Jumat, 20 Maret 2020

MUQODDIMAH ALHIKAM SYEKH IBNU 'ATHO'ILLAH ASSAKANDARY RA




Abul Hasan asy-Syadzily رضي الله عنه berkata: Pengembaraan kami terdiri diatas lima: 
1. Taqwa kepada الله lahir dan batin dalam kesendirian dan di depan publik. 
2. Mengikuti sunnah ﷺ رَسُول الله dalam semua kata dan perbuatan. 
3. Mengabaikan semua makhluk dalam kesukaan ataupun dalam kebencian mereka. [tidak menghiraukan apakah mereka suka atau benci]. 
4. Rela [ridha] menurut hukum [takdir] الله, baik yang ringan maupun yang berat.
5. Kembali kepada الله dalam suka dan duka. Maka untuk melaksanakan taqwa harus berlaku wara' [menjauh dari makruh, subhat dan haram] dan tetap istiqamah dalam mentaati semua perintah dan tetap tabah tidak berubah. Dan untuk melaksanakan sunnah رَسُول الله ﷺ, harus berhati-hati dan menerapkan budi pekerti yang baik. Dan mengabaikan makhluk dengan sabar dan tawakkal [berserah diri kepada الله سبحانه وتعالى ]. Rela [ridha] pada الله atas segala takdir-Nya dan merasa cukup dan tidak tamak terhadap sesuatu. Mengembalikan segala-galanya hanya kepada الله dalam suka dan duka dengan bersyukur dalam suka dan berlindung kepada-Nya dalam duka. Dan semua ini pada intinya ada 5 hal:
1. Semangat yang tinggi. 
2. Berhati-hati pada yang haram dan menjaga kehormatan. 
3. Taat dan memahami diri sebagai seorang hamba.
4. Melaksanakan kewajiban. 
5. Menghargai nikmat. 
Maka barangsiapa yang bersemangat tinggi, pasti naik tingkat derajatnya. Dan barangsiapa yang meninggalkan larangan yang diharamkan الله, maka الله akan menjaga kehormatannya. Dan barangsiapa yang benar dalam taatnya, pasti mencapai tujuan kebesaran-Nya dan kemulian-Nya. Dan barangsiapa yang melaksanakan kewajibannya dengan baik, maka bahagia hidupnya. Dan barangsiapa yang menghargai nikmat, berarti mensyukuri dan selalu akan menerima tambahan nikmat yang lebih besar.
 Abul Hasan asy-Syadzily رضي الله عنه berkata: Aku dipesan oleh guruku [Abdul Salam bin Masyisy رضي الله عنه] : "Janganlah kamu melangkahkan kaki kecuali untuk sesuatu yang dapat mencapai keridhaan الله, dan jangan duduk di majlis kecuali yang aman dari murka الله. Dan jangan bersahabat kecuali kepada orang yang dapat membantu berbuat taat kepada الله. Dan jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang menambah keyakinanmu terhadap الله, yang demikian ini sudah jarang untuk didapat.
Sayid Ahmad al-Badawi رضي الله عنه berkata: "Perjalanan kami berdasarkan kitab الله dan sunnah رَسُول الله ﷺ: 
1. Benar dan jujur. 
2. Bersih hati. 
3. Menepati janji. 
4. Bertanggung jawab dalam tugas dan derita. 
5. Menjaga kewajiban.

👉🏻 https://telegram.me/kitabhikam
•══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎══════•
◎ *اللهم اجعلنا من العلماء العاملين المخلصين*◎

••●══❁══◎✾☆﷽☆✾◎══❁══●••
*اللهُم  َّصلِّ  علٰى  سَيِّدنا  مُحَمّدٍ  عبدِكَ  وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ*
•══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎══════•
                   🅐🅛 🅗🅘🅚🅐🅜 
*MUQODDIMAH ALHIKAM SYEKH IBNU 'ATHO'ILLAH ASSAKANDARY RA (3)*

 "Seorang muridnya yang bernama Abdul Ali bertanya: Apakah syarat yang harus diperbuat oleh orang yang ingin menjadi wali الله? Jawabnya: Seorang yang benar-benar dalam syariat ada 12 tanda-tandanya: 
1. Benar-benar mengenal الله [yakni mengerti benar tauhid dan penuh keyakinan kepada الله].
2. Menjaga benar-benar perintah الله. 
3. Berpegang teguh pada sunnah رَسُول الله ﷺ. 
4. Selalu berwudhu [bila berhadas segera berwudhu kembali]. 
5. Rela menerima ketentuan [takdir] الله dalam suka maupun duka. 
6. Yakin terhadap semua janji الله. 
7. Putus harapan dari semua apa yang di tangan mkhluk. 
8. Tabah, sabar menanggung berbagai derita dan gangguan orang. 
9. Rajin mentaati perintah الله. 
10. Kasih sayang terhadap semua makhluk الله. 
11. Tawadhu, merendah diri terhadap yang tua dan muda. 
12. Menyadari selalu bahwa syaitan itu musuh yang utama.

Sedang kendaraan syaitan itu dalam hawa nafsumu dan selalu berbisik untuk mempengaruhimu. Firman الله: "إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا" [Sesungguhnya syaitan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. QS. Fathir 6]. Kemudian Ahmad Badawi melanjutkan nasehatnya; Wahai Abdul Ali: Berhati-hatilah kepada cinta dunia, sebab itu bibit segala dosa dan dapat merusak amal saleh. Sebagaimana sabda رَسُول الله ﷺ: "حب الدنيا رأس كل خطيئة" [Cinta pada dunia itu sumber segala kejahatan]. Sedang الله subhanahu wataala berfirman: ''إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُون" [Sesungguhnya الله berserta orang-orang yang bertakwa, dan orang-orang yang berbuat kebaikan. QS. an-Nahl 128]. Orang boleh mempunyai kekayaan di dunia ini, tetapi ﷺ رَسُول الله melarang jangan cinta dunia, seperti Nabi Sulaiman عليه السلام dan para sahabat yang kaya, kita harus menundukkan dunia, dunia tidak boleh di letakkan dalam hati. Wahai Abdul Ali! Kasihanilah anak yatim dan berikan pakaian pada orang yang tidak berpakaian, dan beri makan pada orang yang lapar, dan hormatilah tamu dan orang dalam perantauan, semoga semoga dengan begitu kamu diterima oleh الله. Dan perbanyaklah dzikir, jangan sampai termasuk golongan orang yang lalai disisi الله. Dan ketahuilah bahwa satu rakaat di waktu malam lebih baik dari seribu rakaat di waktu siang, dan jangan mengejek/merendahkan orang yang tertimpa musibah. Dan jangan berkata ghibah atau namimah [membicaraka aib seseorang atau mengadu domba seseorang dengna yang lain]. Dan jangan membalas mengganggu orang yang telah mengganggumu. Dan maafkan orang yang menganiayamu. Dan berilah pada orang yang kikir padamu. Dan berlaku baik pada orang yang jahat padamu. Dan sebaik-baik moral [budi pekerti] seseorang ialah yang sempurna imannya. Dan barangsiapa tidak berilmu, maka tidak berharga di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang tidak sabar, tidak berguna ilmunya. Barangsiapa yang tidak dermawan, tidak mendapat keuntungan dari kekayaannya. Barangsiapa tidak sayang kepada sesama manusia, tidak mendapat hak syafaat disisi الله. Barangsiapa yang tidak bertakwa, tidak berharga disisi الله. Dan barangsiapa yang tidak memiliki sifat-sifat ini, tidak mendapat tempat di surga. Berzikirlah kepada الله dengan hati yang khusyu' dan waspadalah terhadap sesuatu yang melalaikan, sebab lalai itu menyebabkan hati beku. Dan serahkan dirimu pada الله, dan relakan hatimu menerima musibah, ujian sebagaimana kegembiraanmu ketika menerima nikmat dan tundukkan hawa nafsu dengan meninggalkan syahwat.

sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar