Sabtu, 31 Desember 2016

Perdagangan Organ Manusia, Sisi Gelap Pemberontakan Suriah




Salah satu sisi gelap pemberontakan Suriah yang sekali lagi membuktikan 'motif' zionisme di dalamnya akhirnya muncul ke publik. Ini adalah perdagangan organ tubuh manusia.

Tidak ada praktik-praktik biadab seperti dipertunjukkan oleh para pemberontak Suriah yang ada dalam 'semangat' keagamaan, apalagi Islam, kecuali bahwa semangat itu adalah semangat penyembahan setan. Dan apa yang dilaporkan oleh Veterans Today ini semakin mengkonfirmasi hal ini.

"Para pemakan tubuh manusia itu kemudian diikuti oleh para penjual bagian-bagian tubuh manusia. Banyak yang diuntungkan oleh konflik yang berkepanjangan ini, dalam berbagai caranya," tulis Jim W. Dean, Managing Editor Veterans Today dalam laporannya pada 29  Desember kemarin.

"Tentu saja hal ini tidaklah mengejutkan ketika para jihadis itu berubah menjadi penjual organ tubuh karena bisnis ini telah disiapkan lama. Mosul juga menjadi ajang bisnis ini, dan orang-orang Israel yang mencuri organ-organ tubuh warga Palestina telah terdokumentasikan dengan baik."

Komentar James Dean tersebut dibuat setelah munculnya laporan-laporan ditemukannya bukti-bukti praktik penjualan organ-organ tubuh manusia di Aleppo, selain ditemukannya banyak kuburan-kuburan massal korban pembantaian oleh para pemberontak-teroris di kota itu setelah dibebaskannya kota itu oleh Suriah.

"Kita tengah melihat sebuah pekerjaan bagus dengan sejumlah cerita, tepat seperti kita ingin menancapkan kayu tajam di hati para proksi teroris. Ini adalah “scarlet letter” dimana sejumlah negara dan media-media besar perlu diberi tatoo di dahinya, tidak saja karena mereka telah menutup-nutupi kekejian ini, namun juga karena tuduhan-tuduhan palsu mereka kepada pemerintah Suriah untuk menutup-nutupi kejahatan kemanusiaan mereka," tambah Dean.

"Dan Turki termasuk dalam daftar itu sebagai statiun besar bagi perdagangan organ tubuh ilegal itu selama konflik di Suriah dan Irak. Semua lembaga keamanan barat mengetahui hal ini, dan tentu saja media-media mereka juga mengetahuinya, namun memilih untuk bungkam untuk tidak mempermalukan negaranya."

"Kita harus bekerjasama membangun database sejarah yang kuat atas horror baru namun nyata ini yang menimpa rakyat Suriah dan Irak. Keadilan bagi para korban dengan menghukum mereka yang berdosa tidak akan membuat para korban itu hidup kembali. Namun dengan demikian peluang bagi tindakan-tindakan seperti ini akan lebih kecil lagi," tambah Dean lagi.

Dan berikut ini adalah laporan Veterans Today berdasarkan pengakuan seorang sakti mata.

"Halo Tuan..."

Setelah pembebasan kota terbesar kedua di Suriah dari para jihadists, detil-detil mengerikan selama berkuasanya para teroris itu muncul ke permukaan: warga telah melaporkan kepada Sputnik Arabic (media Rusia) tentang mekanisme jaringan terorganisir rapi perdagangan organ manusia dengan daftar harganya.

Di tengah-tengah gencarnya kebohongan barat tentang “kekejaman Rusia" selama pembebasan Aleppo, warga lokal dari kota yang dibebaskan ini duduk bersama Sputnik Arabic untuk membongkar detil-deti mengerikan tentang para 'jihadis'. Mereka berbicara tentang maraknya perdagangan organ tubuh manusia di sepanjang perbatasan dengan Turki yang dilakukan oleh para militan. Warga merasa ketakutan ketika kendaraan-kendaraan medis lokal berkeliling kota mencari 'donnatur' potensial. Salah satu korbannya adalah Abu Mohammad yang berumur 60 tahun.

"Kami diserang dengan peluncur granat dan kemudian tiba-tiba para 'jihadis' muncul dengan kendaraan medisnya. Namun, pada akhirnya ternyata mereka mencuri ginjal dan limpanya."

Ia kemudian menceritakan mekanisme operasi para pedagang organ manusia itu: satu tim 'jihadis' akan menunggu terjadinya ledakan, dan segera kemudian mereka 'menggarap' korban luka-luka ataupun tewas. Mereka yang terluka mungkin bisa kembali ke rumah, dengan organ tubuh yang hilang.

"Ada pasar besar organ manusia di perbatasan Turki dimana semuanya tampak tersedia untuk dijual, termasuk wanita dan anak-anak. Satu mayat utuh dijual dengan harga 25.000 lira Turki atau setara $50. Satu badan utuh orang yang terluka dijual seharga 150.000 lira ($290),” kata seorang saksi bernama Alia kepada Sputnik

"Setiap hari mereka yang terluka dikirim ke rumah sakit dan mereka semua dianggap sebagai donatur potensial,” tambahnya.

Menurut data statistik ada tidak kurang dari 18.000 kasus terdokumentasi terkait pencurian organ tubuh manusia di Suriah utara. Namun sebagian besar dari kasus ini tertutup karena masyarakat umumnya takut untuk membongkarnya. Sekelompok ahli forensik dari Aleppo mengatakan kepada Sputnik bahwa sangat mudah untuk mendapatkan organ tubuh manusia di Aleppo.

"Kota ini terletak tidak jauh dari perbatasan Turki yang relatif mudah dilalui dari wilayah-wilayah yang dikuasai pemberontak. Orang-orang asing yang mengaku sebagai pekerja kemanusiaan telah membanjiri kota ini dari perbatasan tersebut."

"Pada kenyataannya, mereka kebanyakan adalah mafia yang bersama-sama dengan pekerja medis asing memburu organ manusia untuk dikirim melintasi perbatasan."

Dokter Bagjat Akrush mengatakan bahwa praktik-praktik pencurian organ manusia itu banyak terjadi di 'wilayah panas' di utara dan timur Suriah, juga di banyak kamp-kamp pengungsian di Turki dengan jumlah korban terbesarnya adalah wanita dan anak-anak.

"Hingga 100.000 anak-anak di kamp-kamp pengungsi di Turki menghadapi ancaman tersebut. Sekitar 80% dari pengungsi adalah wanita dan anak-anak, yang telah menjadi korban perdagangan organ tubuh manusia selama tiga tahun ini," tambahnya.( Indonesian Free Press.)

1 komentar:

  1. Tetapi kebanyakan dari kita justru jadi lupa diri......
    https://www.itsme.id/setiap-orang-punya-sisi-gelap/

    BalasHapus

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini