Sabtu, 23 Mei 2009

Ibunda

Malam kembali tiba
ada secercah harapan hasratku untuk kembali
di rantau telah lama berjuang
mengadu nasib membangun harapan di negeri orang.

Malam ini sunyi tanpa bintang gemintang
sedangkan kerinduanku begitu kokoh bertahta
ku nyalakan lilin yang tinggal sebatang
agar remang cahayanya menerangi bilik kamar
yang kian hari rapuh ditelan usia.

Dalam sujudku aku menangis mengeluh
betapa lelahnya jiwa dan raga
menikmati hidup yang penuh mimpi
menghikmati suka duka yang penuh misteri
pada biru lazuardi
di sanalah mata memandang
kaki menapak tanah-tanah kering berbatu
menelusuri padang ilalang
inilah hidup !
hidupku, ibunda !

Ibunda
di malam yang gelap sunyi
kembali aku terkenang
betapa indahnya masa kanak-kanak dulu
bermain kelereng
mandi di kali di seberang rumah
kau memanggilku berteriak cemas
takut anak nakal ini hilang tenggelam
di telan deras air kali yang dalam.

Ibunda
tentunya pohon mawar dan melati yang dulu kau tanam
kini telah berbunga
menebarkan aroma wangi
hingga harumnya memenuhi teras rumah
tempat dulu kita bercanda
di sana kau bercerita tentang kancil yang cerdik
tentang putri cinderela yang ayu rupawan.

Ibunda
tentunya kau juga rindu padaku
jangan lagi kau cemaskan aku
esok lusa aku pasti pulang
dengan rembulan dan matahari di tangan
doakan aku, ibunda
kemenangan pasti ku jelang.

Jakarta
29 Oktober 1995

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini