Sabtu, 05 Januari 2019

Perspektif Budaya Islam Nusantara



Oleh: Ali Masykur Musa


Di Indonesia upaya menjaga keramahan Islam terjaga berkat upaya pilarpilar Islam yang tumbuh dan berkembang dengan baik.


Pilar-pilar itu adalah organisasiorganisasi Islam dan pondok pesantren yang sejak kelahirannya hingga sekarang terus berjuang dengan caranya sendiri untuk mewujudkan Islam Nusantara. Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW pada abad ke-6 M menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia.


Islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Islam masuk ke Indonesia yang dulu dikenal sebagai Nusantara, sejak pertengahan abad ke-7 Masehi, sezaman dengan era Khalifah Utsman bin Affan. Semangat penyebaran Islam dipicu oleh Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, "Sampaikan apa yang ada dari aku sekalipun satu ayat (balighu ani walau ayatan)".


Sejarah mencatat, yang paling awal membawa seruan Islam ke Nusantara adalah para saudagar Arab, yang sudah membangun jalur perhubungan dagang dengan Nusantara jauh sebelum Islam (Wheatley, 1961). Datangnya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai. Tidak ada catatan sejarah yang menuliskan bahwa Islam masuk ke bangsa kita melalui jalan darah.


Islam mengetuk pintu Nusantara melalui jalur perdagangan, dakwah, perkawinan, ajaran tasawuf dan tarekat, serta jalur kesenian dan pendidikan, yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang di Indonesia. Menguatnya istilah "Islam Nusantara" dewasa ini mengingatkan kita pada wacana "Pribumisasi Islam" yang pernah dilontarkan Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid beberapa dekade lalu.


Islam pribumi sesungguhnya berakar pada semangat yang telah diajarkan oleh Wali Songo dalam dakwahnya ke wilayah Nusantara sekitar abad 15 dan 16 di Pulau Jawa. Dalam hal ini, Wali Songo telah berhasil memasukkan nilai-nilai lokal dalam Islam yang khas keindonesiaannya.


Penghargaan Budaya


Kreativitas Wali Songo ini melahirkan gugusan baru bagi nalar Islam yang tidak saklek meniru Islam di Arab. Tidak ada nalar Arabisme yang melekat dalam penyebaran Islam awal di Nusantara. Penghargaan yang tinggi terhadap kebudayaan pribumi adalah kunci keberhasilan jalan masuk Islam secara massal terbuka dalam masa relatif singkat.


Misalnya yang dilakukan Sunan Bonang dengan menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu menjadi bernuansa zikir yangmendorongkecintaanpada kehidupan transendental. "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang. Begitu pula yang dilakukan Sunan Kalijaga yang memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.


Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh apabila diserang pendiriannya lewat purifikasi. Mereka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan, jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah.


Dialah pencipta Baju Takwa, Perayaan Sekaten, Grebeg Maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Profil pusat kota berupa keraton, alun-alun dengan dua beringin serta pari diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu Buddha. Hal itu terlihat dari arsitektur Masjid Kudus.


Bentuk menara, gerbang, dan pancuran atau padusan wudu yang melambangkan delapan jalan Buddha adalah sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Itulah yang dilakukan Wali Songo dalam dakwah Islam ke Nusantara.


Dengan tidak melakukan purifikasi ajaran secara moral, melainkan melakukan adaptasi atau penyesuaian terhadap kondisi sosiobudaya masyarakat setempat sehingga masyarakat tidak melakukan aksi perlawanan atau penolakan terhadap ajaran baru yang masuk.


Dengan demikian, Islam pribumi sebagai bagian dari pertarungan wacana merupakan kelanjutan dari gagasan-gagasan sebelumnya dengan semangat dan tantangan yang sama. Tantangan yang dihadapi Islam pribumi adalah universalisasi Islam dalam segala bentuknya yang mengarah pada Arabisme Islam.


Islam Nusantara


Pada abad ke-20 ini, muncul paham-paham Islam fundamental dan radikal yang mencoreng keramahan Islam. Islam mengajarkan dakwah dengan cara kelembutan dan cara-cara yang baik, bukan dengan ancaman maupun kekerasan.


Hal ini sangat diametral, mengingat Islam merupakan rahmatan lil rahmatan lil alamin. Jika paham tersebut terus terpelihara, sangat mungkin akan menghancurkan persatuan umat Islam, bahkan melahirkan stigma negatif terhadap Islam.


Hanya karena kepentingan kelompok, mereka rela melakukan kekerasan dan pemaksaan atas nama Islam. Dampaknya akan sangat berimbas pada umat muslim yang tinggal di wilayah minoritas. Mereka akan mendapat perlakuan diskriminasi dan tersudutkan di pojok-pojok kehidupan.


Di Indonesia upaya menjaga keramahan Islam terjaga berkat upaya pilar-pilar Islam yang tumbuh dan berkembang dengan baik. Pilar-pilar itu adalah organisasi-organisasi Islam dan pondok pesantren yang sejak kelahirannya hingga sekarang terus berjuang dengan caranya sendiri untuk mewujudkan Islam Nusantara.


Organisasiorganisasi ini memiliki akar jamaah kuat di lapisan masyarakat, yang secara sosiologis berbeda satu sama lain. Di antaranya Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, dan lainnya. Ormas dan ponpes adalah bagian dari peradaban dan kekayaan intelektual Islam Indonesia.



Sementara itu, pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang sudah cukup tua. Selain lembaga pendidikan, pesantren juga disebut sebagai lembaga kebudayaan. Pesantren hingga kini menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia.


Pesantren merupakan ruang bagi para kiai/ ulama untuk mewariskan ilmu pengetahuan, melestarikan ajaran, tradisi, dan pengaruhnya ke masyarakat melalui cara yang sangat khas. Kehadiran ormas dan pesantren, ditambah dengan kekayaan budaya, membuat nilai-nilai Islam masuk melebur menjadi satu kesatuan dan semangat kebangsaan yang kuat.


Melalui khasanah adat istiadatnya, Indonesia mampu menjadi sebuah negeri yang plural, namun tetap menyatukan keragaman budaya dalam ikatan Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila sebagai dasar negara mampu meleburkan sektesekte primordial menjadi semangat kesatuan.


Akulturasi Islam dan budaya lokal melahirkan Islam Nusantara yang ideal, berkarakter dan terorganisasi dengan baik. Islam Indonesia bersifat plural, moderat, toleran, dan menebarkan perdamaian bagi semuagolongan. Bisadikatakan, Nusantara merupakan tempat pertemuan dua perspektif Islam.


Indonesia yang multikultural menjadi filter dalam masuknya perspektif Islam dari Barat dan Timur Tengah. Dari semua itu patutnya kita sepakat bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang ideal untuk dijadikan muara keislaman di dunia. Maka, dalam hal ini pemerintah dan semua pihak harus mempunyai kepekaan di dalam menebar Islam Nusantara dengan cara-cara kebajikan sekaligus menjunjung tinggi nilai budaya dan tradisi.


Menjaga kearifan lokal asli Nusantara merupakan perwujudan sikap nasionalisme kepada negara Indonesia. Dengan perpaduan nasionalisme dan keramahan Islam, Indonesia mampu menggapai puncak kejayaannya. Insya Allah. []



Koran SINDO, 27 Juni 2015 − 09:29 WIB
Ali Masykur Musa | Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini