Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2020

Puisi Patah Hati


Sungguh aku ingin bangkit dan beranjak pergi
meninggalkan kegelapan ini
kekacauan ini.

Telah tercampak cinta
terbuang ke semak-semak
di sela rumput liar aku mengaduh
kemanakah gerangan orang-orang yang berorasi demi kasih dan sayang ?.

Sungguh
tak pernah terjual suara ini
sungguh perjalanan ini aku tak mengerti
sungguh kekacauan ini siapa peduli
siapa peduli diri merana ini ?

Apakah menanti seorang anak kecil dari puncak tebing
bertirai daun menengadahkan tangan
mengetuk pintu penghulu langit
memohon ampunan seribu dosa hatiku jelata,
sungguh Nuh pun mengembangkan layar bahtera
meninggalkan negeri para durjana
hingga puncak tebingpun hanyalah lautan belaka.

Duh, dimanakah cahaya ?
bukankah lentera itu telah membumi di jiwa ?
Lalu mengapa kepastian didustakan ?
Bukankah dalam jiwa telah bersemayam fitrah ?
Lalu mengapa cinta dicampakkan
teronggok di semak belukar
di antara rumput-rumput liar ?

Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Bunga Cinta


Indah,
indah nian kau memberi tembang
ketika dadaku berguncang
tak terkata kata-kata
berlari aku menuju suara
ku berteriak: Indah,
dimana cintamu ku jelang
dimana diriku menyuntingkan kembang..!

Indah,
jangan berhenti bersuara
jangan mengira aku pasrah
aku cari dirimu hingga kemana
karena langkah kaki ini adalah cinta !

Cinta ?
Oh tidak
sekali-kali tak didustakan
bunga ini tetap ku siram
karena bunga ini adalah tanda cinta.


Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Badan Di Perjalanan


Aku memandangi kemegahan kota yang basah diguyur air hujan,
aku memandangi wajah-wajah tua yang hampir menyerah dihimpit zaman, aku memandangi keresahan yang lelah ditaburi bintang-bintang benarkah sanjungan itu kemuliaan?

benarkah telah sirna lentera itu dari malam?

Ku dengarkan sayup suara adan di kesunyian,
duh para pengelana bilakah menghentikan langkahnya,
bersembah sujud mensyukuri karunia di badan,
badan ini berapa lama di perjalanan
meniti hari siang dan malam
menjemput impian
bilakah tasbih dan tahmid fasih di lisan
menyentuh kalbu diambang kegersangan.

Ini kisah bukanlah seperti kembang
yang harum mewangi, kemudian layu dibuang di comberan,
ini kisah badan di perjalanan
meniti hari pagi siang petang dan malam
menyibak tirai usia di kegelapan
menghitung entah tinggal sisa berapa
menghitung apakah amal ini seperti tulang berserakan
dari sisa anjing liar yang ditinggalkan
ataukah seperti mutiara yang cemerlang bercahaya,
Tuhan,
hambaMu menanti jawaban.


Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Samar Bayangan


Ku lihat kelembutanmu
berdiri di antara rimbunan kegersangan,
menelisik perjalanan
membuncah menengadahkan tangan, berbisik
tentang kerinduan
tentang keramahan
tentang kedamaian.

Ku berlari menelusuri puncak tebing,
menuju suara lelahmu memanggil :
“ternyata hanya samar bayangan…
kaulah bergentayangan…
samar dan hilang
bertirai awan…”.

Duh,
lupakanlah aku yang menyerah kalah,
tinggalkanlah aku yang hampir kalap
berkalang tanah,
pada kelembutan melati ku titipkan cinta
agar kau tau inilah cinta binasa dari sisa perjalanan,
merajuk hingga akhir hayat…..


Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Sabtu, 04 Juli 2020

Tak Sepantasnya Kau Bermimpi


Kelelahan merambat masuk
memenuhi relung-relung hati
ingin ku buka cadar kelabu ini,
demi menyeka keringat,
melepas nestapa
tapi kelelahan ini bukan untuk di maki,
apalagi dibenci.

Di ujung senja ini
ku buka mata rapat-rapat ini,
membuka untuk melihat terbenamnya matahari,
bangunlah jiwaku
tak sepantasnya kau bermimpi!
Sudahi lelah ini!
Bangunlah dan segeralah mandi
di bejana suci ini!

Panggilah buah hatimu,
usaplah rambut hitamnya,
kau selalu berharap : jaya, berjayalah
karena hidup bukan sekedar mimpi
tapi perjuangan sampai akhir hayat nanti!

Sudahi Lelah Ini



Kelelahan merambat masuk
memenuhi relung-relung hati
ingin ku buka cadar kelabu ini,
demi menyeka keringat,
melepas nestapa
tapi kelelahan ini bukan untuk di maki
apalagi dibenci.

Di ujung senja ini
ku buka mata rapat-rapat ini,
membuka untuk melihat terbenamnya matahari,
bangunlah jiwaku
tak sepantasnya kau bermimpi!
Sudahi lelah ini!
Bangunlah dan segeralah mandi
di bejana suci ini!

Panggilah buah hatimu,
usaplah rambut hitamnya,
kau selalu berharap : jaya, berjayalah
karena hidup bukan sekedar mimpi
tapi perjuangan sampai akhir hayat nanti!


Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Sahara


Di Beranda sunyi ini, 
ketika jiwaku menghikmati diri, 
tentang makna cinta yang kau beri, 
kekasihku, 
biarlah rinduku tiada bertepi, 
cintaku bagai bengawan yang mengalir, abadi….. 

Namun kesunyian ini seakan harga mati, 
semati cintamu yang berlalu pergi, 
Berandaku sunyi berkabut perih, 
menitikkan embun menggores mata hati, 
begitu angkuh kau berdiri di puncak tebing, 
mencampak asaku menghujam lukaku, 
cintaku ini, 
kau apakan kini 
Layu, 
perih, 
sendu, 
Mati…. 

Di beranda sunyi ini, 
sahara jiwaku, 
gersang dan kering, 
ketika jiwaku menghikmati diri, 
tentang makna cinta yang kau beri. 
Kekasihku, 
biarlah rinduku tiada bertepi, 
cintaku bagai bengawan yang mengalir abadi, 
karena inilah cintaku yang suci dan abadi sampai mati…… 

Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Akhir Cinta Di Batas Kota


Bagaikan burung,
sayap ini telah mengepak jauh,
menelusuri tebing,
jurang dan ngarai…
demi menjemput dirimu,
demi cinta kasihmu.

Ku dengar di sana kau bersedih,
tentang cinta yang datang, hilang dan pergi,
kau berlari memberanikan diri
meninggalkan luka yang mengiris hati.

Di batas kota,
di antara bibir pantai dan tebing yang tinggi,
ku lihat keanggunanmu yang bening,
menitikan embun di pucuk jari manis,
aku hanya menghela nafas,
panjang-panjang,
di batas kota ada cerita cinta yang tersisa…
hingga akhir hayat nanti.


Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Engkaulah Bahagiaku


Hari demi hari,
entah berapa lama keresahan menguasai diri,
bukan sekedar menguasai, bukan!
bahkan mencengkeram hingga sepanjang mimpi,
mestikah kujunjung namamu setinggi langit,
atau ku sucikan wajah cintamu yang penuh misteri…….

Sepanjang malam seperti penjara sunyi,
akulah sang narapidana,
mendengar lantunmu berdawai perih,
menyeru memanggil rinduku menjadi benci.

Entahlah menjadi apa cinta ini,
Entahlah kau apakan romantika ini…,
Engkaulah kebahagiaanku yang telah lama hilang,
kesucian yang tercampakkan.
Di peraduan ini tak hendak ku abaikan,
cinta sucimu yang telah kau semayamkan
hingga akhir menutup mata
karena engkaulah kebahagiaanku
kebahagiaanku….


Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Kau Adalah Jiwaku


Hari menjelang senja
ketika kaki ini melangkah perlahan,
menelusuri jalan setapak,
menuruni tebing di antara bukit terjal.
Kabut dingin,
hampir membuat diri ini berputus asa.

menitik embun tipis di pelupuk mata,
bercerita tentang kerinduan,
tentang syahdu sedu sedan,
betapa tangis ini berjelaga
mendamba kasih sebening telaga,
entah ratapan ini hendaklah tersampaikan
pada ujung kesunyian di pekatnya malam.

Padamu wahai jiwa yang pernah membuatku bahagia,
padamu wahai sukma yang pernah membuatku tertawa riang,
ketika senandungmu berbalut petikan harpa tua,
kaulah cintaku,
karena kaulah kekuatanku
kaulah Maharaniku
karena kaulah sandaranku

Tapi malam telah berganti fajar,
ketika lantunan ayat suci bergema berkumandang,
ketika kaki ini menyentuh bibir lautan,
ku sesali mengapa daya begitu lemah
begitu letih mengarung angkasa kehidupan.
Andai camar tua tak memberi kabar
tentang lelaki perkasa pengarung samudra,
tentu kan ku biarkan sampan ini di tiang dermaga,
untuk kemudian berpaling kembali,
meninggalkanmu sendiri……,
sendiri.


Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Tegar


Kenapa harus kalah dengan kejamnya kehidupan…
Kenapa harus mengalah pada ketidakpastian….
Kenapa harus terkalahkan oleh ketersendirian….

Wahai jiwa yang tersisih,
seperti langit jingga ditinggal sang mentari.
Wahai malam yang kan berganti pagi,
dijemput embun menitik turun ke bumi….

Bangkit dan bernyanyilah
seperti nyanyian camar di tengah samudra.
Berdiri dan berlarilah
seperti kijang kencana meraut hujanan cakra,
kaulah pejuang
kaulah pahlawan
kaulah intan
kaulah mutiara
di tengah lautan kehidupan…


Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Hati


Hati,
hatiku berdebar,
berbolak-balik,
kadang ragu dan bimbang,
kadang teguh dan yakin.

Hati,
hatiku perih mendengar suara tangis,
bahagia mendengar suara tawa,
kadang bergetar dan ketakutan,
kadang marah dan ingin diam.

Hati,
hatiku lemah dan kecil,
tapi memendam selaksa misteri,
tempat bersemayam berjuta giga memori.

Hati,
hatiku ingin bergetar agar tak mati,
ingin berujar agar jadi mengerti,
ingin berjuang agar mencapai jati diri,
ingin bertindak dengan hati-hati,
tapi hatiku entahlah berdinding sepi,
tak berdaya seakan kehilangan energi.

Hati,
hatiku mengapakah kau kini,
bagai tak ada cahaya mentari,
bagai kumpulan asa tinggal setitik,
tak ada bahagia,
resah pun jadi.

Hati,
tapi kau adalah hatiku,
sukma dan jiwaku,
getar tasbih dan kehidupanku.

Hati,
hatiku tak usahlah menangis
demi permainan kehidupan yang bukan hakiki,
tak usahlah melaknat nasib diri,
karena semua itu hanyalah cobaan,
tidak abadi.

Hati,
Tempalah hati dalam bara perjuangan,
berjalanlah tabah menapaki puncak tebing,
kata hati itu nyata,
suara hati itu petuah,
pertimbangan hati itu wasiat,
bahasa hati itu kejujuran,
hati-hati itu keselamatan dan kebijaksanaan.


Puisi ini diciptakan oleh Muhammad Saroji

Jumat, 03 Juli 2020

Hati


Hati,
hatiku berdebar,
berbolak-balik,
kadang ragu dan bimbang,
kadang teguh dan yakin.

Hati,
hatiku perih mendengar suara tangis,
bahagia mendengar suara tawa,
kadang bergetar dan ketakutan,
kadang marah dan ingin diam.

Hati,
hatiku lemah dan kecil,
tapi memendam selaksa misteri,
tempat bersemayam berjuta giga memori.

Hati,
hatiku ingin bergetar agar tak mati,
ingin berujar agar jadi mengerti,
ingin berjuang agar mencapai jati diri,
ingin bertindak dengan hati-hati,
tapi hatiku entahlah berdinding sepi,
tak berdaya seakan kehilangan energi.

Hati,
hatiku mengapakah kau kini,
bagai tak ada cahaya mentari,
bagai kumpulan asa tinggal setitik,
tak ada bahagia,
resah pun jadi.

Hati,
tapi kau adalah hatiku,
sukma dan jiwaku,
getar tasbih dan kehidupanku.

Hati,
hatiku tak usahlah menangis
demi permainan kehidupan yang bukan hakiki,
tak usahlah melaknat nasib diri,
karena semua itu hanyalah cobaan,
tidak abadi.

Hati,
Tempalah hati dalam bara perjuangan,
berjalanlah tabah menapaki puncak tebing,
kata hati itu nyata,
suara hati itu petuah,
pertimbangan hati itu wasiat,
bahasa hati itu kejujuran,
hati-hati itu keselamatan dan kebijaksanaan.

Mutiara Retak


Seorang lelaki duduk di sebuah tikungan jalan,
gerimis kecil membasahi tubuh dan bajunya yang kumal,
matanya tajam menerawang ke ujung jalanan,
memandangi orang yang lalu lalang,
menatap sambil menanti seseorang yang berjanji akan datang.

Lelaki itu masih tetap setia duduk di tikungan jalan,
meski hujan turun semakin deras,
"biarlah menjadi basah dan kedinginan, karena kehadiranmu lebih berharga dari segalanya" , gumamnya.

Senjapun berganti menjadi malam,
ketika terdengar adzan maghrib berkumandang bersahutan,
malam yang dingin menjadi makin mencekam,
karena tak seorangpun yang datang,
"huh! Percuma....." gumamnya dengan sedikit desahan kesal.

Lelaki itu adalah aku,
bukan siapa-siapa,
hanya menunggumu menerima mutiara retak,
yang telah lama aku genggam.

Ku pikir buat apa mempersembahkan mutiara retak,
meski perhiasan hanyalah cemoohan.
Kupikir mengapa harus memuja kesetiaan,
karena hanyalah anganan membabi buta.
Ku pikir
hanyalah pantas ku buang saja mutiara retak ini
ke tong sampah ataupun comberan,
tanpa penyesalan,
tanpa kekecewaan....

Kamis, 02 Juli 2020

Ruang Hati


Ruang hati telah Engkau beri,
tempat bersemayam cinta yang suci.
Ruang hati telah menjadi saksi,
tempat aku berjanji bahwa Engkaulah Illahi Robbi.
Ruang hati telah diamanati,
agar aku mengenalMu tanpa berpaling pada yang lain.
Ruang hati,
tempat aku berdzikir, memuji dan bertasbih.

Ya Illahi,
tapi ruang hatiku kotor penuh daki,
lemah penuh dengki,
digenggam alpa
dibelenggu derita.

Ya Illahi,
tapi ruang hatiku perih menatap yang lain,
cemburu bila tak berpaling,
sungguh hina bertahta amarah,
sungguh kalap tak dipuja-puja.

Ya Illahi,
pantaskah ruang hatiku menjadi suci,
bila masih tersisa pengharapan meski sedikit,
pantaskah aku tunduk merebahkan diri,
di antara genggaman TanganMu yang Maha Suci.

Ya Illahi,
ruang hati telah Engkau beri,
agar aku mengenalmu dengan kemurnian sanubari,
tapi aku selalu khilaf,
tapi aku tak pernah lelah memohon maaf.

Ya Illahi,
ruang hati yang Engkau beri,
adalah amanat suci yang tidak boleh di khianati,
di hadapanMu hamba bersembah sujud,
dalam genggaman takdirMu hamba berserah diri.

Minggu, 14 Juni 2020

Diam


Seperti batu yang teronggok di tepian jalan,
Yang tersisih diterpa panas matahari dan hujan,
Saya harus terdiam menikmati segala keadaan,
Berdamai dengan segala yang kau rintangkan.

Ada kata-kata yang tersumbat,
Ingin berteriak tapi tak pernah menjadi kalimat,
Rongga dada bergemuruh dengan amarah membuncah,
Tapi sekali lagi aku hanya sanggup terdiam,
Tersisihkan bagai batu yang teronggok di tepian jalanan.

Ingin ku berlari meninggalkan kenyataan,
Tapi bukan seperti itu kelakuan pejuang,
Ingin ku melawan dengan segala daya yang tersisa,
Karena aku bukanlah pecundang.



Aku Rindu Padamu


Aku rindu padamu yang selalu tersenyum lembut dan bersahaja,
Rindu kemesraan seperti dulu,
Saat masih bersama.

Aku Rindu kepadamu,
Seperti saat-saat bermain air di sawah,
Berlari-lari kecil di sepanjang pematang,
Mencangkuli tanah menanami bunga.

Aku rindu kepadamu yang kini tiada,
Anggun wibawamu,
Berderai rambutmu,
Dihempas angin dari utara.

Aku rindu padamu,
Di saat usia menjelang senja,
Teringat dirimu yang selalu lembut berkata-kata,
"Cintailah diriku,
Genggamlah erat tanganku,
Peluklah aku dalam damaimu,
Bawalah aku ke surgamu"

Di kemarau yang panjang ini,
Aku tetap masih seperti yang dulu,
Yang selalu rindu padamu,
Sampai kapanpun.

Kamis, 11 Juni 2020

Bagaimana Aku Peduli


Bagaimana aku peduli,
Terhadap orang yang tidak peduli?
Bagaimana aku adil,
Terhadap orang yang tidak adil?

Ajarkanlah kepadaku apa kebijaksanaan itu,
Bagaimana menyayangimu di saat kau menyakitiku.
Bagaimana aku harus ridho kepadamu pada saat sebenarnya kau harus ridho kepadaku.

Cinta ini rumit,
Serumit mengurai benang yang kusut,
tanganmu yang perkasa tak terkalahkan,
Meruntuhkan mahligai yang suci dan sakral.

Diam,
Itulah perlawanan dan pertahanan,
Waktu yang kan menjawab siapa yang menang dan siapa yang kalah.


Cintamu Hanya Satu


Perjuangan,
Tak peduli seberapa hasilnya,
Terus bergerak,
Tak peduli seberapa lelahnya.

Teruslah berjuang,
Meski banyak waktu terbuang,
Muliakanlah kehidupan,
Seberapapun kamu memperoleh kedudukan.

Lembutkanlah nafasmu,
Tautkanlah hatimu,
Cintamu hanya satu,
Allahu Akbar.

Senin, 18 Mei 2020

Kalau Bukan Karena Kamu

Kalau bukan karena kamu,
Tentu tak kan ku tulis omelan-omelan ini,
Tentu tak harus aku duduk bersimpuh di tepi Patang sawah ini,
Menjalani hari-hari sepi,
Berlumur lumpur berkawan cangkul dan belati.

Inilah persembahan cinta,
Nyanyian pilu manusia tak berdaya,
Katakanlah kamu mau berkata apa,
Inilah jawaban dari semua yang kau pinta.

Sesungguhnya kehidupan itu indah dikisahkan,
Meski tak selalu indah dikerjakan,
Cinta itu derita,
Dan pemuja cinta harus ikhlas berkorban.

Pemalang, 18 Mei 2020