Senin, 15 Juni 2020

Wushul itu Sebab Karunia Allah dan Ditutupinya Cela Kita


ولولا انك لاتصل اليه الابعد فناء مساويك ومحودعاويك لم تصل اليه ابدا ولكن اذااراد ان يوصلك اليه غطى وصفك بوصفه ونعتك بنعته فوصلك اليه منه اليك لابمامنك اليه

“Andaikata engkau mempunyai anggapan tidak akan sampai kepada الله (wushul), kecuali setelah habis lenyap semua dosa-dosa dan kotoran hatimu, niscaya kamu tidak akan sampai (wushul) kepada الله selamanya. Tetapi jika الله menghendaki menarik menyampaikan kamu kepadaNya,الله akan menutupi sifatmu dengan sifatNya, dan kekuranganmu dengan karunia kekayaanNya, الله menyampaikan kamu kepadaNya dengan apa yang diberikan الله kepadamu,bukan karena amal perbuatanmu yang engkau hadapkan kepadaNya."

Syeikh Abul-Hasan As-syadzily رضي الله عنه. berkata: seorang waliyulloh itu tidak akan sampai kepada الله,jika ia masih ada syahwat/ kesenangan nafsu, atau masih mengatur dirinya atau masih usaha ikhtayar (memilihkan dirinya).seumpama الله membiarkan hambanya dengan pilihannya, pengaturannya atau kesenangan nafsunya sendiri, maka hamba selamanya tidak akan wushul (sampai kepada الله) jika الله akan menarik dan segera menyampaikan hambanya, maka ditampakkan padanya sifat-sifat الله. Sehingga mati kehendak dan ikhtiyar usaha sendiri, dan segera menyerah pasrah kepada Irodah dan keputusan pemberian الله. Maka dengan itu ia sampai kepada الله karena tarikan الله, bukan karena amal usahanya sendiri, Wushul karena karunia الله bukan karena ibadah dan taatnya kepada الله.


لولا جميل ستره لم يكن عمل اهلا للقبول

”Andai kata tidak ada baiknya tutup dari الله (andaikata الله tidak menutupi kekurangan dan kesalahan dalam semua amal hamba) niscaya tidak ada amal yang layak untuk diterima."

Sebab syarat untuk diterimanya amal itu adalah ikhlas, tulus kepada الله,tetapi manusia diuji dengan sombong diri, merasa sudah cukup amalnya, dan lebih jelek lagi bila ia riya’ dengan amalnya, dan mengharap pujian atas amal perbuatannya. Karena demikian watak tiap hamba, maka sulit untuk diterima amal perbuatannya, kecuali hanya mengharap rohmat karunia الله semata.

Syeih Abu-Abdulloh Al-Quraisyi berkata: Jika الله menuntut mereka tentang keikhlasan, maka lenyaplah semua amal perbuatan mereka, maka apabila telah lenyap semua amalnya, bertambahlah hajat kebutuhan mereka, maka dengan itu mereka lalu melepaskan diri dari bergantung kepada segala sesuatu, dan apabila ia telah bebas dari segala sesuatu kembalilah mereka kepada الله dalam keadaan bersih dari segala sesuatu.

Jadi para murid/ salik dalam perkara wushul kepada الله, itu harus bergantung pada anugerah dan pemberian الله. Jangan sampai mengandalkan amal ibadahnya sendiri.


انت الى حلمه اذا اطعته احوج منك الى حلمه اذاعصيته

“Engkau lebih membutuhkan kesantunan, maaf dan kesabaran الله ketika engkau berbuat taat (ibadah), melebihi dari pada kebutuhanmu ketika engkau berbuat maksiat/dosa."

Kemuliaan seorang hamba hanya ketika bersandar diri kepada Tuhannya. Dan hina/jatuhnya seorang hamba bila ia telah melihat dan berbangga dengan dirinya sendiri. Sedang manusia ketika berbuat taat, merasa dirinya sudah baik lalu bangga dengan amal perbuatannya sendiri, sombong dan merendahkan orang lain. Padahal amal perbuatannya jika dikoreksi keikhlasannya tidaklah mungkin akan diterima, bahkan amal itu semua hanyalah amal yang palsu dan tidak ada harganya disisi الله.

الله telah menurunkan wahyu kepada seorang NabiNya: “Beritahukan kepada hamba-hambaKu yang shiddiqin(sungguh-sungguh dalam beribadah kepadaKu), janganlah kamu tertipu oleh kesombongan dengan amal perbuatanmu itu, karena apabila Aku menegakkan benar-benar keadilanKu pasti Aku akan menyiksa mereka mereka dan bukan suatu kedholiman terhadap mereka. Dan katakana kepada hamba-hambaku yang telah berbuat dosa, : Jangan kamu berputus asa dari rahmatKu, sebab tidak ada suatu dosa yang tidak dapat ku ampunkan.

Syeih abu-Yazid al-Busthomy berkata: Taubat karena berbuat maksiat itu cukup hanya sekali, sedangkan taubat setelah berbuat taat harus seribu kali, sebab taat yang diliputi oleh ‘ujub, sombong itu berubah menjadi maksiat yang besar, dan orang tidak akan menyadarinya. Sebagaimana jatuhnya iblis dari singgasananya.

Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar