Minggu, 14 Juni 2020

Rubahlah Dirimu Dari Kebiasaan Hawa Nafsu



كيف تخرق لك العوائـد وانت لم تخرق من نفسك العوائـد

”Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa (keramat), padahal engkau tidak merubah dirimu dari kebiasaanmu."


Khorqul-awaa’id ialah: perkara yang tidak masuk akal, kejadian-kejadian yang luar biasa seperti: berjalan di atas air, melipat jarak dan waktu, sehingga bisa pergi
Ke ujung barat dan timur dengan satu langkah kaki dll,
Bagaimana kau akan dapat mencapai yang demikian (Khorqul-awaa’id), padahal kau sendiri belum bisa mengekang hawa nafsu dan keinginanmu, padahal kau belum dapat melepaskan kehendakmu untuk menyerah pasrah pada kehendak الله.

Keramat / Khorqul-awaa’id itu tidak diberikan oleh الله, kecuali pada orang yang sudah bisa melenyapkan kehendak diri sendiri dan menentang keinginan hawa nafsunya sendiri.

Khorqul-awaa’id itu ada beberapa macam : kalau keluar dari seorang Nabi disebut Mu’jizat. Kalau keluar dari seorang wali disebut karomah, kalau keluar dari orang sholih disebut Ma’unah. Tapi kalau keluar dari orang yang menentang hukum الله disebut Istidroj (panglulon).

Karomah itu ada dua macam

1. Karomah maknawiyyah, yakni karomah yang tidak diketahui orang lain spt: bertambahnya iman dan keyakinan, bertambah baik akhlaqnya kepada الله dan kepada makhluk.

2. Karomah dhohiryyah yaitu: keramat yang bisa diketahui orang lain, seperti Toyyil Ardhi (melipat jarak yang jauh menjadi dekat) dan melakukan perkara yang luar biasa yang tidak masuk akal.
Futuh yaitu: terbukanya tabir/hijab yang menutupi mata lahir dan mata hati.
Macam futuh itu banyak sekali, termasuk bagian dari futuh yaitu Kasyaf.

Antara kasyaf dan futuh itu sama artinya. Dan keduanya ada yang dari malaikat, adayang dari syeitan, dan yang dari syeitan itu bukan karomah tapi dinamakan Istidroj.

Kasyaf itu ada dua macam:

1. Kasyaf hisyy. Yakni mengtahui perkara/ kejadian yang jauh dari pandangan mata kepala. Seperti kisah سيدنا عمر بن الخطاب رضي الله عنه ketika khutbah jum’ah di Madinah, tiba-tiba memerintahkan pada panglima perang bernama Sariyyah yang sedang bertempur di tanah Nahawand yang jauhnya kira-kira perjalanan dua bulan dari Madinah. Umar berkata: Ya Sariyyah al-jabal! ( Hai Sariyyah ! awas, musuh ada di atas gunung).

Diceritakan saat itu pasukan islam baru bertempur di bawah gunung melawan sebagian pasukan musuh dan tidak tahu kalau ada sebagian pasukan musuh yang ada di atas gunung yang mau menyerang. Seumpama tidak ada komando dari Sayyidina Umar yang bisa didengar oleh panglima perang Sariyyah, tentu pasukan islam akan kalah. Dan ahirnya pasukan islam dapat kemenangan. Setelah pasukan kembali ke Madinah, komando dari Sayyidina umar dicocokkan dengan penduduk Madinah ternyata benar.

2.Kasyaf Ma’nawi yaitu: mengetahui perkara yang di luar dari alam syahadah (alam nyata).

Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar