Kamis, 19 Oktober 2017

Issam Zahreddine


Engkau bertahan di Deir ez Zour dari kepungan para bajingan musuh kemanusiaan. Selama bertahun-tahun lamanya.

Tiada sekalipun engkau berucap gentar ataupun ragu.

Berkat jasamu, Deir ez Zour berhasil dibebaskan.

Berkat jasamu, bangsa dan rakyat Syria meyakini dan memegang harapan besar memenangkan perang melawan kezaliman ini walaupun dikepung oleh banyak bangsa asing.

Engkau menyumbangkan jiwa raga kepada bangsa dan negara.

Kini, pengabdianmu telah usai.. Beristirahatlah dengan tenang, wahai pahlawan..

#RestInPeace
#IssamZahreddine


Rabu, 18 Oktober 2017

Melarang Kata “Pribumi”, Bagaikan Mengendalikan Asap Tapi Membiarkan Api


Oleh : Asyari Usman

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memulai tugasnya dengan latar belakang pelaporan ke Polisi tentang kata “pribumi” yang dipakainya dalam pidato perdananya setelah dilantik menjadi gubernur. Yang melaporkan adalah Banteng Muda Indonesia (BMI), organisasi massa (ormas) yang berafiliasi ke PDI-P.

BMI mempolisikan Anies dengan alasan bahwa ucapan “pribumi” itu tidak sesuai dengan Inpres Nomor 26/1998 dan UU Nomor 40/2008. Tidak boleh ada lagi penggunaan istilah “pribumi”.

Di mana letak kesalahan “pribumi” sehingga kata ini kita jadikan musuh? Dan, apakah efektif tindakan memusuhi kata itu?

Kamus Besar Bahasa Indonsia (KBBI) mendefinisikan “pribumi” sebagai “penghuni asli”. Kamus ini menambahkan penjelasan interpretatif bahwa “pribumi” itu adalah orang-orang “yang berasal dari tempat yang bersangkutan”.

Tampaknya, definisi ini sangat jelas. Crystal clear. Akan tetapi, sedainya definisi dan interpretasi “pribumi” oleh KBBI itu masih belum jelas juga, tidaklah keliru kalau kita bantu dengan pendefinisian panjang yang ditulis di Wikipedia. Seperti ini definisinya:

Pribumi, orang asli, warga negara [...] asli atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari negeri lainnya. Pribumi bersifat autochton (melekat pada suatu tempat). Secara lebih khusus, istilah pribumi ditujukan kepada setiap orang yang terlahir dengan orang tua yang juga terlahir di suatu tempat tersebut.

Dari definisi KBBI dan Wikipedia di atas, kita tergiring untuk menggambarkan bahwa “pribumi” adalah orang yang memilliki ciri-ciri fisik yang sangat umum di suatu daerah, wilayah, atau negara. Kalau deskripsi ini masih belum jelas juga, ada baiknya kita “turun ke lapangan”. Maksudnya, kita ambilkan contoh berupa perumpamaan berikut ini.

Katakanlah di wilayah RRC sana ada kantung-kantung etnis asal Indonesia (berfisik Jawa atau Sumatera, misalnya), ada etnis black Africa (Afrika hitam), atau etnis Arabia. Mereka sudah lama tinggal di sana dan bisa berbahasa Mandarin atau Kanton. Tetapi, ciri fisik mereka tidak berubah. Nah, apakah orang yang secara fisik “tidak terlihat sebagai orang Tiongkok” itu harus berkeberatan ketika orang Tiongkok (Tionghoa) penduduk asli RRC menyebut diri mereka “pribumi”, sebaliknya menyebut kita, pendatang, “non-pribumi”?

Apakah penduduk asli Tiongkok yang menyebut diri mereka “pribumi”, menjadi masalah besar bagi “kita” yang telah puluhan tahun tinggal di RRC? 

Tentu tidak perlu mempersoalkan itu. Sebab, kita memiliki semua yang dipunyai warga asli Tiongkok. Kita punya paspor RRC, punya sertifikat tanah RRC, bisa berniaga bebas, dan bisa menjadi konglomerat, dlsb. Apakah perlu meminta agar Presiden RRC membuatkan Inpres yang melarang penggunaan kata “pribumi”? Apakah kita akan mendesak Kongres Rakyat (DPR) RRC agar membuatkan UU yang menghapus penggunaan “pribumi”?

Pastilah sangat “absurd”. Konyol, tak ada gunanya.

Kita orang Indonesia, orang Afrika, orang Arab, sebagai pendatang atau perantau di RRC baru akan mengalami masalah ketika rakyat “pribumi” Tiongkok mulai melihat keberadaan para pendatang sebagai “penjajah”. Kita menguasai semua lini perekonomian dan bisnis di RRC. Kemudian, orang-orang non-pribumi di RRC bisa membeli kekuasaan dengan kasat mata untuk kepentingan mereka.

Hampir pasti akan ada gejolak sosial-politik. Rakyat asli Tiongkok akan memusuhi pendatang dari Indonesia (muka Melayu), Afrika, Arab, dll, karena cara-cara kita yang sudah sangat keterlaluan. Para pendatang itu, terutama etnis Melayu Indonesia, menguasai semua aspek kehidupan di RRC.

Semua bisa kita atur di RRC. Kita bisa melakukan reklamasi teluk-teluk di RRC tanpa izin dan tanpa kajian lingkungan. Kita bisa mengatur Menko Kemaritiman RRC agar berbicara keras dan menggertak gubernur Shanghai atau gubernur Hangzhou agar tidak menghentikan proyek reklamasi. Kita bahkan bisa mengatur Presiden Xi Jinping, bisa mengatur Kepala Kepolisian RRC, Kepala BPN RRC, dll.

Kemudian, kita bisa “memelihara” jenderal-jenderal dan para pejabat penting di RRC untuk memuluskan penggundulan lahan di sana. Kita bisa melakukan land-clearing dengan cara membakar hutan-belukar tanpa ada prosekusi.

Kira-kira, kalau situasinya seperti itu, apakah tidak wajar rakyat RRC asli (pribumi) makin lama semakin bersikap bermusuhan terhadap kita-kita yang berstatus pendatang di sana?

Dengan demkian, bukan kata “pribumi” yang menjadi masalah. Melainkan, keidakadilan dan tindak-tanduk sewenang-wenang orang yang bukan “pribumi”-lah yang menyulut persoalan serius.

Melarang penggunaan kata “pribumi” di Indonesia sama seperti mengendalikan asap, tetapi membiarkan kobaran apinya. 

(Penulis adalah wartawan senior)


Reklamasi Dan Teror Ekologis


Oleh Dr. Ahmad Sastra
Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Indonesia

Rencana reklamasi Teluk Jakarta menyisakan pertanyaan mendasar : untuk siapa sebenarnya proyek ini ? Apakah untuk kepentingan rakyat banyak ataukah untuk kepentingan kaum kapitalis ?. Apalagi jika melihat luasnya wilayah Indonesia, apakah reklamasi merupakan kebijakan yang logis. Karena itu, jika ada pihak yang terus ngotot untuk melanjutkan proyek reklamasi, patut dicurigai.

Polemik dan kontroversipun terus muncul sejak rencana reklamasi diumumkan. Mengingat besarnya anggaran reklamasi dan pelibatan kaum kapitalis, bukan tidak mungkin akan lebih banyak lagi yang tertangkap karena gratifikasi proyek sebagai mahar. Sebab telah menjadi budaya politik negeri ini adanya praktek transaksional dalam meraih tender proyek maupun jabatan pemerintahan.

Dalam perspektif paradigma, tidaklah sama antara paradigma pemerintah, rakyat dan pengusaha. Semestinya, pemerintah memiliki paradigma bahwa sumber daya alam yang berkaitan dengan kepentingan rakyat banyak tidak diserahkan kepada swasta. Sementara paradigma pengusaha adalah profit oriented semata, tanpa mengindahkan akibat sosiologis maupun ekologis dalam setiap bisnis yang mereka jalankan. Rakyat sendiri dalam hal ini menjadi semacam korban, padahal merekalah yang seharusnya menikmati setiap kebijakan pemerintah. Bukankah tugas pemerintah adalah mandate rakyat untuk menciptakan kesejahteraan.

Menjadi masalah besar ketika paradigma penguasa sama dengan paradigma pengusaha yang semata-mata menjadikan proyek reklamasi sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan materi semata. Kong kaling kong pengusaha dan penguasa akan menjadikan negeri ini dikendalikan oleh para cukong materialistik yang akan berdampak kepada kesengsaraan rakyat itu sendiri. Praktek transaksional pengusaha-penguasa telah menempatkan rakyat kebanyakan sebagai penonton dan korban kebijakan kapitalistik. Inilah malapetaka kebangsaan, yang kaya tambah kaya dan yang miskin tambah miskin. 

Sekecil apapun sebuah proyek pembangunan fisik akan berdampak kepada lingkungan fisik maupun lingkungan manusia. Apalagi jika melibatkan megaproyek. Wajar jika para pegiat lingkungan sangat mengkhawatirkan dakpak lingkungan yang akan terjadi akibat reklamasi ini. Selain akan merusak habitat teluk juga dikhawatirkan justru akan mengakibatkan banjir yang lebih besar karena naiknya ketinggian air pascarekalamsi.

Pegiat sosial juga tidak kalah khawatir dengan adanya proyek sarat dugaan korupsi ini, terutama terkait dengan nasib para nelayan yang selama ini menggantungkan hidupnya kepada ketersediaan ikan. Reklamasi tentu saja akan mengubah lingkungan laut menjadi lingkungan wisata, bukan lingkungan ekonomis. Lingkungan wisata berarti menjadi milik pribadi, tidak lagi menjadi milik rakyat. Mungkin pascareklamasi para nelayan hanya akan menjadi penonton sambil menyimpan kenangan pahit. Rakyat kecil akan kehilangan sumber mata pencahariannya secara permanen, kecuali mereka mencari lapangan kerja baru, tentu ini tidak mudah.

Karena itu secara ekologis, proyek reklamasi pasti akan menimbulkan dampak tidak kecil terhadap lingkungan lingkar proyek. Secara sosiologis, reklamasi akan berdampak psikologis yang juga tidak kecil. Rakyat kecil, terutama para nelayan akan kehilangan mata pencahariannya yang berarti telah dikorbankan demi segelintir kaum kapitalis. Begitulah watak dasar sistem kapitalisme semata-mata berorientasi kepada materi tanpa mengindahkan dampak ekologis maupun sosiologis.

Jika demikian, reklamasi dengan semua kemungkinan dampak yang akan terjadi sebagai bentuk teror ekososiologis. Artinya selain berdampak buruk kepada lingkungan fisik juga berdampak buruk terhadap ekonomi masyarakat nelayan.  Semestinya hal ini menjadi kesadaran mendalam dari penguasa daerah maupun pusat yang mendapat mandat dari rakyat.

Lebih mendasar dari sekedar dampak akibat reklamasi yang harus disadari oleh pemerintah dan rakyat Indonesia adalah bahaya paradigma kapitalistik yang sarat dengan pragmatisme. Sebab inilah yang sesungguhnya akar masalah bagi bangsa ini secara lebih besar dalam jangka panjang. Praktek transaksional antara pengusaha dan penguasa mengindikasikan bahwa negeri ini telah terjangkiti virus kapitalisme, materialisme dan pragmatisme.

Pragmatisme berasal dari kata Yunani yakni pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Kata isme yang melekat setelah kata pragma memiliki arti sama dengan isme-isme yang lain yakni aliran, ajaran atau paham. Dengan demikian kata pragmatisme dapat diartikan sebagai paham bahwa pemikiran itu mengikuti tindakan. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah faidah atau manfaat semata. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar jika membawa suatu hasil materi.

Dengan demikian, sebagaimana digagas oleh William James dalam The Meaning of The Truth (1909) bahwa patokan pragmatisme adalah adanya manfaat bagi kehidupan praktis berupa materi. Pragmatisme merupakan sumbangan orisinil dari pemikiran filsafat kapitalisme Amerika yang kini telah menguasai hampir seluruh sendi kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Padahal secara praktis pula, paradigma pragmatisme telah memperlihatkan dampak buruknya bagi lingkungan dan watak manusia.

Pragmatisme aspek politik telah melahirkan politikus-politikus yang tidak jujur. Mereka meraih kekuasaan hanya untuk menumpuk pundi-pundi materi dengan cara melakukan praktek suap untuk mendapatkan imbalam materi lebih besar. Pragmatisme politik juga telah melahirkan para pejabat yang korup dan abai terhadap kepentingan rakyat yang memilihnya. Akibatnya lahirlah para penguasa yang justru menghianati mandate rakyatnya sendiri dengan cara hanya mementingkan kekayaan pribadi dengan cara korupsi anggaran dan melakukan transaksional dengan para cukong demi proyek yang seharusnya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.

Pragmatisme aspek ekonomi telah melahirkan para pengusaha yang tidak lagi menyandarkan kepada nilai-nilai moral dan agama dalam mengembangkan bisnisnya. Mereka hanya berorientasi kepada keuntungan materi semata. Sikap ini berdampak sosiologis terhadap kerusakan masyarakat banyak. Sebagai contoh adalah bisnis narkoba dan pornografi. Bisnis ini disinyalir menghasilkan keuntungan yang sangat besar, padahal telah berdampak buruk bagi kondisi masyarakat luas. Sebab pragmatisme tidak mengindahkan nilai moral dan agama.

Penting untuk diingat bahwa selama paradigma pragmatisme ini menguasai penguasa dan pengusaha, maka negeri ini dalam jangkan panjang justru akan terjerembab dalam kubangan kesenjangan dan kemiskinan yang semakin besar. Apalagi jika para pengusaha itu justru bukan anak negeri sendiri melainkan orang-orang asing, akan lebih ironis lagi. Dalam jangka panjang, paradigma pragmatisme akan menjadikan negeri ini terjual kepada asing atas nama privatisasi dan investasi. Buktinya,  para cukong asing hingga tahun 2015 telah menguasai ribuan hektar lahan di jabodetabek. Mestinya tanah negeri ini tidak boleh dimiliki oleh orang asing.

Akhirnya, proyek reklamasi sebenarnya hanyalah fenomena gunung es. Sebab, yang terjadi sebenarnya adalah bahwa negeri ini atau Jakarta khususnya telah dikuasai oleh cukong kapitalis asing sejak dulu. Ini adalah permasalahan bangsa yang sangat besar. Pemerintah dan rakyat harus menyadari masalah ini, lantas melakukan reorientasi dalam mengemban amanah kepemimpinan negeri ini. Pemerintah dan rakyat harus bersatu untuk mengembalikan seluruh kekayaan rakyat kepada pemiliknya.

Rakyat adalah pewaris  negeri ini. Allah menganugerahkan seluruh kekayaan alam  negeri ini untuk kemakmuran rakyat yang dikelola oleh pemerintah dengan amanah dan sistem yang lebih baik. Tanpa kesadaran fundamental ini, maka suatu saat cucu kita akan menjadi budak di negeri sendiri atau bahkan diusir dari negerinya sendiri. Karena itu rencana reklamasi Teluk Jakarta harus dihentikan. Selamatkan negeri ini dengan Islam, sistem terbaik dari pemilik bumi dan alam semesta ini. Mau ? [KotaHujan, 16/10/17 : 13.40]


Selasa, 17 Oktober 2017

Rahasia Di Balik Kehebatan Metode "Utawi Iki Iku" Ala Pesantren


Oleh: KH. Muhajir Madad Salim bin Kyai Mas'udi

Satu anak didik saya yang sekarang saya titipkan kepada seorang ustadz balik ke rumah. Saya tanya, "Krasan (betah) mondoknya?"

“Tidak," jawabnya.

“Kenapa tidak krasan?"

“Karena ustadznya mengajarnya tidak pakai 'utawi iki iku', saya jadi kesulitan memahami pelajaran-pelajaran beliau."

Saya tersentak. Saya merasa bersalah. Memang ustadz yang saya titipi bisa dikatakan alim, dia mutakharrij (lulusan) Rubath Tarem. Tetapi jika mengajar tidak pakai rumus 'utawi iki iku' bagi santri Jawa ya repot. Lalu saya teringat paparan tentang hal ini. Dituturkan oleh kakak saya saat menjadi wakil keluarga dalam rangka Haul ayah saya, Kiai Mas’udi. Saya ambil bagian pentingnya saja. Meskipun panjang, insyaallah paparan beliau menarik. Sebab selain menjelaskan tentang pentingnya 'utawi iki iku', juga menerangkan banyak hal yang berhubungan dengan ranah keilmuan dunia pesantren Jawa.

Beliau pada bagian terakhir menerangkan begini, “Mbah Fadhol Senori sesudah menulis kitab Kasyf at-Tabarih , beliau pernah didatangkan oleh Kiai Mas’udi ke masjid ini dan beliau ajarkan kitab tersebut di hadapan para masyarakat terutama para kiai. Masjid mutih ini luar biasa, banyak orang-orang hebat pernah shalat di sini. Setidaknya yang pernah saya ketahui diantaranya Kiai Fadhol Senori, Mbah Raden Asnawi Kudus, beliau pernah juga memberikan pengajarannya di masjid ini, dan Mbah Kiai Idris bin Kamali Kempek, saat pernikahan Kiai Ali Murtadho. Mbah Idris datang ke sini tiga hari dan ikut shalat Jum’at di sini. Mbah Idris ini adalah menantunya Hadhratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Mas’udi pernah mengaji dengan Mbah Fadhol. Mbah Fadhol muridnya Kiai Makmun Jam’an al-Bogori. Kiai Makmun Jam’an muridnya Syaikh Nawawi al-Bantani. Jadi Kiai Mas’udi ini punya jalur sanad dari Kiai Sholeh Darat dan juga punya sanad dari Syaikh Nawawi al-Bantani.

Kiai Mas’udi muridnya Mbah Sanusi. Mbah Sanusi muridnya Mbah Maksum Lasem
(selain mengaji kepada Mbah Kholil Lasem). Mbah Maksum Lasem muridnya Syaikhona Kholil Madura. Berarti Kiai Mas’udi ini punya sanad keilmuan juga ke Syaikhona Kholil Bangkalan Madura.

Tiga orang ini; Mbah Kholil Bangkalan, Mbah Sholeh Darat dan Mbah Nawawi Banten adalah Pendobrak Tanah Jawa. Tiga serangkai yang punya jasa besar dalam dunia Pesanteren Indonesia terutama tanah Jawa. Dimana sesudah tiga orang kiai besar ini, rata-rata ulama Jawa adalah murid mereka atau muridnya salah satu dari mereka. Ketiga orang ini adalah selain alim juga merupakan orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala, kita mengenalnya sebagai Waliyullah, kekasih Allah Ta’ala.

Kiai Mas’udi sangat membanggakan Kiai Sholeh Darat. Beliau sangat suka dengan Kiai Sholeh Darat. Sementra Kiai Sholeh Darat ini, menurut guru saya Abah Dim Kaliwungu, adalah Mujaddid Tanah Jawa di masanya. Santri-santri Jawa sekarang ini bisa membaca Kitab Kuning karena jasa besar beliau.

Saat Mbah Sholeh masih belajar di Makkah, belum pulang ke Jawa, para anak negeri kalau ingin mengaji kitab susahnya minta ampun. Tetapi begitu Mbah Sholeh pulang ke Jawa, beliau membuat rumus:

والمبتداء بلأتوي اكو خبر # افـا لفاعل ايغ لمفعول ظهر

Walmubtada bil-Utawi Iku Khobar # Afa li-Fa'ilin Ing li-Maf’ulin Dzahar

Pokok jika seorang kiai ngomong 'Utawi', santri akan paham kalau itu adalah Mubtada’. 'Iku' artinya Khobar. 'Apa' adalah Fail. Dan sudah jelas 'Ing' adalah Maf’ul. Ini rumus yang luar biasa. Metodologi pesantren yang dirumuskan oleh Kiai Sholeh tersebut punya pengaruh besar, punya manfaat besar dalam memintarkan para santri. Buktinya metodologi beliau tersebut masih dipakai hingga sekarang.

Kalau mau mengaji ke Jawa tanpa 'utawi iki iku' itu tidak akan berhasil (baik) meskipun sudah S-3 Mesir sekalipun. Saya punya sahabat sudah S-3; S-1 di al-Azhar, S-2 dan S-3 di Maroko. Tetapi kelamaan di sana selama 20 tahun, saat pulang ke Jawa 'utawi iki iku'nya lupa. Dia mengeluh kepada saya, “Aku paham kitab, tetapi di sini tanpa 'utawi iki iku', murid-muridku tidak paham. Aku jadi bingung. Tolong aku diingatkan lagi...”

Saya jawab, “Ok, gampang. Almubtada bil-Utawi Iku Khobar # Afa li-Fa'ilin Ing li-Maf’ulin Dzahar…”

Kiai Sholeh Darat memang seorang Alim besar sekaligus Waliyullah. Sehingga Kiai Mas’udi sangat menyukainya.

Abah Dim Kaliwungu berkisah kepada saya, “Pernah Syaikh Nawawi Banten itu, pulang ke Indonesia. O ya, tiga orang ini, Kiai Nawawi Banten, Kiai Sholeh Darat dan Kiai Kholil Bangkalan mengajinya sama-sama di Makkah. Sama-sama mengaji kepada as-Sayyid Bakri Syatha. Sayyid Bakri Syatha mengaji kepada Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, Mufti Syafi'iyyah Makkah. Ketiganya sangat akrab, dan termasuk satu angkatannya adalah Syaikh Khathib Minangkabau. Tetapi budayanya beda, akhlaknya beda.

Kalau akhlaknya kiai Jawa akhlaknya orang Jawa Mutawadhi’ (tawadhu'). Sedangkan akhlaknya orang Sumatra –soal perbedaan karakter ini kesimpulan bukan dari Abah Dim, tetapi saya ambil dari sebuah buku milik orang Belanda dari Universitas Leiden yang mengutip dari laporan Snouck Hurgronje, seorang oreantalis yang pernah hidup menyamar sebagai Abdul Ghoffar di Makkah, (tetapi kabar Snouck Hurgronje sampai mengimami di Masjidil Haram itu Hoax, kalau dia pernah di Makkah memang ya). Snouck Hurgronje berkata, “Kalau kiai Sumatra memang alim, kritis tetapi akhlaknya bukan seperti Kiai Jawa. Mereka itu lebih terlihat sebagai orang-orang yang cerdas, sedangkan kiai-kiai Jawa itu terlihat sisi-sisi ketawadhu’annya."

Kiai Nawawi Banten pulang ke Indonesia, beliau kangen dengan seorang sahabatnya dari kota Batang, namanya Kiai Anwar. Kiai Anwar ini juga dulunya di Makkah, seorang yang sangat Alim ilmu fikih, punya karangan kitab berjudul ‘Aysul Bahri. Kiai Anwar punya murid namanya Kiai Amir Pekalongan. Kiai Amir Pekalongan punya murid namanya Kiai Yasin Bareng Kudus. Kiai Yasin punya murid namanya Mbah Muhammadun Pondowan Pati. Kiai Muhammadun punya murid Kiai Mas’udi.

Dalam kitab ‘Aysul Bahri ada kalimat seperti ini:

وامـا الكفتيغ والكيوغو فكلاهمـا حلالان

Wa-ammal kepitingu wal kiyongu fakilahuma halalani. Jadi yang pertama dan satu-satunya ulama Indonesia saat itu yang menghalalkan kepiting cuma Kiai Anwar saja. Semua ulama Jawa mengharamkan kepiting.

Di lain tempat Mbah Kiai Sholeh Darat juga tergerak hatinya untuk silaturrahim ke Kiai Anwar ini. Lebih menakjubkan lagi, yang di Madura, Mbah Kiai Kholil juga tergerak untuk berjumpa dengan Kiai Anwar.

Akhirnya kesemua kiai itu, Kiai Nawawi, Kiai Sholeh Darat dan Kiai Kholil Bangkalan berkumpul di waktu yang sama di tempatnya Kiai Anwar di Kota Batang. Para sahabat lama ini terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan, terutama antara Kiai Kholil Bangkalan dengan Kiai Nawawi Banten. Saking Asyiknya mereka nyaris lupa waktu. Beberapa menit sebelum datang waktu salat Ashar, Kiai Sholeh Darat mengingatkan mereka, "Wahai Syaikhoni, qad qarubal Ashru. Kiai-kiai, sudah mau Ashar."

Akhirnya tangan kanan Kiai Kholil dipegang oleh Kiai Nawawi Banten, sambil berkata, “Ayo, kita cari air dan tempat salat yang tidak bikin kita mengqadha salat Dzuhur."

“Oh, mangga..." jawab Kiai Kholil.

Mereka berdua pun keluar rumah. Tetapi begitu keluar pintu, keduanya tidak lagi ada di Kota Batang. Namun mereka berdua sudah ada di Kota Makkah al-Mukarromah. Jadi kini mereka berdua, Kiai Kholil dan Kiai Nawawi mendapati waktu tidak lagi mau Ashar, bukan lagi jam 3 siang tetapi jam 11 siang, mundur empat jam!

Begitulah kiranya orang-orang yang punya kedekatan dengan Allah Ta’ala, sepertinya waktu dan tempat tidak lagi mengikat mereka, sebagai bagian dari kemuliaan (karamah) yang diberikan oleh Allah kepada mereka.” (FM)


Sejarah Lahirnya Kaidah Fiqih


Forum Muslim - Dulu, para mujtahid menggali hukum Islam dari sumber aslinya, al-Qur'an dan Hadis, lalu meramunya dengan usul fikih sehingga menjadi butiran-butiran hukum furû' yang sudah matang. Hasil racikan mereka menjadi rujukan generasi selanjutnya dalam memutuskan berbagai persoalan.

Hukum-hukum furû'iyah (cabang) yang telah dicetuskan oleh para mujtahid ini sudah bercabang sedemikian rupa dan bertebaran di dalam karya-karya ulama dengan klasifikasi yang disesuaikan dengan tatanan masyarakat, mulai dari fikih yang berkenaan dengan hukum ibadah, transaksi, pernikahan sampai hukum pidana. Kajian fikih menjadi begitu tebal dan menguras usia untuk bisa menamatkan seluruh referensinya.

Syekh Yasin bin Isa al-Fadani menyatakan, jika kita hanya mempelajari hukum-hukum yang sudah matang dalam kitab-kitab fikih, maka berapa waktu yang kita butuhkan, berapa lama kita bisa bertahan, berapa kitab yang harus kita hafal, dan seberapa kuat memori otak mampu menampungnya?

Maka, solusi untuk bisa memecahkan persoalan ini perlu dimunculkan, agar generasi selanjutnya tidak menerima kegamangan itu. Salah satu solusi tersebut adalah mengetahui subtansi dan titik temu dari berbagai hukum yang sudah matang. Bila subtansi sudah kena, maka setidaknya hal itu bisa menjadi bekal dalam mengkorelasikan satu persolan ke dalam persoalan lain.

Mengenai hal ini, ulama fikih pasca mujtahidin membuat rumusan-rumusan tertentu yang kemudian dikenal dengan istilah kaidah fikih. Beragam persoalan furû dalam fikih yang tak terhitung jumlahnya dapat disatukan dalam sebuah formulasi melalui titik temu illat. Kesamaan illat itu diketahui melalui hasil penelitian dari nash yang menjadi prinsip syariat. Al-Qarafi mengatakan, "Barangsiapa yang menguasai ilmu fikih disertai kaidah-kaidahnya, maka ia tidak perlu lagi untuk menghafal hukum-hukum juz'i (parsial). Sebab, semuanya telah terangkum dalam kaidah-kaidah kulli (umum)"

Sebetulnya, rumusan-rumusan itu telah dilakukan secara acak sejak periode awal era mujtahidin. Para mujtahid menyisipkan prinsip-prinsip pokok dari berbagai hukum yang sudah matang dalam fikih yang mereka karang. Penyisipan-penyisipan itulah yang nantinya menjadi cikal bakal munculnya ilmu kaidah fikih. Rumusan-rumusan yang masih acak itu dapat kita jumpai, misalnya, dalam kitab al-Umm karya Imam asy-Syafi'i (150-204 H.) dan al-Kharraj karya Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah (113-182 H.).

Sekedar contoh, dalam kitab al-Umm Imam asy-Syafi'i menyatakan bahwa keringanan (rukhshah) hanya berlaku sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Setelah itu, beliau menyisipkan filosofi hukum, "Diperbolehkan dalam kondisi darurat sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam kondisi normal.".

Dalam kitab al-Kharraj Abu Yusuf menulis prinsip kepemimpinan dengan bunyi, "Kebijakan seorang pemimpin atas kepentingan rakyat harus berdasarkan kemaslahatan." Filosofi itu direkomendasikan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid dengan bunyi, "Seorang pemimpin tidak diperbolehkan memungut sesuatu apapun dari tangan orang lain, kecuali dengan pertimbangan yang benar dan baik."

Rumusan-rumusan filosofis yang belum terangkum itu, mulai diperhatikan dan dirangkum pada Abad Keempat Hijriah. Konon, yang mula-mula melakukan hal itu adalah seorang ulama Hanafiyah, Abu Thahir ad-Dabbas (w.340). Ia adalah seorang ulama masyhur yang konon buta.

Al-Harawi, salah satu ulama mazhab Syafi'i, bercerita bahwa ad-Dabbas berupaya merangkum dan menghafal beragam persoalan dalam mazhab Hanafi ke dalam 17 kaidah. Setiap malam ad-Dabbas menghafal kaidah tersebut di sebuah masjid. Rupanya, aktivitas ad-Dabbas ini didengar oleh beberapa ulama Hanafiyah di kota Harrah (Khurasan/Afghanistan), sehingga mereka mengutus salah seorang dari mereka untuk membuktikan kabar itu sekaligus mempelajari kaidah ad-Dabbas.

Di suatu malam, utusan tersebut berangkat ke masjid yang biasa ditempati ad-Dabbas dan bercampur baur dengan jamaah yang lain. Setelah para jamaah meninggalkan masjid dan masjid sudah sepi, ad-Dabbas mengunci pintu setelah menyelesaikan zikirnya. Utusan tersebut memperhatikan ad-Dabbas dan secara diam-diam ia duduk di tikar tempat duduk ad-Dabbas. Ad-Dabbas tidak menyadari hal itu, karena memang beliau tidak dapat melihat (buta).

Setelah keadaan betul-betul sepi, ad-Dabbas mulai menghafalkan kaidah-kaidahnya. Ia tidak menyadari bahwa ada orang yang menyadap apa yang ia katakan. Sang utusan menguping, mendengarkan dan berusaha untuk menghafal setiap kaidah-kaidah yang keluar dari bibir ad-Dabbas. Sayangnya, saat ad-Dabbas sampai pada bacaan kaidah ketujuh, utusan tadi batuk karena tenggorokannya sangat gatal. Seketika, ad-Dabbas menghentikan hafalannya dan secara reflek memukul orang itu dan mengusirnya dari masjid. Setelah kejadian itu, ad-Dabbas tidak pernah lagi melakukan aktivitas tersebut. Walaupun demikian, bagi sang utusan, ketujuh kaidah yang telah didapatnya cukup bisa menggembirakan sahabat-sahabatnya yang penasaran akan kaidah ad-Dabbas. Pada akhirnya, kaidah-kaidah ad-Dabbas dapat dibukukan oleh sahabat karibnya, Abul Hasan al-Karkhi (w.340 H.).

Perumusan prinsip-prinsip dasar fikih yang dilakukan oleh kalangan mazhab Hanafi ini, rupanya didengar oleh ulama-ulama mazhab Syafi'i. Termotivasi dari itu, Qadhi Husain (w.462 H.) mencoba untuk merumuskan hukum-hukum dalam mazhab Syafi'i, ke dalam empat kaidah dasar, yaitu, (1) keyakinan tidak bisa dihilangkan karena keraguan, (2) [kondisi] sulit menyebabkan hukum menjadi mudah, (3) kemudaratan harus dihilangkan, dan (4) adat/kebiasaan bisa menjadi rujukan hukum.

Pancingan Qadhi Husain ini menarik motivasi generasi selanjutnya, sehingga banyak bermunculan kitab-kitab kaidah fikih dalam mazhab Syafi'i. Bahkan, pada periode mutaakhirin, keempat kaidah di atas dilengkapi menjadi lima dengan ditambah kaidah al-Umûr bil-Maqâshid (segala hal tergantung niatnya).

Keempat kaidah Qadhi Husain ini mengalami pengembangan dan perubahan redaksional. Salah satu ulama yang dianggap berperan dalam pengembangan dan perubahan redaksional tersebut adalah Imam as-Suyuthi melalui karya monumentalnya al-Asybâh wan-Nazhâ'ir. Melalui kitab ini, Imam as-Suyuthi banyak berjasa mewariskan ilmu kaidah fikih terhadap pakar-pakar ilmu keislaman pada  masa berikutnya.

Sumber : Buletin Sidogiri edisi 26.


Kirim Kapal Induk ke-2, Trump Mulai Wujudkan Ancamannya ke Korea Utara


Forum Muslim -- Setelah seminggu membuat pernyataan bernada ancaman kepada Korea Utara (Korut), Presiden AS Donald Trump diam-diam mengirimkan kapal induk kedua yang dipenuhi oleh 7.500 marinir.

Minggu lalu Trump mengatakan bahwa situasi krisis Korut seperti 'ketenangan menjelang badai'. “This is the calm before the storm,” katanya.

Secara tersirat ia mengancam akan 'mengirim badai' ke Korut. Dan ancaman itu semakin mendekati kenyataan dengan pengiriman kapal induk bertenaga nuklir USS Theodore Roosevelt ke Semananjung Korea. Semakin bertambah runyam setelah pengiriman kapal induk ini dilakukan menyusul rumor tentang rencana Korut menembakkan sejumlah rudal bersamaan dengan pembukaan Kongres Partai Komunis Cina pada 18 Oktober.

Seperti dilaporkan Zero Hedge, 13 Oktober, kapal induk tersebut telah meninggalkan pangkalannya di San Diego minggu lalu. Kemenhan AS mengumumkan bahwa kapal induk itu akan menjalankan misi di barat Pasifik dan Timur Tengah. Namun, media-media Korea Selatan menyebut bahwa kapal induk itu dikirimkan untuk memperkuat militer Amerika di Semenanjung Korea.

"Kapal ini diperkirakan akan tiba dalam beberapa minggu, di tengah kekhawatiran tentang rencana ujicoba rudal nuklir Korut," tulis laporan itu.

Saat tiba di kawasan tersebut, USS Theodore Roosevelt akan bergabung dengan kapal induk sekelas seharga sekitar Rp60 triliunan, USS Ronald Reagan.

Dalam sebuah pernyataan Admiral Steve Koehler, komandan gugus tempur (strike group) yang dipimpin kapal induk USS Theodore Roosevelt, mengatakan bahwa kapal induk ini mengangkut 7.500 pasukan tempur dan marinir yang siap perang.

"Setelah hampir setahun menjalani misi pelatihan dan integrasi, seluruh tim telah siap sebagai kekuatan tempur dan siap untuk menjalankan misi yang ditugaskan negara," katanya.

Dalam pertemuan dengan para komandan militer Amerika minggu lalu, Trump mengejutkan para hadirin termasuk para wartawan, ketika ia berkata, "Anda tahu apa arti ini semua (pertemuan dengan para komandan militer)? Mungkin ini adalah keheningan menjelang datanganya badai," kata Trump dengan mengulang frasa terakhir itu dua kali.

Seorang wartawan pun bertanya, "Apakah badai itu, Iran, ISIS atau lainnya?"

Trump pun membalas: "Anda akan tahu nanti."(Sumber : ca)


Minggu, 15 Oktober 2017

Surat Terbuka Untuk Pak Anies Dan Bang Sandi


SURAT TERBUKA UNTUK PAK ANIES DAN BANG SANDI

===========================


Assalamu'alaikum warohmatullah, 

Pak Anies Rasyid Baswedan dan Bang Sandiaga Salahudin Uno. 

Hanya tinggal hitungan jam ke depan, anda berdua akan dilantik dan mengucapkan sumpah atas nama Allah, Tuhan anda, Tuhan semesta alam, untuk mengemban amanah rakyat menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta selama 5 tahun masa jabatan. 

Saya turut bangga dan bahagia. Bahagia karena meski bukan warga DKI yang punya hak pilih, saya sempat ikut "menikmati" hiruk pikuknya pilgub DKI dan hadir di TPS. Bangga karena pada akhirnya di DKI terpilih seorang pemimpin yang dipilih oleh 52% warganya bukan karena kecurangan dan bukan pula karena menyuap rakyat pemilih dengan sekantong sembako, sehelai baju dan selembar amplop berisi uang.

Pak Anies dan Bang Sandi, 

Kemenangan ini adalah kemenangan bersama, BUKAN kemenangan anda berdua. Ada peran para ulama, ada kontribusi kelas menengan terdidik, ada turun tangannya ibu-ibu langsung ke TPS-TPS di putaran kedua, itu sebabnya tak ada lagi Iwan Bopeng dan pemilih siluman yang hanya berbekal KTP tapi wajahnya tak pernah dikenali warga sekitar, sehingga dengan proses pemilihan yang fair akhirnya kemenangan telak 2 digit bisa diraih. 

Dan jangan lupa pula ada dukungan tulus penuh harap dari wong-wong cilik, yang tidak didapat petahana. Bahkan sebaliknya wong-wong cilik itu memasang spanduk penolakan dan mengusir kehadiran petahana. Ada ribuan doa-doa diiringi air mata dari orang-orang teraniaya, warga DKI yang selama ini terpinggirkan dan jadi korban pembangunan yang abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan. 

Pak Anies dan Bang Sandi harus ingat, bahwa doa orang teraniaya itu makbul. Maka jangan sekali-kali kalian khianati amanah mereka. 

Pak Anies dan Bang Sandi, 

Besok mungkin akan jadi hari penuh suka cita bagi hampir dua pertiga warga Jakarta, namun juga jadi hari duka cita dan kemurungan bagi sepertiga warga Jakarta yang tak memilihmu. 

Jadilah pemimpin bagi semuanya. Rangkullah mereka yang dulu berkampanye untuk rivalmu. Tapi bagi yang die hard dan bersumpah untuk MENOLAK MOVE ON, biarkan sajalah. Sebab dunia terus berputar, hari terus berganti,  sementara mereka telah memutuskan untuk "menghentikan" hidupnya hanya sampai pada titik kenangan lama, yang jelas tidak akan bisa waktu diputar kembali. Biarkan sajalah mereka merencanakan akan menaruh duri di jalanan yang akan kalian lalui, biarkan sajalah mereka menebar kulit pisang agar kalian terpeleset. Karena akan terus ada orang-orang baik yang berjalan bersama kalian, menyingkirkan duri itu karena keyakinan bahwa menyingkirkan duri adalah bagian dari perbuatan yang mendatangkan pahala. Akan selalu ada orang-orang tulus yang akan membuang kulit pisang, karena dia tak mau kulit pisang itu menggelincirkan orang lain, termasuk dirinya. 

Tapi..., Pak Anies dan Bang Sandi,

Esok lusa, ketika kalian mulai berkantor di Balai Kota, yang kalian hadapi bukan lagi sekedar kelompok relawan yang berguling-guling di jalanan, yang menangis meraung-raung, tapi kemungkinan besar ada banyak jebakan yang sudap disiapkan, secara terencana dan baik, oleh tangan-tangan profesional. Inilah yang sesungguhnya sangat perlu diwaspadai. Berhati-hatilah, tetap waspada dan jangan sungkan berkonsultasi pada para pakar agar tidak terjerat kasus hukum. 

Pak Anies dan Bang Sandi, 

Mulai esok lusa, mungkin argo sudah dijalankan untuk menagih janji kampanye kalian berdua. Kami paham ini sangat berat, bahkan anda berdua belum lagi dilantik ada yang sudah menagih janji. 

Padahal, menurut seorang anggota DPRD DKI dalam acara talk show di sebuah stasiun tv swasta, dari 71 triliun rupiah APBD DKI, hanya ada 1% saja yang bisa dialokasikan untuk menjalankan program kerja Anies-Sandi. Bahkan untuk program Oke Oce katanya hanya ada duit 1,5 milyar saja. Tapi Alhamdulillah, program ini sudah dirintis dan bahkan dimulai sejak kampanye, tidak perlu terlalu bergantung pada kucuran dana APBD.

Pak Anies dan Bang Sandi, 

Anda berdua berencana akan sowan menemui para mantan Gubernur DKI, ini sungguh langkah awal yang baik, sebab silaturahmi membukakan pintu-pintu rizki. Dan mereka pun akan senang merasa dianggap, diorangkan, dihargai, diminta pendapat dan sarannya. 

Tapi jangan lupa pula untuk berbicara dengan rakyatmu. Bersikaplah terbuka tentang pengejawantahan janji-janji kampanye. Paparkan mengenai struktur dan alokasi APBD, ajaklah para camat dan lurah berbicara dan memahaminya, agar mereka juga bisa memahamkan kepada warganya.

Seseorang akan dilihat dan diukur dari seberapa upayanya mewujudkan sesuatu, bukan dari seberapa banyak hasilnya. Sebab tidak semua hal ada di tangan kalian berdua. 

Lihatlah bagaimana proyek reklamasi Teluk Jakarta dikawal dengan sangat luar biasa hebat oleh banyak pihak dan dikebut agar sebelum anda dilantik semua payung hukumnya sudah siap. 

Sertifikat tanah jutaan meter persegi sudah siap hanya dalam waktu sehari saja setelah diukur. Moratorium juga dicabut hanya berselang 10 hari sebelum anda berdua dilantik. Bahkan, ultimatum agar anda meneruskan proyek reklamasi, tidak bisa tidak, sudah dikeluarkan sejak bulan Juli 2017, sekitar 3 bulan sebelum pergantian gubernur.

Sungguh kedua tangan anda berdua telah dibelenggu, Pak Anies dan Bang Sandi. Kedua kaki kalian sudah dibatasi gerak langkahnya Tidak apa-apa, publik sudah tahu prosesnya. Mereka mencatat kejadian demi kejadian dalam benak mereka. Tapi yang terpenting adalah bagaimana anda berdua menyikapinya. Apakah anda berdua memilih menyerah pasrah karena sudah dibelenggu, atau mencoba sekuat tenaga melawan, berupaya melepaskan belenggu itu, meski hasilnya belum tentu berhasil.

Sekali lagi Pak Anies dan Bang Sandi, BUKAN seberapa besar kemungkinan berhasilnya, tapi seperti apa/bagaimana SIKAP anda, sejauh mana PERJUANGAN anda dalam berupaya menunaikan janji kepada masyarakat sekitar Teluk Jakarta dan para nelayan. 

Mereka tahu kok, segala cara sudah dilakukan untuk membuat anda tidak bisa menolak reklamasi. Maka, tetaplah berjalan bersama mereka, tetaplah tangan-tangan kalian bergandengan erat dengan tangan-tangan lemah mereka, saling menguatkan, bersama mencoba melepas belenggu. 

Kalaupun toh yang terpahit hasilnya ternyata gagal, karena kekuasaan yang lebih besar yang dimenangkan, maka secara moril kalian berdua telah menang. Rakyat tidak akan lagi menuntut pada anda berdua.

Sungguh aneh sebenarnya, seorang gubernur dan wakil gubernur yang dipilih langsung oleh mayoritas rakyat, yang punya legitimasi kuat untuk menjalankan amanah dari warga DKI, yang punya tanggung jawab moral menunaikan janjinya terhadap rakyat Jakarta, dipaksa untuk menuruti keputusan pejabat yang tidak dipilih oleh rakyat. 

Pak Anies dan Bang Sandi, 

Di DPRD musuh anda mungkin akan lebih banyak lagi. Moment pertama anda hadir di sidang DPRD DKI saja, sudah ada yang "ngambek" tak mau hadir. Tidak apa-apa, tetaplah cool nd calm, jangan menunjukkan sikap permusuhan, jangan anggota DPRD diajak "berkelahi" apalagi sampai mencaci maki dengan kata-kata sumpah serapah kasarbdan kotor seperti yang dilakukan pendahulu anda. Bersikaplah bersahabat kendati anda dimusuhi, namun tetaplah tegas bahwa anda berdiri bersama rakyat, anda memperjuangkan kepentingan rakyat. Tak usah khawatir akan dilengserkan, karena anda berdua dipilih rakyat, bukan dipilih wakil dari parpol di DPRD. Ibu Tri Rismaharini di Surabaya pernah mengalaminya di awal tahun 2014, diancam dimakzulkan. Tapi karena beliau berdiri di atas kepentingan rakyat, maka rakyat yang jadi tamengnya.

Pak Anies dan Bang Sandi, 

Mayoritas pejabat di Pemda DKI mungkin bukan orang yang bersimpati pada anda. Bisa jadi mereka tidak mendukung anda pada pemilihan gubernur dan tidak pula nanti ketika anda berdua jadi atasannya. Binalah mereka dengan baik, tapi jika tetap tidak bisa diajak bekerjasama mewujudkan program-program kerja kalian demi kebaikan Jakarta dan masyarakatnya, jangan sungkan menerapkan punishment sebagaimana mestinya. Tapi tetap pendekatan komunikatif yang utama.

Kami para pendukungmu hanya bisa berdoa, mengawal langkah kaki anda berdua. Jika kalian tetap pada jalur yang benar, berdiri bersama rakyat, istiqomah dalam kebaikan, insyaa Allah kami akan tetap jadi benteng mempertahankan kalian. 

Namun jika kalian keliru apalagi melenceng, kami pun tak akan segan mengkritisi anda berdua. Sebab bagi kami, anda berdua bukanlah sosok yang kami kultuskan, yang harus selalu kami puja dan puji. Standar kebenaran bukanlah apa saja yang kalian lakukan, lalu kami akan begitu saja mengangguk membenarkan hingga kehilangan logika. Tidak, bagi kami mendukung adalah memberikan support jika benar, sekaligus kritik jika ada yang tidak benar, tidak pada jalurnya. 

Akhir kata, selamat bekerja dan berjuang Pak Anies dan Bang Sandi. Semoga Allah meridhoi perjuangan kalian. 

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh. 

15 Oktober 2017,

Iramawati Oemar


Sabtu, 14 Oktober 2017

Riwayat Shalawat Badar


Forum Muslim - Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar.

Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai `Ali Manshur adalah anak saudara/keponakanKiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab ""Tanwir al-Hija" yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib `Alawi bin `Abbas bin `Abdul `Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol "Inarat ad-Duja".

Diceritakan bahwa asal mula karya ini ditulis oleh Kiyai `Ali Manshur sekitar tahun 1960an, pada waktu umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika itu, Kiyai `Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan juga seorang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ.

Keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan PKI yang merajalela membunuh massa, bahkan banyak kiyai yang menjadi mangsa mereka, maka terlintaslah di hati Kiyai `Ali, yang memang mahir membuat syair `Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah SWT untuk meredam fitnah politik saat itu bagi kaum muslimin khususnya Indonesia.

Dalam keadaan tersebut, Kiyai `Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih ? hijau, dan pada malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai `Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahwa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai `Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai `Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai "Sholawat al-Badriyyah" atau "Sholawat Badar".maka terjadilah hal yang mengherankan keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lain. Mereka menceritakan bahwa pada waktu pagi shubuh mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai `Ali untuk membantunya kerana akan ada suatu acara diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barang tersebut menurut kemampuan masing-masing. yang lebih mengherankan lagi adalah pada malam harinya, ada beberapa orang asing yang membuat persiapan acara tersebut namun kebanyakan orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

Menjelang keesokan pagi harinya, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib `Ali bin `Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai `Ali tanpa memberi tahu terlebih dahulu akan kedatangannya. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai `Ali menerima para tamu istimewanya tersebut. Setelah memulai pembicaraan tentang kabar dan keadaan Muslimin, tiba-tiba Habib `Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai `Ali tersebut. Tentu saja Kiyai `Ali terkejut karena hasil karyanya itu hanya diketahui dirinya sendiri dan belum disebarkan kepada seorangpun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah salah satu kekeramatan Habib `Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa banyak bicara, Kiyai `Ali Manshur mengambil kertas karangan syair tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata karena terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai `Ali, Habib `Ali menyerukan agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai `Ali tersebut.

Selanjutnya, Habib `Ali Kwitang telah mengundan para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, salah seorang yang diundang diantaranya ialah Kiyai `Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai `Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luaslah Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan populer dalam majlis-majlis ta'lim dan pertemuan. Maka tak heran bila sampai sekarang Shalawat Badar selalu Populer. di Majelis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi sendiri di Kwitang tidak pernah tinggal pembacaan Shalawat Badar tersebut setiap minggunya. untuk lebih lengkapnya tentang cerita ini teman2 milis MR dan teman temanku seiman dapat membaca buku yang berjudul "ANTOLOGI Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU" yang disusun oleh H. Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan. semoga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib yang berperan serta mempopulerkan Shalawat tersebut kepada kita kaum muslimin. Al-Fatihah?..

Sholawat badar merupakan , pernghormatan, pujian, pengakuan dan rasa syukur bagi para Syuhada perang Badar. Hal seperti ini dilakukan pula di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan iringan rebana sebagaimana terlukiskan dalam hadits berikut

[47.76]/4750 Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi' binti Mu'awwidz bin `Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu `alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, "Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari." Maka beliau bersabda: "Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan."

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya mengkoreksi perkataan "Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari" karena Beliau tahu sebatas yang diwahyukan namun beliau tidak melarang ungkapan cinta (sholawat) sebagaimana kita ingin mengungkapkannya dengan pernyataan "katakanlah apa yang ingin kamu katakan"

Bermanfaat untuk amal sholeh (amal kebaikan) saja sekaligus memeriahkan sebuah keramaian / pertemuan.

Bisa sebagai pengganti sedekah ketika tidak punya harta yang bisa disedakahkan

Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya." Rasulullah saw. bersabda, "Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?" Rasulullah saw. menjawab, "Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim)

Wasallam

Sumber : Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830


Pulau Reklamasi, Pertempuran Geopolitik Indonesia VS China

Ilustrasi perang asimetris
Forum  Muslim - Jika dikaji dari perspektif geopolitik, khususnya (teori) dimensi ruang, proyek Meikarta dan Reklamasi Pulau di Jakarta itu merupakan bagian tindakan ekspansionis Cina melalui apa yang disebut dengan kebijakan 'One Belt One Road (OBOR) One China'-nya Xi Jinping. Ya, OBOR One China, singkatnya.
Tak dapat disangkal, apabila OBOR One China  dianalogikan sebagai sistem ekspansi secara nirmiliter (asimetris), maka peran Ahok dulu hanyalah person pada tataran metode dalam sistem kolonialisme (gaya baru). Dengan demikian, kekalahan pada Pilkada DKI 2017 kemarin boleh diartikan sebagai "patah"-nya metode ekspasi pada skema OBOR dimaksud. Hal ini tentu menggoncangkan jajaran tertinggi manajemen OBOR One China itu sendiri. Kenapa? Betapa kebijakan Gubernur DKI yang baru kelak belum tentu proreklamasi. Apalagi hal itu tersurat dalam janji kampanye Anis-Sandi: menolak reklamasi.
Oleh karena itu, perjuangan Xi Jinping untuk memuluskan OBOR-nya agar terus tertancap di Jakarta~pintu gerbang Indonesia~terpaksa digantikan oleh jajaran 'man power' (tenaga ahli) dari sistem ekspansi melalui person-personnya. Perlu dijelaskan sekilas bahwa 'man power' pada sebuah sistem adalah tingkatan/tahapan di atas metode. Artinya, jika tahap metode gagal maka perannya diambil alih langsung oleh jajaran 'man power'.
Dari puzzle kegaduhan soal reklamasi tersebut, sesungguhnya sudah bisa dibaca, mana dan siapa para person dan kelompok yang duduk di tahapan 'man power' dalam skema OBOR One China.
Kesimpulan sementaranya, Meikarta dan Pulau Reklamasi adalah medan pertempuran geopolitik antara Indonesia melawan Cina.
Silakan, saudara-saudara memilih yang mana?
Catatan M Arief Pranoto
(Peneliti Senior Global Future Institute)

Orang - Orang Yang Tidak Tersentuh Api Neraka


Forum Muslim - Ternyata ada 4 golongan Orang yang Tidak Akan Tersentuh Api Neraka. Dilansir dari situs Ummi, berikut ulasan selengkapnya.

Ada yang ingin merasakan jilatan api neraka di tubuh kita? Tentu tidak yaa...

Jangankan api neraka, tersundut api dari korek atau putung rokok yang masih menyala saja sudah terasa perih di kulit.

Nah, jika berharap tidak disentuh api neraka, jadilah salah 1 dari 4 jenis manusia seperti ini yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berikut ini :

‎ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ،ﻗَﺎﻝَ :ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﻤَﻦْ ﺗُﺤَﺮَّﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻫَﻴِّﻦٍ، ﻟَﻴِّﻦٍ، ﻗَﺮِﻳﺐٍ، ﺳَﻬْﻞٍ

"Maukah kalian aku tunjukkan orang yang Haram baginya tersentuh api neraka?"

Para sahabat berkata,
"Mau, wahai Rasulallah!"

Beliau menjawab:
"(yang Haram tersentuh api neraka adalah) orang yang *"Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl"*
(H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Hiban)

Apa itu Hayyin? Ternyata ialah orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin. Cirinya tidak mudah memaki, melaknat orang lain, serta teduh jiwanya.

Sudahkah kita memiliki sifat orang yang Hayyin?

Kemudian Layyin. Yaitu, Orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur-kata atau bersikap atau berprilaku. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri. Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia.

Mirip dengan Hayyin, Layyin juga bukanlah tipe orang yang mudah berkata kasar atau jorok. Senantiasa mengharapkan kebaikan untuk orang lain.

Selanjutnya, tipe Qarib. Yaitu, Orang yang cepat dekat dengan siapa saja. Cepat akrab, ramah & enak diajak bicara, menyenangkan bagi orang yang diajak bicara. Dan murah senyum jika bertemu. Tidak jutek atau galak pada orang lain.

Terakhir, tipe Sahl. Yaitu, Orang yang memudahkan urusan orang lain/sesama. Ringan tangan Orang yg tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan.

Subhanallah... semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang Allah haramkan api neraka atasnya.

Foto ilustrasi : Google