Rabu, 16 Maret 2016

Ahmed Zaenul Muttaqin : Mana Lebih Penting, Keyakinan Atau Geopolitik?

Bangkenapa sih ngomongin Geopolitik Timur tengah mulu? Bosen ah, coba
lebih sering ngomongin aqidah atau share tentang tarikh islam gitu.
Ok saya jawab, saya tidak pernah dan tidak akan pernah tertarik untuk
mengintervensi aqidah dan keyakinan orang lain, sebagaimana saya tidak
suka jika aqidah saya diintervensi. Siapapun Anda, Aswaja, Wahabi,
Syi'ah, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, aqidah anda ya urusan anda,
bukan wilayah saya untuk membahas apalagi menjustifikasi. Tapi kalau
urusan Geopolitik? Tunggu dulu, itu lain hal. Kita semua penganut
ajaran agama yang sama-sama menganut paham anti kemunafiqan dan anti
penindasan. Dan opera ini yang sedang kita lihat pada situasi Timur
Tengah khususnya Suriah di antara kubu-kubi yang semakin memanas.
That's the 'meeting point'.
Belajar geopolitik itu mengajari anda membuang rasa ashobiyyah
(fanatik kelompok), yang Haq katakan Haq dan yang rusak kita katakan
rusak, tak peduli apapun aqidah anda. Dalam tulisan ini saya contohkan
sosok seperti Erdogan. Orang ini adalah pemain watak nomor satu di
Timur Tengah, walaupun sebagian besar aktingnya masih payah dan
amatiran. Kenapa kok sepertinya saya sangat tidak menyukai Erdogan?
Apakah dia seorang Wahabi Takfiri? Tidak, saya katakan Erdogan ini
bukan seorang Wahabi dan bukan pula Takfiri, tapi dia adalah seorang
brengsek. Contoh, kebanyakan fansnya disini justru adalah anak-anak
muda dauroh Takfiriyah yang selalu mengkafirkan Syi'ah, tapi nyatanya
sang idola Erdogan sendiri tak pernah mengkafirkan Syi'ah. Lucu ya.
Tak pernah sekalipun ia mengeluarkan statement Anti-Syi'ah, menyebut
Syi'ah kafir atau Syi'ah bukan islam. Bahkan dia pernah dua kali
datang dan ikut meramaikan peringatan Asyura yang diadakan Muslim
Syi'ah Turki. Jelas dia bukan seorang Takfiri. Kalau saya bilang,
Erdogan ini adalah seorang Sunni non-Takfiri. Tapi kenapa dia saya
sebut brengsek? Satu hal yang jelas, Erdogan ini walaupun ia bukan
seorang takfiri, ia selalu memanfaatkan para ekstrimis sumbu pendek
dan paham Takfiri mereka demi politik kotornya di Timur Tengah. Ironis
memang, para fans Erdogan di sini berteriak-teriak mengagungkan
Erdogan dan menyebutnya sebagai pemimpin Islam yang tegas memerangi
"Kafir" Syi'ah (pemerintah Suriah), padahal Erdogan sendiri tak pernah
berkata aksinya mensponsori pemberontak di Suriah dan rencananya
menginvasi Suriah adalah untuk "memerangi Rezim Syi'ah", sedikitpun
tak pernah Erdogan berkata seperti itu. Erdogan soal Suriah lebih
mengangkat isu "penindasan" yang dilakukan Rezim Assad pada
"rakyat"-nya. Ok, saya tak mau membahas lelucon ini, ini sudah ratusan
kali saya bahas.
Itulah kenapa saya membenci Erdogan karena politik kotornya, bukan
karena aqidahnya. Bullshitlah soal aqidah, mau anda berkeyakinan
Wahabi yang pengasong Khilafah, berkeyakinan Tri Tauhid, berpaham
Mujassimah Musyabbihah bahwa Allah nongkrong di langit, ya itu
aqidahmu dan urusanmu dengan Tuhan, dan saya tak pernah tertarik untuk
mengintervensi aqidahmu. Tapi jika anda sudah berbuat kerusakan nyata
dengan politikmu yang kotor, menginvasi negara orang, membiayai para
teroris asing di negara tetanggamu, bersikap Hipokrit dengan sok Anti
Zionis tapi di belakang justru bermesraan dan berbisnis dengan Zionis,
berlagak mengecam Teroris padahal di belakang melatih dan mensponsori
para teroris, maka anda sudah brengsek tingkat akut. Dan itulah dasar
saya membenci Erdogan. Aqidahmu itu urusanmu, bahkan aqidah para
teroris binaanmu itu juga urusan mereka dengan Tuhan, tapi kerusakan
yang anda buat di hadapan sesama manusia, itu yang tidak bisa
ditoleransi. Itulah kenapa kadang saya melihat sebagian kawan saya
yang Non-Syi'ah tapi Anti-Wahabi masih ragu mengecam Erdogan,
khususnya yang buta Geopolitik. Ya, karena memang tidak ada yang
masalah dengan aqidah agama Erdogan. Mereka berpendapat selama dia
bukan Wahabi buat apa dipermasalahkan? Mereka tidak tahu sebenarnya
"Aqidah Politik" Erdogan itulah yang bermasalah.
Selama ini kita hanya fokus pada "Aqidah Agama" seseorang, padahal itu
urusan 'Hablumminallah' (urusan dia dengan Allah). Sedangkan "Aqidah
Politik" adalah 'Hablumminannas' (urusan dia dengan kita-kita). Urusan
dia dengan Allah biar Allah yang menyelesaikan, tapi urusan dia dengan
kita-kita ya itu urusan kita, dan sepatutnya itu yang kita bahas. Ya
mungkin selama ini kita melihat agama hanya dari ushul dan furu',
padahal semakin bergerak ke akhir zaman ada aspek fardhu 'ain yang
seakan lupa wajib juga didalami oleh setiap Muslim, yaitu belajar
Geopolitik. Anda tidak mau kan ketika Imam Mahdi kelak muncul lalu
anda cuma planga plongo? kadang kita tidak memahami bahwa salah satu
sebab Imam Mahdi as lahir ribuan tahun lampau, dan terus hidup hingga
sekarang adalah salah satunya supaya beliau mengikuti dan menyaksikan
sendiri perkembangan konstelasi dunia hingga akhir, hingga beliau tahu
mana yang harus dibela dan mana yang harus diperangi. Karena beliaulah
yang akan jadi pemimpin perang segala konstelasi rumit ini di akhir
zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini