Rabu, 15 April 2020

Muhammad SAW, Seorang Bayi yang Penuh Keajaiban


 

Halimah (RA) mengatakan, "Aku datang ke Makkah bersama beberapa perawat penyusu bayi dari suku Bani Sa'd ibn Bakr, mencari bayi-bayi yang baru lahir. Saat itu adalah tahun yang buruk untuk mencari bayi susuan. Aku dan anakku tiba dengan mengendarai seekor keledai betina, sedangkan suamiku menuntun keledai betinanya yang tua dan tak memiliki setetes pun susu. Selama dalam perjalanan ini, kami bertiga tak dapat tidur di malam hari dan aku pun tak memiliki apa pun dalam dadaku untuk menyusui anak kami."

 

"Ketika kami sampai di Makkah, setiap wanita dari kelompok kami ditawari untuk menyusui Nabi Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam), untuk menjadi ibu susuannya. Tapi, semua menolak tawaran itu ketika tahu bahwa beliau adalah seorang anak yatim. Pada akhirnya, tak seorang pun teman wanitaku meninggalkan Makkah tanpa membawa seorang bayi, namun tak seorang pun mau menyusui Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam). Saat akhirnya aku tak dapat menemukan bayi susuan lain, aku berkata pada suamiku bahwa aku benci jika aku menjadi satu-satunya wanita dalam kelompok kami yang harus pulang kembali tanpa membawa seorang bayi, dan bahwa aku ingin membawa anak yatim itu."

 

"Saat aku pergi untuk menjemputnya, ia (sall-Allahu 'alayhi wasallam) sedang mengenakan pakaian wol, lebih putih daripada susu. Bau wangi misik menebar darinya. Di bawahnya terdapat sepotong kain sutra hijau, dan ia pun sedang terbaring di punggungnya dalam suatu tidur yang amat nyenyak. Aku berhati-hati untuk tak membangunkannya, karena keindahan dan kemuliaannya. Dengan berhati-hati aku mendekatinya, dan menaruh tanganku di dadanya, ia pun tersenyum dan membuka kedua matanya. Dari kedua matanya muncul suatu cahaya yang terpancar hingga ke Langit, sementara aku sedang melihatnya. Aku menciumnya di antara kedua matanya dan memberikan padanya dada kananku, dan memberikannya susu sebanyak yang ia mau. Kemudian aku pindahkan posisinya ke dada kiriku, tapi ia menolak. Begitulah selalu caranya menyusu padaku. Setelah ia puas, aku pun memberikan pada anak laki-lakiku bagiannya. Segera setelah aku membawanya ke tendaku, kedua dadaku pun mulai mengucurkan susu. Dengan karunia Allah, Muhammad minum hingga ia puas, demikian pula saudara laki-lakinya (anak Halimah, peny.). Suamiku pergi ke unta tua kami untuk memerah susu bagi kami, dan lihat, ia penuh dengan susu. Suamiku memerah susu dari unta kami cukup banyak buat kami berdua untuk kami minum hingga kami puas, dan kami pun melalui suatu malam yang indah. Kemudian suamiku berkata, 'Oh, Halimah, sepertinya kau telah mengambil suatu ruh yang barakah.' Kami melalui malam pertama dalam barakah dan karunia, dan Allah terus memberikan pada kami lebih banyak dan lebih banyak sejak kami memilih Muhammad."

 

"Aku pun memohon pamit pada ibunda Nabi, dan menunggangi keledai betinaku, sambil membawa Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam) di kedua tanganku. Keledaiku mengejar dan melampaui semua hewan milik orang-orang lain yang datang sebelumnya bersamaku, mereka melihat hal ini dengan penuh rasa takjub. Saat kami tiba di kampung Bani Sa'd, suatu kampung yang merupakan salah satu bagian paling kering dari tanah ini, kami menemukan domba-domba kami penuh dengan susu. Kami memerahnya dan dapat meminum banyak-banyak dalam suatu masa di mana tak seorang pun lainnya mampu menemukan setetes pun susu dalam suatu kelenjar perah. Yang lain mulai menceritakan hal ini pada yang lainnya, 'Pergilah merumput ke tempat gembala putri Abu Tsu'aib biasa pergi.' Tetap saja, domba-domba mereka kembali dalam keadaan lapar, tanpa susu ditemukan dalam tubuh mereka, sedangkan domba-dombaku kembali penuh dengan susu."

 

Paman Nabi, Al 'Abbas (RA) berkata, "Wahai, NabiyAllah, yang membuat diriku masuk dalam agamamu adalah karena aku menyaksikan salah satu tanda kenabianmu. Aku melihatmu dalam tempat tidur bayimu (ketika Nabi (sall-Allahu 'alayhi wasallam) masih kecil) sedang bercakap dengan lembut pada bulan dan menunjuknya dengan jarimu. Dan bulan itu bergerak di langit ke arah mana pun kau menunjuknya." Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam) bersabda, "Saat itu, aku memang sedang bercakap dengannya, dan ia pun berbicara kepadaku, mengalihkan perhatianku agar tak menangis. Aku dapat mendengar suara sujudnya di bahwa 'Arasy."

 

Dalam Fath Al Bari diriwayatkan pula bahwa Nabi Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam) berbicara ketika saat pertama ia dilahirkan.

 

Ibn Sab' menyebutkan bahwa tempat tidur bayi Nabi Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam) diayun-ayun oleh para Malaikat.

 

Ibn 'Abbas (RA) mengatakan bahwa Halimah (RA) biasa meriwayatkan bahwa ketika ia pertama kali menyapih Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam), ia (sall-Allahu 'alayhi wasallam) berbicara, dan berkata, "Allah (SWT) paling Agung dalam Keagungan-Nya, dan segala puji hanya bagi Allah, dan Maha Suci Allah di permulaan dan di akhir." (Allahu Akbar Kabiiran, wal hamdu lillahi katheeran, wa subhanallahi bukratan wa ashiilan.) Saat ia telah tumbuh lebih besar, ia biasa pergi keluar, dan ketika ia melihat anak-anak lain bermain, ia akan menghindari mereka.

 

Ibn 'Abbas (RA) berkata bahwa al Shayma'a (RA), saudara tiri perempuan Nabi, menyaksikan bahwa sebagai seorang anak laki-laki, beliau dinaungi suatu awan. Awan itu berhenti ketika beliau berhenti dan bergerak ketika beliau bergerak. Beliau tumbuh tidak seperti anak laki-laki biasa. Halimah berkata, "Ketika aku menyapihnya, kami membawanya ke ibunya, sekalipun kami masih menginginkan agar ia tinggal bersama kami lebih lama karena semua barakah yang telah kami saksikan ada padanya. Kami meminta pada ibunya untuk mengizinkannya tinggal lebih lama dengan kami sampai ia tumbuh lebih kuat, karena kami khawatir atasnya tinggal di lingkungan yang tak sehat seperti Makkah. Kami terus meminta sampai akhirnya ibunya menyetujui untuk mengirimkannya kembali bersama kami." [FM]

 

Allahumma shalli afdalas salaati 'ala habiibikal mushtofa sayyidina muhammadin wa 'ala aalihi wasahbihi wasallaam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar