Sabtu, 09 Mei 2009

Benalu





Betapa malunya seorang anak manusia
yang telah sempurna penciptaannya
ternyata tak patuh tak tabah
hari demi hari dilalui
berbagai tahun telah berganti
hanya termenung dan merajut mimpi-mimpi
tanpa karya yang membuahkan hasil.
Angan angan membumbung setinggi langit
mengepul bersama asap rokok menyapa ruang hampa
hidup begitu makmur dan damai
lebih kaya dari orang berada
lebih cerdik dari orang pandai
lebih tampan dari orang hina
lebih mulia dari orang jelata
tapi ayah bunda menjadi tambatan harapan
saudara dan teman menjadi tempat meminta
perjuangan tiada pengorbanan tiada
betapa hina dina hidup bagai benalu
tapi mulut rakus mengecap makanan penuh kenikmatan
mata tertidur
terbuai mimpi dikelilingi bidadari-bidadari sorga.
Mengapa tak menyadari
cobaan yang ada pada diri sendiri
bahwa segala keadaan adalah ujian
keburukan dan kebaikan
kekayaan dan kemiskinan
kehinaan dan kemuliaan
keimanan dan kekufuran
kematian dan keƬdupan
dijadikan untuk mengetahui
siapa yang terbaik amalnya di antara manusia
dimana kemampuan berfikir
untuk apa tangan dan kaki diciptakan
hanya untuk menjadi benalu bagi orang lain ?
Lihatlah ayah bunda
mata sayu sambil mengelus dada
kulit keriput
pakaian sepotong melekat di badan...
...selalu berkata, janganlah kau menjadi benalu bagi orang lain.

Pemalang 17 September 1994

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini