Senin, 24 Agustus 2020

Sejarah Nabi Muhammad SAW

Kaligrafi Nabi Muhammad SAW
Kaligrafi Nabi Muhammad SAW

Forum Muslim - Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir yang ditugaskan Allah untuk menyampaikan risalah langit kepada umat manusia. Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah penyempurna dari agama yang dibawa para nabi dan rasul sebelumnya. Beliau menyebarkan agama Islam kepada umatnya dengan penuh perjuangan. 

Nabi Muhammad mengalami hidup yang berliku—meski menjadi manusia istimewa dan pilihan Allah. Terlebih ketika menyebarkan ajaran Islam. Beliau menghadapi berbagai macam rintangan, tentangan, penolakan, halangan, dan bahkan upaya pembunuhan. Kendati demikian, beliau menghadapi itu semua dengan penuh kasih sayang. Karena Nabi Muhammad diutus Allah ke dunia itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah sebagai rahmat bagi semesta Allah. Tanpa terkecuali satu makhluk pun.

Dalam salah satu ayat Al-Qur'an, Allah juga menegaskan bahwa dalam diri Nabi Muhammad terdapat suri teladan yang baik (uswah hasanah). Karena itu, setiap Muslim harus mengetahui kisah hidup Nabi Muhammad agar bisa meneladaninya dengan baik dan benar. 

Kelahiran 

Ada banyak pendapat dan riwayat terkait dengan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad. Namun menurut riwayat yang paling masyhur, Nabi Muhammad lahir pada Tahun Gajah—tahun di mana Raja Abrahah dari Yaman dan pasukan bergajahnya menyerang Ka'bah. Persisnya, tanggal 12 Rabi'ul Awwal atau bertepatan dengan 29 Agustus 580 Masehi di Makkah. Pendapat ini didasarkan pada sebuah riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas: "Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal 12 di malam yang tenang pada bulan Rabi'ul Awwal, Tahun Gajah." 

Diriwayatkan bahwa banyak kejadian ajaib dan luar biasa terjadi, baik pada saat-saat sebelum dan sesaat setelah Nabi Muhammad lahir. Pada malam menjelang kelahiran Nabi, pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, ribuan malaikat turun ke bumi, bulan terbelah, bintang-bintang bersinar terang, dan burung-burung yang penuh cahaya memenuhi rumah Sayyidah Aminah—ibunda Nabi Muhammad.

Sementara sesaat setelah Nabi Muhammad lahir, jin tidak bisa lagi mengintip berita langit, arsy bergetar hebat, seluruh langit dipenuhi cahaya sehingga menjadi terang, Istana Kisra berguncang begitu dahsyat sehingga menyebabkan 14 balkonnya roboh, api abadi yang disembah umat Majusi padam, Gereja di sekitar Buhaira roboh, dan bahkan Ka'bah juga ikut bergetar selama tiga hari karena bahagia menyambut kehadiran Nabi Muhammad.

Perihal Nama Muhammad

Nabi Muhammad bukan lah pemberian manusia. Ia adalah nama yang disampaikan Allah kepada ibundanya Sayyidah Aminah dan kakeknya Abdul Muthalib melalui malaikat dan isyarat mimpi. Dalam satu riwayat, seperti tercantum dalam al-Sirah al-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, Sayyidah Aminah didatangi malaikat ketika sedang mengandung. Kepada Sayyidah Aminah, malaikat tersebut menginformasikan bahwa anaknya yang berada dalam kandungan itu adalah pemimpin umat dan meminta agar menamainya Muhammad.

Begitu juga dengan sang kakek, Abdul Muthalib. Dia mendapatkan inspirasi nama Muhammad dari mimpinya. Jadi, pada saat cucunya lahir, Abdul Muthalib membawanya ke dalam Ka'bah dan bertawaf. Setelah itu, ia keluar dan melewati kerumunan massa. Mereka kemudian bertanya kepada Abdul Muthalib perihal nama cucunya itu. Maka dijawablah kalau nama cucunya adalah Muhammad. 

Orang-orang kembali bertanya mengapa dinamakan Muhammad. Sebuah nama yang terdengar asing di telinga masyarakat Arab pada saat itu. Karena tidak seorang pun dari nenek moyang dan bangsa Arab yang sebelumnya menggunakan nama itu.

"Sesungguhnya aku sangat ingin semua penduduk bumi memujinya," jawab Abdul Muthalib. Secara bahasa, Muhammad berarti yang dipuji atau terpuji.

Masa Anak-anak

Nabi Muhammad adalah yatim-piatu sejak kecil. Beliau ditinggal wafat ayahnya—Sayyidina Abdullah- ketika masih di dalam kandungan. Sang ayahanda jatuh sakit dan kemudian wafat dalam perjalanan balik ke Makkah, setelah sebulan berdagang di Syam. Dia kemudian dimakamkan di Madinah.

Sementara sang ibunda, Sayyidah Aminah, wafat ketika Nabi Muhammad berusia enam tahun. Merujuk buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (Martin Lings, 2012), Nabi Muhammad hidup bersama sang ibunda selama tiga tahun, atau hingga beliau berusia enam tahun. Saat usia satu hingga tahun, beliau hidup bersama dengan ibu susuannya, Sayyidah Halimah as-Sa'diyah di kampung Bani Sa'd. 

Keluarga Arab kota memiliki kebiasaan untuk menitipkan anak mereka yang baru lahir kepada perempuan desa atau gurun untuk disusui. Hal ini dilakukan agar anak mereka terhindar dari penyakit yang ada di wilayah perkotaan, agar anaknya memiliki tubuh yang sehat, dan agar anak-anak mereka fasih dalam berbahasa Arab.

Begitu pun dengan Sayyidah Aminah. Ia menitipkan anaknya, Nabi Muhammad, kepada Halimah as-Sa'diyah beberapa saat setelah melahirkannya. Dengan demikian, Nabi Muhammad menghabiskan masa anak-anaknya—masa balita—di Kampung Bani Sa'd. Kehadiran Nabi Muhammad membawa keberkahan tersendiri bagi Halimah dan keluarganya. Setelah ada Nabi, kehidupan Halimah dan keluarganya menjadi lebih sejahtera karena hewan ternaknya menjadi gemuk-gemuk dan beranak banyak.  

Pada usia enam tahun, Nabi Muhammad kembali hidup dan tinggal bersama sang ibunda. Namun tidak berselang lama, beliau ditinggal wafat yang ibunda. Nabi kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Tidak lama kemudian, kakeknya wafat dan Nabi diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. 

Pada saat usia delapan tahun, Nabi Muhammad mulai bekerja menggembala kambing milik orang kaya Makkah. Disebutkan Nizar Abazhah dalam Bilik-bilik Cinta Muhammad (2018), setidaknya ada tiga alasan mengapa Muhammad kecil akhirnya memutuskan untuk bekerja menggembala kambing. Pertama, membantu meringankan beban ekonomi Abu Thalib. Kedua, Kedua, menggembala kambing tidak butuh modal. Ketiga, Nabi Muhammad senang berada di padang yang luas karena di sana beliau bebas merenungkan segala sesuatu secara mendalam tanpa ada yang mengganggunya. Beliau menjadi penggembala kambing kurang lebih selama empat tahun.

Masa Remaja

Pada saat usia 12 tahun, beliau diajak Abu Thalib untuk ikut dalam kafilah dagang ke Syam. Sejak saat ini, beliau semakin menekuni dunia perdagangan. Hingga suatu ketika seorang saudagar kaya Makkah, Sayyidah Khadijah, membuka lowongan kerja bagi siapa saja untuk menjajakan barang dagangannya. Abu Thalib mendengar hal itu dan kemudian menawarkannya kepada Nabi Muhammad. Beliau menerima tawaran tersebut.

Tugas pertama Nabi Muhammad adalah berniaga ke negeri Syam. Beliau ditemani Maisaroh—budak Sayyidah Khadijah—dengan membawa barang dagangannya berupa kain-kain. 

Berkat kerja keras, sikap jujur, dan amanah, Nabi Muhammad berhasil menjajakan barang dagangannya. Semuanya laku terjual dan untung banyak. Setelah mendengarkan cerita dari Maisaroh, Sayyidah Khadijah terkesima dengan sikap dan perangai Nabi Muhammad dalam mendagangkan barangnya.  

Merujuk buku Muhammad A Trader, Nabi Muhammad sudah menjadi pemimpin kafilah dagang ke luar negeri pada saat usianya baru 17 tahun. Ia berdagang hingga ke 17 negari lebih. Di antaranya Syam, Yordania, Bahrain, Busra, Irak, Yaman, dan lainnya. 

Dalam Sirah Nabawiyyah, al-Mubarakfury menjelaskan bahwa Nabi Muhammad menggandeng as-Saib bin Abus-Saib sebagai partner saat awal-awal memulai bisnis. Bagi Nabi, Abus-Saib adalah rekan terbaiknya dalam bisnis. Tidak pernah berselisih dan tidak curang.

Pekerjaan-pekerjaan yang Pernah Digeluti Nabi Muhammad

Nabi Muhammad SAW senang dengan aktivitas kerja dan mendorong sahabatnya untuk bekerja. Menurut Nabi dalam salah satu haditsnya, makanan terbaik yang dimakan oleh seseorang adalah makanan dari hasil kerjanya sendiri. Bukan makanan pemberian orang lain, apalagi makanan hasil minta-minta. 

Selama hidupnya, Nabi Muhammad pernah menggeluti beberapa pekerjaan. Pertama, menggembala kambing. Merujuk Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun'im al-Hasyimi, 2018), Nabi Muhammad sudah ikut menggembala kambing bersama saudaranya di kampung Bani Sa'd ketika beliau diasuh oleh Sayyidah Halimah as-Sa'diyah.

Kemudian pada usia delapan tahun, Nabi Muhammad—yang saat itu diasuh pamannya, Abu Thalib, setelah ibunda dan kakeknya wafat—menyampaikan keinginannya kepada pamannya itu untuk bekerja menggembala kambing. Mendengar hal itu, Abu Thalib dan istrinya, Fatimah binti Asad, kaget dan berusaha mencegahnya. Keduanya tidak tega kalau keponakannya yang masih kecil itu harus bekerja menggembala kambing. Nabi memiliki tekad yang kuat sehingga keinginannya itu tidak bisa dibendung. Bahkan, Abu Thalib kemudian menghubungi temannya dari Quraisy yang memiliki banyak kambing agar bisa digembalakan Nabi Muhammad. Perhatian yang sama juga dicurahkan sang bibi, Fatimah binti Asad. Dia selalu menyiapkan bekal makanan untuk Nabi Muhammad sebelum berangkat kerja.

Disebutkan Nizar Abazhah dalam Bilik-bilik Cinta Muhammad (2018), setidaknya ada tiga alasan mengapa Muhammad kecil akhirnya memutuskan untuk bekerja menggembala kambing. Pertama, membantu meringankan beban ekonomi Abu Thalib. Kehidupan Abu Thalib begitu sederhana bahkan kekurangan. Dia memiliki delapan anak dan ditambah Nabi Muhammad. Pada saat awal-awal tinggal bersama Abu Thalib, Nabi Muhammad hanya bermain dan makan bersama dengan anak-anak pamannya. Namun lama kelamaan, Nabi Muhammad mulai sadar bahwa kondisi ekonomi pamannya memprihatinkan. Kondisi inilah yang menggerakkan Nabi Muhammad untuk bekerja menggembala kambing untuk membantu beban ekonomi pamannya.

Kedua, menggembala kambing tidak butuh modal. Profesi ini sangat pas dan tepat bagi Nabi Muhammad karena beliau, mengingat usianya masih belia dan tidak memiliki modal. Ketiga, Nabi Muhammad senang berada di padang yang luas. Di padang terbuka pula Muhammad bebas merenungkan segala sesuatu secara mendalam tanpa ada yang mengganggunya. Nabi Muhammad menjadi penggembala kambing kurang lebih selama empat tahun. 

"Setiap Nabi pasti pernah menggembala kambing," kata Nabi. Para sahabat bertanya, "Apakah Anda juga menggembala kambing, wahai Rasulullah?" Kata Nabi, "Iya, saya juga menggembala kambing."

Kedua, berdagang. Profesi kedua yang pernah digeluti Nabi Muhammad adalah berdagang. Nabi Muhammad diajak Abu Thalib untuk ikut dalam kafilah dagang ke Syam setelah tidak lagi menggembala kambing atau saat usianya 12 tahun. Sejak saat itu, beliau semakin menekuni dunia dagang. 

Singkat cerita, suatu ketika Abu Thalib mendengar informasi bahwa Sayyidah Khadijah—seorang saudagar kaya—sedang mencari pekerja untuk menjajakan barang dagangannya ke negeri Syam. Dia kemudian menawarkan lowongan pekerjaan itu kepada keponakannya. Nabi Muhammad menerimanya. 

Kepada Sayyidah Khadijah, Abu Thalib bertanya apakah dia mau menggunakan jasa Nabi Muhammad dengan imbalan empat ekor anak unta. Karena mengetahui sifat dan kiprah Nabi Muhammad, Sayyidah Khadijah menerima persyaratan Abu Thalib tersebut. Padahal semula Sayyidah Khadijah mencari pekerja untuk menjual barang dagangannya dengan imbalan dua ekor anak unta.

"Kalau kamu meminta hal itu untuk kepentingan orang jauh (yang tidak saya kenal) dan tidak menyenangkan, saya akan melakukannya. Apalagi sekarang ini kamu meminta hal itu untuk orang tercinta dan sangat dekat (yang sudah saya kenal)," kata Sayyidah Khadijah kepada Abu Thalib.

Tugas pertama Nabi Muhammad adalah berniaga ke negeri Syam. Beliau ditemani Maisaroh—budak Sayyidah Khadijah—dengan membawa barang dagangannya berupa kain-kain. Di sana, Nabi Muhammad bekerja keras, siang-malam, agar barang dagangannya laku dan mendapatkan laba yang banyak. Benar saja. Barang dagangan milik Khadidah yang dijajakan Nabi laku keras dan mendatangkan untung banyak. Setelah itu, Nabi Muhammad berdagang ke beberapa negeri.

Itulah jenis-jenis pekerjaan yang pernah dijalankan oleh Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi nabi. Setelah menjadi Nabi, beliau lebih sering berperan sebagai pembeli dan tidak lagi bedagang setelah hijrah ke Madinah. Nabi juga menyewakan barang-barang miliknya dan menyewa jasa seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. 

Pernikahan dengan Sayyidah Khadijah hingga Hijrah ke Madinah

Nabi Muhammad menikah dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ketika berusia 25 tahun—sementara Sayyidah Khadijah berumur 40 tahun. Keduanya mengarungi bahtera rumah tangga selama kurang lebih 25 tahun, hingga Sayyidah Khadijah wafat. Dalam rentang waktu itu, Nabi Muhammad berumah tangga secara monogami—hanya dengan Sayyidah Khadijah saja dan tidak menikah dengan wanita lainnya. 

Sebelum dipersunting Nabi, Sayyidah Khadijah sudah pernah menikah dua kali. Pertama, dengan Atiq bin Abid dan memiliki seorang putra bernama Abdullah. Kedua, dengan Abu Halah (Hind) bin Zurarah dan memiliki tiga orang anak, yaitu Hind, al-Harits, dan Zainab. Setelah suami pertama meninggal, Sayyidah Khadijah baru menikah dengan suaminya yang kedua. Begitu pun ketika menikah dengan Nabi Muhammad.

Sebagai seorang saudagar kaya dan terhormat—meskipun sudah pernah menikah dua kali, Sayyidah Khadijah disenangi banyak laki-laki. Banyak pria yang berminat untuk mempersuntingya. Namun, pilihan Sayyidah Khadijah malah jatuh kepada Nabi Muhammad. Seorang pemuda yang secara harta tidak kaya-kaya amat. Dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur'an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018) disebutkan bahwa Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad untuk menjadi suaminya karena dia menilai bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia yang sempurna kepribadiannya, baik sifat lahir maupun sifat batinnya. Bukan karena penampilannya secara sepintas.

Menerima wahyu pertama
Nabi Muhammad saw pertama kali menerima wahyu ketika usianya 40 tahun. Saat itu, beliau yang sedang berkhalwat atau bertahannus di Gua Hira menerima wahyu yang pertama, yaitu Al-Qur'an Surat al-Alaq ayat 1-5, dari malaikat Jibril pada malam ke-17 Ramadhan atau bertepatan dengan 6 Agustus 610 M. Peristiwa itu sekaligus menjadi tanda bahwa beliau sudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah.

Setelah kejadian itu, Nabi Muhammad langsung pulang ke rumah dengan keadaan takut dan gemetaran. Beliau menceritakan yang dialaminya kepada sang istri, Sayyidah Khadijah. Dia kemudian mengajak Nabi untuk menemui pamannya, Waraqah bin Naufal—seorang penganut agama Nasrani yang mengenal Injil. 

Dengan segala pengetahuannya, Waraqah membeberkan kalau lelaki yang datang kepada Nabi Muhammad di Gua Hira adalah an-Namus (Jibril), sama seperti yang datang kepada Musa dahulu. Waraqah juga memperingatkan kalau nantinya Nabi Muhammad akan didustakan, diganggu, diusir, dan diperangi oleh kaumnya sendiri.

Setelah itu, Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril secara bertahap selama 23 tahun, hingga beliau wafat. Tidak hanya ayat-ayat Al-Qur'an, wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad juga berupa hadits-hadits qudsi.

Mendakwahkan Islam di Makkah
Apa yang dikatakan Waraqah benar terjadi di kemudian hari. Pada saat awal-awal mendakwahkan Islam di Makkah, Nabi Muhammad mengalami gangguan, tentangan, pendustaan, pengusiran, dan bahkan upaya pembunuhan.

Semula Nabi Muhammad mendakwahkan Islam secara diam-diam. Ia mengajak keluarga dan saudara-saudaranya untuk memeluk Islam. Namun kemudian Allah menurunkan QS Al-Hijr ayat 94 dan meminta Nabi Muhammad untuk mendakwahkan Islam secara terang-terangan kepada masyarakat Makkah secara luas. "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (Al-Hijr: 94)

Nabi Muhammad menyebarkan agama Islam di Makkah selama 13 tahun. Namun hanya sedikit orang saja—sebagian besar dari kalangan bawah—yang menerima seruan Nabi. Sebagian besar penduduk Makkah menolak dan menentang agama baru tersebut. Dalam buku Para Penentang Nabi Muhammad (Misran dan Armansyah, 2018) disebutkan, setidaknya ada lima motif mengapa masyarakat Makkah menolak dakwah Nabi. Yaitu pengaruh dan kekuasaan; ekonomi dan status sosial; setia dengan agama nenek moyang; iri, dengki, dan angkuh; serta tidak percaya ajaran Islam.

Selama mendakwahkan Islam di Makkah, ada dua sisi kepercayaan yang menjadi titik berat Rasulullah. Pertama, kepercayaan tentang keesaan Allah. Karena pada saat itu, masyarakat Arab dijangkiti 'penyakit syirik.' Mereka tidak lagi menyembah Allah Yang Satu sebagaimana yang diajarkan nabi dan rasul terdahul, akan tetapi mereka menyembah banyak berhala.

Kedua, kepercayaan hari akhirat. Selama di Makkah, materi lain yang ditekankan Rasulullah adalah soal hari kiamat, kebangkitan manusia setelah kematian, dan hisab (pertanggungjawaban amal selama hidup di dunia).

Hijrah ke Madinah

Setelah mendapatkan tekanan yang begitu hebat dari kafir Quraisy Makkah, Nabi Muhammad akhirnya mendapatkan perintah dari Allah untuk berhijrah (bermigrasi) ke Madinah. Bahkan Allah melalui malaikat Jibril juga sudah menentukan waktu Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah. Yaitu tanggal 2 Rabi'ul Awwal tahun ke-13 kenabian atau bertepatan dengan 20 Juli 622 M pada malam hari setelah lewat dua pertiga malam—di saat para elite kaum kafir Quraisy yang mengepung rumah Nabi Muhammad untuk menghabisinya lengah. 

Hijrah bukan hanya untuk menghindari ancaman dan penindasan dari kaum kafir, tetapi juga menyelamatkan dan menyebarkan Islam di wilayah Arab lainnya. 

Perjalanan Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah begitu berat. Di samping jaraknya yang cukup jauh—sekitar 450 kilometer, para musuh juga terus memburu Nabi Muhammad bahkan hingga beliau meninggalkan Makkah. Mereka tidak rela Nabi Muhammad mendakwahkan agamanya di tempat lain. Bagi mereka, api dakwah Islam harus dipadamkan. Apapun caranya, termasuk membunuh Nabi Muhammad.

Pada saat hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad ditemani oleh Abu Bakar as-Shiddiq. Sementara umat Islam lainnya sudah lebih dahulu berangkan ke Madinah. Untuk mengelabui musuh, Abu Bakar menugaskan budaknya yang bernama Amir bin Fuhayra untuk menghapus jejaknya dan Nabi Muhammad. Sementara Abdullah bin Arqat—yang waktu itu belum masuk Islam- ditugaskan sebagai penunjuk jalan.

Dipilihnya Madinah sebagai tempat berhijrah juga tidak lepas dari beberapa penduduk Madinah yang sudah berbaiat kepada Rasulullah, dalam Baiat Aqabah pertama dan kedua. Tentu itu menjadi modal bagus bagi Rasulullah dan umat Islam. Namun selain dua hal itu, mungkin saja ada hal-hal lainnya yang menyebabkan mengapa Madinah yang dipilih sebagai tempat berhijrah. 

Dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur'an dan Hadits-hadits Shahih (2018), M Quraish Shihab menyebutkan bahwa dipilihnya Madinah sebagai tempat hijrah karena kota tersebut memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan dengan kota lainnya. Pertama, penduduknya—Suku Aus dan Khazraj—memiliki sikap ramah. Kedua, penduduk Madinah memiliki pengalaman berperang. Suku Aus dan suku Khazraj, ditambah komunitas Yahudi Madinah, 'tidak pernah akur'. pengalaman berperang ini menjadi sesuatu yang penting untuk menjaga ajaran agama Islam.

Ketiga, Nabi Muhammad memiliki hubungan darah dengan penduduk Madinah, yaitu Bani Najjar. Keempat, Keempat, letak Madinah yang strategis. Sebelah timur dan barat Madinah merupakan sebuah wilayah yang terjal; terdiri dari dataran tinggi, dataran rendah yang penuh dengan bebatuan yang keras. Hanya dari sisi utara Madinah yang menjadi wilayah terbuka. Hal ini menyulitkan siapa pun—terutama musuh—untuk memasuki kota Madinah.

Istri-istri dan Putra-Putri Nabi

Berbeda dengan umat Islam yang dibatasi hanya boleh beristri empat sekali waktu—dengan syarat adil, Nabi Muhammad diberi kekhususan oleh Allah untuk beristri lebih dari itu. Dijelaskan Ibnu Hazm al-Andalausi dalam Intisari Sirah Nawabiyah (2018), Sayyidah Khadijah binti Khuwailid adalah istri pertama Nabi Muhammad. Sayyidah Khadijah wafat tiga tahun sebelum hijrah dan Nabi Muhammad tidak menikahi wanita lainnya hingga istrinya yang pertama itu wafat.

Ketika Sayyidah Khadijah wafat, Nabi Muhammad menikahi Saudah binti Zam'ah pada tahun kesepuluh kenabian atau tiga tahun sebelum hijrah. Sebetulnya 'rencana' dan usulan perkawinan Nabi dan Saudah tidak datang dari beliau sendiri, melainkan dari Khaulah binti Hakim, sahabat Sayyidah Khadijah. Khaulah merasa prihatin dengan Nabi Muhammad yang hidup sendiri setelah ditinggal wafat Khadijah. 

Dalam Bilik-bilik Cinta Muhammad (2018) Nizar Abazhah menjelaskan bahwa dengan menikahi Saudah—yang saat itu berusia 50 tahun, Nabi Muhammad ingin meringankan penderitaannya, meningkatkan derajatnya, dan menjaganya dari fitnah dari kaum musyrik Makkah. Saat itu status Saudah adalah janda dari Sakran bin Amr bin Abd Syam. Sakran meninggal dalam saat hijrah di Habasyah. Saudah memiliki lima atau enam orang anaknya hasil perkawinannya dengan Sakran.

Nabi kemudian menikahi Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq pada bulan Syawwal tahun kesepuluh kenabian di Makkah—namun baru tinggal serumah pada tahun ke-13 kenabian atau 1 Hijriah. Mahar yang diberikan Nabi Muhammad untuk Aisyah sebesar 12 uqiyyah atau 400 dirham. Aisyah adalah satu-satunya istri yang dinikahi Nabi Muhammad dengan status lajang—sementara yang lainnya janda.

Dalam sebuah riwayat, Aisyah pernah mengungkapkan bahwa alasan Rasulullah menikahinya adalah 'karena mimpi.' Suatu ketika, Rasulullah bermimpi didatangi malaikat membawa Aisyah dengan dibalut kain sutera. Malaikat tersebut mengatakan kepada Rasulullah bahwa perempuan yang dibalut kain sutera tersebut adalah istrinya. Mimpi Rasulullah ini berulang hingga tiga kali. Aisyah hidup bersama Nabi selama 9 tahun 5 bulan. Ia wafat pada 58 H.

Pada tahun ke-3 H, Nabi Muhammad menikah dengan Hafshah binti Umar bin Khattab—yang berumur 21 tahun. Ketika itu, Sayyidah Hafshah berusia 21 tahun—riwayat lain 18 dan 20 tahun- dan berstatus sebagai janda dari Khunais bin Hudzafah as-Sahmi. Dalam Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah dalam, 2018) dan Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW (M Quraish Shihab, 2018) disebutkan bahwa alasan Nabi Muhammad menikahi Sayyidah Hafshah adalah untuk memperhatikan keluarga sahabatnya, baik Umar bin Khattab maupun Khunais bi Hudzafah yang gugur di medan perang.

Nabi Muhammad lalu mempersunting Sayyidah Zainab binti Khuzaimah—janda dari Abdullah bin Jahsy al-Asadi, riwayat lain Ubaidah bin al-Harits- pada tahun ketiga Hijriah. Pada saat dinikahi Nabi, Zainab binti Khuzaumah berusia 29 tahun. Zainab wafat pada saat Nabi masih hidup, setelah berkumpul dengannya selama dua bulan.

Nabi juga menikah dengan Sayyidah Ummu Salamah (namanya aslinya Hindun) binti Abu Umayyah (namanya aslinya Hudzaifah) bin al-Mughirah—yang saat itu berusia 34 tahun. Suami Ummu Salamah sebelumnya, Abu Salamah, meninggal dunia pada tahun kedua Hijriyah akibat luka parah setelah ikut dalam Perang Uhud. Keadaan Ummu Salamah yang janda dan memiliki banyak anak membuat Nabi 'berkeinginan' untuk menikahinya. Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah melamar Sayyidah Ummu Salamah karena beliau hendak memberi imbal jasa atas perjuangannya di jalan Allah. Ada yang menyebut untuk menghibur hatinya setelah suaminya gugur. Dan, ada juga yang berpendapat kalau itu dilakukan untuk menjaga kemuliaan dan keagungan Sayyidah Ummu Salamah. Terlepas dari itu semua, Ummu Salamah adalah istri Nabi yang wafatnya paling akhir, yaitu pada tahun 59 H. 

Pada tahun keempat H, Nabi Muhammad menikahi Sayyidah Zainab binti Jahsy—yang saat itu berusia 35 tahun. Alasan Nabi menikahi Zainab binti Jahsy adalah karena perintah Allah. Suami Zainab sebelum Nabi Muhammad adalah Zaid bin Haritsah—budak yang kemudian diangkat menjadi anak angkat Nabi. Dia wafat pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. 

Nabi Muhammad kemudian menikahi Sayyidah Juwairiyah binti al-Harits—yang saat itu berusia 21 tahun. Sebelum dengan Nabi, Juwairiyah menikah dengan Abdullah bin Jahsy al-Asadi. Dia wafat pada tahun 56 H dan dishalatkan oleh Marwan.

Nabi kemudian menikah dengan Sayyidah Ummu Habibah (nama aslinya Ramlah) binti Abu Sufyan setelah Perjanjian Hudaibiyah—yang saat itu berusia 37 tahun—pada tahun ketujuh Hijiriah. Sebelumnya, dia bersuamikan Ubaidillah bin Jahsy al-Asadi yang murtad dan kemudian memeluk Nasrani. Ummu Habibah wafat pada 44 H, atau masa kekhalifahan saudaranya, Muawiyah.  

Pada tahun yang sama, Nabi juga menikahi Sayyidah Shafiyyah binti Huyay—seorang pemimpin Yahudi di distrik Khaibar. Jika dirunut ke atas maka garis nasabnya sampai kepada Nabi Harun bin Imran, saudara Nabi Musa. Shafiyyah pernah menikah dengan tokoh Yahudi dari Bani Quraizhah, Salam bin Misykam namun perkawinannya ini tidak berlangsung lama. Usia Shafiyyah 17 tahun saat dinikahi Nabi. 

Sayyidah Shafiyyah wafat pada tahun ke-50 H, atau pada masa pemerintahan Muawiyah. Dia dimakamkan di Baqi', Madinah. Selama hidupnya, Sayyidah Shafiyyah menyampaikan sepuluh hadits Nabi, satu di antaranya diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Pada tahun 7 H, Nabi juga menikahi Mariyah al-Qibthiyah. Dia adalah hadiah dari Muqawqis setelah Nabi menyeru agar penguasa Mesir itu memeluk Islam. Nabi Muhammad membuatkan rumah untuk Sayyidah Mariyah di ujung timur Madinah. Ada sebuah dua bilik dan loteng terbuka di atas rumah tersebut. Nabi Muhammad duduk-duduk di situ kala musim panas. Riwayat lain dia dititipkan di rumah sahabat Harits bin Nu'man.

Terakhir, Nabi menikah dengan Sayyidah Maimunah binti al-Harits—yang saat itu berusia 25 tahun. Semula, namanya adalah Barrah. Nabi Muhammad menggantinya dengan Maimunah—yang bermakna impian, harapan, keberkahan- setelah menikahinya.  

Sayyidah Maimunah pernah menikah dengan Mas'ud bin Amr al-Tsaqafi sebelum memeluk Islam. Mereka kemudian bercerai karena suatu alasan. Lalu, Maimunah menikah lagi dengan Abu Rahm bin Abdul Uzza dari Bani Amir bin Lu'ay. Dalam waktu beberapa lama, Mainumah kembali hidup menjanda setelah suaminya yang kedua, Rahn, wafat.  


Quraish Shihab mengungkapkan salah satu motif Nabi menikahi Maimunah binti al-Harits adalah untuk memperkuat hubungan dengan suku-suku lain di Makkah. Karena, saudari-saudari sekandung Sayyidah Maimunah menikah dengan pembesar Makkah. Lubabah al-Kubra, istri Abbas bin Abdul Muthalib; dan Lubabah as-Shugra, istri al-Walid bin Mughirah dan ibu Khalid bin Walid, merupakan saudari Sayyidah Maimunah.

Diriwayatkan bahwa maskawin Nabi Muhammad untuk setiap istrinya adalah 500 dirhan. Sementara nafkah yang diberikan Nabi untuk istri-istrinya setiap tahunnya adalah sebanyak 20 wasaq gandum dan 80 wasaq kurma.

Putra-Putri Nabi Muhammad

Nabi Muhammad memiliki 7 orang anak; 3 laki-laki dan 4 perempuan. Seluruh anak Nabi, baik laki-laki maupun perempuan, berasal dari hasil pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah, kecuali Ibrahim yang dilahirkan oleh Sayyidah Mariyah al-Qibthiyah. Dijelaskan Ibnu Hazm dan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari, berikut penjelasan singkat mengenai putra-putri Nabi:

Pertama, Sayyidina al-Qasim. Dia lahir sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Karena Qasim adalah anak tertua, maka Nabi diberi julukan Abu Qasim. Dia hanya hidup selama beberapa hari saja.  

Kedua, Sayyidah Zainab. Dia adalah putri tertua Nabi yang lahir pada tahun ke-30 dari kelahiran Nabi Muhammad. Dia menikah dengan Abu al-Ash bin ar-Rabi. Dari pernikahannya itu lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Ali (meninggal saat usia remaja) dan Umamah—yang nanti dinikahi Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah Sayyidah Fathimah wafat. Zainab wafat pada 8 H. 

Ketiga, Sayyidah Ruqayyah. Dia lahir pada tahun ke-33 dari kelahiran Nabi Muhammad. Ruqayyah dinikahi oleh Ustman bin Affan. Dia tidak memiliki suami lagi selain Utsman. Dari Utsman, dia memiliki seorang anak bernama Abdullah—yang meninggal di usia empat tahun. Tercatat, dia ikut hijrah sebanyak dua kali. Ruqayyah wafat ketika ketika Nabi berada di dalam Perang Badar—riwayat lain tiga hari setelah Perang Badar.

Keempat, Sayyidah Ummu Kultsum. Dia dinikahi oleh Utbah bin Abu Lahab, namun kemudian diceraikan sebelum disentuhnya. Ia kemudian dinikahi Utsman bin Affan pada tahun 3 H, yang sebelumnya ditinggal wafat istrinya, Ruqayyah—yang notabennya kakak Ummu Kultsum sendiri. Ummu Kultsum tidak memiliki keturunan dan wafat pada tahun 9 H.  

Kelima, Sayyidah Fathimah az-Zahra. Ia dilahirkan lima tahun sebelum Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama. Dia menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib pada tahun 2 H. Dengan Ali, Fathimah memiliki beberapa anak; Hasan, Husein, Zainab, Ummu Kultsum, dan Muhassin—yang meninggal saat masih kecil. Fathimah adalah orang yang paling dicintai Nabi. Dia wafat enam bulan setelah Nabi wafat. 

Keenam, Sayyidina Abdullah. Dia lahir setelah ayahnya diangkat menjadi Nabi. Ia lahir di Makkah dan wafat saat usianya masih kecil. Diriwayatkan kalau Abdullah juga disebut dengan nama at-Thayyib dan ath-Thahir karena lahir pada masa kenabian. 

Ketujuh, Sayyidina Ibrahim. Berbeda dengan anak-anak Nabi sebelumnya yang lahir dari Rahim Sayyidah Khadijah, Ibrahim lahir dari Mariyah al-Qibthiyah. Dia lahir di Madinah pada bulan Dzul Hijjah tahun 8 H. Ia wafat di Madinah ketika usianya baru 17 atau 18 bulan—tahun 10 H—dan dimakamkan di kuburan Baqi'.

 Perang yang Pernah Diikuti dan Kewafatan Nabi

Nizar Abazhah dalam bukunya Perang Muhammad, Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah (2011) menjelaskan, ada tiga alasan mengapa Nabi Muhammad sampai berperang. Pertama, melayani serangan musuh dan mempertahankan diri seperti yang terjadi dalam Perang Badar, Uhud, dan Khandaq.

Kedua, memberi pelajaran terhadap musuh yang mencari gara-gara atau bersekongkol mengganggu kaum Muslim—meski sudah ada nota perjanjian atau kerja sama—seperti Perang Bani Quraidhah, Khaibar, Muth'ah, dan lainnya. 

Ketiga, menggagalkan rencana musuh yang mengancam kaum Muslim Seperti Perang Tabuk dan sejumlah ekspedisi datasemen yang dikirim Nabi ke beberapa wilayah untuk mencegah suku-suku mempersiapkan penyerangan terhadap kaum Muslim di Madinah 

Selama kurang lebih sepuluh tahun di Madinah, terjadi peperangan antara pasukan umat Islam dan musuh-musuhnya sebanyak 64 kali. 'Hanya' 26 peperang yang dipimpin langsung Nabi Muhammad, sementara sisanya dipimpin pasukan utusan Nabi.



Nabi Muhammad mulai merasa sakit ketika sedang di rumah Sayyidah Maimunah pada hari Rabu, dua malam terakhir dari bulan Shafar. Pada saat itu, Nabi menderita pening disertai demam. Pada hari-hari terakhir dalam kehidupannya, Nabi Muhammad juga merasakan sakit yang sangat akibat makanan yang dimakan ketika berada di Khaibar beberapa tahun sebelumnya. "Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut," kata Nabi Muhammad dalam satu hadits, seperti diriwayatkan Bukhari.

Setelah merasa tubuhnya semakin berat dan sakitnya semakin parah, Nabi Muhammad meminta izin kepada istri-istrinya agar beliau dirawat di rumah Sayyidah Aisyah. Semua istri Nabi mengizinkan. Beliau kemudian masuk ke rumah Aisyah pada hari Senin dan wafat pada hari Senin berikutnya. Persisnya, ketika waktu Dhuha sedang memanas pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 H (6 Juni 632 M) di Madinah. Pada saat itu, beliau berusia 63 tahun lebih empat hari. 

Beliau dikafani dengan tiga baju (lapis) berwarna putih, bukan berbentuk gamis (kemeja) atau imamah (sorban). Al-Abbas adalah orang yang pertama menshalati jenazah Nabi Muhammad, kemudian diikuti Bani Hasyim, kaum Muhajiri, Anshor, dan umat Islam secara umum. 

Nabi Muhammad dimakamkan di tempat dicabutnya ruhnya. Al-Abbas, Ali bin Abi Thalib, Al-Fadhl, kedua putera Al-Abbas: Qatsam dan Syaqran, Usamah bin Zaid, dan Aus bin Huli adalah orang-orang yang turun ke liang lahat untuk menyambut jenazah Nabi Muhammad. 

"Di atas makam beliau dibangun tatanan batu bata. Dikatakan tatanan batu bata terdiri dari sembilan batu bata. Kemudian para sahabat mengurukkan tanah, dan menjadikan makam beliau dalam bentuk rata, setelah itu diperciki dengan air di atasnya,," demikian keterangan dalam satu riwayat Al-Hakim Abu Ahmad.
Sumber : NU Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar