Jumat, 25 Maret 2016

Hukum Seputar LGBT

Forummuslim.org - belakangan ini ramai diperbincangkan masalah
Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Pelbagai kalangan dan
tingkatan usia membicarakan masalah ini.

Setidaknya ada empat masalah berbeda perihal LGBT. Semuanya memerlukan
pembahasan tersendiri. Pada kesempatan ini kita mengangkat masalah
lesbian dari sisi hukum Islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa fikih
adalah ilmu yang berkaitan dengan perilaku mukallaf. Artinya kita akan
memandang masalah lesbian dari perilaku seksualnya.


Lesbian sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
wanita yang mencintai atau merasakan rangsangan seksual sesama
jenisnya. Dengan kata lain, lesbian adalah wanita homoseks.


Syekh Nawawi Banten menyebut status hukum hubungan seksual wanita
homoseks dalam karyanya Nihayatuz Zain sebagai berikut :

وتساحق النساء حرام ويعزرون بذلك لأنه فعل محرم. قال القاضي أبو الطيب
وإثم ذلك كإثم الزنا، لقوله صلى الله عليه وسلم "إذا أتت المرأة المرأة
فهما زانيان"

Artinya, "Hubungan seksual sesama perempuan (sihaq) adalah haram.
Pelakunya dikenakan sanksi level takzir karena sihaq merupakan
tindakan yang diharamkan.

Qadhi Abut Thayyib mengatakan, 'Dosa sihaq serupa dengan dosa zina
berdasarkan sabda Rasulullah SAW, 'Bila perempuan melakukan seksual
dengan sejenisnya, keduanya telah berzina','" (Lihat Syekh M Nawawi
Banten, Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi'in, Al-Ma'arif, Bandung,
tanpa tahun, Halaman 349).


Lalu sanksi apa yang dikenakan bagi pelaku hubungan homoseksual wanita
ini? Imam An-Nawawi di dalam Raudhatut Thalibbin menyebutkan bahwa
sanksi lesbian tidak sampai batas hudud, level sanksi terberat dalam
hukum Islam seperti rajam. Mereka hanya dikenakan takzir, satu tingkat
sanksi di bawah hudud.

المفاخذات ومقدمات الوطء وإتيان المرأة المرأة لا حد فيها

Artinya, "Aktivitas pemenuhan seksual dengan mempertemukan paha,
pendahuluan-pendahuluan dalam bersetubuh (foreplay), dan tindakan
lesbian, tidak dikenakan sanksi hudud," (Lihat Muhyiddin An-Nawawi,
Raudhatut Thalibin wa 'Umdatul Muftiyyin, Darul Fikr, Beirut, Tahun
2005 M/1425-1426 H, Juz VIII, Halaman 415).


Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalamTuhfatul Muhtaj yang kemudian
diuraikan lebih jauh oleh Ibnu Qasim Al-Abbadi mempertegas sanksi
takzir bagi pelaku homoseksual wanita/lesbian :

ولا حد بمفاخذة وغيرها مما ليس فيه تغييب حشفة كالسحاق( عبارة المغني ولا
بإتيان المرأة المرأة بل تعزران ولا باستمنائه باليد بل يعزر اما بيد من
يحل الاستمتاع بها فمكروه لأنه في معنى العزل) لعدم الإيلاج السابق(

Artinya, "(Tiada sanksi hudud bagi tindakan seksual dengan paha dan
aktivitas seksual lain yang tidak sampai memasukan kelamin laki-laki
seperti sihaq) redaksi dalam Mughni, 'Tiada sanksi hudud bagi pelaku
lesbian. Keduanya cukup di-takzir. Begitu juga mereka yang melakukan
masturbasi dengan tangannya. Mereka di-takzir. Sedangkan masturbasi
pria dengan menggunakan tangan istri atau budak perempuannya, hukumnya
makruh karena masuk kategori 'azal [keluar mani di luar vagina]'
(karena tidak ada masuknya penis seperti keterangan lalu)," (Lihat
Abdul Hamid As-Syarwani dan Ahmad Ibnu Qasim Al-Abbadi, Hawasyi
Tuhfatil Muhtaj, Musthofa Muhammad, Mesir, Juz IX, Halaman 104).


Dari sejumlah keterangan di atas kita memahaminya bahwa hubungan
seksual lesbian adalah haram dan dosa besar yang memiliki konsekuensi
hukum di dunia. Pelakunya dikenakan sanksi takzir yang diijtihadkan
oleh pemerintah dalam konteks Indonesia melalui perundang-undangan
yang berlaku.


Perihal perkawinan sejenis seperti pernikahan sesama lesbian, jelas
tidak dibenarkan karena tidak memenuhi syarat pernikahan. Hukum
positif tidak boleh melegalkan pernikahan mereka. Pemerintah baik
eksekutif maupun legislatif akan berlaku zalim bila melakukan
legalisasi perbuatan keji.


Imam An-Nawawi secara eksplisit menyebut perilaku homoseksual wanita
sebagai perbuatan keji ‎

إيلاج الفرج في الفرج يدخل فيه اللواط وهو من الفواحش الكبائر

Artinya, "Pemasukan vagina ke vagina, termasuk juga di dalamnya
homoseksual pria (liwath) adalah bagian dari perbuatan keji dan dosa
besar," (Lihat Muhyiddin An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa 'Umdatul
Muftiyyin, Darul Fikr, Beirut, Tahun 2005 M/1425-1426 H, Juz VIII,
Halaman 414).


Adapun orientasi seksual, menurut hemat kami, adalah masalah medis
yang bisa dikonsultasikan kepada para psikiater, medisin, atau
pengobatan alternatif. Masalah orientasi sejenis ini masuk dalam ruang
lingkup medis yang memiliki metode sendiri dalam menangani masalah
ini.


Kendati demikian, masyarakat tidak boleh mengucilkan mereka secara
sosial. Mereka justru membutuhkan dukungan masyarakat dalam mengatasi
problem medis yang tengah mereka hadapi.


Demikian artikel singkat mengenai LGBT yang bisa kami kemukakan.
Semoga bermanfaat bagi kita semua, dan semoga Allah menyelamatkan kita
semua dari perlaku seks sejenis agar rahmat-Nya turun merata kepada
kita semua. Kepada pelaku hubungan seksual sejenis, dianjurkan untuk
bertobat kepada-Nya. Allah maha penerima tobat hamba-Nya. (Sumber :
nu.or.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini