Jumat, 03 April 2020

Karunia Atau Istidroj ?





خـَفْ مِنْ وُجُودِ اِحْساَنِهِ اِلَيْكَ وَدَوامِ اِساَءَتِكَ مَعَهُ اَنْ يكونَ ذٰلِكَ اِسْتِدْراَجاًلكَ، سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَيَعْلموُنَ

"Hendaknya engkau merasa takut jika engkau selalu mendapat karunia الله, sedangkan engkau masih tetap dalam perbuatan maksiat kepada-Nya, jangan sampai karunia itu semata-mata istidraj oleh الله. Sebagaimana firman الله: "Sanas-tadri-juhum min-haytsu laa ya'lamuna" [Akan Aku putar (binasakan pelan-pelan) mereka itu dengan jalan yan mereka tidak mengetahui].”

Hikmah ini menjadi jawaban soal dari hikmah sebelumnya, yakni: kita tahu banyak yang tidak mensyukuri nikmat,tetapi nikmatnya tidak hilang bahkan bertambah; maka Mushonnif menjawab dengan hikmah ini. Yaitu: itu semua istidroj dari الله,
Istidraj, ialah mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa kemudian dibinasakan, juga berarti memperdaya.

Firman الله سبحانه وتعالى:

(فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ)

"Maka ketika mereka telah melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Kami bukakan bagi mereka pintu bagi tiap-tiap sesuatu, hingga apabila mereka senang dengan apa yang diberikan kepada mereka, tiba-tiba Kami datangkan siksa atas mereka, maka mereka berputus asa." [QS. Al-An'am 44].

Demikianlah sebuah ibarat istidraj, Tiap-tiap seseorang berbuat dosa ditambah dengan nikmat, dan dilupakan untuk meminta ampun [istighfar] atas kesalahannya itu.

Sebagian dari istidroj lagi yaitu dawuh Mushonnif pada makalah berikutnya

Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar