Kamis, 06 Februari 2020

Bila Perdukunan Menggunakan topeng Tasawwuf

Status : Di Indonesia, perdukunan menggunakan topeng tasawwuf. 

Komen: orang-orang tasawwuf berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Lihat siapa yang sekarang mengaku-ngaku paling berjuang. Jelas, status di atas adalah upaya untuk mengecilkan tasawwuf. 

Respon: 

Komen di atas adalah contoh komen sumbu pendek. Baca langsung menyimpulkan tanpa mencerna. Mana kalimat di dalam status yang mengarah kepada upaya mengecilkan tasawwuf? Jika dikatakan bahwa ada praktek perdukunan yang menggunakan topeng tasawwuf, itu bukan berarti tasawwuf menjadi salah. Penekanannya ada pada kata "menggunakan" dan "topeng". Itu artinya, perdukunan yang sudah dianggap buruk itu ingin tampil dalam citra yang baik. Tasawwuf adalah kebaikan. Dan citra positif tasawwuf itu yang kemudian "dimanfaatkan" untuk menutup busuknya praktek perdukunan. 

Status di atas justru dimaksudkan untuk "menyelamatkan" citra tasawwuf yang sudah diseret jauh oleh praktik perdukunan. Karena tidak sedikit hari ini, dukun-dukun yang mengaku-ngaku sebagai mursyid. Sedangkan di dalam tasawwuf itu sendiri, posisi mursyid itu sendiri bukan dari pengakuan pribadi. Dan memang tidak mudah, mencapai posisi mursyid. Namun perdukunan telah memanipulasi persepsi itu. 

Untuk melihat lebih jelas perbedaan di antara tasawwuf dan perdukunan adalah: 

1. Tasawwuf mengajarkan orang untuk menguatkan tauhid. Sedangkan perdukunan mengajak orang untuk mengarah kepada perbuatan syirik. Di antara tanda perbuatan syirik yang diperkenalkan para dukun adalah menggantungkan keselamatan dan nasib kepada khodam jin, yang sering disalahartikan sebagai malaikat. Tasawuf justru mengingatkan orang untuk hanya bergantung kepada Allah;

2. Makna hakikat di dalam tasawwuf, tercapainya kenikmatan ma'iyyatullah (kebersamaan dengan Allah) dalam semua keadaan. Sedangkan makna hakikat di dalam perdukunan adalah berhasilnya seseorang melihat arwah orang yang sudah wafat dan makhluk-makhluk halus;

3. Di dalam tasawwuf, hakikat itu ditunjukkan dengan bersifat responsif dalam urusan ketaatan. Sedangkan di dalam perdukunan, hakikat itu diwujudkan dengan mengutamakan ibadah batin daripada ibadah lahir. Sehingga, menurut mereka, orang yang mencapai hakikat itu tidak perlu lagi sholat. Karena sholat adalah ibadah lahir. Justru ibadah yang paling utama--menurut anggapan para dukun--adalah ibadah batin. Yaitu dengan mengheningkan cipta, eling, mengumpulkan energi cakra, untuk mendapat sejatining rahayu. 

4. Di dalam perdukunan, maksiat hanyalah mengurangi ketajaman mata batin, bukan merupakan perbuatan berdosa, selama masih eling kepada Tuhan.  Sedangkan di dalam tasawwuf, maksiat adalah pengkhianatan kepada Allah. Maka, dalam pandangan tasawwuf, hukuman orang yang selalu melakukan perbuatan maksiat adalah hilangnya kenikmatan di dalam beribadah kepada Allah walaupun ia "rajin" beribadah. 

Masih banyak lagi...
Sumber : Ust. Abdi Kurnia Djohan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar