Senin, 12 Desember 2016

Selamat Datang, Trump yang Sebenarnya

Bravo, New World Order, penguasa kegelapan dan para penyembah dajjal!
Presiden terpilih Amerika Donald Trump telah menunjukkan jati-dirinya.
Trump hanyalah pengalih perhatian dan tipuan untuk mengelabuhi publik
Amerika yang sudah bosan dengan gaya neokonservatifme dan
neoliberalisme Amerika selama kepemimpinan beberapa presiden Amerika
terakhir. Dan setelah dipastikan bakal menjadi presiden Amerika, ia
pun mulai menunjukkan jati-dirinya sebagai agen kepentingan zionis
penyembah dajjal.
Hari Selasa lalu (29/11) Presiden Turki Reccep Erdogan secara
mengejutkan membuat pernyataan bahwa tujuan Turki turut campur dalam
konflik di Suriah adalah untuk menumbangkan regim Bashar al Assad.
Rusia tentu saja kaget dan berang dengan pernyataan itu karena
sebelumnya Erdogan telah memberikan jaminan kepada Rusia bahwa
keterlibatan Turki di Suriah adalah untuk menyerang kelompok ISIS.
Presiden Vladimir Putin pun langsung menelpon Erdogan mananyakan
maksud pernyataan Erdogan dan mengingatkan janji Turki kepada Rusia
sehingga Rusia, yang menguasai udara Suriah, mengijinkan pasukan Turki
masuk ke Suriah.

Erdogan, dua hari setelah pernyataan kontroversial itu memang
membantah pernyataannya sendiri dan kembali meyakinkan Rusia bahwa
tujuan Turki adalah menghancurkan ISIS, bukan Assad. Namun mengapa
Erdogan berbuat demikian? Tidak lain adalah karena adanya pertemuan
diam-diam antara para pejabat Turki dengan orang-orang dekat Donald
Trump. "Sejumlah sumber melaporkan bahwa Trump telah mengirim anaknya
sendiri, Donald Jr. untuk bertemu dengan wakil Turki di Paris untuk
mendiskusikan operasi bersama melawan Iran, dan pernyataan Erdogan
tentang Turki adalah hasil langsung dari pertemuan di Paris itu,"
tulis Veterans Today, Minggu (4/12).
Ini semua terjadi pada saat para calon pejabat Amerika di kabinet
Trump mendatang sibuk bertemu para pejabat Israel untuk membicarakan
tentang rencana Trump untuk membatalkan perjanjian program nuklir
Iran, penunjukan pejabat anti-Iran sebagai calon Menlu Amerika
mendatang, dan tibanya duta besar pertama Israel untuk Turki di Ankara
setelah hubungan kedua negara terputus setelah insiden serangan kapal
Mavi Marmara oleh tentara Israel tahun 2010 yang menewaskan 9 warga
Turki.

Pada hari Kamis (1/12) Trump mengumumkan penunjukan James Mattis
sebagai calon Menlu Amerika mendatang. Pengumuman ini pun langsung
disambut gembira oleh para zionis mengingat bahwa Mattis, mantan
jendral marinir yang memimpin pusat komando Amerika di Timur Tengah,
dikenal sebagai pejabat militer yang anti-Iran. "Jendral Mattis telah
dikenal sebagai figur istimewa yang mengkampanyekan sikap militer
Amerika yang lebih keras untuk mengendalikan Iran, bahkan pada saat
karier militernya dalam posisi kritis, dan mendukung restorasi posisi
Amerika di Timur Tengah," demikian pernyataan organisasi yahudi
berpengaruh di Amerika, Jewish Institute of National Security Affairs
(JINSA), setelah pengumuman Trump itu.
Pada hari yang sama, Dubes Israel untuk Turki, Eitan Naeh, tiba di
ibukota Turki untuk memulai tugasnya sebagai duta besar pertama Israel
di Turki paska insiden Mavi Marmara yang membuat Turki memulangkan
duta besar Turki dan menurunkan hubungan diplomatik kedua negara ke
level lebih rendah.
"Perang melawan ISIS akan digunakan sebagai alat untuk melancarkan
operasi-operasi militer lain. Donald Trump akan menjadi eksekutornya,"
tulis Gordon Duff tentang prospek politik luar negeri Donald Trump di
Timur Tengah.

Adalah menarik bahwa regim Presiden Barack Obama seolah sengaja
mempersiapkan jalan bagi Donald Trump untuk menjalankan kebijakannya
yang lebih keras terhadap Iran, yaitu dengan mengumumkan sanksi-sanksi
ekonomi baru untuk Iran. Ini hanya mungkin terjadi karena kedua
pemerintahan (Barack Obama-Demokrat dan Donald Trump-Republik)
hanyalah agen-agen kepentingan para pemodal yahudi penyembah dajjal.

Perlu diketahui bahwa kepentingan para pemodal yahudi, khususnya di
Amerika, dijalankan melalui dua jalur. IFP menyebutnya jalur abu-abu
dan jalur hitam. Jalur abu-abu meliputi sektor perbankan, industri
energi, dan industri militer (military complex), media massa,
birokrasi sipil dan militer, serta NGO. Tokoh penting di jalur ini
adalah George Soros. Adapun jalur kedua meliputi bisnis hiburan
(termasuk mafia judi, perhotelan, film dan musik), industri makanan
dan household serta agribisnis, farmasi. Salah satu tokoh di jalur ini
adalah mantan Presiden World Jewish Council Edgar Bronfman. Bronfman,
bos perusahaan minuman keras Seagram yang sebagian besar
peruntungannya diperoleh dengan menyelundupkan minuman keras ke
Amerika ketika minuman keras masih dilarang di Amerika, memimpin
gerakan holocoust industry pada tahun 1990-an. Dengan senjata tuduhan
turut berperan dalam perampasan harta orang-orang yahudi selama Perang
Dunia II, ia berhasil memeras industri perbankan Eropa dan mendapat
dana kompensasi miliaran dollar yang ditujukan utk keluarga yahudi
korban perang. Faktanya dana itu masuk ke kantong pribadi Edgar
Bronfman dkk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini