Kamis, 25 Juli 2019

Menikmati Kehidupan

M. Quraish Shihab


Oleh: M. Quraish Shihab

Ada secuplik doa menyatakan, Allâhumma matti’na bi asmâ’inâ, wa abshârinâ wa qawwâtinâ fi sabîlik (Ya Allah, anugerahilah kami kenyamanan melalui pendengaran kami, pandangan mata kami, dan semua potensi kami dalam jalan-Mu).

Yang menyenangkan mata adalah pemandangan indah, yang menyenangkan telinga adalah berita baik dalam suara merdu. Yang menyenangkan hidung adalah aroma yang harum, demikian seterusnya masing-masing memiliki kesenangannya yang dimohonkan kepada Allah agar dipenuhi. Nabi Muhammad saw. pun menyebut sekian banyak hal yang menyenangkan beliau dalam kehidupan dunia ini. Pemandangan yang indah, aroma yang harum serta perempuan, yakni pendamping—yang cantik, serasi, dan setia.

Al-Qur’an memerintahkan beliau mengecam yang mengharamkan perhiasan dan juga rezeki yang diciptakan Allah untuk hamba-hamba-Nya. “Semua itu disediakan dalam kehidupan dunia buat yang beriman (dan yang tidak beriman), dan khusus buat yang beriman saja di hari kiamat nanti (QS. al-A’râf [7]: 32).

Allah telah menghiasi bumi dan langit. Semua dipersilakan menikmatinya dalam batas yang dibolehkan Allah. Yang Mahakuasa itu memuji yang melakukan wisata dan menjadikan itu sebagai salah satu sifat terpuji wanita-wanita Muslimah (QS. at-Tahrîm [66]: 5), bahkan yang berwisata—walau sekadar untuk bersenang-senang—diperkenankan mempersingkat shalatnya yang empat rakaat menjadi dua  saja. Ini tentu dengan syarat yang dibahas dalam hukum Islam.

Kehidupan di pentas bumi  ini—dinamai dunia—yang dalam bahasa aslinya berarti dekat dan rendah bahkan hina. Kedekatan dan kerendahan itu adalah jika dibanding dengan pasangannya, yaitu akhirat (QS. at-Taubah [9]: 38).

Kerendahan dan kehinaan itu dapat berubah menjadi ketinggian dan kemuliaan bila penghuninya menghiasinya dengan nilai Ilahi. Tanpa hal tersebut maka dunia hanya menjadi  “seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering lalu menguning dan layu, hancur berantakan” (QS.  al-Hadîd [57]: 20).

Sekali lagi Anda dapat memanfaatkan dan menikmati dunia, asal jangan larut dalam kenikmatannya. Di tempat inilah manusia dicoba dengan berbagai ujian, apa yang diperoleh di sini dari aneka kenikmatan akan kita tinggalkan dengan kematian, atau ia yang meninggalkan kita karena hilang atau binasa. Namun demikian, harus disadari bahwa kita pasti akan ditanyai dari mana dan bagaimana diperoleh kenikmatan itu dan untuk apa, kepada siapa serta seberapa banyak ia digunakan.

Kendati keadaan dunia seperti itu, namun jangan mencercanya, apalagi mengabaikannya, karena dunia—juga—adalah arena kebenaran  bagi yang menyadari hakikatnya, tempat dan jalan  kebahagiaan bagi yang memahaminya. Di sana ditemukan aneka pelajaran bagi yang merenung memperhatikan fenomenanya.

Sejak dahulu—lebih-lebih kini—dunia bergerak dengan cepat. Pasangannya, yakni akhirat, juga dari saat ke saat semakin mendekat. Keduanya memunyai putra putri. Jadilah putra akhirat karena seorang anak selalu ingin melekat bersama ibunya, lebih-lebih pada saat bahaya mencekam. Jangan menjadi putra dunia karena dunia akan binasa sehingga bila Anda menjadi putranya Anda tidak akan menemukan ibu yang merangkul Anda.  Demikian, wa Allâh A’lam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini