Minggu, 08 Oktober 2017

Jadi Ustadz Itu Susah

Ilustrasi Ustad
Forum Muslim - Menarik mendengar seseorang berbicara masalah dalil al-Quran atau hadis di dalam Islam, lalu merasa seperti imam mujtahid. Padahal, yang diketahuinya itu dalilnya sangat-sangat terbatas. Apa akibatnya jika dalil yang diketahinya itu sangat terbatas? Tentu saja dia akan terperosok kedalam lubang kesalahan.

Di dalam Islam, ada tingkatan-tingkatan dilâlah (pengertian yang diperoleh daripada lafadz-lafadz pada nash). Dilâlah yang paling utama adalah dilâlah ibârah, yaitu dilâlah yang diperoleh langsung dari lafadz-nya, tanpa harus mencari lafadz yang hilang, atau mencari makna yang tersirat darinya. Misalnya di dalam Qs. al-Hajj: 30, dikatakan, "Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta." Dari teks ini diperoleh makna yang apa adanya, yaitu kita tidak boleh berkata-kata dusta, termasuk bersaksi palsu, mengarang-ngarang cerita, menyebarkan berita hoax, menfitnah (meskipun di gedung parlemen), dan seterusnya dan seterusnya. 

Atau seperti dalam Qs. al-Nisa: 10, "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelam api sepenuh perutnya, dan mereka akan masuk kedalam api yang menyala-nyala (neraka)." Ini artinya ya sama seperti apa yang ada di dalam naskahnya, yaitu tidak boleh memakan harta anak yatim dengan dzalim, titik! 

Lalu, apa pendapat Anda jika ada seorang ngulama' yang mendasari segalanya dengan pemikiran-pemikiran budayanya nyeletuk seperti ini, "Kalau Rasulullah SAW sudah mengatakan bahwa dosa itu dihapuskan atas tiga hal: khatha' atau ketaksengajaan, lupa, dan karena terpaksa, maka memang seharusnya orang yang membunuh karena tidak sengaja itu tidak terkena hukuman. Begitulah ajaran Islam," katanya diiringi gelak tawa dan tepuk tangan. Dia pun lalu membacakan teks arabnya:

رفع عن أمتى الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

Karena dia berlebel ngulama', tentu saja apa yang diucapkannya, apalagi dilengkapi dengan dalil, akan dibenarkan oleh orang-orang awam pengikutnya. Padahal itu jelas-jelas salah. 

Anak-anak kelas 2 Tsanawiyah saja mengerti itu. Bahwa Qs. al-Nisa: 92, menyebutkan: "Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena khatha' (tidak sengaja), hendaklah ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (yang terbunuh)." 

Jadi jelas kan, ada dendanya. Artinya, jika dendanya telah terbayarkan, maka pembunuh yang tak sengaja itu bebas. Itu jika kita mau berbicara hukum Islam. 

Kejadian ini seharusnya memberikan makna bahwa tidak mudah menjadi ustadz, apalagi ulama. Seorang ustadz itu seharusnya menguasai semua ilmu alat yang memungkinkannya untuk mereview apa pun yang berkaitan dengan kehidupan ini. Seandainya pun seorang ustadz lupa dalil al-Quran, hadis, atau fiqihnya, dia tidak akan lupa ke mana dia harus merujuk; kitab apa yang harus di-oprek-oprek; bab apa yang harus disbanding-bandingkan, dan seterusnya. 

Dua hari yang lalu, saya naik taksi online Supirnya orang berumur 50-an tahun. Dia menyebut dirinya adalah pengagum Khalid Bassalamah, dan beberapa tokoh aneh lainnya. 

Saat itu, seperti biasa, saya lalu bertanya kepada orang-orang seperti ini dengan pertanyaan yang standar (standar untuk mengulik apakah dia Wahabi bodoh atau pinter). "Pak, Khalid kan menyebut bahwa orang-tua Nabi SAW kafir, bagaimana menurut bapak?" tanya saya. 

"Kata ustadz Khalid, bapak dan ibunya Nabi itu masuk neraka. Hadisnya ada dan shahih, ya sudah, berarti memang begitu," katanya. 

"Lho, bapak nggak ngerti hadisnya apa?" tanya saya.

"Tidak, tapi pokoknya gitu lah, masuk neraka mereka itu, kan mereka orang jahiliyah," jawabnya. 

Lalu, saya sebutkan bahwa hadis "inna abi wa abaaka fi al-naar" itu hadis ahad. Bahwa hadis ahad itu tidak boleh untuk I'tiqadiyyah, tapi boleh untuk amaliyah. Juga saya sebutkan hadis shahih riwayat Bukhari bahwa Ali bin Abi Thalib pernah mendengar Nabi SAW mengumpulkan ayah dan ibu beliau dan menjaminkan mereka untuk Sa'ad bin Abi Waqash agar berani melempar tombak saat perang. Dengan jaminan itu, Sa'ad berani melakukannya. 

Saya bertanya kepadanya, "Bapak mengerti apa arti hadis Ali bin Abi Thalib yang mutawatir ini?" Orang-tua itu menggeleng, tapi sambil berpikir. "Apa artinya pak?" katanya menyerah. 

"Masak begini saja tidak mengerti pak? Kan gampang tuh. Nabi menjaminkan kedua orang-tuanya agar sahabatnya yang bernama Sa'd bin Abi Waqash berani berperang, coba dipikir lagi." 

"Saya tidak mengerti," katanya.

"Artinya ya gampang dong pak. Jika bapak cinta kepada Rasulullah SAW, bapak pasti mengerti arti hadis ini," kata saya. 

"Bapak tinggal menyebutkan saja hadis tadi, bahwa Rasulullah SAW menjaminkan kedua orang-tua beliau kepada sahabatnya. Artinya, nabi sedang menjaminkan orang-orang yang memiliki nilai yang lebih tinggi daripada Sa'd bin Abi Waqash sendiri dalam segala hal. Artinya, jika orang-tua Nabi SAW masuk neraka, Nabi SAW tidak mungkin menjaminkan kedua-orang tuanya kepada Sahabatnya. Dan Sahabatnya tak akan mau menerima jaminan dari para ahli neraka itu," kata saya panjang. 

"Oh iya iya," katanya sambil manggut-manggut. 

Saya bertanya, maksudnya iya-iya itu apa. Dia menjawab bahwa dia baru mengerti ini. Bahwa ternyata orang-tua Nabi SAW bukan kafir. 

"Lalu, bagaimana dengan ustadz Bassalamah?" tanya saya. 

"Beliau kok berani ya pak mengafirkan orang-tua Nabi?" tanyanya. 

Walhasil, sampai saya turun di tempat tujuan, orang-tua itu minta no. HP saya, dan sekali-sekali ingin mengundang saya. Saya lalu memberikan no. Hp saya untuk sopan-santun saja. 

Dan Anda harus mengerti bahwa orang-tua ini adalah satu dari sekian banyak pengagum ustadz-ustadz aneh itu yang setelah diajak bicara ternyata tidak mengerti apa-apa. Mereka hanya menurut saja, menempatkan ustadz-nya sebagai kebenaran yang absolute. Hingga mereka bertemu dengan seseorang yang membukakan persepsi yang lebih luas, mereka rata-rata menyadari ketakmengertiannya. Andai semua orang mau berdialog dengan pikiran terbuka.   

Intinya, tidak mudah menjadi ustadz apalagi ulama. Tidak cukup gelar doktor saja, atau gelar-gelar lainnya. Seorang ustadz harus bergumul dengan ratusan bahkan ribuan literatur Islam maupun ilmu-ilmu yang bertalian dengannya agar ilmunya senantiasa terasah, sedangkan persepsi dan coverage-nya menjadi semakin luas. Sekian. (Sumber  : Khoiron Mustafit/fb)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini