Sabtu, 02 Januari 2021

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 5-6


Gambar hanya Ilustrasi File Forummuslim.org
Gambar hanya Ilustrasi File Forummuslim.org

Ali Imran, ayat 5-6

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ (5) هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (6) }

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan bahwa Dia mengetahui semua yang gaib di langit dan di bumi, tiada sesuatu pun darinya yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحامِ كَيْفَ يَشاءُ

Dialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. (Ali Imran: 6)

Yakni menciptakan kalian di dalam rahim menurut yang dikehendaki-Nya, apakah laki-laki atau perempuan, apakah tampan atau buruk rupanya, dan apakah celaka atau bahagia.

لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Ali Imran: 6)

Artinya, Dialah Yang Maha Pencipta, dan Dialah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan milik-Nya-lah semua keagungan yang tak terbatas, hikmah, dan semua keputusan hukum.

Di dalam ayat ini terkandung sindiran —dan bahkan cukup jelas— bahwa Isa ibnu Maryam adalah seorang hamba lagi makhluk, seperti manusia lainnya yang diciptakan oleh Allah; karena Allah telah membentuknya di dalam rahim dan menciptakannya sebagaimana dikehendaki-Nya, maka mana mungkin ia dianggap sebagai tuhan seperti yang diduga oleh orang-orang Nasrani. Sesungguhnya dia tumbuh di dalam rahim dan berubah-ubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lainnya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهاتِكُمْ خَلْقاً مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُماتٍ ثَلاثٍ

Dia menjadikan kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. (Az-Zumar: 6). (Androidkit/FM)

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 1-4


Gambar hanya Ilustrasi File Forummuslim.org
Gambar hanya Ilustrasi - File Forummuslim.org

Ali Imran, ayat 1-4

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

{الم (1) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ (2) نزلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزلَ التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ (3) مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنزلَ الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ (4) }

Alif Lam Mim. Allah, tida kada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri. Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat serta Injil sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).

Kami menyebutkan sebuah hadis yang menerangkan bahwa asma Allah yang teragung ada di dalam kedua ayat berikut, yaitu firman-Nya: Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). (Al-Baqarah: 255), Dan firman-Nya: Alif Lam Mim. Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri. (Ali Imran: 1-2) Yaitu dalam tafsir ayat Kursi.

Dalam pembahasan yang lalu —yaitu dalam permulaan surat Al-Baqarah— telah disebutkan tafsir Alif Lam Mim. Jadi, hal ini tidak perlu diulangi. Dalam tafsir ayat Kursi telah kami sebutkan pula pembahasan mengenai firman-Nya: Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). (Al-Baqarah: 255)

*******************

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتابَ بِالْحَقِّ

Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya. (Ali Imran: 3)

Maksudnya, Dialah yang menurunkan Al-Qur'an kepadamu, hai Muhammad, dengan sebenarnya. Yakni tidak ada kebimbangan dan tidak ada keraguan padanya, melainkan ia benar-benar diturunkan dari sisi Allah. Dia menurunkannya dengan sepengetahuan-Nya, sedangkan para malaikat menyaksikannya; dan cukuplah Allah sebagai saksi.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

مُصَدِّقاً لِما بَيْنَ يَدَيْهِ

Membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. (Ali Imran: 3)

Yakni kitab-kitab sebelum Al-Qur'an yang diturunkan dari langit buat hamba-hamba Allah dan para nabi. Kitab-kitab tersebut membenarkan Al-Qur'an melalui apa yang diberitakannya dan apa yang disiarkan-nya sejak zaman dahulu kala. Begitu pula sebaliknya, Al-Qur'an membenarkan kitab-kitab tersebut, karena Al-Qur'an sesuai dengan apa yang diberitakan oleh kitab-kitab tersebut yang isinya antara lain membawa berita gembira yang sangat besar, yaitu janji Allah yang akan mengutus Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam dan menurunkan Al-Qur'an yang agung kepadanya.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَأَنْزَلَ التَّوْراةَ

dan menurunkan Taurat. (Ali Imran: 3)

Yakni kepada Musa ibnu Imran.

وَالْإِنْجِيلَ

dan kitab Injil. (Ali Imran: 3)

Yaitu kepada Isa ibnu Maryam 'alaihissalam

مِنْ قَبْلُ

sebelumnya. (Ali Imran: 4)

Yakni sebelum Al-Qur'an.

هُدىً لِلنَّاسِ

menjadi petunjuk bagi manusia. (Ali Imran: 4)

Maksudnya, sebagai petunjuk buat mereka di zamannya masing-masing.

وَأَنْزَلَ الْفُرْقانَ

dan Dia menurunkan Al-Furqan. (Ali Imran: 4)

Yaitu yang membedakan antara hidayah dan kesesatan, antara yang hak dengan yang batil, jalan yang menyimpang dan jalan yang lurus, melalui apa yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala berupa hujah-hujah, keterangan-keterangan, dan dalil-dalil yang jelas serta bukti-bukti yang akurat. Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkannya, menjelaskannya, menafsirkannya, menetapkannya, dan memberi petunjuk kepadanya serta mengingatkannya.

Qatadah dan Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan, yang dimaksud dengan Al-Furqan dalam ayat ini ialah Al-Qur'an. Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa Al-Furqan dalam ayat ini adalah bentuk masdar dari Al-Qur'an, mengingat sebelumnya disebutkan Al-Qur'an, yaitu di dalam firman-Nya: Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya. (Ali Imran: 3), Yang dimaksud dengan Al-Kitab adalah Al-Qur'an.

Adapun mengenai apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Abu Saleh, bahwa yang dimaksud dengan Al-Furqan dalam ayat ini ialah kitab Taurat merupakan pendapat yang lemah pula, mengingat sebelumnya telah disebutkan Taurat.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآياتِ اللَّهِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah. (Ali Imran: 4)

Yakni ingkar dan ragu terhadapnya serta menentangnya dengan kebatilan.

لَهُمْ عَذابٌ شَدِيدٌ

Bagi mereka akan memperoleh siksa yang berat. (Ali Imran: 4)

Yaitu kelak di hari kiamat.

وَاللَّهُ عَزِيزٌ

dan Allah Mahaperkasa. (Ali Imran: 4)

Yakni Zat Yang Mahaperkasa lagi Mahabesar kekuasaan-Nya.

ذُو انْتِقامٍ

lagi mempunyai balasan. (Ali Imran: 4)

Yakni terhadap orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya, menentang rasul-rasul-Nya dan nabi-nabi-Nya.

Surat Ali Imran


Gambar hanya Ilustrasi File Forummuslim.org
Gambar hanya Ilustrasi - File forummuslim.org

3. SURAT ALI IMRAN

تَفْسِيرُ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ

(Keluarga Imran)

Madaniyyah, 200 ayat, turun sesudah surat Al-Anfal

Permulaan surat ini sampai dengan ayat yang kedelapan puluh tiga diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Najran, kedatangan mereka pada tahun sembilan Hijriah; seperti yang akan diterangkan nanti dalam tafsir ayat Mubahalah, merupakan bagian darinya. Kami mengetengahkan semua hadis dan asar yang menyangkut keutamaan surat ini bersama surat Al-Baqarah, yaitu dalam permulaan surat Al-Baqarah.

Jumat, 01 Januari 2021

Habib Jakfar Al-Kaff Meninggal Dunia




Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun..

Turut berduka cita atas wafatnya Habib Jakfar Al-Kaff

Semoga kita semua memperoleh barokahnya, madad (pancaran)nya, ilmunya yang bermanfaat, dan selalu didoakan agar istiqomah di Jalan Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasalaam (FM)

Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 2



Al-Fatihah, ayat 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ (2)

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Menurut Qira’ah Sab'ah,  huruf dal dalam firman-Nya,   "alhamdu lillahi," dibaca dammah, terdiri atas mubtada dan khabar.

Diriwayatkan dari Sufyan ibnu Uyaynah dan Rubah ibnul Ajjaj, keduanya membacanya menjadi alhamda lillahi (الْحَمْدَ لِلَّهِ) dengan huruf dal yang di-fathah-kan karena menyimpan fi’l.

Ibnu Abu Ablah membacanya alhamdulillah dengan huruf dal dan lam yang di-dammah-kan kedua-duanya karena yang kedua diikutkan kepada huruf pertama dalam harakat. Ia mempunyai syawahid (bukti-bukti) yang menguatkan pendapatnya ini, tetapi dinilai syaz (menyendiri).

Diriwayatkan dari Al-Hasan dan Zaid ibnu Ali bahwa keduanya membacanya alhamdi lillahi dengan membaca kasrah huruf dal karena diseragamkan dengan harakat huruf sesudahnya.

Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan bahwa makna alhamdulillah ialah "segala syukur hanyalah dipersembahkan kepada Allah semata, bukan kepada apa yang disembah selain-Nya dan bukan kepada semua apa yang diciptakan-Nya, sebagai imbalan dari apa yang telah Dia limpahkan kepada hamba-hamba-Nya berupa segala nikmat yang tak terhitung jumlahnya". Tiada seorang pun yang dapat menghitung semua bilangannya selain Dia semata. Nikmat itu antara lain adalah tersedianya semua sarana untuk taat kepada-Nya, kemampuan semua anggota tubuh yang ditugaskan untuk mengerjakan hal-hal yang difardukan oleh-Nya. Selain itu Dia menggelarkan rezeki yang berlimpah di dunia ini buat hamba-Nya dan memberi mereka makan dari rezeki tersebut sebagai nikmat kehidupan buat mereka, padahal mereka tidak memilikinya. Dia mengingatkan dan menyeru mereka agar semuanya itu dijadikan sebagai sarana buat mencapai kehidupan yang abadi di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan yang kekal untuk selama-lamanya. Maka segala puji hanyalah bagi Tuhan kita atas semua itu sejak permulaan hingga akhir.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa alhamdulillah adalah pujian yang digunakan oleh Allah untuk memuji diri-Nya sendiri. termasuk di dalam pengertiannya ialah Dia memerintahkan hamba-Nya untuk memanjatkan puji dan sanjungan kepada-Nya. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta'ala bermaksud, "Katakanlah oleh kalian, 'Segala puji hanyalah bagi Allah'!"

Ibnu Jarir mengatakan, adakalanya dikatakan "sesungguhnya ucapan seseorang yang mengatakan alhamdulillah merupakan pujian yang ditujukan kepada-Nya dengan menyebut asma-Nya yang terbaik dan sifat-Nya Yang Maha Tinggi". Sedangkan ucapan seseorang "segala syukur adalah milik Allah" merupakan pujian kepada-Nya atas nikmat dan limpahan rahmat-Nya.

Kemudian Ibnu Jarir mengemukakan bantahannya yang kesimpulannya adalah "semua ulama bahasa Arab menyamakan makna antara alhamdu dan asy-syukru (antara puji dan syukur)". Pendapat ini dinukil pula oleh As-Sulami, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa puji dan syukur adalah sama pengertiannya, dari Ja'far As-Sadiq dan Ibnu Ata. dari kalangan ahlu tasawwuf. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ucapan "segala puji bagi Allah" merupakan kalimat yang diucapkan oleh semua orang yang bersyukur. Al-Qurtubi menyimpulkan dalil yang menyatakan kebenaran orang yang mengatakan bahwa kalimat alhamdulillah adalah ungkapan syukur, dia nyatakan ini terhadap Ibnu Jarir. Pendapat inilah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir masih perlu dipertimbangkan dengan alasan bahwa telah dikenal di kalangan mayoritas ulama muta-akhkhirin bahwa alhamdu adalah pujian dengan ucapan terhadap yang dipuji dengan menyebutkan sifat-sifat lazimah dan yang muta'addiyah bagi-Nya, sedangkan asy-syukru tidaklah diucapkan melainkan hanya atas sifat yang muta'addiyah saja. Terakhir adakalanya diucapkan dengan lisan atau dalam hati atau melalui sikap dan perbuatan. sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam perkataan seorang penyair:

أَفَادَتْكُمُ النَّعْمَاءُ مِنِّي ثَلَاثَةً: ... يَدِي وَلِسَانِي وَالضَّمِيرُ الْمُحَجَّبَا

Nikmat paling berharga yang telah kalian peroleh dariku ada tiga macam, yaitu melalui kedua tanganku, lisanku, dan hatiku yang tidak tampak ini.

Akan tetapi, mereka berselisih pendapat mengenai yang paling umum maknanya di antara keduanya, pujian ataukah syukur. Ada dua pendapat mengenainya. Menurut penyelidikan, terbukti memang di antara keduanya terdapat pengertian khusus dan umum. Alhamdu lebih umum pengertiannya daripada asy-syukru, yakni bila dipandang dari segi pengejawantahannya. Dikatakan demikian karena alhamdu ditujukan kepada sifat yang lazimah dan yang muta'addiyah. Engkau dapat mengatakan, "Aku puji keberaniannya," dan "Aku puji kedermawanannya," hanya saja pengertiannya lebih khusus karena hanya diungkapkan melalui ucapan. Lain halnya dengan asy-syukru yang pengertiannya lebih umum bila dipandang dari segi pengejawantahannya (realisasinya) karena dapat diungkapkan dengan ucapan. perbuatan. dan niat. seperti yang telah dijelaskan tadi. Asy-syukur dinilai lebih khusus karena hanya diungkapkan terhadap sifat muta'addiyah saja, tidak dapat dikatakan, "Aku mensyukuri keberaniannya," atau "Aku mensyukuri kedermawanan dan kebajikannya kepadaku." Demikianlah menurut catatan sebagian ulama muta-akhkhirin.

Abu Nasr Ismail ibnu Hammad Al-Jauhari mengatakan, pengertian alhamdu merupakan lawan kata dari azzam (celaan). Dikatakan hamdihir rajula, alhamduhu hamdan wamahmadah (aku memuji lelaki itu dengan pujian yang setinggi-tingginya); bentuk fail-nya ialah hamid, dan bentuk mafid-nya ialah mahmud.

Lafaz tahmid mempunyai makna lebih kuat daripada alhamdu. sedangkan alhamdu lebih umum pengertiannya daripada asy-syukru. Abu Nasr mengatakan sehubungan dengan makna asy-syukru, yaitu "sanjungan yang ditujukan kepada orang yang berbuat baik sebagai imbalan dari kebaikan yang telah diberikannya". Dikatakan syakar-tuhu atau syakartu lahu artinya "aku berterima kasih kepadanya", tetapi yang memakai lam lebih fasih. Sedangkan makna al-madah lebih umum daripada alhamdu, karena pengertian al-madah (pujian) dapat ditujukan kepada orang hidup. orang mati, juga terhadap benda mati, sebagaimana pujian terhadap makanan, tempat, dan lain sebagainya; dan al-madah dapat dilakukan sebelum dan sesudah kebaikan, juga dapat ditujukan kepada sifat yang lazimah dan yang muta'addiyyah. Dengan demikian, berarti al-madah lebih umum pengertiannya (dari-pada alhamdu). (Androidkit/FM)

 

Minggu, 27 Desember 2020

Entahlah



Entahlah,
kekeringan ini kan berbatas…
Entahlah ada apa di sana…

Entahlah,
terpidana
terpinggirkan.
Mengapa,
harus ku dengar tangis keluh kesah
kalau ternyata diri ini tak berdaya…

Entahlah diri ini siapa,
menjunjungmu tak bisa
hendak bersembunyi berpaling muka.
Kau tahu aku tak berdaya
tak berkuasa….

Entahlah
akan menjadi apa…

=====================

Muhammad Saroji, 12 September 2011

Bara Api



Lantunan  Ayat-Ayat Suci
menyentuh  ke dalam kalbuku, mengiringi gema adzan subuh.

Aku terbangun,
bergeliat, menatap liar pada langit-langit kamar,
seketika tubuh menggigil kedinginan,
bukan dingin cuaca, bukan!
Tapi dingin hati,
hati yang dirasuki mimpi penuh misteri, buruk sekali.

Seketika ku berbisik lirih :
“ada apa Sayang…?,
bukankah aku telah melupakanmu,
dan kamu telah melupakanku.
Itulah kesepakatan kita….”.

Tapi malam ini kau bagai bara api,
menaburkan amarah dan benci,
meski hadir di dalam mimpi,
membakar tubuhku,
melumat jantungku,
menghujam nadiku,
meski ku berteriak “tidak” karena aku perkasa,
kau amarah yang memburu, memburu…

Oh jiwaku,
sekeping hati
yang menyimpan kenangan indah bersama kasihku,
berjuta giga byte memori….

Oh,
jiwa yang hadir dalam mimpi,
memohon maaf kepadamu
berulang kali
sampai aku mati…

===================

Muhammad Saroji, 12 September 2011

Prasasti



Pagi yang biru
beterbangan burung camar di angkasa,
melanglang jauh membelah mendung
mencari setitik asa
di atas alam raya.

Ku tatap ujung langit dari puncak tebing,
kaki berdarah bertumpu tajamnya kerikil,
betapa menggelora keinginan di jiwa,
memperdaya mimpi merajut harapan.

Ini kehidupan
ini perjuangan,
diselingi tangis dan tawa,
di selimuti kabut dan kegersangan
silih berganti
menjadi sejarah dan kenangan.

Akankah hendak ku buatkan prasasti,
tak perlu bukan…?

===========

Muhammad Saroji, 06 Oktober 2011

Jumat, 25 Desember 2020

Sekeping Hati




Malam….

Jauh berlalu meninggalkan siang

berkejaran silih berganti,

datang dan pergi menemani hari.

Malam….

Malam ini tak lagi aku bermimpi

tentang kemesraan sejoli dua hati,

tentang melati yang bertaburan di pelaminan pengantin.

Sekeping hati,

separuh nyawa berlalu pergi.

Akulah sang penanti,

perindu cinta yang tak mungkin kembali

sampai mati…..

Selasa, 22 Desember 2020

Sudahi Lelah Ini



Kelelahan merambat masuk
memenuhi relung-relung hati
ingin ku buka cadar kelabu ini,
demi menyeka keringat,
melepas nestapa
tapi kelelahan ini bukan untuk di maki
apalagi dibenci.

Di ujung senja ini
ku buka mata rapat-rapat ini,
membuka untuk melihat terbenamnya matahari,
bangunlah jiwaku
tak sepantasnya kau bermimpi!
Sudahi lelah ini!
Bangunlah dan segeralah mandi
di bejana suci ini!

Panggilah buah hatimu,
usaplah rambut hitamnya,
kau selalu berharap : jaya, berjayalah
karena hidup bukan sekedar mimpi
tapi perjuangan sampai akhir hayat nanti!

=================

Muhammad Saroji, 6 Oktober 2011