Kamis, 19 November 2015

Pengertian Istighatsah

Istighatsah secara etimologis artinya adalah thalabul ghauts atau
thalabul 'aun : minta pertolongan, semakna dengan isti'anah, hanya
saja lebih umum dan lebih luas pengertiannya. Seperti firman Allah
Ta'ala :

وَاْستَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَ ةِ

"Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat" [QS.Al Baqarah : 45].

Sedang Istighatsah secara terminologis (istilah) adalah :

طَلَبُ اْلغَوْثِ عِنْدَ الشِّدَّةِ وَالضَّيْقِ

"Istighatsah adalah meminta pertolongan dalam keadaan penuh kesukaran
dan kesempitan".

Yang dimaksud dengan Istighatsah adalah sebagai mana dimaksud dalam
firman Allah :

إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّيْ
مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَ ئِـكَةِ مُرْدِفِيْنَ

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu
diperkenankan-Nya bagimu : "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala
bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang
berturut-turut." [QS.Al Anfal : 9].

Menurut ayat tersebut Nabi Sallallahu'alaihi wa sallam telah
beristighatsah memohon bantuan kepada Allah ketika situasi kritis di
tengah medan pertempuran perang Badar. Dimana saat itu kekuatan musuh
jauh lebih besar tiga kali lipat dari pada kekuatan ummat Islam secara
kwantitatif. Itulah istighatsah yang dilakukan oleh Nabi kepada
Allah. Sementara istighatsah kepada selain Allah juga diperbolehkan
dengan berkeyakinan bahwa makhluq yang diminta pertolongan adalah
sebagai sebab. Karena Allah-lah pemberi pertolongan yang sesungguhnya,
tetapi Allah telah menjadikan sebab sebagai mediasi. Sebagaimana
pengertian istighatsah menurut Syaikh Az Zahawiy sebagai berikut :

أنَ الْمُرَادَمِنَ اْلإِسْتِغَاثَةِ بِاْلأَوْلِياَءِ وَالصَّالِحِيْنَ
وَالتَّوَاسُلِ بِهِمْ هُوَ أَنَّهُمْ أَسْبَابٌ وَوَسَائِلُ لِنَيْلِ
اْلمَقْصُوْدِ وَأَنَّ اللهَ تَعَالىَ هُوَ الْفَاعِلُ كَرَامَة ًلهـَُمْ
لاَ أَنَّهُمْ هُمُ اْلفاَعِلُوْنَ كَماَ هُوَ الْمُعْتَمَدُالْحَقُّ فيِ
سَائِرِ اْلآفْعَالِ

"Yang dimaksud istighotsah dengan para wali dan orang orang shalih dan
tawassul dengan mereka adalah bahwa mereka itu merupakan sebab dan
perantara untuk tercapainya tujuan. Dan sesungguhnya Allah adalah
pelaku sebenarnya yang mengabulkan do'a sebagai penghormatan kepada
mereka dan mereka tidak dapat melakukan apa apa. Sebagaimana hal itu
menjadi keyakinan yang benar dalam segala macam perbuatan" [Syaikh Az
Zahawiy, Al Fajrush Shaddiq : 53].

1. Hadits Ibnu Umar RA. Shahih riwayat Al Bukhari.

عَنِ إبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ خَدِرَتْ رِِجْلُهُ
فَقِيْلَ لَهُ: أُذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ فَقَالَ:
يَامُحَمَّدُفَكَأَنَّمَا َنشَطَ مِنْ عِقَالٍ. (رواه البخاري)

"Diriwayatkan dari Shahabat Abdullah bin Umar RA. Bahwa suatu ketika
kaki beliau terkena mati rasa, maka salah seorang yang hadir
mengatakan, sebutlah nama orang yang engkau cintai. Lalu Ibnu Umar
menyebut : "Ya Muhammad" maka seketika itu kakinya
sembuh". [HR. Al Bukhari dan Ibnu Taimiyah, Al Kalimuth Thayyib :88].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini