Minggu, 20 Januari 2019

Sekolah NU

Logo NU


Oleh: Asmadji As Muchtar



Masukkan saja di sekolah NU!" kata seorang kiai Nahdlatul Ulama. Hal itu ia kemukakan ketika sejumlah tetangganya meminta saran tentang memilih sekolah untuk anak mereka agar beradab dan tidak terpengaruh radikalisme atau paham NIIS yang jadi momok dunia.



Yang disebut sekolah NU adalah madrasah diniyah (madin) yang dibuka siang, sore, dan malam di lingkungan masjid dan mushala. Kalau anak sudah telanjur masuk sekolah negeri atau sekolah lain pada pagi hingga siang, mereka bisa masuk madin yang buka sore atau malam.



Saran tersebut memang bukan isapan jempol belaka. Madin mengajarkan pendidikan budi pekerti atau adab, yang esensinya untuk menghargai kehidupan dan memuliakan kematian. Terbukti, sejauh ini belum ada murid atau alumni madin yang terlibat gerakan radikalisme atau terorisme yang lazimnya menghalalkan kekerasan atau membantai sesama (tidak menghargai kehidupan dan tidak memuliakan kematian) atas nama agama dan Tuhan.



Kalau madin mengajarkan jihad, yang dimaksud adalah jihad humanisasi (upaya memuliakan kehidupan dan kematian dengan menyejahterakan bangsa dalam arti seluas-luasnya) dan bukan  jihad dehumanisasi (melecehkan kehidupan dan kematian dengan cara membunuh agar terbunuh dengan harapan bisa menjadi syuhada).



Menghargai kehidupan



Dengan kata lain, anak-anak yang belajar di madin tidak akan tega melakukan kekerasan atas nama agama dan Tuhan. Jangankan membantai sesama, kalau ada sesama yang wafat saja akan ditahlilkan dan didoakan berkali-kali agar sejahtera di alam baka, sedangkan terhadap semua keluarga yang ditinggalkan didoakan selalu tabah dan sabar.



Begitulah, generasi yang tumbuh di lingkungan NU adalah manusia yang sangat menghargai kehidupan dan memuliakan kematian. Menghargai kehidupan berarti berperilaku sopan santun dan tidak akan tega menyakiti atau membunuh sesama. Sementara memuliakan kematian berarti berusaha membantu sesama yang sekarat hingga wafat agar khusnul khotimah dengan tradisi tahlilan dan yasinan.



Tradisi tahlilan dan yasinan di lingkungan warga NU yang berlangsung di rumah duka atau di atas pusara, yang berlangsung hingga hari keseribu dan kemudian dilanjutkan dengan peringatan tahunan dengan sebutan "khoul", merupakan formula ampuh untuk membendung gerakan radikalisme atas nama apa pun yang identik dengan kekerasan hingga pembantaian terhadap sesama yang dianggap sesat.



Bagi warga NU, justru jika ada warga yang dianggap sesat, mereka itu perlu dituntun ketika masih hidup hingga setelah wafat dengan sebaik-baiknya. Ketika masih hidup mereka akan dituntun dengan pengajian-pengajian dan setelah wafat akan dituntun dan dibantu dengan tahlilan dan yasinan.



Boleh saja orang lain menganggap tradisi tersebut adalah bidah. Akan tetapi, bagi warga NU tradisi itu adalah bid'ah khasanah (hal baru yang baik). Sementara bagi tokoh-tokoh NU, mereka justru sering bangga dianggap ahli bidah karena bidahnya adalah bid'ah khasanah. Misalnya, di sejumlah tempat, Gus Mus sering berseloroh di depan warga NU dalam acara-acara pengajian umum. "Katanya kita ini ahli bidah, ha-ha-ha." Lantas semuanya ikut tertawa riang.



Semakin popular



Untuk masa kini dan mendatang, madin yang mengajarkan tradisi tahlilan dan yasinan yang anti radikalisme semakin populer. Bukan saja di wilayah pedesaan, melainkan juga di wilayah perkotaan. Hal ini logis karena banyak orangtua yang berharap anak-anaknya bisa tumbuh jadi manusia yang menghargai kehidupan dan memuliakan kematian alias tidak terlibat radikalisme.



Yang menarik, tradisi tahlilan dan yasinan, dengan label istigasah, sejak ada ujian nasional juga makin populer di sekolah-sekolah negeri yang notabene bukan madin. Misalnya, semakin banyak sekolah negeri yang menggelar acara istigasah yang diwarnai tahlilan dan yasinan menjelang ujian nasional dengan harapan agar semua murid lulus dengan nilai tinggi.



Bahkan, semua makam leluhur seperti makam Walisongo dan makam ulama NU semakin ramai dikunjungi peziarah yang terdiri atas anak-anak sekolah untuk mengisi liburan sehingga semakin memopulerkan tradisi tahlilan dan yasinan. Hal ini tentu menggembirakan semua pihak yang berharap radikalisme tidak berkembang di negeri ini karena semakin populer tradisi tahlilan dan yasinan akan identik dengan semakin tercampaknya embrio radikalisme.



Begitu pula di kampung-kampung, semakin banyak ibu dan bapak yang menggelar acara pertemuan rutin dengan label jamiyah tahlilan dan yasinan dengan biaya swadaya dan suka rela, yang tujuannya untuk menghargai kehidupan dan memuliakan kematian. Dalam hal ini, hidup damai terkesan mengemuka dalam kesederhanaan yang otomatis akan menangkal radikalisme.



Selain itu, tradisi tahlilan dan yasinan juga terbukti mampu menghapus sikap dan perilaku egoisme di lingkungan masyarakat luas. Selama di lingkungan perkampungan masih ada tradisi jamiyah tahlilan dan yasinan, maka warganya akan relatif saling mengenal dengan baik sehingga hubungan antartetangga sudah tidak asing lagi.  Hal ini sangat positif bagi pembangunan bangsa agar semakin beradab dalam arti luas.



Kurang maju



Jika kini muncul kecemasan bahwa generasi muda di negeri ini menjadi target perekrutan kelompok radikal, respons termudah bagi orangtua adalah menyekolahkan anak-anaknya di madin. Sementara itu, respons terpenting bagi pemerintah adalah memberikan bantuan kepada semua madin agar lebih maju dalam arti luas. Terkait hal ini, sekolah-sekolah negeri perlu juga mengajar muridnya menghargai kehidupan dan memuliakan kematian.



Harus diakui, banyak madin yang layak dianggap kurang maju. Misalnya, gaji guru madin yang jauh lebih kecil dibandingkan gaji guru negeri yang bersertifikasi. Bahkan, masih banyak guru madin yang tidak menerima gaji dan tunjangan. Oleh karena itu, kesenjangan penghasilan guru seharusnya segera diperhatikan pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah perlu mengalokasikan anggaran memadai untuk meningkatkan kualitas pendidikan di madin agar semakin maju atau sejajar dengan sekolah negeri.



Keterlaluan jika pemerintah sampai membiarkan madin bercitra kurang maju, mengingat kontribusinya terhadap deradikalisme sudah jelas-jelas tak terbantahkan. Sementara deradikalisme sama dengan upaya menjaga integritas dan integrasi bangsa sesuai spirit mempertahankan keutuhan NKRI. [FM]



KOMPAS, 3 Juni 2015

Asmadji As Muchtar | Wakil Rektor III Unsiq Wonosobo, Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini