Minggu, 22 Januari 2017

Misi Kristenisasi di Balik Tokoh Natal, Sinterklas


Dalam dekade 2000-an ini, ada sebuah perubahan dahsyat pada kehidupan kaum muslimin, akibat adanya gesekan dan pergaulan dengan non-muslim. Adanya hubungan itu, karenanya adanya kebutuhan masing-masing orang dalam menyelesaikan hajatnya. Kita ambil contoh –misalnya- para pedagang besar yang membuka berbagai macam pusat perbelanjaan. Dengan ini, mereka membuka peluang kerja bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan. Si pedagang besar biasanya kafir, sedang si pekerja adalah mayoritas muslim.

Jelas dari hubungan kerja ini, si pedagang adalah pimpinan bagi para pekerja. Sisi inilah yang dimanfaatkan oleh para pedagang besar dari kalangan kaum kafir untuk menyebarkan agama dan pemikiran sesat yang mereka yakini.

Contoh konkrit ada di depan mata anda!! Jika anda berjalan-jalan ke pusat-pusat perbelanjaan kaum kafir di Makassar atau tempat lainnya, maka bola mata anda yang bulat akan meneropong sebuah pemandangan miris lagi tragis, adanya para pekerja menggunakan simbol dan syiar Kristiani dengan menggunakan topi Sinterklas, toko-toko dihiasi dengan berbagai hiasan-hiasan natal, mulai pohon natal yang dihias permen natal, lampu natal, permen tongkat (candy cane), sampai kepada kaos kaki natal.

Semua ini merupakan syiar agama Kristiani (Nasrani) yang "paksakan" atas pekerja yang muslim, maupun yang kafir. Ini jelas merupakan bentuk penjajahan atas agama, pribadi dan hak asasi kaum muslimin. Atribut dan simbol Kristiani ini digambarkan dan disamarkan dengan propaganda bahwa itu adalah hal yang biasa, kemajuan, dan ungkapan rasa gembira yang tak terlarang!! Subhanallah, sungguh busuk niat-niat mereka.

Di awal tulisan ini kami tak akan mendatangkan dalil yang melarang kita menggunakan simbol-simbol kekafiran (termasuk simbol Kristiani). Akan tetapi kami akan terangkan lebih awal tentang siapa sebenarnya Tokoh Natal yang dikenal dengan "Sinterklas".

SEJARAH DAN HAKIKAT SINTERKLAS

Sinterklas (dalam bahasa lain juga dikenal dengan nama Santa Claus, Santo Nikolas, Santo Nick, Bapak Natal, Kris Kringle, Santy, atau Santa) adalah tokoh dalam agama Kristen (Nasrani). Ia dikenal sebagai seorang yang memberikan hadiah kepada anak-anak, khususnya pada Hari Natal.

Santa berasal dari tokoh dalam cerita rakyat di Eropa yang berasal dari tokoh Nikolas dari Myra, adalah orang Yunani kelahiran Asia Minor pada abad ketiga masehi di kota Patara (Lycia et Pamphylia), kota pelabuhan di Laut Mediterania, dan tinggal di Myra, Lycia (sekarang bagian dari Demre, Turki). Ia adalah anak tunggal dari keluarga Kristen yang berkecukupan bernama Epiphanius (πιφάνιος) dan Johanna (ωάννα) atau Theophanes (Θεοφάνης) dan Nonna (Νόννα) menurut versi lain. Nikolas adalah seorang uskup yang memberikan hadiah kepada orang-orang miskin

Tokoh Santa kemudian menjadi bagian penting dari tradisi Natal di dunia barat dan juga di Amerika Latin, Jepang dan bagian lain di Asia Timur. Hari Sinterklas dirayakan di seluruh dunia setiap tanggal 6 Desember.

Santo Nikolas dari Myra adalah inspirasi utama untuk figur orang Kristen tentang Sinterklas. Dia adalah uskup Myra di Lycia pada abad ke 4. Nikolas terkenal untuk kebaikannya memberi hadiah kepada orang miskin. Dia sangat religius dari awal umurnya dan mencurahkan hidupnya untuk Kristen. Di Eropa (lebih tepatnya di Belanda, Belgia, Austria dan Jerman) dia digambarkan sebagai uskup yang berjanggut dengan jubah resmi. Relik dari Santo Nikolas dikirim ke Bari di Italia selatan oleh beberapa pedagang Italia; sebuah basilika dibangun tahun 1087 untuk memberi mereka rumah dan menjadi daerah ziarah.

Santo Nikolas menjadi dirujuk oleh orang banyak sebagai Santo pelindung bagi pelaut, pedagang, pemanah, anak-anak, tuna susila, ahli obat, pengacara, pegadaian, tahanan, kota Amsterdam dan Rusia.[1]

Konon kabarnya, Sinterklas selalu berusaha apabila ia memberi sesuatu, agar tidak dilihat maupun diketahui oleh si penerima, sesuai dengan ajaran dari Alkitab. Pada suatu hari ia berusaha untuk membantu seseorang dari sebuah atap rumah dengan menjatuhkan sekantung uang melalui cerobong asap. Dan kebetulan uang tersebut jatuh ke dalam kaos kaki yang sedang digantungkan oleh anak si pemilik rumah untuk dikeringkan di dekat api pemanas. Hal ini rupanya diketahui oleh si pemilik rumah.

