shiyyat): "Wajib bagi setiap
Muslim taat dan patuh (kepada pemimpin) baik senang maupun tidak. Jika
diperintah kepada kemaksiatan, tidak ada kewajiban taat dan patuh."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini