Minggu, 14 Juni 2020

Adab Berdoa


 ماشاءن وجودالطلب انّما الشاءن ان ترزق حسن الاداب 

”Yang terpenting bagimu, bukannya sekedar meminta (berdo’a), tetapai yang terpenting adalah jika kau diberi baiknya adab/ tata karma kepada Tuhanmu."

Sebab karena adab, kamu bisa memperlihatkan ‘Ubudiyyahmu, dan mencukupi hak-haknya ke-Tuhanan الله. dan juga bisa menerima apa yang diberi oleh الله, tanpa merasa kurang atau kecil. Sebagai kebiasaannya seorang tuan (majikan) itu mencukupi semua kebutuhan hambanya, demikian pula kewajiban seorang hamba menyerah dan pasrah kepada kebijaksanaan aturan Tuhannya. 

 ماطلب لك شيء مثل الاضطرار ولا اسرع بالمواهب اليك مثل الذلة والافتقار 

“Tiada sesuatu yang menyegerakan terkabulnya permintaan (do’a) seperti dalam keadaan terpaksa (sangat butuh), dan tiada sesuatu yang dapat menyegarakandatangnya pemberian dari الله seperti menyatakan rendah diri, dan sangat fakir."

Lafadz “Walaa as-ro’a” itu sebagian dari ‘atof lazimnya Malzum. Karena hina fakir itu menjadi sifat wajibnya orang mudhtor.

الله berfirman:

  “أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ "

(“Siapakah yang dapat menyambut (menjawab) do’a orang yang terpaksa bila berdo’a kepadanya”. An-naml 62).

Mudh-thor yaitu orang yang sangat terpaksa (butuh), yang merasa sudah tidak ada daya tidak ada kekuatan lain yang dapat menolongnya, kecuali hanya الله semata-mata. Orang yang demikianlah yang pasti segera tercapai hajat kebutuhannya,dan itulah yang bernama tauhid (meng-Esakan الله).  

Dan ini diisyratkan oleh الله dalam firmannya: “وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ”. 

(sungguh الله telah menolong kamu (memenangkan kamu) dalam perang badar, ketika kamu dalam keadaan hina, rendah diri tidak berdaya”.) 

Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar