Jumat, 20 Maret 2020

Bersandarkan Kepada Allah, Jangan Kepada Amal




مِنْ علاماتِ الا ِعْتِمادِ عَلىَ العَملِ نـُقـَصَانُ الرَّجاءِعِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلل ِ


“Sebagian dari tanda bahwa seorang itu bergantung pada kekuatan amal dan usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan atas rahmat dan karunia الله ketika terjadi padanya suatu kesalahan dan dosa.

Orang yang melakukan amal ibadah itu pasti punya pengharapan kepada الله, meminta kepada الله supaya hasil pengharapannya, akan tetapi jangan sampai orang beramal itu bergantung pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu الله,. sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada الله. sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rohmat الله, maka amalnyapun akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal.

Seharusnya dalam beramal itu semua dikehendaki dan dijalankan oleh الله. sedangkan diri kita hanya sebagai media berlakunya Qudrat الله.

Kalimat: لااله الا الله . Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali الله, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan الله.

Pada dasarnya syari’at menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syari’at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat الله سبحانه وتعالى .

Apabila kita dilarang menyekutukan الله dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan الله dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan الله, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia الله سبحانه وتعالى .

Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar