Selasa, 27 Juni 2017

Allah Menjawab Bacaan Surat Al Fatihah Kita

Forum Muslim - Banyak sekali orang yang tegesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah di saat shalat, tanpa spasi, dan seakan-akan ingin cepat menyelesaikan shalatnya. Padahal di saat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al-Fatihah, ALLAH menjawab setiap ucapan kita.
Dalam Sebuah Hadits Qudsi Allah SWT ber-Firman:
"Aku membagi al-Fatihah menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk Hamba-Ku."
Artinya, tiga ayat di atas Iyyaka Na'budu Wa iyyaka nasta'in adalah Hak Allah, dan tiga ayat kebawahnya adalah urusan Hamba-Nya.
Ketika Kita mengucapkan "AlhamdulillahiRabbil 'alamin"
Allah menjawab: "Hamba-Ku telah memuji-Ku."
Ketika kita mengucapkan "Ar-Rahmanir-Rahim"
Allah menjawab: "Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku."
Ketika kita mengucapkan "Maliki yaumiddin".
Allah menjawab: "Hamba-Ku memuja-Ku"
Ketika kita mengucapkan “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in”.
Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan Hamba-Ku.”
Ketika kita mengucapkan “Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzinaan’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhooliin.” 
Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Ku penuhi yang ia minta.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

Berhentilah sejenak setelah membaca setiap satu ayat.
Rasakanlah jawaban indah dari Allah karena Allah sedang menjawab ucapan kita.
Selanjutnya kita ucapkan "Aamiin" dengan ucapan yang lembut, sebab Malaikat pun sedang mengucapkan hal yang sama dengan kita.
Barangsiapa yang ucapan “Aamiin-nya” bersamaan dengan para Malaikat, maka Allah akan memberikan Ampunan kepada-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud)
Sahabat jika artikel ini bermanfaat silahkan dibagikan, sampaikan walau satu ayat.
Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam; "Siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang yang membaca mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada (HR. Muslim).

Membahas Hadis Keturunan Fatimah Diharamkan Atas Neraka

Forum Muslim - Artikel ini umumnya akan memakai rujukan Syiah ahlul bayt. Namun begitu, justru pada dalil utama, yaitu pada hadis “Inna Faathimah ahshanat farjaha faharramallahu dzurriyyatahu ‘ala al-naar”, diriwayatkan oleh belasan ulama Sunni yang mu’tabar seperti al-Suyuthi, al-Tabari, al-Dar Quthni, dan seterusnya. 

Juga dalam riwayat kemaksuman ahlul bayt dalam Qs. Al-Ahzab ayat 33 yang secara masif diriwayatkan oleh puluhan ulama Sunni. Yang menarik adalah justru imam-imam Syiah ahlul bayt yang menganulir hadis “dzurriyyah Fatimah” tersebut dengan memberikan penjelasan yang mengkhususkan dzurriyyah Fatimah yang diharamkan atas neraka itu. Baiklah, kita coba memulai pembahasannya. 

Telah banyak diketahui bahwa keluarga Nabi SAW dibantai habis oleh sebagian besar khalifah-khalifah Umayyah dan Abbasiyah: Imam Hasan, yang diracun oleh Muawiyah melalui tangan isterinya, Imam Husain dan keluarganya yang dibantai di padang Karbala, Ali ibn Husain (pengarang Shahifah Sajjadiyah) yang diracuni oleh orang suruhan khalifah al-Walid di Madinah, Imam Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid atas suruhan Hisyam bin Malik, Imam Ja’far al-Shadiq (guru dari Imam Abu Hanifah dan Jabar bin Hayyan ahli kimia) diracun oleh khalifah al-Mansur, Imam Musa al-Kadzim dipenjara dan diracun oleh Harun al-Rasyid di Baghdad, Imam Ali al-Ridha diracun oleh al-Ma’mun, Muhammad al-Jawad diracuni oleh istrinya yang merupakan anak dari al-Ma’mun atas perintah khalifah al-Mu’tashim, Ali al-Hadi diracuni oleh khalifah al-Mu’tazz di Samarra, sampai Hasan al-Askary diracuni atas perintah al-Mu’tamid di Samarra. 

Namun begitu, Allah SWT memberkahi silsilah ini; jumlah mereka bukannya berkurang, tetapi semakin banyak. Mereka bukan hanya berdiam di Suriah dan Irak (tempat mereka dibantai), tetapi malah semakin menyebar sampai ke penjuru dunia. 

  Inilah konfirmasi yang jelas dari Qs. al-Kautsar ayat 1-3 

 إنا أعطيناك الكوثر فصل لربك وانحر إنّا شانئك هو الأبتر 

 “Sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu nikmat yang banyak (al-Kautsar). Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan qurban. Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang terputus.” 

Perjuangan para ahlul bayt dan dzurriyyah ini—tentu saja—semestinya kita hormati. Perjuangan ini tidak untuk tujuan murahan agar survive di dunia: sekedar bisa menikmati indahnya dunia dan bersenang-senang di atasnya; apalagi sampai ikut-ikutan berpesta kue politik dengan akhlak dog-eat-dog attitude. 

Eksistensi mereka—harus kita akui—memiliki andil yang sangat besar kepada perkembangan keilmuan dan kebudayaan Islam. Setidaknya, literatur Islam yang berkualitas dipenuhi oleh karya-karya dzurriyyah. Dan ini mereka lakukan dengan kebesaran akhlak a la Rasulullah SAW. 

Di level internasional, kita mengenal Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dengan karya-karyanya seperti Tafsir Al Jilani, al-Ghunyah Li Thalibi Thariqi al-Haq, Futuh al-Ghaib, Al-Fath al-Rabbani, Jala’ al-Khawathir, Sirr al-Asrar, Asrār al-Asār, Malfuzhāt, Khamsata “Asyara Maktuban, al-Rasāil, al-Dīwān, Shalawāt wa al-Aurād, Yawaqit al-Hikam, Jalaa al-Khatir, Amrul muhkam, Usul al-Sabā, dan Mukhtasar ulumuddin. 

Juga kita mengenal Syaikh Abu Bakar bin Salim, yang banyak melahirkan orang-orang besar seperti Habib Umar bin Khafidz BSA, Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdhar Bondowoso, dan seterusnya. 

Di Indonesia sendiri, para auliya’ dan ulama besar adalah para dzurriyyah asli dari Yaman dan keturunannya. Diantara dzurriyyah Rasulullah SAW yang sangat berpengaruh di Indonesia. 

Adalah Habib Husein bin Abubakar al-Aydrus dari Luar Batang; nyaris semua orang mendengar kehebatan dan perjuangan beliau dalam menyebarkan agama Islam di Jakarta. Lalu al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Attas dari Pekalongan; beliau sangat dihormati kaum muslimin dan para ulama baik dari dalam maupun luar negeri. 

Para pejabat pemerintah penjajah Belanda maupun pejabat pribumi juga sangat segan terhadapnya, bahkan tokoh-tokoh non muslim di masanya pun menghargainya. Orang-orang yang mencintai beliau tidak hanya berasal dari kalangan Islam, tetapi berasal dari berbagai kalangan, termasuk orang-orang Belanda. 

Dari sini, adakah yang mau mengatakan bahwa karena Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas dicintai oleh pihak kafir, maka beliau adalah ulama su’? (Resistensia)

 

Dalil Nasionalisme Dalam al-Qur’an dan Sunnah

Ilustrasi Nasionalisme - File donisetyawan.com
Forum Muslim - Cinta tanah air adalah salah-satu dari hal yang alami bagi manusia. Pembawaan manusia adalah mencintai tempat dimana mereka tumbuh di dalamnya. Biasanya, manusia menginginkan tempatnya lahir dan tumbuh itu menjadi tempatnya menua dan menghabiskan hidupnya. Makanya, tidak aneh jika manusia mencintai negaranya setengah mati. 

Cinta tanah air itu memiliki hubungan langsung dengan agama dan iman. Agama telah menganjurkan manusia mencintai negara tempatnya tumbuh dan dididik. Kita ingat ketika Nabi SAW hendak berhijrah ke Madinah karena tindakan repressive kaum musyrikin dan kafir Quraisy (ingat kata-kata ini ya, ”kafir Quraisy”), Nabi SAW bersabda, “Betapa indahnya engkau wahai Makkah, betapa cintanya aku kepadamu. Jika bukan karena aku dikeluarkan oleh kaumku darimu, aku tidak akan meninggalkanmu selamanya, dan aku tidak akan meninggali negara selainmu.” 

Inilah dalil yang menunjukkan betapa cintanya Rasulullah SAW kepada negaranya. Ini juga dalil bahwa mencintai tanah air itu adalah hal yang penting. Dr. Ahmad Abdul Ghani Muhammad al-Najuli dalam al-Muwathanah fi al-Islam Wajabatun Wa Huquq menerjemahkan tanah air secara lebih luas, bahwa di era globalisasi ini sesungguhnya tanah air itu adalah alam semesta secara keseluruhan. Ini diistilahkannya sebagai al-muwathanah al-alamiyyah (tanah air alam semesta). 

Ini sebenarnya maksudnya adalah kewajiban menjaga dan mencintai alam semesta yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Oleh karena itu, setiap muslim dilarang merusak alam semesta (wala tufsidu fil ardhi ba’da ishlahiha: jangan merusak bumi setelah perbaikannya). 

Mafhum mukhalafah-nya (pemahaman terbaliknya) adalah bahwa setiap muslim harus mencintai dan melestarikan alam semesta. Atas dasar qiyas awlawi, maka setiap muslim seharusnya lebih mencintai tanah air tempatnya dilahirkan, dibesarkan, dan hidup. Gampangnya begini: kepada alam semesta saja muslim wajib mencintainya, apalagi kepada tanah air tempatnya lahir dan tumbuh. 

Lalu, ada yang mengatakan bahwa nasionalisme itu tidak ada landasan di dalam Islam. Sementara pengertian nasionalisme menurut berbagai literatur adalah suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, dengan demikian masyarakat suatu bangsa tersebut merasakan adanya kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri. 

Ini di dalam britannica.com nasionalisme diterjemahkan sebagai ideologi yang berdasarkan premis bahwa kesetiaan dan pengabdian kepada negara bangsa itu harus melebihi kesetiaan kepada individu dan kelompok. Secara sederhana bisa kita samakan antara nasionalisme dan cinta tanah air. 

Jika nasionalisme itu adalah cinta tanah air, maka sesungguhnya dalilnya di dalam al-Quran begitu banyak. Allah SWT berfirman di dalam Qs. al-Hasyr 9:

 وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (Al-Hasyr 9) 

Ayat ini menjelaskan bahwa kaum Anshar telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin, yaitu pada Baiat al-Aqabah pertama dan kedua. Mereka mencintai kaum Muhajirin dengan cinta kasih yang tulus. 

Mereka mengutamakan kaum Muhajirin, sekalipun mereka dalam kesusahan. Ini adalah ayat yang berisi pujian Allah SWT kepada kaum Anshar yang telah membangun kota Madinah dengan baik dan mau menerima kaum Anshar dengan cinta kasih. 

Lalu pada ayat sebelumnya, yaitu Qs. al-Hasyr 8, Allah SWT berfirman:

 لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ 

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. 

Ayat ini menggambarkan kesulitan yang dihadapi oleh kaum Muhajirin yang harus meninggalkan harta-benda, rumahnya, anak-anaknya, keluarganya. Maka, jadilah mereka orang-orang fakir miskin pada saat menjadi orang-orang yang berhijrah. 

Dan tahukah Anda bahwa ayat ini menggambarkan bahwa pujian Allah SWT atas kaum Anshar (yang telah beriman sebelumnya, membangun Madinah dengan baik, dan lebih mengutamakan kaum Anshar atas harta-harta mereka) itu disamakan dengan orang-orang Muhajirin yang harus meninggalkan semua yang mereka miliki (baik harta-benda, keluarga, handai taulan, dan seterusnya) terutama tanah-airnya tercinta. 

Perasaan yang hancur-lebur akibat terusir ini lebih hebat kesedihannya daripada hanya (kata “hanya” di sini bukan bermaksud meremehkan, melainkan membandingkan sesuai ayat al-Quran) membagi harta-bendanya, sedangkan mereka masih tinggal di negaranya, di rumahnya, bersama anak-istri, keluarga, sahabat, dan seterusnya. 

Dalam ayat lain, Allah SWT menyamakan level kesulitan pengusiran dengan kematian:

 وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ 

Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Qs. al-Anfal 30) 

Lihatlah bagaimana level pengusiran seseorang dari tanah-airnya itu disamakan dengan level penghilangan nyawa. Inilah makna dari Qs. al-Baqarah 191 yan terkenal dengan pemelesetan “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan”. 

Arti dari frasa “al-fitnatu asyaddu minal qatli” itu adalah lebih baik mati daripada menjadi musyrik setelah dipaksa oleh orang-orang kafir. Ini menegaskan bahwa pengusiran seseorang dari negaranya itu sama level kesulitannya dengan pembunuhan. Pilihannya adalah: terusir dan mengungsi, atau terbunuh dan tetap memeluk agama Islam. 

Ayat lain yang menguatkan kesamaan level antara terbunuh dan terusir ini adalah ayat berikut:

 وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا 

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),” (Qs. al-Nisa 66) 

Ada juga ayat dalam Qs. al-Baqarah yang menyamakan level keterusiran seseorang dari negaranya dengan pembunuhan:

 وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ 

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. (Qs. al-Baqarah 84)

 ثُمَّ أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ 

Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Qs. al-Baqarah 85) 

Semua ayat yang menyamakan level antara terbunuh dan terusir dari negara itu adalah ayat yang menegaskan tentang begitu pentingnya kedudukan negara dalam beragama. 

Kita ingat di dalam 5 maqashid al-syariah (maksud-maksud diterapkannya syariah Islam), maka kedudukan menjaga jiwa itu kalah dengan kedudukan menjaga agama. Di dalam maqashid ini kedudukan menjaga agama dimenangkan atas kedudukan menjaga jiwa; kedudukan menjaga jiwa mengalahkan kedudukan menjaga akal; kedudukan menjaga akal mengalahkan kedudukan menjaga keluarga; kedudukan menjaga keluarga mengalahkan kedudukan menjaga harta. 

Kelima maqashid ini penerapannya dilakukan berurutan jika diharuskan memilih satu diantara dua atau tiga atau lebih. Namun, jika dikumpulkan menjadi satu, maka seluruh maqashid ini terkumpul dalam kaidah jalb al-mashalih (menaik kebaikan-kebaikan) dan daf’u al-mafasid (menolak kerusakan-kerusakan). 

Kedua inti syariah Islam ini terkumpul dalam satu hal: al-muwathanah (kebangsaan): sebuah term yang mustahil hidup di luar tanah-air yang aman, damai, dan sejahtera. Diantara ayat yang menerangkan urut-urutan prioritas yang memprioritaskan tanah-air atas seluruh maqashid (kecuali agama) adalah ayat ini:

 قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ 

Katakanlah jika bapa-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Qs. al-Taubah 24) 

Di dalam ayat ini, frasa “tempat tinggal yang kamu sukai” diartikan oleh Dr. Ahmad Abdul Ghani Muhammad al-Najuli dalam al-Muwathanah fi al-Islam sebagai tanah air. Maksudnya adalah kepentingan mencintai dan menjaga tanah air itu di atas kepentingan menjaga keluarga, harta-benda, dan seterusnya. Kewajiban menjaga tanah air ini hanya kalah dengan kewajiban menjaga hak-hak agama. 

Ada sebuah ayat, yang jika diartikan secara harfiah hanyalah sebuah doa dari Nabi Ibrahim as. untuk Mekkah. Tetapi, di dalam Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir oleh Syaikh Ibnu Asyur ayat ini dinyatakan sebagai disyariatkannya kaum muslimin untuk berdoa atas tanah-airnya.

 وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs. al-Baqarah 126) 

Ibnu Asyur mengatakan bahwa doa ini juga diucapkan oleh seluruh nabi atas negaranya masing-masing. Setiap nabi berdoa atas negaranya agar terwujud keadilan, kebanggan, dan kesejahteraan. Menurut Ibnu Asyur, ketiga hal ini penting untuk membangun negara dan mengaturnya kekayaan dan sumber daya tiap negara. Coba perhatikanlah ayat berikut ini:

 إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ 

Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. al-Qashash 85) 

Ayat ini turun saat Nabi SAW. dalam perjalanan malam menuju ke Madinah. Sesampainya di Juhfah, Nabi SAW. merasa sangat rindu kepada Mekkah. Maka Jibril turun dan menyampaikan ayat ini. Kerinduan Nabi SAW. ini mungkin terjadi karena cintanya yang teramat dalam kepada tanah-airnya. Cinta yang teramat dalam inilah yang disebut sebagai nasionalisme. Selain ayat-ayat al-Quran, ada bukti hadis-hadis Nabi SAW. yang menceritakan betapa nasionalisme itu dimiliki oleh Nabi SAW.

 عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا قدم من سفر فنظر إلى جدرات المدينة أوضع راحلته ، وإن كان على دابة حركها من حبها 

Dari Anas, bahwasannya Nabi SAW. jika pulang dari bepergian beliau melihat kea rah tembok-tembok gedung di Madinah lalu mempercepat jalannya. Jika beliau berada di atas kendaraan (seperti kuda atau onta), beliau akan mengguncang-guncangkan tali kekang kendaraannya (agar cepat sampai) karena kecintaannya kepada Madinah. (HR. Bukhari) 

Suatu hari, Sahabat Ashil al-Ghiffari pulang dari Makkah (saat itu belum ada syariah memakai hijab bagi isteri-isteri Rasulullah SAW), Aisyah bertanya kepadanya, “Bagaimana kamu meninggalkan Mekkah, wahai Ashil?” Ashil menjawab, “Saya meninggalkannya saat sungai-sungainya memutih, pohon-pohon mulai tumbuh daun-daunnya, dan bunga-bunganya mulai berkembang dan keluar daun-daunnya.” 

Mendengar itu, air mata Rasulullah SAW. menetes. Rasulullah SAW. bersabda, “Jangan kaubuat kami merindu, wahai Ashil.” Dalam riwayat lain, “Sudahlah wahai Ashil, jangan membuat kami bersedih.” (Syarh al-Zyarqani ala al-Muwaththa’ al-Imam Malik) 

Hadis ini mengisyaratkan bahwa Nabi SAW. adalah warga Madinah, sedangkan Mekkah adalah tanah-airnya tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan. Cintanya kepada Mekkah abadi. Jika saja tidak diusir oleh kaumnya, dan tidak diizinkan oleh Allah SWT untuk berhijrah, Nabi SAW. tidak akan meninggalkan Mekkah. 

Tanah kelahiran itu agung mulia, sejahat apa pun penghuninya kepada Nabi SAW. Perpisahan dengan Mekkah menimbulkan kemurungan di dalam hati Nabi SAW. Dalam hadis pun disyariatkan bernyanyi atau berpuisi tentang kerinduan terhadap tanah-air, juga menyebut yang indah-indah tentang tanah-air. 

Bahkan, bagi siapa saja yang terusir dari negaranya diperbolehkan berdoa atas kedzaliman yang menimpa mereka; berdoa agar secepatnya dikembalikan ke negaranya. Semua ini menunjukkan bahwa nasionalisme itu ada dalilnya dalam Islam. Memang tidak mudah menggali hukum-hukum Islam; diperlukan ketekunan, kejelian, dan keinginan untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang luas, yang tidak menghibur, membohongi, apalagi memanipulasi bagi masyarakat. (Resistensia)

 

Syria dan Gempa Geopolitik Saudi – Qatar

Raja Qatar dan Raja Arab Saudi - File mintpressnews.com
Forum Muslim - Perseteruan antara Saudi dan Qatar, memiliki banyak dimensi, yang sayangnya, sebagian besar sulit untuk diterka. Dikutip dari Resistensia.org menyebutkan, Permusuhan mendadak keduanya menjadi peristiwa penting, karena peran geopolitik masing-masing negara, yang tentu menyangkut nyawa jutaan penduduk sipil di Timur Tengah. Namun melihat sepak-terjang keduanya yang terlibat mendalam dalam terorisme di Timur Tengah, kita tak bisa mengabaikan apa kaitan permusuhan mereka dengan negeri yang hingga kini masih dilanda wabah teror. Syria dan Iraq.

Pembebasan Mosul dan Raqqa yang tinggal menunggu waktu, menjadikan posisi Daesh terdesak di semua lini, apalagi dengan pertahanan terakhir mereka di provinsi Aleppo yang mampu direbut SAA beberapa hari yang lalu.

Namun keberhasilan Syria dan Iraq mengatasi perlawanan Daesh dinodai dengan aksi sengaja pasukan Kurdi pimpinan AS (yang kini mengepung Raqqa), yang memberi jalan bagi konvoi ratusan truk, personel dan persenjataan berat milik Daesh keluar dari Raqqa. 

Sebagian pergerakan Daesh ini berhasil dicegat dan dihancurkan oleh AU Rusia, namun disinyalir perbandingan lolosnya begundal-begundal Daesh dari Raqqa masih cukup besar. 

Gerombolan Daesh yang diberi jalan keluar oleh AS dari Raqqa sebelum operasi pembebasan kota itu membuat fokus dan prediksi sebelumnya menjadi kenyataan. Daesh dari Raqqa diperkirakan akan mengumpulkan kekuatan dan bergabung dengan anasir mereka yang kini mengepung Deir Ezzor, untuk merebut kota itu. 

Namun serangan satu arah akan sangat mudah ditebak, dan karenanya, percepatan laju pelarian Daesh dari Mosul menjadi sangat penting. Jika bala bantuan dari Mosul datang tepat waktu, serangan dari berbagai lini ke Deir Ezzor akan cukup untuk merebut kota itu dari SAA. 

Deir Ezzor menjadi sangat vital bagi Syria, karena proksimiti kedekatannya yang bisa digunakan untuk mengontrol perbatasan antara Syria dan Iraq. Penempatan pasukan AS dan Kurdi di perbatasan terbukti tidak efektif menghalangi laju migrasi ‘jihadis’, dan untuk mengatasinya, SAA bersama Hashd al-Shaabi dari Iraq bergerak simultan untuk menguasai perbatasan. 

Namun pengamanan perbatasan yang berjalan cukup lancar di tenggara Syria, memiliki lubang yang menganga di Tanf, daerah perbatasan Syria – Iraq yang berdekatan dengan Yordania. 

Suplai pengiriman bantuan baru persenjataan AS kepada ‘jihadis’ di wilayah itu, serta pelatihan milisi dan patroli besar-besaran menjadikan Al-Tanf ganjalan besar bagi Syria untuk menyegel perbatasan. 

AS, Yordania dan ‘jihadis’ binaannya disinyalir sedang berusaha untuk membuka jalur migrasi Daesh ke Deir Ezzor dari Mosul tetap terbuka, dan yang pada akhirnya, memberi kesempatan bagi mereka untuk menyerang Deir Ezzor, dengan dalih ‘membasmi’ Daesh. 

Strategi yang tak mengherankan, karena Deir Ezzor adalah daerah kaya minyak. Melepasnya pada SAA akan segera membuat perekonomian Syria bangkit, dan hal ini, harus dicegah. Lagipula, sekali AS menduduki Deir Ezzor, maka hampir dipastikan bahwa Washington tak akan beranjak dari situ meski Daesh sudah habis, karena Deir Ezzor merupakan pivot utama perbatasan Iraq dan Syria, menuju ladang minyak Syria yang lain, Palmyra. 

Pergerakan pasukan SAA bersama milisi Iran dan Rusia, sempat dihadang secara brutal di sekitar al-Tanf, dengan serangan udara jet-jet AS. Hal ini menyebabkan kondisi di sekitar al-Tanf menjadi total stand-off, terutama setelah Hezbollah memasang senjata anti-udara di sekitar pasukan Syria. 

Lalu, apa hubungan pergeseran titik tempur di Syria dengan perseteruan Saudi dan Qatar? 

Qatar, adalah mahkota bagi hegemoni AS di Timur Tengah. Rezim al-Thani, menjadi rumah bagi lebih dari 10.000 serdadu AS, juga menjadi pusat reparasi dan service pesawat tempur AS. Selain itu, Qatar merupakan basis Markas CENTCOM AS, yang mengontrol seluruh komponen tempur udaranya, juga menjadi markas Komando Utama serta Pusat Operasi Angkatan Udara AS. 

Dengan power AS yang terletak sedemikian besar di Qatar, tak mengherankan jika Qatar mulai berlagak pada Saudi, sang komandan tim, dan diperkirakan pengaruh Qatar terhadap bagaimana Komando Udara AS beroperasi di Timur Tengah cukup besar. 

Secara ekonomi, AS akan kewalahan jika nekat untuk berkonfrontasi langsung dengan Qatar – untuk kembali mengambil kontrol penuh atas markas-markas pentingnya, karena selain perangkat militer, sumbangsih ekonomi yang diberikan Qatar terhadap Washington juga tidak main-main. 

Di sisi lain, pendanaan jor-joran Qatar terhadap Jabhat al-Nusra menjadikan kelompok itu kini memiliki kekuatan militer dan persenjataan yang bisa dibandingkan dengan Daesh. Hal ini tentu menjadi momok bagi Saudi, karena mereka tak punya kontrol atas Nusra, sejak 2016 lalu. 

Kesamaan tujuan AS dan Saudi terhadap Qatar, menjadikan mereka bersama sepakat untuk menyingkirkan Doha, atau paling tidak, menggulingkan sang Emir. 

Are you getting the picture?

 

Cukupkah Hanya Dengan Al Qur'an Dan Sunnah Saja ?

Ilustrasi Al Qur'an
Forum Muslim - Orang yang hafal 100 ribu hadis, plus hafal ayat-ayat al-Quran beserta nasikh-mansukh-nya, am’ khas-nya, muthlaq muqayyad-nya, mafhum manthuq-nya, perbandingan antar berbagai tafsirnya, asbabunnuzul-nya, dan seterusnya dan seterusnya, bisa saja dia mengklaim “kembali kepada al-Quran dan Hadis”. Padahal, dia menggali nash al-Quran memakai metodologi ijtihad juga, seberbeda apa pun caranya dengan metodologi ijtihad madzhab-madzhab mu’tabar. Berbeda dengan orang-orang yang dengan bangganya menyatakan ingin kembali ke al-Quran dan Sunnah tanpa ilmu-ilmu tersebut di atas; maka, di samping sombong, motto “kembali kepada al-Quran dan Sunnah” semacam ini terdengar sangat tidak mengerti hukum Islam.


 Karena, jangankan kita yang hidup di zaman ini, para sahabat saja harus bertanya kepada Nabi SAW dahulu tentang makna al-Quran, bahkan mengenai suatu istilah dalam hadis. Ini menandakan bahwa memahami naskah-naskah al-Quran dan sunnah itu tidak mudah. Al-Qur’an dan al-Sunnah adalah sumber hukum Islam. Hukum Islam terjadi ketika al-Quran dan Sunnah digali melalui proses ijtihad. Karakteristik hukum Islam yang bersumber dari nash (al-Quran dan Sunnah) yang didukung oleh ra’yu (opini) merupakan ciri khas yang membedakan hukum Islam dengan sistem hukum lainnya. Sunni menyebutnya sebagai qiyas, sedangkan syiah menyebutnya sebagai al-aql, yang sering disebut dengan istilah qiyas manthiqi. 

Contoh qiyas dalam Syiah adalah penyamaan illat memabukkannya narkoba dengan minuman keras; juga bahwa segala hal yang membahayakan semua dilarang. Sebagaimana dimakruhkannya memakan buah delima karena keasamannya, maka illat asam itu bisa dipakai untuk segala buah yang asam tidak boleh dimakan. 

Dalam tradisi ahlussunnah, qiyas dipakai sebagai praktik ijtihad yang dijadikan sebagai salah-satu sumber hukum Islam. Karena illat merupakan barometer dalam istinbath hukum, maka illat adalah hal yang paling penting dalam kehidupan muslim Sunni. Di samping hikmah, illat adalah manath al-hukm (pijakan hukum) yang sangat penting. Sebagai pijakan hukum, maka hukum Islam tergantung pada illat ini. 

Syarat illat harus jelas (dhahir), memiliki standar (mundhabith), serta memiliki relefansi dan mekanisme (munasib). Oleh karena itu, hukum ada jika illat ada; ketika illat tidak ada, maka hukum pun menjadi tidak ada. Ada adagium yang berbunyi seperti ini: 

لأن النصوص محدودة ، والوقائع غير محدودة فلا بد من اللجوء إلى القياس ،و النظر إلى علل الأحكام  

Teks-teks nash itu terbatas sedangkan problematika hukum yang memerlukan solusi tidak terbatas, oleh karena itu diperlukan ijtihad (qiyas) untuk mengintepretasi nash yang terbatas

Ijtihad ini dilakukan agar berbagai masalah yang tidak dikemukakan secara eksplisit dalam nash dapat dicari pemecahannya. 

Pendekatan dalam ijtihad dibagi menjadi dua: Lughawiyah (kebahasaan) dan maqashid (tujuan-tujuan syariah). Pendekatan kebahasaan adalah pendekatan yang menjadikan redaksi nash (al-Quran dan Hadis) sebagai obyek kajian. Dari pendekatan ini kita kenal istilah-istilah semacam al-’amm dan al-khash, al-mutlaq, al-muqayyad, al-manthuq, al-mafhum, muhkam dan mutasyabihat. Sedangkan pendekatan maqasid al-syariah adalah pendekatan yang menekankan penelitiannya pada tujuan-tujuan syariah yang digali dari nash. 

Dari pendekatan maqasid ini kita kenal antara lain al-qiyas, al-istihsan, al-maslahah al-mursalah, al-istishab dan sadd al-dzari’ah. Qiyas adalah mengukur sesuatu dengan sesuatu yang lain atau mempersamakan sesuatu dengan yang tidak memiliki nash mengenai ketentuan hukumnya dengan suatu kasus yang memiliki ketentuan hukum karena memiliki kesamaan illat. 

Dengan demikian illat adalah tempat berpijak atau bergantungnya suatu hukum. Illat dapat dikatakan sebagai hal yang paling utama dalam melakukan analogi atau istinbath hukum. Karena hukum, baik ada maupun tidak adanya, bergantung pada illat-nya, meskipun sebagian ulama’ yang berpendapat bahwa hukum tergantung pada hikmahnya, hal ini menunjukkan betapa pentingnya mengetahui illat dan hikmah dalam istinbath al-hukm. (Zuhaili, 1986: 649) Menurut bahasa, illat bermakna al-da’i atau al-ba-its yang artinya motif, sebab, atau alasan (Ibrahim, 1982: 50). Sedangkan menurut istilah illat adalah: 

ﺍﻟﻌﻠﺔ ﺍﻟﻮﺻﻒ ﺍﻟﻤﻌﺮﻑ ﻟﻠﺤﻜﻢ 

Sesuatu yang memberitahukan adanya hukum. 

Al-amudi menyatakan bahwa illat adalah pendorong terbentuknya hukum melalui qiyas. Sedangkan al-Ghazali mengatakan bahwa illat itu berpengaruh terhadap adanya hukum dengan sebab ketetapan dari Allah (bija’lillah). Yang dimaksud dengan bija’lillah adalah bahwa illat-nya ini bisa diketahui dengan menggalinya dari nash–nash al-Quran dan sunnah. 

Abu Zahrah menjelaskan bahwa pembunuhan sengaja dengan pedang adalah illat qhisash. Dengan demikian segala bentuk penganiayaan dengan alat atau senjata mematikan sama artinya dengan menggunakan pedang yang hukumannya adalah qisash. Oleh karena itu, maka illat haruslah sesuatu yang dzahir (tampak), mundhabith (terukur) dan munasib (memiliki relefansi dan sesuai dengan hikmah hukum). 

Hubungan antara ada dan tidak adanya hukum, sesuai dengan tujuan syara’, yakni menarik maslahah dan menolak mafsadah. Dari sini kita dapat membuat contoh bahwa illat khamar adalah iskar (memabukkan). Sifat memabukkan merupakan suatu kualitas yang dzhahir (jelas), karena memabukkan dapat diindera dan memungkinkan untuk diteliti. 

Memabukkan juga mundhabith, sebab memabukkan itu dapat diukur. Dan yang menjadi madzinnah al-hukm tentang keharaman khamr adalah memabukkan tersebut sesuai dengan tujuan syariat, yakni hifdzul aqli (menjaga akal). 

Dalam beberapa literatur kita akan menjumpai, istilah illat manshushah dan mustanbathah. Illat manshushah ada dua: sharih dan talwih. Illat manshushah al-sharih adalah illat yang disebutkan oleh nash secara jelas. Seperti firman Allah: dalam kasus Haid. 

Sedangkan illat manshushah talwih sama dengan ima’ dan isyarat adalah yang diperoleh dari sifat yang membarenginya. Seperti hadis Nabi: tidak ada harta waris bagi pembunuh. Yang menjadi masalah itu illat mustambathah; illat ini tidak disebutkan oleh nash. Oleh karena itu, untuk bisa mengetahui kualitas suatu illat, para ulama ushul mengembangkan teori-teori pengujian illat hukum yang kemudian dikenal dengan masalik al-illat. Masalik illat ini adalah suatu metode untuk mengetahui illat al-hukm. 

Melalui masalik al-illat ini akan dapat diketahui apakah suatu kasus yang belum ada nash hukumnya dapat dihubungkan dan dihukumkan sama dengan kasus lain yang sudah ada ketetapan hukumnya berdasarkan nash ataukah tidak. Diantara masalik al-illat yang disepakati adalah al-nash, al-i-ma’ (tanbih), al-ijma, al-sibr wa al-taqsim, dan al-munasabah. Semua yang tertulis di  sini hanyalah sebagian kecil dari alat yang dipakai untuk menggali nash–nash al-Quran dan hadis. Para ulama memakainya untuk menghasilkan hukum-hukum. Baik Syiah maupun Ahlusunnah, semuanya memakai cara ijtihad untuk menggali hukum-hukum ini. Tidak ada yang hanya bersandar dengan al-Quran dan Sunnah saja. Hanya orang-orang puyeng saja yang merasa bahwa mereka bisa menghasilkan hukum hanya dengan melihat nash–nash al-Quran. Apalagi jika yang mengatakan itu tak hafal ribuan hadis, tak hafal al-Quran, tak mengerti nasikh–mansukh, tak mengerti ‘am-khash-muthlaq-muqayyad, ilmu sejarah, dan seterusnya. Lebih-lebih—biasanya—mereka yang menganut motto kembali kepada al-Quran dan sunnah ini hanya mengerti al-Quran dan hadis dari kitab-kitab terjemahan. (Sumber : Resistensia)

Penguasa, Seberapa Penting Arti Habib Rizieq Bagimu ?

Habib Rizieq Shihab
Forum Muslim - PENGUASA, "Seberapa penting arti HRS bagimu?"
Ada pemberitaan yang menyebutkan bahwa GNPF MUI ingin berdamai pada penguasa. Kita bawa ketawa aja sambil berpikir dengan cermat. Apakah benar GNPF MUI yang selama ini berada dibelakang aksi umat ingin damai pada penguasa? Bagaimana kalau berita yang benar adalah :

 "PENGUASA INGIN BERDAMAI DENGAN UMAT ISLAM INDONESIA."

Pilpres sudah dekat, kalau ingin mengulang sukses pilpres kemarin penguasa harus sudah bersiap dari sekarang untuk menebar pesona dan menanamkan dukungan pada sosok presiden saat ini. Namun, ada kekhawatiran mereka saat dukungan mayoritas umat Islam saat ini sangat jauh dr Jokowi. Kasus HRS membawa dampak yang tidak mereka bayangkan. Alih-alih ingin membuat citra HRS terpuruk, apa daya dukungan pada beliau malah sebaliknya. Tidak ada HRS tidak membuat umat kendur berjuang atas ketidak Adilan hukum di negeri ini. Berbagai serangan opini pada aparat semakin gencar saat ini. Pemerintah panik dan cemas atas semakin kencangnya pemberitaan tersebut. Propaganda mereka mainkan bersama pendukung mereka hingga terciptalah kosakata #RADIKAL#HOAX dan #PROVOKASI yang ditujukan pada umat Islam yang keras pada pemerintah. Bahkan saking paniknya, keberadaan media sosial pun akan di tutup karena pihak owner tidak dapat meberlakukan aturan pada penggunanya.

Keputusan penguasa untuk menutup media sosial adalah keputusan PANIK. Tidak mampu lagi meladeni opini masyarakat membuat mereka mengambil jalan asal dan ngawur ingin menutup media sosial apabila admin media sosial Tidak membuat aturan untuk menekan pihak2 yang keras bicara pada pemerintah. Menutup media sosial, yang rugi bukanlah kita..namun merekalah yang rugi. Karena kemenangan Jokowi tahun 2014 silam adalah peran media sosial. Mustahil apabila mereka ingin menutup medsos.

Awalnya ada optimisme dari penguasa saat kasus chat mesum menjadi booming di jagat media. Mereka tersenyum bahwa kasus ini akan membuat kharisma HRS akan luntur. Ternyata mereka salah skenario, menjadikan chat mesum sebagai senjata pembungkaman HRS adalah KESALAHAN FATAL penguasa. Pihak2 yang selama ini diam dan tidak ingin terlibat mendengar kasus chat mesum terpanggil untuk bicara sesuai bidang ilmu yang mereka kuasai . Berbagai ahli IT dan ahli telekomunikasi memberikan testimoni bahwa kasus ini penuh rekayasa. Sehingga munculah tuduhan KRIMINALISASI ULAMA.

Ulama-ulama yang selama ini diam di pondok mereka ikut juga bersuara melalui perwakilan penguasa yang menemui mereka. Sudah banyak bukti bagaimana ulama berbicara keras pada kasus HRS dan mengecam penguasa karena melakukan pembiaran. Ditambah lagi kasus-kasus yang melibatkan umat Islam sangat cepat diproses sedangkan kasus pelaporan dr umat Islam sangat lamban di selidiki sehingga muncul stigma bahwa penguasa saat ini sangat anti pada umat Islam.

Hal-hal inilah yang membuat penguasa berpikir ulang untuk penjarakan HRS. Apalagi mendengar visa HRS yang telah diperpanjang oleh kedutaan Saudi mengundang pertanyaan pada penguasa "bagaimana mungkin visa bisa diperpanjang?sedangkan persyaratan perpanjangan visa haruslah yang bersangkutan". Padahal mereka sudah menyiapkan "penyambutan" pada kedatangan HRS melalui surat perintah yang beredar namun karena skenario gagal..mereka sebut surat tersebut adalah HOAX.

Sebelumnya mereka yakin tanggal 12 Juni HRS akan pulang karena visa beliau sudah habis waktunya. Ternyata berita diperpanjangnya visa HRS membuat kubu penguasa panik. Saling tuding mengapa bisa diperpanjang, sayangnya mereka lupa menuding pemerintah Saudi. Harusnya mereka menanyakan pada Saudi, mengapa bisa perpanjang visa HRS tanpa kehadiran HRS? coba berani gak tanya sama Saudi. Krik....krik....krik...
Skenario gagal membuat penguasa harus memikirkan langkah bijak mengingat pilpres semakin dekat. Dukungan umat Islam harus didapatkan Jokowi bila ingin kembali memimpin negeri ini. Memaksa kondisi saat ini malah akan menjadi bumerang pada penguasa dan juga pada pencalonannya esok. Konsultan politik memberikan opsi pada penguasa. Opsi Harus berdamai pada HRS dan pendukungnya agar STIGMA PENGUASA MEMBENCI UMAT ISLAM Tidak semakin berkembang.

Akan ada pertemuan nantinya antara HRS dan penguasa yang entah akan diwakili siapa. Dalam lain kesempatan, pengacara HRS bersedia mendatangkan HRS asal tidak ada penangkapan. Permintaan pengacara HRS ini pastinya akan kembali di keluarkan saat adanya ISLAH antara HRS dan aparat yang mewakili penguasa. Tentu saja akan ada lagi permintaan selanjutnya, misalnya saja aparat harus membebaskan para ulama yang saat ini sedang mereka bidik dan tersangkakan atas kasus2 yang aneh.

Ada keuntungan andai penguasa berdamai dengan HRS. Keuntungan ini menyangkut pencalonan Jokowi di pilpres 2019. Dengan opsi damai tersebut, Jokowi bisa tampil sebagai PAHLAWAN untuk redakan masalah ini. Toh..peran pahlawan bukan sekali ini aja Jokowi perankan. Saat perintah dari Jokowi keluar, maka akan ada penilaian bahwa Jokowi sangat bijak dan juga sangat peduli pada ulama. Disinilah nilai #PLUSNYA. Nanti jangan kaget andai ada pidato Jokowi atau surat edaran dr presiden bahwa kasus ulama harus selesai dengan kekeluargaan. Sudahi ketegangan mari membangun indonesia. Apapun isi redaksinya, intinya adalah redakan kasus yang membawa ulama didalamnya. Dan nama Jokowi akan harum karena mampu mengambil kebijakan untuk persatuan umat khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Selanjutnya..mari berhitung dukungan suara yang mereka peroleh saat pilpres esok.

Gimana, opsi damai yang bagus atau tidak..?
Nanti kita akan lihat, kalau HRS pulang dalam waktu dekat ini tandanya beliau sudah menerima opsi damai dari penguasa. Namun andai beliau tidak pulang dan masih di Saudi hingga habis visa-nya, maka opsi damai itu tidak mendapatkan persetujuan dalam hal syarat2 yang di minta oleh HRS.
Umat harus bersiap berjuang tanpa HRS kedepannya. Ada atau tiada HRS, perjuangan jangan kendur. Adhie Massardi menuliskan :

 "IMAM BONJOL & PANGERAN DIPONEGORO diburu Belanda, stlah tertangkap dan di bui hingga wafat, perlawanan thdp (ketidakadilan) Belanda toh tetap membara!"

Bukan kita yang lelah saat ini, namun merekalah yang lelah dan sudah kehabisan cara bagaimana membuat citra HRS rusak. Karena kita bukanlah pendukung bayaran, karena kita bukanlah pendukung yang hanya ikut-ikutan.

Kita mendukung karena kita paham bagaimana kasus ini dari awal. Kita dukung karena kita bisa jujur menilai mana yang benar dan mana yang DIBENARKAN oleh mereka. Umat bersatu saat di sakiti, dan umat bersatu tidak akan bisa dikalahkan . Kita harus yakin hal itu..!
Ruh 212 itu terlalu indah untuk dilupakan, bahkan tidak sabar untuk mengadakan reuni kembali. Kita tau siapakah ulama yang membangkitkan GHIRAH dalam diri umat saat ini. Kita tau siapakah ulama yang berjuang bersama dan membela Panji Allah dijalannya.
HABIB RIZIEG SHIHAB..kami bangga berjuang bersamamu. (Sumber : Setiawan Budi)

Terkait Pertemuan GNPF MUI Dengan Presiden Jokowi Di Istana, Siapa Yang Masuk Angin?

Forum Muslim - BUKAN GNPF MUI yang masuk angin, Namun "naga" istana yang masuk angin.
Banyak yang Keliyengan lihat pertemuan GNPF MUI dan Jokowi. Pendukung HRS sampai salah persepsi bilang masuk angin, sedangkan Pendukung Ahok lihat pertemuan Jokowi dan UBN cs ada yang meradang. Kecewa pada Jokowi kenapa menerima GMPF MUI di istana, bagi mereka istana adalah tempat yang mulia. Jangan sampai istana di jadikan tempat pertemuan kelompok yang intoleran. Begitulah kata mereka, menempatkan GNPF MUI sebagai kelompok intoleran yang mengancam negara.
Saya pikir, kalau teroris saja di terima masuk istana masak ulama tidak di terima? Pembakar masjid saja dapat semeja dengan Jokowi, masak tokoh agama gak boleh menginjak istana?
GNPF MUI itu dibentuk karena persatuan umat untuk menghadapi kasus Ahok. Umat tau bahwa yang dilawan adalah Ahok yang selama ini selalu licin bak belut di kasih Bimoli. Berbagai kasus korupsi aja bisa lolos, padahal bukti dan saksi udah jelas. Makanya lahirlah sebuah kepedulian dari umat yang di Komandoi oleh GNPF MUI. Setelah Ahok dipenjara, maka selesai juga lah tugas GNPF MUI secara umum. Hanya saja setelah Ahok di nyatakan bersalah ada politik balas dendam dr penguasa terhadap ulama-ulama penggerak aksi bela Islam. Setelah melalui proses dan saling curiga, maka lahirlah kata "REKONSILIASI dan ABOLISI".
kubu sebelah bersorak dengan isu rekonsiliasi, mereka berpendapat bahwa kita menyerah dan akhirnya meminta maaf pada pemerintah . Maaf dengan nama rekonsiliasi. Padahal rekonsiliasi adalah cara yang di minta pemerintah namun tidak ingin terlihat menyerah. Bukan umat yang meminta perdamaian, namun pemerintahlah yang meminta damai.
Saya pernah menuliskan tempo hari bagaimana DAMAI itu pemerintahlah yang meminta.
Sebelum pertemuan di istana, sebenarnya antara penguasa dan GNPF MUI serta perwakilan dari HRS sudah melakukan pertemuan beberapa kali. Intens melakukan konsolidasi mengarah pada rekonsiliasi. Pertemuan di istana hanyalah kepingan puzzle dr berbagai pertemuan yang tidak terekspose media. Sebelumnya ada Wiranto, JK, ada Menkopolhukam dan juga institusi polri telah melakukan pertemuan yang disebut dengan nama REKONSILIASI. Nanti akhirnya akan mengarah pada OBILISI atas kasus2 yang dituduhkan pada ulama GNPF MUI.
Pilpres 2019 semakin dekat, suara umat Islam adalah modal utama kemenangan bagi calon. Jokowi mengandalkan kedekatannya dengan Aqil Siradj tidak menjamin bahwa Jokowi akan dapat suara warga NU. Nama Jokowi semakin tenggelam di mata umat islam yang relevan berpikir. Semakin keras rezim ini ingin penjarakan para ulama maka semakin jelas keburukan rezim ini di mata umat Islam.
Perdamaian harus dilakukan, namun perdamaian ini bukan jalan yang mudah. Di istana saat ini ada #naga_naga haluan kiri yang tidak senang apabila Jokowi terlalu dekat dengan ulama. Bagi naga2 itu, ulama yang benar adalah ulama-nya NU. Selain itu ..mereka bukanlah ulama. Sudah beberapa kali GNPF MUI meminta bertemu dengan Jokowi, namun selalu di tolak dan di abaikan istana karena dominannya mereka disana.
Sudah berapa kali Jokowi adakan pertemuan Dengan kalangan ulama, namun tidak ada nama ulama yang tergabung dalam aksi bela Islam disana. Meminta bertemu sudah..berharap di undang juga sudah, tapi gak ada yang nyangkut. Ulama GNPF MUI dianggap sebagai ulama perlawanan. Setelah ada pertemuan pihak penguasa dan pihak HRS diluar istana, maka muncullah opsi damai untum meredakan semua rusuh ini. Ada YIM disana yang mengambil jalan dan menentukan arah perdamaian yang WIN-WIN SOLUTION. Arah damai yang tidak mempermalukan penguasa dan institusi yang ngotot mempersalahkan ulama, jalan itu adalah OBILISI sesuai permintaan YIM tempo hari. Menghentikan proses hukum pada ulama saat ini . Pemerintah tidak ingin kehilangan muka saat perdamaian dilakukan.
Diterimanya GNPF MUI oleh istana adalah salah satu agenda perdamaian yang telah di bahas sebelumnya. Dari pada membahas dan bertanya :
"Ada apa GNPF MUI kunjungi istana? Apakah GNPF masuk angin? Atau GNPF menyerah atas serangan penguasa?"
Cobalah berpikir dan bertanya:
"Kok bisa di terima GNPF MUI ke istana?padahal selama ini mereka selalu di tolak?"
Ketika pertanyaan diatasnya kita pikirkan , maka akan ada kesimpulan bahwa pertemuan itu adalah hal biasa karena situasinya lebaran dan OPEN HOUSE dilakukan oleh istana. Silaturahmi warga dan kepala negara,..Wajar toh? Dan itulah SKENARIO yang dijalankan.
 "ISTANA LAH YANG MENGUNDANG GNPF MUI."
Mengambil momentum lebaran untuk adakan pertemuan diluar kebiasaan adalah cara jitu kelabui para "naga istana". Saat para naga libur karena umat Islam bergembira, saat itulah terjadi pertemuan di istana. Para naga yang berselimut teman Jokowi namun mereka inilah pembisik sampah ke pemerintah membahas Islam dengan segala tuduhan-tuduhan radikal. Naga ini sangat berkuasa di istana, jabatannya adalah biasa..namun dia diberikan kebebasan dalam istana. Tanpa saya sebut nama, sudah paham lah siapa naga istana yang namanya tidak pernah muncul dalam pembahasan konflik pemerintah dan umat islam, namun mereka bergerak melalui telunjuk penuh KUASA, mereka sangat dominan dan sangat buas.
Dan jangan kaget apabila si naga ini sempat pingsan setelah mengetahui bahwa HRS bisa memperpanjang visa di Saudi. Tidak menyangka demikian, membuat si naga berang dan tensi naik. Memanggil pihak2 yang dekat HRS dan bertanya kenapa hal itu bisa terjadi. Kepalanya pening dan sempoyongan saat teman HRS berkata "kami tidak tau hal itu".
Tugas GNPF sudah selesai ketika Ahok di tahan dan di pidana oleh pengadilan. Setelah semuanya selesai, maka kita harus kembali ke jalan dan bergenggaman tangan. Namun ternyata pihak2 naga istana masih kurang puas kalau terpenjaranya Ahok tidak membawa hal serupa pada pentolan GNPF, berbagai tuduhan hinggap pada mereka. Hal ini dilakukan karena naga istana itu takut apabila mereka yang tergabung dalam ulama aksi bela Islam akan kembali usik pemerintah dengan alasan tidak peduli pada umat. Karena di duga akan banyak kebijakan pemerintah yang akan bertentangan dengan umat nantinya.
Segala permasalahan ini, bukan umat yang meminta. Namun penguasa melalui naga2nya lah yang memulainya.
Jokowi butuh dukungan umat Islam keseluruhan. Bukan butuh pemimpin ormas Islam yang selalu datang ke istana. Walau kepala dekat pada Jokowi, belum bisa dipastikan badan dan ekor akan ikut merapat pada Jokowi. Kasus Ahok menjadi contoh Jokowi melihat dukungan umat Islam. Walaupun Ahok didukung partai Islam PKB dan PPP, serta ketua NU dan jajarannya juga dukung Ahok. Ternyata hal itu tidak membuat Ahok memenangi pilkada DKI. Kekalahan Ahok membuat mata Jokowi terbuka dan menyadarinya bahwa melawan umat Islam dengan propaganda radikal dan ekstrimis ternyata justru menjauhkan Jokowi dengan pemilih dr umat Islam. Hal ini gak bagus mengingat pilpres 2019 semakin dekat.
Diterimanya GNPF MUI merupakan skenario yang memang sudah direncanakan oleh istana. Mengambil moment lebaran membuat pertemuan itu adalah hal biasa. Tidak ada muatan politis maupun tekanan yang terlihat. Yang ada hanyalah silaturahim antara warga dan kepala negaranya. Hal biasa bukan?
Dari pertemuan itu, GNPF MUI sudah merilis hasil pertemuan dan pembahasan di istana . Masalah hukum dan juga masalah lainnya yang mengikat pada umat Islam, terutama pada HRS dan Al khatat.
Ada pemberitaan di media detik mengatakan bahwa GNPF MUI memuji langkah ekonomi Jokowi, itu hanya permainan media darling penguasa. Ketika saya bertamu ke pak RT dan protes atas kerja pak RT saya disuguhkan minuman sirup Marjan yang enak. Setelah saya sampaikan keluhan saya dan permasalahan saya, saya meminum sirup Marjan itu dan berkata:
"Minuman ini enak juga pak RT.."
Lalu media pak RT memberitakan bahwa saya mengatakan Marjan di rumah pak RT sangat enak. Media Tidak memberitakan protes dan keluhan saya, hanya beritakan sirup Marjan yang hanya kamuflase dalam acara tersebut. Penting mana Marjan dan keluhan yang kita sampaikan?
Bagi pendukung pak RT sirup Marjan itu lebih layak dibahas, tapi bagi Jokowi dan GNPF MUI sirup Marjan itu hanyalah cemilan setelah selesai menyantap hidangan utama. Jadi kalau kita ikutan membahas cemilan dan meragukan integritas GNPF, maka kelas kita sama dengan pendukung bodoh Jokowi.
GNPF MUI menemui Jokowi ada tujuan dengan kapasitas mereka seorang ulama. Keberpihakan ekonomi Jokowi tidak pada rakyat, maka fungsi ulama adalah mengingatkan. Pemberitaan detik hanyalah kebohongan demi sebuah citra. Tidak ada penjelasan dr GNPF bahwa mereka mengagumi kebijakan ekonomi Jokowi.
Mereka hanya ingin terlihat GNPF merapat pada istana dan jinak pada istana dengan headline pemberitaan seperti itu. Agar kita terpesona pada Jokowi seperti Denny Siregar yang berkata bahwa GNPF akan jadi koalisi Jokowi...koplak kan..?
Setahap di setahap..sudah ada perkembangan bagus. Bukan kita yang gusar saat ini, merekalah yang patut risau karena memanasnya hubungan Jokowi dan umat Islam..itu bukan kerugian umat Islam. Ingat, jabatan presiden itu ada jangka waktunya. Tanpa umat Islam, Jokowi bukanlah siapa-siapa. Kalau hanya andalkan pimpinan NU...maka contohlah Ahok yang jumawa karena dapat dukungan mereka, ternyata tidak memenangkan pilkada.
Bersiap GNPF MUI untuk pertemuan selanjutnya..
Ada point2 yang di minta oleh GNPF MUI dan pengacara HRS. Itulah syarat rekonsiliasi yang di inginkan bersama. Dan ada syarat yang diminta oleh penguasa. Selagi syarat ini tidak memberangus kebebasan umat, pasti akan di setujui.
Buat naga yang sedang risau..harus sering2 periksa tensi, AWAS...PINGSAN LAGI..!! (Sumber : Setiawan Budi)