Sejak saat itu timbul kepercayaan bahwa Sinterklas selalu datang melalui cerobong asap di waktu tengah malam dan memberi hadiah untuk anak-anak di kaos kaki atau kantong di dekat ranjang atau di bawah pohon Natal.

Kaus kaki Natal adalah kaus kaki besar atau kantong kain berbentuk kaus kaki yang digantung anak-anak pada malam Natal. Anak-anak berharap Sinterklas akan datang berkunjung dan mengisinya dengan mainan, permen, buah-buahan, uang logam, atau hadiah-hadiah kecil lainnya.

Kaus kaki Natal telah menjadi salah satu hiasan Natal dan kerajinan tangan yang populer. Kaus kaki Natal berukuran besar dan dibuat dalam warna-warni mencolok sehingga tidak bisa dipakai sebagai kaus kaki sehari-hari. Nama anggota keluarga sering dicantumkan pada kaus kaki Natal agar Sinterklas tidak salah meletakkan hadiah.

Pada zaman dulu, anak-anak menggantungkan stoking atau kaus kaki besar di atas perapian agar mudah dilihat Sinterklas yang turun dari cerobong asap. Di rumah zaman sekarang yang tidak memiliki perapian, kaus kaki Natal bisa diletakkan di mana saja.

Dalam beberapa cerita Natal, Sinterklas meletakkan hadiah untuk anak-anak di dalam kaus kaki Natal. Kisah lain mengatakan Sinterklas meletakkan kado Natal yang dibungkus di bawah pohon Natal. Menurut tradisi kebudayaan Barat, anak-anak yang tidak berkelakuan manis hanya akan menerima sebuah batu bara.

Versi lain dari asal-usul menggantung kaos kaki di dekat perapian, seorang duda miskin memiliki tiga orang anak gadis, namun tidak memiliki uang untuk menikahkan mereka.[2] Ketiga anak gadis tersebut kemungkinan besar tidak akan pernah menikah bila sang ayah tidak memiliki uang untuk maskawin

Santo Nikolas alias Sinterklas lewat di desa tempat mereka tinggal. Ia mendengar perbincangan penduduk desa tentang kesulitan sang ayah yang sedang dalam kesulitan. Santo Nikolas tahu bahwa sumbangan darinya pasti ditolak. Ia berniat membantunya secara diam-diam, dengan membawa tiga kantong uang emas, Santo Nikolas masuk ke dalam rumah melalui cerobong asap ketika mereka sudah tidur.[2]

Ketika sedang mencari tempat untuk meletakkan kantong uang emas, Santo Nikolas melihat stoking milik ketiga anak gadis yang sedang digantung di dekat perapian. Ketiga kantong uang emas dimasukkannya ke dalam masing-masing stoking, dan Santo Nikolas segera pergi. Pagi harinya setelah bangun, ketiga anak gadis itu sangat gembira menemukan kantong uang emas di dalam stoking. Dengan uang emas tersebut, sang ayah dapat menikahkan ketiga putrinya.

Kisah tersebut menjadi asal usul tradisi menggantung kaus kaki Natal yang dimulai anak-anak di Eropa. Kaus kaki yang digantung mulanya kaus kaki biasa, namun lambat laun diganti dengan kaus kaki Natal yang khusus dibuat untuk menerima hadiah

Cerita lain dari Sinterklas alias Santa Claus, ia digambarkan memiliki sekawanan rusa kutub yang dipakai  oleh Sinterklas untuk menarik kereta salju berisi hadiah-hadiah Natal untuk anak-anak. Tim rusa kutub Sinterklas terdiri dari Dasher dan Dancer, Prancer dan Vixen, Comet dan Cupid, serta Donder dan Blitzen.[1] Nama-nama kedelapan ekor rusa tersebut sering disebut orang setelah ditulis dalam puisi A Visit from St. Nicholas terbitan tahun 1823.

Dalam puisi A Visit from St. Nicholas, Sinterklas menaiki "kereta salju berukuran miniatur, dan delapan rusa kutub kecil" serta rusa kutub yang "lebih cepat daripada elang". Puisi tersebut tidak menjelaskan tugas masing-masing rusa, namun menyebutkan bahwa mereka bisa terbang.

Demikian yang dijelaskan oleh sebagian sumber tentang perihal kehidupan dan asal-usul kakek tua yang berjenggot ini. Kisah hidupnya memiliki banyak versi sebagaimana halnya dengan yang disematkan kepadanya. Intinya, ia adalah seorang tokoh Kristiani yang disucikan oleh kebanyakan Umat Kristiani.

Terlepas dari benar tidaknya berita kehidupan Sinterklas alias Santo Nikolas, ia sudah menjadi simbol dan syiar bagi umat Kristiani (Kristen alias Nasrani), sampai Sinterklas dianggap sebagai "Bapak Natal". Tak heran bila Hari Natal menjelang, maka gambar dan miniatur serta aksesori yang berhubungan dengan Sinterklas mulai muncul dan terpajang di toko-toko, jalan-jalan, dan tempat-tempat umum.

Semua ini tentunya propaganda yang berisi pesan-pesan dan misi Kristiani yang sering tak disadari oleh kaum muslimin. Ini adalah secuil usaha yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen dalam mendekatkan agama Kristen kepada masyarakat Islam Indonesia yang mayoritasnya adalah kaum muslimin. Langkah awal ini mereka lakukan demi membiasakan masyarakat dengan simbol-simbol dan syiar Kristiani agar terbiasa akrab dengannya. Mereka lebih perhalus lagi melalui iklan-iklan berbau bisnis, namun hakikatnya adalah kristenisasi terselubung.

Lantaran itu, kaum muslimin harus waspada dan tegas dalam menyikapi mereka. Dalam bekerja di bawah pimpinan mereka, kaum muslimin harus tegas dan punya prinsip!! Jika bekerja dalam perkara dunia yang dihalalkan, maka kita lakukan. Adapun jika bekerja pada mereka dengan mengorbankan agama dan merendahkannya, maka kita harus tegas!!! Jika mereka mengajak kita bekerja sambil menyebarkan agamanya, maka harus kita tolak demi keyakinan dan agama kita, Islam.

Nah, salah satu diantara makar mereka, kaum Kristiani memaksa dan mengharuskan kaum muslimin yang bekerja pada mereka agar menggunakan simbol dan syiar Kristiani, seperti menggunakan Topi Sinterklas!! Para pekerja muslim harus menolak hal ini, jangan pakai topi itu!!! Kalian punya hak asasi di sisi pemerintah untuk menolak hal itu demi agama kalian yang suci, Islam!!!!

Jadi, kaum muslimin harus tegas, "Agamaku, agamamu", artinya aku punya agama, dan kalian pun punya agama, jangan dicampur-baur!! Sekali Islam, tetap Islam!!! Ini yang dilupakan oleh mayoritas kaum muslimin pada hari ini. Mereka tak lagi bangga dengan agamanya dan sebaliknya tidak lagi benci dengan kekafiran.

Padahal salah satu diantara makna Islam, seorang berlepas diri dari kekafiran atau kesyirikan  dan pemeluknya!!! Ini yang harus kita pegang dan camkan dalam hati kita sebagai muslim sejati!!

Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan -hafizhahullah- berkata dalam menjelaskan hakikat Islam,

والإسلام هو الاستسلام لله بالتّوحيد، والانقياد له بالطاعة، والخلوص من الشرك وأهله، هذا هو الإسلام، وهذا دين جميع الرسل- عليهم الصلاة والسلام

"Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid (mengesakan Allah), tunduk kepada-Nya dengan taat (kepada-Nya) dan bersih (berlepas diri) dari kesyirikan dan pelakunya. Inilah agama semua rasul –alaihimush sholatu was salam-". [Lihat I'anatul Mustafid (1/166) karya Syaikh Al-Fauzan, cet. Mu'assasah Ar-Risalah, 1423 H]

Anda lihat bahwa agama Islam yang pernah dibawa oleh para rasul mengandung tiga pilar utama:

Pertama, mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya, tanpa mengangkat tuhan lain yang diibadahi dari selain Allah -Azza wa Jalla-.

Kedua, senantiasa taat kepada Allah -Ta'ala- dengan mengikuti segala tuntunan Allah, baik itu masuk akal atau tidak; sesuai perasaan atau tidak!!

Ketiga, berlepas diri dari perkara yang mengantarkan kepada kesyirikan. Kita membenci segala syiar dan ajakan kepada kesyirikan dan kekafiran, termasuk diantaranya simbol Natal 'Sinterklas' atau Natal itu sendiri. Karena, semua itu mengajak manusia kepada kesyirikan dan kekafiran kepada Allah dan agama-Nya, yaitu Islam!!!

Perlu pula diketahui bahwa Islam agama para rasul (termasuk di dalamnya Nabi Ibrahim, Ya'qub, Musa, dan Isa serta yang lainnya -alaihis salam-). Adapun agama Yahudi dan Kristen, maka keduanya bukanlah agama kedua Rasul yang mulia, Musa dan Isa!!!! Kedua agama itu adalah buatan tangan kaum Yahudi dan Kristen yang tak setia mengikuti ajaran para nabi mereka, karena tak sesuai dengan hawa nafsu dan pemikiran mereka. Mereka adalah kaum durhaka kepada Nabi Musa dan Isa!!

Ayat-ayat suci dalam Al-Qur'an, banyak sekali yang menyatakan bahwa para nabi seluruhnya adalah muslim dan beragama Islam. Para nabi berpesan kepada keluarga dan pengikutnya agar mengikuti Islam, jangan mengikuti ajaran sesat yang tak pernah mereka ajarkan kepada umatnya.

Nabi Isa pernah berpesan kepada kaum muslimin yang menjadi pengikutnya di zaman beliau, agar mereka membenarkan risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, bila datang setelah Nabi Isa –alaihimash sholatu was salam-.

Allah -Azza wa Jalla- mengabadikan pesan Nabi Isa tersebut dalam firman-Nya,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَد [الصف/6]

"Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata, "Hai Bani Israil, sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." (QS. Ash-Shaff : 6)

Lalu kenapa Nabi Isa memerintahkan kaumnya mengikuti Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-? Karena, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah pelanjut risalah Islam yang telah dibina dan diajarkan oleh Nabi Isa kepada Bani Isra'il.

Inti risalah (misi) yang dibawa oleh kedua nabi ini adalah sama, yaitu Islam yang berisi tauhid, ketaatan kepada Allah, dan menjauhi kekafiran atau kesyirikan berserta pemeluknya. Adapun perbedaannya, hanya dari sisi syariat yang berisi tata cara beragama dan menyembah Allah -Azza wa Jalla-. Namun semua tata cara itu bermuara kepada tiga tujuan mulia: mengesakan Allah (tauhid), taat kepada Allah dan menjauhi perkara kesyirikan atau kekafiran yang dimurkai oleh Allah beserta pelakunya!!

Oleh karena itu, tak benar sangkaan sebagian orang  yang menyatakan bahwa agama Nabi Isa bukan Islam, tapi Kristen, sehingga mereka pun mengklaim bahwa agama Nabi Isa beda dengan Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. Sungguh ini adalah asumsi yang amat salah dan batil!! Yang beda hanya syariat keduanya saja, bukan agamanya!!!

Andaikan para nabi itu ditaqdirkan dan ditetapkan hidup sampai datangnya Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka mereka wajib dan harus ikut kepada syariat Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. Karena, itu adalah janji yang telah diambil oleh Allah -Azza wa Jalla- dari mereka.

Allah -Azza wa Jalla- berfiman,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آَتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (81) فَمَنْ تَوَلَّى بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (82) [آل عمران/81، 82]

"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya".[3]. Allah berfirman: "Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab, "Kami mengakui". Allah berfirman, "Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian".  Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik". (QS. Ali Imraan : 81-82)

Sadarilah -wahai pembaca budiman- bahwa agama haq (benar) yang pernah dibawa dan diajarkan oleh Nabi Isa –alaihis salam- kepada Bani Isra'il adalah agama Islam yang menyeru kepada tauhid dan memberantas syirik, mengajarkan ketaatan kepada wahyu Allah. Hanya saja Paulus beserta kaum Yahudi dan Raja Romawi yang menganut kesyirikan dan paganisme memusuhi orang-orang Islam yang bertauhid merupakan pengikut setia Nabi Isa. Semua sekte sesat yang mengaku pengikut Nabi Isa bersekutu menghapuskan tauhid dan para pengikut. Ini terbukti dalam Konsili Nicea yang memaksakan doktrin trinitas yang telah lama diusung dan diperjuangkan oleh Paulus dan para pengekornya. Mereka membantai kaum unitarian yang masih mempertahankan tauhid dan membenci syirik serta setia kepada inti ajaran Nabi Isa. Sebagai korban, Arius dari Alexandria mendapatkan tekanan dan pengucilan dari mereka akibat masih mempertahankan prinsip tauhid!!

Ketahuilah bahwa Nabi Isa –alaihis salam- adalah seorang muslim, bukan seorang musyrik dan kafir. Agama yang dibawa dan diserukan oleh Isa –alaihis salam- adalah Islam!!!

Allah -Azza wa Jalla- menjelaskan hal itu dalam firman-Nya,

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132) أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133) [البقرة : 132 ، 133]

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub (berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam". Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqoroh : 132-133)

Perhatikan ucapan Ibrahim dan Ya'qub (Israel), "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

Sebuah pertanyaan muncul, "Siapakah diantara  anak cucu Ibrahim dan Ya'qub yang diwasiati agar jangan mati, kecuali dalam keadaan beragama Islam?"

Jawabnya, Nabi Isa termasuk diantara anak cucu Ibrahim dan Ya'qub yang diajak dan diingatkan agar ber-Islam dan mati di atasnya.

Nabi Ibrahim, Ya'qub serta anak cucunya semua berada di atas Islam!! Bukan berada di atas agama Yahudi dan Nashrani-Kristen.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (67) إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ (68) [آل عمران : 67 - 68]

"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi muslim (berserah diri kepada Allah)[4], dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad). Dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman". (QS. Ali Imraan : 67-68)

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ  [البقرة : 140]

"Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan asbath (anak cucunya), adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kalian lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kalian kerjakan". (QS. Al-Baqoroh : 140)

Syahadah dari Allah ialah persaksian Allah yang tersebut dalam Taurat dan Injil bahwa Nabi Ibrahim dan anak cucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani dan bahwa Allah akan mengutus Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagai rasul yang akan membenarkan risalah sebelumnya dan menghapus semua syariat yang ada!!

Seorang ulama tabi'in, Al-Imam Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat di atas,

كَانَتْ شَهَادَةُ اللَّهِ الَّذِي كَتَمُوا أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْرَءُونَ فِي كِتَابِ اللَّهِ الَّذِي أَتَاهُمْ إنَّ الدِّينَ الإِسْلامُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَأَنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطَ كَانُوا بُرَّاءً مِنَ الْيَهُودِيَّةِ وَالنَّصْرَانِيَّةِ، فَشَهِدُوا لِلَّهِ بِذَلِكَ، وَأَقَرُّوا بِهِ عَلَى أَنْفُسِهِمْ لِلَّهِ فَكَتَمُوا شَهَادَةَ اللَّهِ عِنْدَهُمْ مِنْ ذَلِكَ، فَذَلِكَ مَا كَتَمُوا مِنْ شَهَادَةِ اللَّهِ

"Syahadah (persaksian) Allah yang mereka sembunyikan adalah bahwasanya mereka dulu telah membaca dalam Kitab-kitab Allah yang datang (turun) kepada mereka, "Sesungguhnya agama (yang ada di sisi Allah) adalah Islam, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah serta bahwasanya Nabi Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan asbath (anak keturunan Ya'qub) berlepas diri dari agama Yahudi dan Nashrani (Kristen)". Mereka (Ahlul Kitab) pun mempersaksikan hal itu dan mengakui hal itu kepada Allah atas diri mereka. Tapi mereka menyembunyikan persaksian Allah tersebut atas hal tadi di sisi mereka!! Itulah yang mereka sembunyikan diantara persaksian Allah". [Lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim (1/367-Syamilah), Tafsir Ath-Thobariy (2134) dan Tafsir Ibnu Katsir (1/451)]

Para pemuka agama Kristen –seperti, Paulus- tahu bahwa Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa dan asbath (anak cucu Ya'qub) adalah manusia-manusia yang beragama Islam!!

Tapi kebencian terhadap agama Nabi Isa (yaitu, Islam) membuat Paulus beserta pengikutnya dan kerajaan Kostantinopel-Romawi berusaha keras untuk mengubur Islam!!

Pasalnya, Paulus itu beragama Yahudi yang jelas-jelas mengajak kepada kesyirikan (menduakan Allah). Apalagi kerajaan Kostantinopel waktu itu juga berlatar belakang agama penyembah berhala (paganis).

Walaupun keduanya sudah mengaku sebagai pengikut agama Nabi Isa –menurut mereka-, hanya saja kebiasaan syirik dan kafir pada diri Paulus dan Raja Kostantinopel belum bisa mereka tinggalkan. Akhirnya, mereka berdua membuat format agama baru yang mempertuhankan Nabi Isa!! Itulah agama Kristen sampai hari ini, tapi bukan agama Nabi Isa!!!

Para pembaca yang budiman, kita kembali kepada urusan Sinterklas, seorang tokoh Natal yang harus kita benci. Karena, ia merupakan lambang dan syiar yang mengajak kepada kekafiran!![5]

Allah -Ta'ala- berfirman dalam memerintahkan kita untuk membenci kekafiran dan segala hal yang mengajak kepadanya,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (8) [الحجرات : 7 ، 8]

"Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana".

Ini merupakan dalil yang menerangkan wajibnya seorang muslim membenci segala perkara yang mengajak kekafiran atau kemusyrikan sekaligus perintah untuk mencintai Islam dan segala kebaikan yang diperintahkannya.

Jika seseorang mencintai keimanan kepada agama Islam, maka mereka itu akan diberi taufiq. Sebaliknya, jika mereka justru lebih memilih dan mencintai kekafiran, maka Allah akan sesatkan hatinya!!

Ahli Tafsir Jazirah Arab Al-Imam Al-Allamah Ibnu Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan kalimat yang bergaris bawah dari ayat suci di atas,

أي: الذين صلحت علومهم وأعمالهم، واستقاموا على الدين القويم، والصراط المستقيم. وضدهم الغاوون، الذين حبب إليهم الكفر والفسوق والعصيان، وكره إليهم الإيمان، والذنب ذنبهم، فإنهم لما فسقوا طبع الله على قلوبهم

"Maksudnya, orang-orang baik ilmu dan amalnya serta istiqomah di atas agama dan jalan yang lurus. Sedang lawan mereka, adalah orang-orang sesat yang diberikan kecintaan kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan serta diberikan kebencian kepada keimanan. Yah, dosanya adalah dosa mereka. Sebab, tatkala mereka berbuat kefasikan (keluar dari tuntunan Allah), maka Allah tutup hati mereka". [Lihat Taisir A-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan (hal. 800)]

Di dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa bersemangat dalam meraih kesenangan dunia, tanpa membedakan antara perkara yang medatangkan ridho Allah dengan perkara yang tidak mendatangkan ridho-Nya merupakan tanda dan kebiasaan jahiliah dan kekafiran.

Hendaknya kaum muslmin saat bekerja kepada kaum kafir memperhatikan, apakah pekerjaan itu membuat Allah ridho atau justru membuat-Nya marah. Jika membuat Allah murka, karena di dalamnya terdapat pelanggaran berupa maksiat, kekafiran, kesyirikan, dan bid'ah, maka ia jauhi. Jangan seperti kaum kafir yang tidak memilah diantara pekerjaan yang ia lakukan, entah baik atau tidak, yang jelas dunia tercapai!! Na'udzu billahi min dzalik. [Lihat At-Tahrir wat Tanwir (26/237) oleh Ibnu Asyur Al-Malikiy -rahimahullah-]

Para pembaca yang budiman, renungilah ayat ini baik-baik. Di dalamnya Allah mengabarkan kepada kita bahwa Dia Yang membolak-balikkan hati para hamba-Nya. Jika Dia hendaki hamba itu mencintai amal-amal keimanan, maka Allah akan arahkan hatinya untuk mencintai hal-hal itu. Namun sialnya seorang hamba jika ia ditaqdirkan mencintai jalan-jalan yang mengantarkan dirinya kepada kemaksiatan dan kekafiran.

Waspadalah, jangan sampai dengan bergampangannya kalian memakai simbol dan syiar Kristiani –semacam atribut Sinterklas-, karena itu Allah sesatkan hati kalian untuk mencintai kaum kafir.

Demikian pula kita dilarang menjual gambar, aksesori, miniatur, atribut, simbol yang menjadi syiar kaum Nasrani alias Kristen, seperti barang-barang identik dengan Santo Claus alias Sinterklas. Karena, semua menunjukkan senangnya kita kepada syiar kekafiran atau minimal membiarkan kekafiran merajalela dan tersebar.

Al-Imam Ahmad bin Adil Halim Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

"Tak halal bagi kaum muslimin untuk menyerupai mereka (kaum kafir) dalam perkara apapun yang khusus berkaitan dengan hari raya mereka, baik perkara makanan, pakaian, mandi, menyalakan api, membatalkan kebiasaan (rutinitas) berupa kehidupan atau ibadah dan lainnya. Tak halal melakukan suatu acara, pemberian hadiah serta tak pula menjual sesuatu dijadikan penopang untuk acara itu, karena hal itu (yakni, hari raya mereka). Tidak pula membiarkan anak-anak kecil dan sejenisnya untuk bermain di hari raya mereka (kaum kafir) dan tidak pula menampakkan perhiasan.

Secara global, tak boleh bagi mereka (kaum muslimin) mengkhususkan hari raya mereka dengan sesuatu apapun diantara syiar-syiar mereka. Bahkan hari raya mereka di sisi kaum muslimin adalah sama saja dengan hari-hari lainnya. Kaum muslimin tidaklah mengkhususkannya dengan sesuatu apapun diantara kekhususan-kekhususan mereka!!" [Lihat Al-Fatawa Al-Kubro (2/487)]

Di hari-hari menjelang Natal dan tahun baru banyak diantara kaum muslimin menjual barang-barang dagangan yang akan menjadi sarana mereka dalam hari raya. Diantara mereka ada yang menjual pohon Natal, aksesori Sinterklas, permen tongkat, kaos kaki atau kostum Sinterklas, dan lainnya. Ada juga yang menjual lilin-lilin yang akan diapakai Natal. Semua ini adalah pelanggaran dalam agama!!

Al-Imam Abul Abbas Al-Harroniy -rahimahullah- berkata,

وكذلك نهوا عن معاونتهم على أعيادهم باهداء او مبايعة وقالوا انه لا يحل للمسلمين ان يبيعوا للنصارى شيئا من مصلحة عيدهم لا لحما ولا دما ولا ثوبا ولا يعارون دابة ولا يعاونون على شيء من دينهم لان ذلك من تعظيم شركهم وعونهم على كفرهم وينبغي للسلاطين ان ينهوا المسلمين عن ذلك

"Demikian pula mereka (para ulama) melarang dari membantu kaum kafir untuk hari raya mereka dengan memberikan hadiah atau berjual-beli. Mereka berkata, "Tak halal bagi kaum muslimin untuk menjual kepada orang-orang Nasrani (Kristen) sesuatu berupa kepentingan hari raya mereka, baik itu berupa daging, darah, maupun pakaian. Mereka tak boleh dipinjami kendaraan dan tak boleh dibantu atas sesuatu diantara urusan agama mereka. Karena, hal itu merupakan termasuk pengagungan terhadap kesyirikan mereka dan membantu mereka atas kekafiran mereka. Seyogianya para penguasa melarang kaum muslimin dari hal itu". [Lihat Kutub wa Rosa'il wa Fatawa Ibn Taimiyyah fil Fiqh (25/332)]

Satu diantara kesalahan fatal bagi kaum muslimin, mereka ikut menyemarakkan Natal, sadar atau tidak!! Mereka membantu kaum Kristen dalam melengkapi dan memenuhi segala keperluan mereka di Hari Natal.

Menjual barang-barang yang mengandung syiar dan propaganda kepada kekafiran, sama hukumnya dengan orang yang menjual arca-arca yang disembah oleh kaum musrikin, karena itu termasuk ta'awun di atas dosa dan permusuhan, bahkan di atas kekafiran!!!

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah -rahimahullah- berkata,

وَأَمّا تَحْرِيمُ بَيْعِ الْأَصْنَامِ فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ تَحْرِيمُ بَيْعِ كُلّ آلَةٍ مُتّخَذَةٍ لِلشّرْكِ عَلَى أَيّ وَجْهٍ كَانَتْ وَمِنْ أَيّ نَوْعٍ كَانَتْ صَنَمًا أَوْ وَثَنًا أَوْ صَلِيبًا وَكَذَلِكَ الْكُتُبُ الْمُشْتَمِلَةُ عَلَى الشّرْكِ وَعِبَادَةِ غَيْرِ اللّهِ فَهَذِهِ كُلّهَا يَجِبُ إزَالَتُهَا وَإِعْدَامُهَا وَبَيْعُهَا ذَرِيعَةً إلَى اقْتِنَائِهَا وَاِتّخَاذِهَا فَهُوَ أَوْلَى بِتَحْرِيمِ الْبَيْعِ مِنْ كُلّ مَا عَدَاهَا فَإِنّ مَفْسَدَةَ بَيْعِهَا بِحَسْبِ مَفْسَدَتِهَا فِي نَفْسِهَا

"Adapun pengharaman menjual arca-arca, maka diambil darinya pengharaman menjual segala alat yang dibuat untuk kesyirikan, bagaimana pun bentuknya dan macamnya, baik itu berupa arca, berhala, atau salib. Demikian pula buku-buku yang mengandung kesyirikan dan peribadahan kepada selain Allah, maka semua ini wajib dihilangkan dan diberantas. Menjualnya merupakan jalan (pengantar) untuk memilikinya dan mengambilnya. Jadi, ini lebih utama diharamkan untuk dijual dibandingkan semua perkara selainnya. Karena, kerusakan dari hasil menjualnya sesuai dengan kerusakan yang ada padanya". [Lihat Zaadul Ma'ad (5/675), karya Ibnul Qoyyim, cet. Mu'assasah Ar-Risalah]

Inilah penjelasan para ulama kita tentang hukum ikut meramaikan Hari Natal, entah dengan berjual-beli barang dan sarana Natal, mengirimkan hadiah atau kado kepada mereka, menjajakan aksesori Sinterklas atau pohon Natal, Kaos Kaki Natal, Permen Tongkat dan lainnya!! Semua ini adalah perkara yang amat diharamkan dalam agama, karena ia adalah bentuk tolong-menolong dalam dosa!! Bahkan boleh jadi pelakunya keluar dari Islam, jika pelakunya melakukan semua itu, karena ia senang dengan Hari Natal, hari yang di dalamnya diserukan kekafiran dan kesyirikan!!!

Hari ini kaum muslimin harus tegas dalam bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka. Jika urusan dunia yang halal, maka okey (ya). Namun jika urusan agama dan prinsip, no (tidak)!!

Perhatikan sikap tegas Nabi Ibrahim -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ [الممتحنة : 4]

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari sesuatu yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja". (QS. Al-Mumtahanah: 04).

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar punya pendirian terhadap orang-orang kafir. Kita harus tegas dalam menampakkan keyakinan kita. Jangan malah kita yang bangga dan tertipu dengan kekafiran mereka, karena hanya sekedar kemajuan semu yang mereka capai di dunia ini.

Jauh hari sebelum munculnya fenomena bergampangannya kaum muslmin dalam menyambut Hari Natal dan Tahun Baru, yang keduanya merupakan hari raya umat Kristiani, kaum muslimin menghafal mati sebuah surah dalam Al-Qur'an yang kita kenal dengan "Surah Al-Kafirun".

Allah -Ta'ala- berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلاَ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6) [الكافرون : 1 - 6]

"Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS. Al-Kafirun : 1-6)

Saat mengomentari ayat terakhir yang kami garis bawahi terjemahannya dari Surah Al-Kafirun ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata,
"Ini merupakan kalimat yang mengharuskan berlepas dirinya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dari agama mereka (kaum kafir), tidak mengharuskan ridhonya beliau dengan hal itu…Barangsiapa yang menyangka dari kalangan kaum ateis bahwa ini adalah keridhoan beliau dengan agama kaum kafir, maka ia adalah manusia yang paling dusta dan kafir!!". [Lihat Al-Furqon baina Awliya' Ar-Rahman wa Awliya' Asy-Syaithon (hal. 113)

Inilah sikap tegas yang senatiasa diwarisi oleh kaum muslimin dari zaman ke zaman sampai datangnya "generasi banci" di kalangan kaum muslimin yang suka menjilat di hadapan kaum Kristen, Yahudi dan lainnya!!

Mereka adalah generasi lemah iman, tipis semangat, kurang berani dan dangkal ilmu, sehingga mereka pun mengikuti apa saja yang digelorakan dan dipropagandakan oleh kaum kafir!!!

Tibalah saatnya di zaman kita ini kemunculan generasi pengekor dan pembeo kepada kaum kafir. Generasi ini anda akan dapati di toko-toko menjual pohon Natal, lilin Natal, Kartu Natal, Kaos Kaki Natal, Permen Tongkat, Topi atau pakaian Sinterklas. Sebagian generasi buruk ini, memasang ucapan selamat Natal dalam baliho besar yang bergambar Santa Claus (Sinterklas) sedang tersenyum menipu atau ilustrasi lainnya!!

Generasi ini betul-betul mengekor dan menyerupakan diri dengan kaum kafir dalam urusan yang paling berbahaya, dimana mereka telah ta'awun (kerjasama) dalam menyemarakkan kekafiran!!!

Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- berkata,

قد دلت الآيات القرآنية والأحاديث النبوية على ذم مشابهة المسلمين للكفار والتحذير من ذلك ولم تخص شيئا من شئونهم دون شيء فتخصيص النهي بما هو من شعائر دينهم يحتاج إلى دليل ، وليس هناك دليل يدل على ذلك ، بل الأدلة الشرعية كلها تقتضي ذم التشبه بالمشركين فيما هو من شعائر دينهم وفي غيره

"Sungguh ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits nabawiyyah telah menunjukkan celaan meniru kaum muslimin terhadap kafir, serta peringatan keras dari hal itu. Dalil-dalil itu tidaklah mengkhususkan sesuatu dari urusan kaum kafir, tanpa yang lainnya. Jadi, pengkhususan larangan (dari meniru kaum kafir) dalam perkara yang merupakan syiar agama mereka, butuh kepada dalil. Nah, disana tak ada dalil yang menunjukkan hal itu. Bahkan dalil-dalil syariat semuanya mengharuskan celaan meniru kaum musyrikin dalam perkara yang merupakan syiar agama mereka dan dalam perkara selainnya". [Lihat Majmu' Fatawa Ibni Baaz (25/339)

PESAN TERAKHIR

Terakhir, kami nasihatkan kepada kaum muslimin agar menjauhkan anak-anak mereka dari kisah, dongeng dan cerita yang berkaitan dengan Santa Claus alias Sinterklas. Ia adalah seorang tokoh Natal yang konon kabarnya bernama Santo Nicolas. Jauhkan mereka dari hal itu agar tidak mencintai para tokoh-tokoh Kristen!!

Kami juga nasihatkan kepada seluruh kaum muslimin agar jangan ikut meramaikan tahun baru dan Hari Raya Natal. Sebab, kedua hari itu adalah perayaan kaum kafir Kristen yang diadopsi dari negeri-negeri kafir ke dalam negeri kita!!

Kepada mereka yang bekerja di bawah pimpinan orang kafir agar tegas bersikap saat agama kalian diinjak-injak dengan memerintahkan kalian memakai simbol-simbol agama Kristen, semisal memakai Topi Sinterklas!! Jika terjadi, laporkan saja kepada pemerintah, sebab ini adalah hak asasi kalian dalam beragama!!! Jangan kalian cuma melapor jika gaji kalian kurang, bahkan jika agama kalian mereka "kurangi" dan langgar, maka kalian tegas dan laporkan sikap mereka!!! Semoga Allah memberikan taufiq kepada kalian, amiin…

KESIMPULAN:

1. Haram hukumnya menjual atau membeli, memakai dan menyebarkan barang-barang yang mengajak kepada kekafiran, semisal aksesori, gambar, pakaian dan lainnya diantara hal yang biasa dikenal dalam dunia dan Sinterklas

2. Terlarang seorang muslim ikut meramaikan Tahun Baru dan Hari Natal, karena keduanya adalah hari raya kaum kafir.

3. Seorang muslim harus tegas saat hak asasi agamanya diijak-injak oleh kaum kafir.

4. Menjaga diri dan keluarga agar jangan meniru atau bangga dengan kaum kafir, semisal Santa Claus yang notabene pendeta kafir!!

Catatan Kaki:
[1] Ini jelas merupakan bentuk kemusyrikan mereka!! melindungi manusia dari bahaya dan menyelamatkan mereka, semua itu hanyalah tugas Allah, bukan tugas manusia, bagaimana pun derajatnya.
[2] Kayak pencuri saja?!
[3]Para nabi dan rasul berjanji kepada Allah -Subhanahu wa Ta'ala- bahwa bilamana datang seorang rasul yang bernama Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya.
[4] Orang muslim (مُسْلِمٌ), artinya orang berserah diri. Dikatakan demikian, karena mereka hanya menyerah segala perbuatan dan amal ibadah mereka kepada Allah saja. Mereka tak menyekutukan Allah dalam beribadah kepada-Nya. Sebab, ini adalah kesyirikan yang amat dibenci oleh Allah.
[5] Natal adalah perayaan yang tidak dikenal di zaman Nabi Isa. Baru muncul jauh setelah beliau meninggal dunia. Di dalamnya manusia diingatkan dan diajak untuk mengakui bahwa Isa adalah anak Allah. Padahal beliau tak pernah menyatakan demikian. Di dalamnya manusia diajak untuk menetapkan bahwa tuhan adalah tiga dengan pemahaman "Trinitas" dan masih banyak lagi kekafiran nyata di dalam perayaan itu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini