Selasa, 12 Mei 2020

Mbah Cholil, Kiai dan Politikus Pencinta Sepak Bola

KH Muhammad Cholil Bisri


KH MUHAMMAD Cholil Bisri (Mbah Cholil) lahir 12 Agustus 1941 di Rembang, bertepatan dengan 27 Rajab 1263 H. Mbah Cholil adalah putra sulung pasangan KH Bisri Mustofa dan Nyai Hj Ma'- rufah binti KH Cholil Harun. Mbah Cholil menikah dengan Nyai Muhsinah binti KH Soimuri Solo dan dikarunia delapan putra-putri.

Sebagian putranya mengikuti jejak sebagai seorang kiai (KH Yahya Cholil Staquf, Katib Am PBNU dan anggota Wantimpres). Ada pula yang mewarisi naluri politiknya seperti Gus Yaqut Cholil Qoumas (anggota DPR dan Ketum GP Ansor). Putra terkecilnya, Zaim Cholil Mumtaz, mewakili jiwa berkesenian. Sejak masih sugeng, Mbah Cholil fanatik dengan angka 7, 17 dan 27. Entah karena alasan apa, ketikamenentukan momen-momen penting seperti hari pernikahan putra-putrinya, beliau memilih bulan Rajab, Maulud atau Besar dengan tanggal yang ada angka tujuhnya. Bisa 7, 17 atau 27 Rajab.

Atas kehendak Allah Swt, beliau dipanggil sowan kehadirat-Nya juga pada Rajab tanggal 7, bertepatan dengan 24 Agustus 2004. Basis pendidikan utama yang ditempuh Mbah Cholil, sebenarnya hanya pesantren. Memang, beliau pernah sekolah formal di SR dan konon pernah kuliah UIN Sunan Kalijaga, tapi hanya beberapa saat dan tidak sampai lulus. Pesantren Lirboyo yang diasuh KH Mahrus Ali dan Pesantren Krapyak asuhan KH Ali Maksum, sangat penting membentuk jati diri dan keilmuan beliau.

Mbah Cholil juga beberapa tahun bermukim di Makkah. Menurut penuturan beliau, ada satu pesantren dan satu kiai yang tidak kalah penting dari dua pesantren itu, yaitu Pesantren Radhatut Thalibin Leteh, dan abahnya sendiri yang merupakan kiai pertamanya dan yang paling utama. Tidak banyak kiai yang mendapat julukan lengkap dari masyarakat seperti Mbah Cholil ini.

Kiai-politikuspenulis. Kekiaiannya dibentuk oleh pendidikan pesantren dan keluarganya sendiri yang merupakan keluarga kiai. Suara dan gaya orasinya khas, nyaris mirip seperti abahnya, KH Bisri Mustofa saat berpidato. Serius, mendalam tetapi segar dan humoris. Mbah Cholil tidak hanya menerima limpahan karakter ''singa podium'' dari abahnya, tetapi juga mewarisi naluri politik dalam aktivitas sosialnya. Mbah Cholil aktif di jamiyyahNU dan Banomnya sejak muda. Beliau pernah menjadi ketua Ansor Rembang dan juga pernah menjadi AĆ­wan dan Mustasyar PWNU Jawa Tengah.

Dalam organisasi politik, beliau pernah menjadi ketua Partai NU (saat NU menjadi partai politik pada 1971), ketua DPC PPP (ketika NU berfusi dengan PPP) dan menjadi pendiri dan deklarator PKB (saat reformasi 1999). Perihal aktivitas dalam politik yang akhirnya mengantarkan beliau hingga ke puncak karier sebagai wakil ketua Dewan Syuro PKB dan Wakil Ketua MPR RI, ada cerita menarik di baliknya. Pada mulanya, Mbah Cholil tidak tertarik dengan dunia politik. Mbah Cholil lebih memilih berkhidmat di pesantren. Justru adiknya, KH A Mustofa Bisri, yang memiliki naluri politik dan aktif di partai politik saat itu.

Hingga suatu saat, ketika Munas NU diadakan pertama kali pada 1981 di Kaliurang Yogyakarta, beliau bertemu dengan gurunya, KH Ali Maksum. Sebagaimana dilansir Nu.or.id, Mbah Ali Maksum bertanya (entah menegur) kepadanya, ''Kamu kok tidak ikut main politik seperti adikmu, Mustofa, kenapa?'' Dalam dunia menulis, Mbah Cholil dikenal sebagai kiai kolumnis yang unik dan tajam analisanya. Masalah sosial dan politik ditulis dengan cara yang apik dengan pendekatan ilmu-ilmu pesantren.

Yang fenomenal, tentu saja, adalah analisis beliau mengenai pertandingan sepak bola. Musim Piala Eropa dan Piala Dunia adalah saatsaat keramat di mana koran-koran besar berebut menerbitkan tulisantulisan beliau. Jelang Piala Dunia dan Piala Eropa, para santri wajib berbenah dan memeriksa semua peralatan yang memungkikan siaran langsung sepak bola dapat dinikmati tanpa gangguan. Begitu pertandingan dimulai, semua anak dan terutama cucu harus menyingkir. Tamu harus sabar menunggu. Semua kegaduhan dihilangkan. Bagi Mbah Cholil, yang bisa mengalahkan untuk tidak menonton sepak bola itu hanya satu, yaitu mengaji. Waktu itu, tahun 2004 adalah tahun politik saat di mana Mbah Cholil sedang sakit. Pada tahun itu juga sedang digelar Piala Eropa.

Dua momen yang sangat digemari, tidak dapat dilakukannya karena sakit. Mbah Cholil wafat pada 24 Agustus 2004, bertepatan dengan 7 Rajab 1424 H. 
Penulis adalah:(Abu Rokhmad Musaki, Dosen FISIPUIN Walisongo-54
di Muat Koran Suara Merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar