Minggu, 30 Agustus 2020

Sejarah Singkat Kisah Kepala Sayyidina Husain رضي الله تعالى عنه


Ilustrasi Tragedi Karbala
Ilustrasi Tragedi Karbala


Forum Muslim - Berikut adalah sejarah singkat tentang kepala Sayyidina Husein dirawat pendeta Nasrani dan Batu berdarah tempat meletakkan kepalanya.

Sejarah ini di kutip dari sebuah buku yg ditulis oleh Sheikh Ibrahim Nasralla yg diberjudul “The Traces of Ale Mohammad in Aleppo” (Jejak² Keturunan Muhammad di Aleppo).

Tempat ini konon dulunya adalah sebuah biara yg terdiri dari 2 buah ruangan yg diberi-nama Mart Ruta Monastery, yaitu sebelum datangnya Islam ke kota ini.

Untuk mengenal sejarah dari tempat ini maka kita harus memalingkan wajah ke masa lalu terlebih dahulu.

Setelah Tragedi Karbala, ketika rombongan Imam Ali Zainal Abiddin As-Sajjad (putera Sayyidina Husein) dan Zainab (adik sayyidina Husein) disertai rombongan kecil berisi wanita dan anak² datang dari Kufah dan Karbala ke Syam, rombongan itu berhenti di kota Aleppo untuk beristirahat di dekat biara ini.

Para biarawan dan pendeta dari biara ini melihat dengan jelas sekali ada cahaya yg terang yg keluar dari kepala Imam Husein yg diarak oleh tentara Yazid yg mengawal rombongan dari keluarga Nabi itu.
Kejadian itu terjadi pada tahun 61 H.

Ketika para pendeta dan biarawan itu tahu bahwa para tawanan yg dibawa tentara Yazid itu ialah sisa² keluarga Nabi (dimana banyak dari kaum lelakinya sudah syahid).

Seorang kepala biarawan itu bertanya, “Kepala² siapakah ini?”

“Ini adalah kepala² cucu Nabi, keluarga Nabi, dan para pengikutnya.”

“Celakalah kalian karena sudah memperlakukan keturunan Nabi seburuk ini”
“Aku akan pinjam kepala cucu Nabi itu biar dengan membayar tinggi sekalipun”

Bala tentara laknat itu tergiur dengan uang yg ditawarkan oleh kepala biara itu.

Dan mereka menyerahkan kepala Imam Husein untuk bermalam di biara.

Untuk itu, para pendeta dari biara itu mengeluarkan uang yg sangat banyak.

Seorang pendeta yg memiliki pengetahuan luas mengambil kepala Imam Husein dari para pengawal (tentara Yazid) dan kemudian meletakkan kepala Sayyidina Husein itu di atas sebuah batu untuk dicuci dan disisir rambutnya serta diberi minyak wangi.

“Betapa besar penghargaan yg diberikan oleh seorang yg beragama Nasrani untuk kepala suci dari cucu Nabi”

“Betapa kecil penghormatan yg diberikan oleh kaum Muslimin waktu itu, kepada sisa keluarga Nabi yg ditawan dan dibelenggu”

Pendeta itu berdoa terus menerus di depan kepala Imam Husein hingga subuh menjelang pagi dan kemudian ia memberikan kembali kepala itu kepada para bala tentara Yazid.

Sang pendeta sendiri konon katanya langsung memeluk Islam tidak lama setelah kejadian tersebut.
Sejak malam itu hingga beberapa hari kemudian darah segar senantiasa keluar dari batu tempat kepala Sayyidina Husein diletakkan itu.

Dan setelah rombongan tawanan keluarga nabi itu pergi dari biara itu, kembali pendeta tersebut melantunkan doa² rintihan untuk mengenang sang cucu Nabi.
Sementara itu batu itu tetap mengeluarkan darah segar.

Batu ini akhirnya memerah karena darah yg pernah tercurahkan dari kepala “Pemimpin Para Syuhada” dan tetap bersemayam di biara ini dari awal bulan Safar tahun 61 H hingga tahun 333 H.

Ketika Raja Sifoddowie Hamdani (seorang pengikut Ahlul Bait Nabi) memasuki kota Aleppo dan memutuskan untuk menjadikan kota Aleppo itu menjadi ibu kota, Raja itu seringkali menjenguk batu itu.
Dan sampai detik itu masih pula mengeluarkan darah segar.

Ia akhirnya memutuskan untuk membangun tempat itu untuk menghormati batu yg mengeluarkan darah itu sebagai tanda kebesaran Allah di muka bumi ini.

Pada pertengahan abad keempat Hijriah, bangunan megah yg ditujukan untuk menghormati batu itu berdiri.

Dan sejak saat itu lah tempat tersebut mulai sering di ziarahi bagi para pecinta cucu Nabi (Imam Husein عليه السلام)

Tempat itu dikenal sekarang sebagai “Masjid Al-Nuqtah” atau kurang lebih artinya “Masjid Tempat Darah Tercurah”.

Pada tahun 1333 H ketika para penguasa Ottoman (Khilafah Utsmaniyyah) menguasai kawasan ini, mereka melarang orang² yg hendak berziarah ke tempat ini dan mereka malah menggunakan tempat ini untuk menyimpan amunisi serta senjata selama masa perang.

Akhirnya pada suatu masa, Kekhalifahan Ottoman mengalami kemunduran dan lemah dalam segala bidang, pada saat itulah tentara sekutu bermaksud untuk menyerang kota Aleppo.
Timbullah kekacauan di mana² pada waktu itu (20 Muharam 1337 H).

Masjid yg dipenuhi oleh amunisi senjata dan mesiu ini tiba² meledak.

Bangunan nan indah ini hancur porak-poranda dan kepingannya berserakan di mana².

Keajaiban terjadi, batu berdarah itu tetap berada di tempatnya dan beberapa batu yg besar berkumpul di sekelilingnya, seolah² ingin melindungi batu tersebut.

Sungguh itu merupakan suatu tanda kebesaran Illahi.

Kemudian beberapa orang ulama mengambil batu itu dan membawanya ke Masjid Zakaria yg ada di kota itu.

Setelah dipindah batu tersebut menunjukkan beberapa keanehan.
Yaitu seringkali bergerak² sehingga membuat ketakutan para alim ulama dan santrinya.

Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menempatkan batu itu di atas punggung seekor kuda dan kemudian membiarkan kuda itu membawanya kemana ia suka.

Kuda itu membawa batu suci tersebut ke tengah² kota Aleppo menuju tempat dimana batu itu dulu ditempatkan, yaitu di Masjid Al-Nuqtah yg ketika itu masih dalam keadaan porak-poranda.
Karena tempat itu rusak, kuda itu (seolah² memiliki kehendak sendiri) membawa batu itu ke tempat pemakaman bayi Imam Husein yg bernama Muhsin.
Kemudian batu itu akhirnya disimpan di sisi makam tersebut.

Tempat suci itu tetap dalam keadaan hancur selama masa² sulit setelah peperangan berlangsung hingga tahun 1379 H.

Pada tahun itu ada sebuah organisasi bernama Jafari Islamic Rebuilding Society yg berencana untuk membangun kembali masjid itu sesuai dengan bentuk aslinya dulu.

Dengan rahmat dan kebesaran Allah, serta keinginan kuat dari berbagai orang yg bersedia menyumbangkan harta dan tenaganya serta bantuan moril dan materil dari para alim ulama, akhirnya mereka bisa membangun kembali Masjid itu dengan sebagaimana bentuknya yg lama.

Anehnya mereka tetap bisa menggunakan batu²an yg dulunya digunakan untuk membuat Masjid bersejarah itu.

Dengan batuan yg sama (yg dulu berserakan setelah ledakan) mereka berhasil membangun Masjid itu seperti sedia kala, seperti yg bisa kita lihat sekarang ini. (FM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar