Selasa, 27 Desember 2016

Kiai Syamsuri, Pendiri dan Penggerak NU Banyuwangi



Salah satu pejuang awal Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi yang patut dikenang adalah KH Syamsuri Singonegaran. Tak banyak yang tahu kiprah Rais Syuriah PCNU Banyuwangi era tiga puluhan tersebut. Sepanjang hidupnya, ia dedikasikan kepada umat dan NU.

Sekelumit tentang perjuangan Kiai Syamsuri tersebut terungkap saat peringatan haulnya di Masjid Raudatus Sholihin, Singonegaran, Banyuwangi, Sabtu (17/12).

"Beliau termasuk muasis (pendiri) dan muharik (penggerak) NU Banyuwangi," ungkap cucu Kiai Syamsuri, Haikal Kafili.

Selama hidupnya, Kiai Syamsuri dikenal gigih dalam memperjuangkan NU. Ia terlibat aktif dalam berbagai muktamar NU mewakili Banyuwangi. Dalam muktamar kedelapan NU di Jakarta pada tahun 1933, misalnya, Kiai Syamsuri tercatat sebagai perwakilan rois syuriah NU Banyuwangi.

"Dalam muktamar tersebut, Kiai Syamsuri datang seorang diri dari Banyuwangi dengan membawa uang sumbangan sebesar f. 26," papar salah tim peneliti sejarah NU Banyuwangi Ayung Notonegoro yang hadir dalam haul tersebut.

Berkat lobi dari Kiai Syamsuri tersebut, lanjut Ayung, muktamar NU berikutnya digelar di Banyuwangi. Tepatnya, muktamar kesembilan NU pada tahun 1934.

Dalam surat kabar The Indische Courant disebutkan pada tanggal 26 November 1933 diadakan pertemuan di Kampung Kemasan untuk membahas persiapan muktamar kesembilan NU di Banyuwangi. Saat itu, hadir KH. Wahab Hasbullah sebagai perwakilan dari Hobbefstur (pengurus besar) NU.

"Dari hasil penelitian kami, pertemuan tersebut, diadakan di kediaman Kiai Syamsuri di Kemasan. Sekarang masuk Kelurahan Panderejo," ungkap Ayung.

Hal ini diakui Haikal Kafili. Sebelum pindah ke Singonegaran, Kiai Syamsuri memang berasal dari Kampung Kemasan yang tak jauh dari tempat tinggalnya yang baru tersebut. "Rumahnya yang pertama memang di Kemasan, kemudian pindah ke Singonegaran dan mendirikan masjid Roudlatus Sholihin ini," terangnya.

Tak hanya berjuang untuk NU, semasa perang kemerdekaan Kiai Syamsuri juga terlibat aktif. Bersama kolega, Kiai Abdul Wahab Penataban, ia bahu-membahu melawan penjajah yang ingin masuk kembali ke Banyuwangi.
"Ceritanya, dulu banyak pejuang Hizbullah yang terluka parah dirawat di rumah kakek ini. Bahkan, beberapa orang yang akhirnya wafat dimakamkan di pemakaman Astana Eko Kapti," papar Haikal.

Kiai Syamsuri sendiri berumur panjang. Tak ada keterangan pasti berapa tahun kelahiran ulama yang pernah belajar di Bangkalan, Siwalan Panji dan Mekkah tersebut.

"Kalau wafatnya sendiri pada 7 Rabiul Awal 1398 H atau bertepatan dengan 15 Februari 1978 dalam usia yang sangat tua. Mungkin lebih dari seratus tahun usianya," ungkap Haikal.

Sementara itu, KH Abdul Hadi Basri, kemenakan sekaligus santri dari Kiai Syamsuri itu, menceritakan bahwa sosoknya, selain sebagai pejuang dan penggerak NU, juga merupakan figur yang istiqomah shalat jama'ah.

"Beliau itu, tidak pernah meninggalkan shalat jama'ah. Bersama dengan saudara-saudaranya, beliau memakmurkan masjid yang dirintisnya dengan shalat jama'ah," ceritanya.

Oleh karena itu, papar Kiai Abdul Hadi, salah satu cara meneladani Kiai Syamsuri adalah dengan senantiasa memakmurkan masjid peninggalannya dengan shalat jama'ah. "Jangan sampai masjid ini, sepi dengan sholat jama'ah," pungkasnya. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi - nu.or.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini