Minggu, 14 Juni 2020

Dakwah dan Kearifan Lokal


Oleh: KH Ali Mustofa Ya'qub

Bulan Agustus 1982, almarhum Bapak Mr (Mester in de Rechte/Sarjana Hukum) H Muhammad Roem memberikan ceramah di hadapan anggota Young Muslim Association in Europe (YMAE), yang akrab di kalangan masyarakat Indonesia dengan sebutan PPME (Persatuan Pemuda Muslim Eropa), di kediaman Bapak H Hambali Ma'sum di Denhaag, negeri Belanda. 

 


Pak Roem mengatakan bahwa Buya Hamka pernah ditanya oleh Dr Syauqi Futaki (Ketua Japan Islamic Congress), "Apa penyebab orang Indonesia, khususnya orang Jawa, begitu mudah masuk Islam dengan serentak dalam jumlah yang banyak tanpa ada konflik sedikit pun?" Menurut Pak Roem, Buya Hamka saat itu menjawab, "Itulah yang sedang saya pelajari." Buya Hamka rahima hullah wafat pada tahun 1984. Semoga sebelum itu, beliau sudah menemukan jawaban yang dipelajarinya tadi.

 


Para ahli berbeda pendapat tentang kapan Islam masuk ke Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Sebagian berpendapat, Islam sudah masuk di Kepulauan Indonesia abad pertama Hijriyah (sekitar abad ke-7 atau 8 Masehi). Sebagian berpendapat, Islam masuk ke Indonesia abad ke-14 Masehi.

 


Kendati begitu, para ahli sependapat Islam masuk ke Indonesia tidak melalui cara-cara kekerasan dan lain sebagainya, melainkan dengan cara yang sangat damai. Para ahli juga tampaknya sependapat bahwa pendekatan dakwah yang dilakukan para dai yang datang dari Jazirah Arab, khususnya dari Hadhra maut, adalah pendekatan kultural. Sehingga, masyarakat khususnya di tanah Jawa tidak merasa terusik sedikit pun dalam masalah sosial budaya.

 


Apabila kita mengamati masalah sosial budaya di kalangan masyarakat Jawa saat ini, maka tampaknya pendapat di atas dapat dibenarkan. Peninggalan Islam yang merupakan warisan para dai yang sering disebut dengan para wali sangat kental sekali dengan budaya-budaya lokal alias budaya Jawa.

 

Kendati mereka banyak berasal dari negeri Arab, mereka tidak serta-merta mengubah secara radikal budaya lokal dengan budaya Arab. Mereka justru membaur dan meleburkan diri dengan budaya lokal alias budaya Jawa.

 


Arsitektur masjid-masjid yang mereka tinggalkan, semisal Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya, Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus, dan lain-lain menunjukkan bahwa para dai itu sangat arif dengan budaya-budaya lokal sehingga mereka tidak menggantinya dengan budaya Arab. Arsitek masjid-masjid tersebut sampai sekarang menjadi saksi sejarah tentang begitu bijaknya para dai dalam berdakwah sehingga bangunan-bangunan tersebut masih kental dengan budaya Jawa.

 


Bagi para dai, bangunan bukanlah akidah dan bukan ibadah, melainkan bagian dari muamalah. Maka sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam, budaya-budaya tersebut tetap mereka lestarikan. Hasilnya, orang Jawa tidak merasa kaget memasuki masjid karena merasa masuk ke rumah adat mereka sendiri.

 


Menurut catatan para ahli, para dai di samping melestarikan budaya fisik seperti arsitektur Jawa dalam bangunan masjid, juga melakukan pendekatan kultural dalam menyampaikan pesan keislaman kepada masyarakat Jawa. 


Dr Purwadi MHum, Rektor Institut Kesenian Jawa di Yogyakarta, dalam bukunya Dakwah Sunan Kalijaga, menyebutkan, para wali khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga dalam mentransformasikan ajaran-ajaran Islam, menciptakan tembang-tembang (lagu-lagu) seperti tembang Dandang Gulo dan sebagainya.

 

Di bidang sosial, khususnya di kawasan pesisir utara Jawa Tengah, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang tidak mengonsumsi daging sapi. 


Di daerah Pekalongan, misalnya, kita akan melihat apa yang namanya bakso kerbau, bukan bakso sapi. Bahkan, sebagai bagian dari masyarakat pesisir utara Jawa Tengah, kami mengonsumsi daging sapi setelah kami tinggal di Jawa Timur.

 


Konon, ketika Islam masuk di kawasan utara Jawa Tengah, masyarakat yang saat itu masih beragama Hindu sangat keberatan apabila orang Islam membunuh dan mengonsumsi sapi, hewan yang mereka sucikan. Maka dalam rangka dakwah, para dai melakukan pendekatan sosial dengan tidak mengonsumsi daging sapi. Inilah bentuk-bentuk kearifan lokal yang dilakukan para dai dalam menjalankan dakwah pada saat itu. Dan hasilnya adalah seperti yang dikatakan oleh Dr Syauqi Futaki.

 


Saat ini, ada kecenderungan para dai tidak memperhatikan kearifan lokal seperti tersebut di atas. Dalam masalah sosial budaya, tampak ada sebuah pemaksaan harus bercorak Arab. Pakaian harus dengan jubah dan ubel-ubel serban yang membungkus kepala. Bangunan masjid juga mesti berbentuk kubah, kendati sebenarnya kubah bukan dari Arab melainkan dari gereja Byzantium.

 


Di Bali, Kalimantan Utara, dan lain-lain, kami sempat menanyakan ketika warga setempat membangun masjid, "Mengapa ornamen Bali dan Dayak tidak Anda masukkan dalam masjid yang sedang Anda bangun?" Kami mengatakan, sekiranya masjid di Bali memasukkan ornamen-ornamen Bali, dan masjid di Kalimantan Utara memasuk kan ornamen-ornamen Dayak, maka orang Bali dan orang Dayak akan mudah dan tidak merasa terkejut saat memasuki masjid karena mereka merasa memasuki rumah adat mereka sendiri. [FM]

 


Sumber : REPUBLIKA, 08 April 2014


KHAli Mustafa Yaqub (Alm) ; Imam Besar Masjid Istiqlal dan Ketua Umum IPIM (Ikatan Persaudaraan Imam Masjid)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar