Minggu, 14 Juni 2020

Jangan Meminta Balasan Atas Amalmu



متى طلبت عواضا على عمل طولبت بوجود الصدق فيه ويكفي المريب وجدان السلامة

”Apabila engkau menuntut upah/ balasan atas semua amal perbuatanmu, pasti engkau akan dituntut oleh الله atas kesempurnaan amal perbuatanmu. Dan bagi orang yang merasa belum sempurna amalnya, harus merasa cukup puas jika ia selamat dari tuntutan/tidak dituntut atas kekurang sempurnaan amalnya."

Hikmah ini menjelaskan kejelekan orang yang beramal karena mengharap balasan/ upah dari amalnya. Padahal seharusnya orang itu beramal yang baik, bersih hanya karena menghamba pada الله.
Karena hanya اللهlah dzat yang wajib disembah dan diagungkan, dan menjadi tujuan kita dunia dan akhirat. Hal ini sudah banyak dibahas dalam kitab ini dengan berbagai bahasan yang berbeda.

Khoir An-nassaj berkata: Timbangan amalmu itu sesuai dengan perbuatanmu, karena itu mintalah kemurahan karunianya. Dan itu lebih baik bagimu.

Al-washity berkata: 
amal ibadah lebih dekat kepada minta/ mengharap ampunan dan maaf, dari pada mengharap pahala dan upah.

Annash-robadzy berkata: 
Amal ibadah itu bila diperhatikan kekurangan-kekurangannya, lebih dekat kepada mengaharap maaf dari pada mengharap pahala dan balasan.

Firman الله:

“ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ”

(“Katakanlah: Hanya karena karunia dan rohmat الله mereka boleh bergembira, sebab itu lebih baik bagi mereka dari segala apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri” QS. Yunus :58

لاتطلب عواضا على عمل لست له فاعلا، يكفى من الجزاءلك على العمل ان كان له قابلا

”Jangan menuntut upah (ganti) tehadap amal perbuatan yang hakikatnya kamu sendiri tidak ikut berbuat, cukup besar balasan الله bagimu, jikaالله menerima amalmu."

Firman الله:

“وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ”.

(Dan الله yang menjadikan kamu,dan apa yang enkau perbuat(kerjakan). As-shofat 96).”

Jadi kita hanya menjadi lalulintas qodho’ dan qodarnya الله, jadi tidaklah pantas kalau kita minta balasan/ upah sedangkan kita tidak ikut mengerjakan, ya’ni semua pekerjaan yang kita kerjakan itu yang buat الله, ini hukum ‘Aqli.

Kalu menurut hukum syar’iy hamba yang membuat pekerjaan yang dikerjakannya. 

Dalilnya: 

“ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ”. 
(“Masuklah kamu semua kesurga sebab amal yang kau kerjakan”.QS. An Nahl :32)

 Tapi ketahuilah bahwa makhluk tidak bisa mengerjakan kalau tidak digerakkan oleh الله.

Ibrohim al-laqqony berkata: Dan الله yang menjadikan hamba, dan segala perbuatannya, Dia pula yang memberi taufiq untuk siapa yang akan sampai (wushul) kepadaNya. 


اذا اراد ان يظهرفضله عليك خلق فنسب اليك 

” Jika الله akan menunjukkan karunianya kepadamu, maka الله membuat amal kebaikan pada dirimu, dan mengatas namakan amal perbuatan itu padamu."

Sebagaimana firman-firman الله: 
Hai hambaKu yang beriman, Hai orang-orang yang beriman.

Padahal الله yang memberikan iman itu, karena itu jawaban hamba: 
Engkau ya الله yang memberikan karunia iman kepadaku, sehingga aku berbuat taat, padahal saya sendiri tiada berdaya dan tidak berkekuatan kecuali semata-mata dengan pertolonaganMu.

Sahal bin Abdulloh رضي الله عنه berkata: 
Jika hamba berbuat kebaikan, lalu ia berkata: Ya الله, Engkau yang memberi karunia,taufiq sehingga aku Engkau jadikan hamba yang berbuat kebaikan. Engkaulah yang memberi pertolongan, Engkaulah yang memberi kemudahan mengerjakan kebaikan.
Niscaya الله memuji kepada hamba itu, dengan sabdanya: Hambaku engkau telah berbuat taat dan taqorrub (mendekatkan diri) kepadaKu.
Sebaliknya jika hamba itu merasa dia yang beramal (lupa dengan taufiq dan pertolongan الله) lalu berkata: aku telah beramal, telah bertaqorrub dll, maka الله mengabaikan (berpaling) pada mereka sambil bersabda: Hai hambaku, Aku yang memberi taufiq hidayah padamu, dan Aku yang memberi pertolongan padamu,memberi kemudahan berbuat baik padamu.

Apa bila hamba berbuat kejahatan lalu berkata: Ya الله, Engkau yang telah menaqdirkan aku untuk berbuat kejahatan, dan Engkau yang telah memutuskan.
 Maka الله menjawab: Hai hambaku, kaulah yang salah (berbuat kesalahan/ jahat), kaulah yang bodoh, dan berbuat maksiat. 
 Sebaliknya jika hamba yang berbuat dosa itu berkata: Ya الله, aku telah berbuat salah, dholim pada diriku sendiri karena kebodohanku. Maka dijawab oleh الله: HambaKu, Aku yang menentukan, menaqdirkan dan menutupi kesalahanmu serta mengampuni dosa-dosamu. 

 لانهاية لمذامّك ان ارجعك اليك ولا تفرغ مداءحك ان اظهر جوده عليك 

”Tiada batas akhirnya kejelekanmu jika الله mengembalikan engkau kepada kekuatan usaha daya upayamu sendiri, dan tidak ada habisnya kebaikanmu, jika الله memperlihatkan kemurahanNya padamu (pada dirimu) ."

Apabila الله mengembalikan amal pada kamu sendiri artinya الله tidak memberi bantuan, taufiq, hidayah dan pertolongannNya padamu, maka kamu akan selalu (tidak ada akhirnya) melakukan pekerjaan yang dicela oleh syara’. Sehingga tidak ada amal yang dianggap baik menurut الله, walaupun kelihatannya ibadah dan amal kebaikan.

رَسُول اللهﷺ  bersabda dalam do’anya: 
“أصلح لي شأني كله ولا تكلني إلى نفسي طرفة عين” 

(“Ya الله, perbaikilah urusanku semuanya, dan jangan Kau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walaupun sekejap mata”.) 

Sumber:  https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar