Selasa, 26 November 2019

Dokter Sekarang Bagus, kok, Gus

Moh. Mahfud MD

Oleh: Moh Mahfud MD

MASIH sangat pagi ketika Senin 9 Februari 2015 saya mendapat pesan pendek (SMS) dari pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Salahudddin Wahid alis Gus Sholah. Gus Sholah menanyakan apa benar saya baru melakukan pengobatan atau terapi stem cell di Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya. Rupanya, Gus Solah mendapat cerita dari istrinya, Bu Nyai Farida, bahwa saya mengambil terapi itu. Sehabis menguji calon doktor di Undip pada Kamis 4 Pebruari lalu, saya memang bertemu dengan Bu Farida di lounge Garuda Bandara A. Yani Semarang. Saya bercerita bahwa saya akan ke Surabaya untuk pengobatan stem cell di RS dr Soetomo.

Melalui jawab-jinawab dengan SMS saya ceritakan kepada Gus Solah bahwa benar saya baru saja melakukan terapi stem cell. Yakni, semacam peremajaan organ-organ tubuh bagian dalam melalui sel punca dari tubuh sendiri. Caranya? Bagian luar perut saya dioperasi kecil untuk diambil dagingnya sebesar biji jagung, kemudian daging itu dikembangbiakkan selnya di inkubator selama dua minggu, setelah itu disuntikkan ke tubuh melalui dua tahap. Mula-mula disuntikkan melalui infus biasa dari punggung telapak tangan dan dua minggu kermudian dimasukkan melalui kateter di pangkal paha. Selesai.

Hasilnya? Minimal sampai sekarang lumayan bagus. Misalnya, kadar gula darah tidak lagi fluktuatif dan selalu dalam rentang normal. Teman-teman pun mengatakan bahwa saya tampak lebih segar dan energik. ’’Sakit atau tidak saat antum dioperasi untuk diambil daging di perut?’’ tanya Gus Sholah melalui SMS lanjutan. Saya tertawa mendapat pertanyaan itu. Rupanya, tanpa sadar, Gus Sholah masih membayangkan bahwa operasi itu sakit dan menakutkan seperti tiga atau empat dekade yang lalu.

Saya teringat ketika, pada 1964, saya disunat (dikhitan) di rumah sakit umum Pamekasan. Wow, sakitnya bukan main. Sakitnya persis yang digambarkan Anrdrea Hirata dalam novel tetraloginya Laskar Pelangi. Saat ujung daging ’’anu’’ dipotong juru supit, memang sakitnya bisa ditahan karena dibius secara lokal. Tetapi, sekitar satu jam sesudah itu sakitnya luar biasa dan saya menangis terus-menerus di mobil angkutan umum yang sesak dan apek dari kota Pamekasan ke Kecamatan Waru, tempat tinggal keluarga kami.

Rasa sakit itu masih terasa sampai besoknya dan baru hilang setelah kira-kira satu minggu. Pada 1960-an itu, jangankan dioperasi, mau disuntik biasa di lengan atau di pinggang saja sudah takut. Sebab, biasanya di bekas suntikan menjadi bengkak dan ngilu sampai beberapa hari. Itulah sebabnya, orang-orang pada zaman itu kalau akan disuntik seperti akan disembelih saja, kadang harus dipegangi oleh beberapa orang. Karena trauma suntikan, paman saya Abdul Hamid, kalau sakit, lari saat diberi tahu akan disuntik. Saking takutnya, dia bisa langsung sembuh sendiri kalau dibilang akan disuntik.

’’Tidak sakit, Gus. Tak terasa apa-apa,’’ tulis saya kepada Gus Sholah.

Sekarang ini sudah serbacanggih. Kita hanya disuruh tiduran, kemudian dibius lokal dengan menggunakan obat semprot atau obat gosok. Setelah itu, operasi dilakukan dan kita hanya merasa disentuh-sentuh dengan ringan, tahu-tahu sudah selesai. Begitu juga, saat diinjeksi melalui kateter, tidak terasa sakit sama sekali. Yang lebih asyik lagi, dokter-dokter itu melakukan operasi seperti mengerjakan hal-hal biasa saja. Mereka melakukan operasi dan terapi layaknya orang kantoran membaca atau menulis di meja kerja. Santai dan tidak menegangkan sama sekali.

Dokter Purwati, dokter Sonny, dokter Hartono yang menangani saya adalah dokter-dokter yang relatif muda, professional, dan penuh empati. Mereka juga adalah dosen di Fakultas Kedokteran Unair. Saat mengoperasi dan memasukkan sel ke tubuh dengan menggunakan kateter, dokter-dokter tesebut berbicara biasa seperti sedang duduk-duduk di ruang tamu, kadang bergurau satu sama lain. Saya pun diajak berbicara banyak hal, tentang kesibukan, tentang Madura sebagai kampung halaman, tentang gosip artis, tentang kuliner, dan lain-lain. Tahu-tahu, ’’Selesai, Prof. Tiduran saja dulu selama empat jam, setelah itu boleh pulang,’’ kata dokter Purwati.

Ilmu kedokteran dan berbagai teknologinya sekarang ini maju pesat. Dokter-dokter kita pun sudah mampu menguasai dan menerapkan itu dengan baik. Saya sudah pernah mengunjungi beberapa rumah sakit yang, konon, maju seperti klinik dr Block di Linggeris Jerman, RS Mahkota di Malaka, dan Mount Elizabeth di Singapura. Dari sudut keahlian dan profesionalitas, dokter-dokter kita tidak kalah sama sekali dari dokter-dokter mereka. Malah, Indonesia punya kelebihan karena dokter-dokternya penuh empati dan melayani kita dengan budaya Indonesia yang hangat dan bersahabat.

Di RSPAD Jakarta, misalnya, saya kenal seorang dokter muda yang ahli di bidang radiologi intervensi. Yakni, dokter Terawan yang bisa menangani penangkalan dan pengobatanstroke dengan sangat baik. Saat melakukan operasi, dokter Terawan biasanya sambil bersenandung mengikuti lagu-lagu klasik yang, tampaknya, sengaja disetel untuk menghilangkan ketegangan pasien. Dokter itu mengoperasi sambil mengajak pasien ngobrol-ngobrol ringan dan tahu-tahu, ’’Izin, sudah selesai, nDan,’’ katanya.

Jadi, buat apa bergenit-genit berobat ke luar negeri yang jauh dan mahal? Ilmu kedokteran dan teknologinya sudah dikuasai oleh dokter-dokter kita sendiri. Pemerintah tinggal mempermudah pengadaan perangkat teknologinya. ’’Tak sakit, kok, Gus. Gus Sholah ke sana saja. Dokter-dokter kita sudah oke.’’ [FM]

Sumber : JAWA POS, 13 Februari 2015
Moh Mahfud MD   ;   Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar