Senin, 14 Desember 2015

Pengakuan Dr Taufiq Ramadhan al-Buthi, Putra Syaikh Ramadhan Al-Buthi tentang Konflik Suriah


Dengan segala ekspresinya yang membuncah, sesekali

mengusap air mata, Ketua Ikatan Ulama Suriah, Dr Taufiq Ramadhan

al-Buthi yang merupakan putra dari ulama terkemuka Suriah, almarhum

Syekh Ramadhan al-Buthi ini, mengisahkan detik-detik akhir kematian

ayahnya secara syahid tersebut di tangan kelompok radikalis.





Berbagai tudingan miring ditujukan kepada almarhum hingga pembakaran

buku-bukunya. Padahal menurut Taufiq, sikap almarhum sangat netral

dalam konflik Suriah. Tidak condong kepada salah satu pihak lantaran

krisis yang melanda Suriah, tak terlepas dari konspirasi besar untuk

menjatuhkan dan menghancurkan Negara Suriah. "Ada agenda besar di

balik berkobarnya fitnah di Suriah," katanya.





Wartawan Republika Nashih Nashrullah, berkesempatan berbincang dengan

anggota dewan penasehat Presiden Basyar al-Asad itu, di sela-sela

kunjungannya ke Indonesia menghadiri Konferensi ke-4 International

Conference of Islamic Scholars (ICIS).





Menurut Dr Taufiq Ramadhan al-Buthi,

Pada tanggal 21 Maret 2013, usai shalat Maghrib seorang pemuda berusia

18 tahun-an datang masuk ke Masjid al-Iman, Damaskus, ia semula duduk

di belakang dua menit, lalu beranjak mendekati posisi ayahnya yang

sedang menyampaikan kajian tafsir. Jarak antara pemuda dengan posisi

beliau duduk kira-kira 6 meter. Lalu meledakkan diri. Sebagian besar

jamaah meninggal langsung jumlahnya 45 orang.





Total korban jiwa sebanyak 53 orang. Ledakan tak berdampak signifikan

pada luka Syaikh Ramadhan Al Buthi, hanya luka ringan di bagian bibir.

Bahan peledak C-4 itu di dalamnya terdapat potongan-potongan material

kecil. Ledakkan begitu dahsyat, begitu tersadar, meski dalam kondisi

berdarah-darah, Ahmad yang merupakan cucu dari Syaikh Ramadhan Al

Buthi mencoba menolong kakeknya, tapi lukanya yang parah tak lagi

mampu menopang dirinya sendiri. Ia terjatuh dan akhirnya syahid di

rumah sakit. (dulu oleh media wahabi, cucunya yang hendak menolong itu

malah difitnah sebagai

bagian dari anggota teroris yang melakukan eksekusi terakhir terhadap

Almarhum Syaikh Ramadhan Al Buthi karena sesaat setelah terjadi

ledakan bom bunuh diri Syaikh Ramadhan Al Buthi tidak langsung

meninggal)



Melalui telepon, Dr Taufiq Ramadhan al-Buthi mendapat informasi, bahwa

ayahanda hanya terluka di bagian kening dan kaki, tetapi Allah SWT

berkehendak lain, sesampainya di RS, beliau dikasih tahu, bahwa

ayahandanya telah wafat. Dr Taufiq Ramadhan al-Buthi akhirnya melihat

langsung jenazahnya, perasaan bercampur aduk, seolah tak percaya.

Almarhum seperti tertidur biasa. Mukanya putih, badannya masih hangat,

bibirnya merah, beliau cium keningnya. Beliau tanya ke dokter

bagaimana kondisi Ahmad? Dokter menjawab kritis, Ahmad akhirnya wafat.



Sebebelumnya para pemberontak Suriah menyadari betul bahwa al-Buthi

yang telah menyingkap kebusukan di balik krisis Suriah ini, karenanya

beliau harus segara dihabisi. Beberapa pekan sebelum Syaikh Al Buthi

wafat, beliau menggelar pertemuan keluarga, dan beliau berkata," Saya

bermimpi, wallahu a'lam, apa maknanya, tapi saya berfirasat, ajal

telah dekat."



Menurut Dr Taufiq Ramadhan al-Buthi, Aksi teror sebetulnya tak membuat

kami heran, kami sudah memperkirakan ini semua bakal terjadi, kami

mengkhawatirkan ayah kami. Pesan yang tersirat yaitu hendak mencoreng

wajah Islam lewat sosok al-Buthi. Pekan pertama krisis Suriah, saat

saya sedang berada di Brunei Darussalam, sebuah bom dijatuhkan di

depan rumah kami, selanjutnya, sebuah bom pernah dilempar nyaris

mengenai mobil saya, ini bukan kali pertama tetapi berulang.

Beberapa kali para pelaku juga menulis ancaman-ancaman dengan

kata-kata kasar, menjijikkan, di tembok rumah kami. Begitulah mereka.

Karena itu beliau menyarankan agar tidak pergi ke masjid, meski jarak

rumah kami tak terlalu jauh karena akses menunju masjid tak lagi aman.

Beberapa hari kemudian, Ayah saya kembali mengumpulkan keluarga,

termasuk anak-anak saya. Beliau meminta agar putraku yang tengah

sakit, Mahmud, tak pergi merekam ceramah rutin beliau di Universitas

al-Kuwait, dekat rumah. Namun, permintaan ini tak diiyakan, Mahmud dan

Ahmad tetap berangkat untuk merekam episode ke-17 dari acarafi qadhaya

as-sa'ah ma al-Buthi yang diasuh kakeknya tersebut. Ini adalah ceramah

pamungkas. Beliau kata putraku, berbicara blak-blakan dan menyadari

bahwa ajal telah dekat.

Sekembalinya dari agenda itu, Ahmad bercengkerama dan berpamitan

dengan segenap keluarga, seakan hendak pergi jauh. Mendekati Maghrib,

ia bergegas menuju rumah kakeknya seolah-olah ada janji. Keduanya

lantas shalat Maghrib ke Masjid al-Iman. Sementara Mahmud tetap berada

di rumah. Usai shalat dia kaget mendapat kabar, ada ledakan besar di

Masjid Imam. Ia bergegas menuju Masjid. Kita mencoba untuk tetap

tenang dan mencari tahu apa yang sedang terjadi, meski kabar itu

mengguncang perasaan kami. Kami menyusul menuju rumah sakit bersama

keluarga, termasuk istri dari Ahmad. Hingga saya melihat langsung apa

yang terjadi. (republika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini