Minggu, 22 Desember 2019

Aib Dibuka di Mana-mana

Mohamad Sobary

Oleh: Mohamad Sobary
 
Seorang pemuda yang hidup sukses diwawancarai sebuah media. Hasil wawancara dicetak dan diedarkan di pasaran bebas.

Sebagian disiarkan di televisi, disertai latar belakang rumah mewah, kolam renang, mobil-mobil mewah, dan anjing-anjing mahal. Dalam sekejap anak muda yang sukses itu menjadi sangat terkenal di seluruh Tanah Air.


Tak mengherankan, para tetangga, sahabat, dan kenalan orang tuanya di kampung, di seberang lautan yang jauh dari sini, bahkan yang sebetulnya tidak kenal pun, ikut hiruk-pikuk, seolah hidup mereka juga harus diabdikan untuk turut “merayakan” kebanggaan orang tua yang anaknya mampu mengguncang dunia, hanya melalui satu kali penampilan di media cetak sekaligus di layar televisi.


Martabat orang tuanya mendadak naik tajam seperti harga saham di bursa efek yang gampang goyah, gampang berubah, dan kaget-kagetan secara dadakan. Seperti kejutan di bursa saham, sebentar kemudian, rumah orang tuanya dirombak total, diganti bangunan megah, dan paling modern di kota kecilnya. Jantung para tetangganya harus kuat untuk menghadapi kejutan demi kejutan berikutnya.


Di arisan, di pengajian, di pestapesta, ibunya menyebarkan berita kehebatan anaknya tanpa tedeng aling-aling lagi. Kemajuan anaknya dan sukses gilang gemilang yang memancarkan cahayanya hingga di seberang laut itu menjadi seperti dongeng: tanpa proses, tanpa jerih payah, tahu-tahu kejutan besar muncul. Sejak siaran media nasional, terutama siaran televisi yang hebat itu, sang ibu ikut menjadi sejenis bintang yang kerlap-kerlip di langit.


Sang ibu sadar bahwa kemajuan anaknya membawa pengaruh dan kewibawaan besar baginya. Para tetangga pun terkagum-kagum. Media lokal yang membebek media Jakarta rajin mendatangi ibu yang berbahagia itu untuk melakukan wawancara mengenai suasana hati dan kehidupan keluarganya. Sebagian sekadar wawancara “gosip-gosipan” yang tak keruan ujung pangkalnya. Tapi, sang ibu jelas bangga bukan kepalang. Masuk koran tanpa susah payah dianggap suatu berkah tak terhingga.


“Bagaimana perasaan ibu punya anak yang sukses besar di Jakarta?’


“Alhamdulillah, ya gimana ya Dik wartawan? Allah mahamengabulkan cita-cita saya. Alhamdulillah deh. Bangga ibu rasanya.”

“Oh, jadi hal ini memang dirancang, dan dicita-citakan oleh ibu?”


“Saya yang mengandungnya selama sembilan bulan, tak pernah lupa membentenginya dengan doa-doa dan permohonan supaya dia sukses. Dia sudah sukses. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Kita bersyukur. Ini sukses besar. Anak saya memang sudah kelihatan pintar sejak kecil. Ibu bangga.”


“Bangunan rumah itu nilainya pasti lebih satu miliar rupiah ya?”


“E, eeee…jangan remehkan kami. Belum separuh selesai saja sudah habis tiga miliar. Mungkin nanti bisa habis barang tujuh atau delapan miliar.” Media lokal ini pun mengguncang masyarakat setempat.


Wawancara itu ditulis sebagai reportase, judulnya besar, mencolok, dengan huruf-huruf tebal. Foto sang ibu, yang berjilbab dan jari-jari kanannya tak henti-hentinya memutar-mutar tasbih, tampak disengaja betul untuk dijadikan fokus. Foto itu besar, mencolok, dan memancarkan daya tarik mengagumkan bagi kaum ibu, teman-teman pengajian, di mana sang ibu menjadi anggota.


Bangunan yang belum jadi juga ditaruh di latar belakang, melengkapi gambaran sukses keluarga itu. Sejak hari penerbitan media itu, ibu dan keluarganya mandi puja-puji dan kekaguman massa. Mereka dianggap ikon kemajuan di kota kecilnya dan para tetangganya yang kekagumannya tak mungkin disembunyikan. Bukan bagian dari masyarakat kita kalau kekaguman itu berhenti di sana.


Gunjingan pun berkembang. Bahkan ada orang tua yang menjadikan anak sang ibu sebagai model. Anak-anak yang harus bermigrasi ke Jakarta harus juga meneladani sukses hebat itu. Keluarga sang ibu lalu menjadi seperti sebuah “kitab”’ yang ajarannya dijadikan panutan para tetangganya. Apa sebenarnya kerja anak sang ibu yang begitu mentereng hidupnya? Tidak ada orang yang tahu secara persis.


Dia ada di mana-mana di kalangan atas. Juga di antara para tokoh partai. Di pengajian, di seminarseminar, dan di tempat golongan intelektual berkumpul, dia selalu ada. Pergaulannya luas. Dunia bisnis pun menerimanya. Tapi, apa sebenarnya pekerjaannya? Di mana kantornya? Berapa anak buahnya? Mengenai hal ini tak ada orang yang tahu persis.


Bukankah tak penting, apa pekerjaannya? Bukankah yang penting orang bisa melihat hasil-hasilnya? Dia sukses. Sukses besar. Apa yang lebih penting dari itu, di mata masyarakat kita yang kagum akan materi, bangga melihat kesuksesan, tanpa peduli bagaimana sukses itu diraih. Orang sekarang tampaknya memandang hidup secara sederhana: sukses ya sukses. Di balik itu yang penting duit. Kantong tebal. Mobil mewah, rumah mewah.


Latar belakang sejarahnya bahwa dulunya miskin, orang tua miskin, kakek, dan kakek buyut juga miskin? Tak menjadi masalah. Yang miskin itu bukankah leluhurnya? Kalau dia sendiri sukses dan kaya apa salahnya? Dia juga gemar pidato tentang apa salahnya kaya. Di mana-mana dia bicara: apa salahnya kaya. Tentu saja tak ada salahnya.


Tapi, kalau orang miskin tiba-tiba kaya, tanpa sejarah, tanpa proses, apakah tidak salah? Logika bisnis seperti apa yang bisa membuat dalil pembenarannya? Moralitas agama dan tradisi macam apa yang bisa menerimanya sebagai kebenaran dan wujud keluhuran? Dia juga dermawan. Kaum miskin, anak-anak yatim piatu disumbang, dan disantuni.


Masjid-masjid disumbang. Tidakkah ini cukup menegaskan kebaikan yang dilandasi kesalehan agamais? Ini semua dimuat juga di media. Orang kampungnya sana kaget lagi mendengar kemuliaan ini. Sukses dan kesalehan tergabung dalam hidup seorang anak muda. Kejutan muncul tiap saat, meneguhkan kebahagiaan hidup orang tuanya, saudara-saudara, dan sanak kerabat di kampung.


Tapi sekali lagi, jantung para tetangganya, yang sudah menjadi pengagum fanatik itu, haruslah sekuat baja menghadapi banyak kejutan yang silih berganti. Sekarang kejutan baru muncul: media cetak, media “online”, televisi, dan radio, serentak menyiarkan berita baru yang mengejutkan; anak sang ibu, yang sukses luar biasa tanpa kerja keras itu, terlibat korupsi.


Ulahnya mengakibatkan kerugian besar bagi negara. Sejumlah angka disiarkan. Bersama siapa, dalam proyek apa, dan dengan taktik bagaimana korupsi itu dilakukan, semua disiarkan secara detil, jelas, tanpa menyisakan pertanyaan. Para tetangga di kampung yang jauh di mata, jauh dari Jakarta, juga mendengar siaran itu.


Bahkan ada televisi Jakarta yang datang ke kampung, mewawancarai ibunya, dan memotret bangunan yang belum selesai, dan tampaknya tak akan selesai itu. Para tetangga, pengagum, dan pemuja, yang menjadikan keluarga itu, terutama sang anak yang sukses sebagai teladan? Semua, ibaratnya, pingsan. Semua bisu.


Semua begitu malu telah mengagumi orang yang tak layak diluhurkan budinya. Aib pribadi, aib keluarga, aib tetangga, dan terbuka. Aib macam ini sekarang terbuka lebar di banyak pribadi yang korup, di banyak keluarga. Pendeknya, aib dibuka di mana-mana. [FM]


Sumber : KORAN SINDO, 27 Januari 2014
Mohamad Sobary ; Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar