Jumat, 02 Oktober 2020

Menyikapi Perseteruan Di Antara Ulama




Ketahuilah, sesungguhnya pertentangan dan pengkritikan yang terjadi antara ulama dengan tujuan murni menegakkan kebenaran, bukanlah termasuk hal yang tercela. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata ; "sesungguhnya menghujat/ jika bertujuan untuk menunjukkan kebenaran maka tidak apa-apa, karena niat mereka melakukan hal tersebut untuk menjelaskan kebenaran dan menggiring ummat untuk tidak mengikuti kesalahan mereka".

Imam Rofi'i berkata, "Dan termasuk dari rahmat Allah Ta'ala atas ummat ini adalah bahwasanya ulama tidak tinggal diam ketika ada ulama lain yang salah (dalam bertingkah dan berucap), dan tidak tinggal diam menjelaskan kesalahan mereka pada ummat, meskipun yang ditentang adalah orangtuanya sendiri, apalagi kesalahan selainnya.

Contohnya seperti yang terjadi pada Imam Haromain, yang menyalahkan orangtuanya sendiri, yaitu Syaikh Abi Muhammad Al-Juwaini dalam permaslaah yang mana Imam Haromain tidak sependapat dengan orangtuanya dan mengatakan "ini keliru, ini kesalahan fatal, atau ini kesalahan dari syaikh", beliau mengatakan demikian bukan bertujuan untuk menghina atau merendahkan ayahnya, akan tetapi tujuan beliau untuk menggiring ummat untuk tidak mengikuti pendapat orangtuanya yang salah tersebut.

Dan sebab nikmat yang besar ini, yaitu tidak ada satupun ulama yang tinggal diam atas kesalahan yang diperbuat oleh ulama lainnya, tujuannya adalah Allah ingin menjaga syariah yang agung ini agar terjaga dari perubahan (taghyir, tabdil).

Dan contoh pertentangan, menyalahkan, dan penghujatan yang terjadi antara ulama ummat ini seperti, "si fulan adalah orang fasiq, atau dia adalah pembohong" dll.

📚 SUMBER : Kitab Al-Fawaid Al-Madaniyah - Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi, halm 34

Dan pertentangan semacam ini bukan hanya terjadi pada ulama zaman ini saja, tapi ulama terdahulu juga bertentang satu dengan yang lainnya dalam urusan agama dengan tujuan semata-semata untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah kepada ummat islam.

Dan jalan yang paling selamat dan aman yang harus kita lakukan hanyalah DIAM dalam menyikapi perseteruan yang terjadi di antara mereka, kita tidak boleh ikut berkomentar negatif kepada salah satu dari mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda :

فعَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ : " ثَلَاثَةٌ لَا يَسْتَخِفُّ بِهِمْ إِلَّا مُنَافِقٌ : ذُو الشَّيْبَةِ فِي الْإِسْلَامِ ، وَذُو الْعِلْمِ ، وَإِمَامٌ مُقْسِطٌ " . رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ

"Ada tiga orang, yang mana jika melecehkan mereka termasuk orang munafik, orang yang mempunyai kedudukan dalam islam, ulama, pemimpin yang jujur". { HR. Thabrani }

قد جرب من وقع في العلماء امتحن بسوء الخاتمة.

"Sudah terbukti bahwasanya orang yang menyakiti/menghina/merendahkan Ulama, maka akan mati dalam keadaan su'ul khotimah (tidak membawa iman dan islam)." ( Kitab Manhajus Sawi )

Sumber : t.me/dalwadakwah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar