Sabtu, 05 Januari 2019

Memimpikan Media Layaknya Juhainah

KH. Said Aqil Siroj


Oleh: KH. Said Aqil Siroj

Yang paling akhir masuk surga ialah seseorang dari Juhainah. Ia biasa dipanggil Juhainah. Penghuni surga berkata, 'Pada Juhainah ada kabar yang meyakinkan,'" Al-Mayanisyi alias Abu Hafesh Umar bin Abdul Majid al-Qarsyi dalam kitabnya, Al-Ikhtiyar.


Suka tidak suka harus diakui bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah mengalami degradasi moral yang sangat akut. Korupsi terjadi sedemikian mengakar hingga pemberantasannya begitu sulit dilakukan, sampai-sampai lembaga anti rasuah yang khusus dibentuk tak kunjung bisa memberangus kejahatan itu. Narkoba dan asusila konon kabarnya sudah menjangkiti kalangan pejabat negara sebagai penikmatnya. Efeknya, masyarakat awam menjadikan kejahatan itu sebagai jenis yang tak lagi tabu dilakukan.


Karut-marut bangsa menjadi semakin parah ketika politik tidak dijalankan sebagaimana fungsinya. Kepentingan jahat menjadi penumpang gelap yang justru menjadi pengendali arah politik bangsa, hingga rakyat menjadi korban. Ekonomi tak stabil, keamanan dan stabilitas bangsa dipertaruhkan. Sebagai negara yang dikenal berpenduduk Muslim terbesar di dunia, kondisi ini tentu sangat tidak ideal dan tak boleh terus dibiarkan.


Sejak era Reformasi dimulai 17 tahun silam, sebenarnya ada satu kekuatan yang memiliki peran strategis untuk membantu bangsa mencapai tujuan mulia: membangun stabilitas ekonomi, menjamin keamanan, persatuan dan kesatuan bangsa, serta mencapai kesejahteraan rakyat. Kekuatan itu adalah pers yang dalam terapannya berupa media massa, baik cetak maupun elektronik. Kekuatan inilah yang seharusnya bisa ikut membantu mengatasi degradasi moral bangsa Indonesia.

Tiga fungsi media massa


Media massa pada dasarnya memiliki tiga fungsi utama. Pertama, penyampai informasi. Sebagai perantara antara sumber dan penerima informasi, media massa harus dijalankan dengan lurus dan tidak berpihak pada kepentingan tertentu. Di sini, akurasi informasi adalah patokannya. Layaknya sebuah corong pengeras, media massa tidak memiliki hak mengubah irama, tetapi hanya meninggikan nada agar suara yang disampaikannya bisa menjangkau seluruh penjuru. Dalam bentuk tulisan proses penyuntingan tentu tidak dapat ditinggalkan untuk tercapainya bentuk bahasa yang tertata, tetapi substansi informasi tidak boleh dibelokkan.


Kedua, fungsi media massa adalah mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebenaran informasi yang disampaikan media massa kepada masyarakat sebuah bangsa adalah alat membantu tumbuh dan berkembangnya masyarakat menjadi semakin melek terhadap seluruh fakta yang terjadi di negaranya dan dunia pada umumnya. Ibarat jendela informasi, media massa adalah buku yang sangat kaya isi, tidak terbatas pada satu bahasan tertentu. Dengan mengakses media massa bermaterikan informasi yang benar, tentu akan menjadikan masyarakat semakin cerdas.


Ketiga, media massa memiliki peran strategis sebagai perekat persatuan dan kesatuan sebuah bangsa. Tidak perlu dijelaskan apa jadinya sebuah negara jika di dalamnya terdapat media massa penyampai informasi yang tidak akurat, memihak, dan materinya menyesatkan. Pemilik kepentingan menunggangi informasi sehingga masyarakat penerima teradu domba. Tentu perpecahan akan terjadi.


Karena itu, media massa yang mendapat kebebasan sebebas-bebasnya ketika reformasi dimulai harus mampu mempertanggungjawabkan informasi yang disampaikannya untuk tujuan mulia reformasi: membangun stabilitas ekonomi, menjamin keamanan, persatuan dan kesatuan bangsa, serta mencapai kesejahteraan rakyat.


Kejujuran Juhainah


Pada zaman Rasulullah SAW hidup kaum yang masyarakat di dalamnya biasa dipanggil Juhainah. Kejujuran menjadi ciri utama kaum tersebut. Setiap informasi jika bersumber dari kaum Juhainah, masyarakat Arab saat itu sangat memercayai sebagai sesuatu yang tak perlu diragukan kebenarannya. Sebegitu jujurnya kaum Juhainah, ada peribahasa berbunyi: "Pada Juhainah ada kabar yang meyakinkan."

Dalam pemahaman saya, pekerjaan media massa ibarat tugas para nabi. Media massa memegang amanat besar, dipercaya untuk memantau dan mengontrol jalannya pemerintah dan penopangnya, termasuk organisasi kemasyarakatan, yang mendapatkan mandat dari rakyat. Media massa harus menjaga amanat itu dengan senantiasa mengingatkan pemerintah untuk menunaikan setiap janji dan program yang dicanangkan. Seperti peran nabi, sampaikanlah kebenaran, tunjukkan antara yang hak dan batil, jangan biarkan pemerintah dan masyarakatnya terjerumus dalam kesalahan.


Saya termasuk bagian dari masyarakat yang mengonsumsi media massa sebagai salah satu sumber referensi dalam mengambil kebijakan dan bersikap dalam menjalankan roda organisasi yang saya pimpin. Tak pelak, jika ada kekeliruan dalam mengambil kebijakan dan merawat umat, boleh jadi karena sumber informasinya juga keliru. Karena itu, mohon jangan sesatkan saya agar tak salah melangkah.

Akan sangat ideal jika media massa dapat berperan layaknya Juhainah pada zaman Nabi SAW. Kebenaran sebuah informasi dari media massa tidak hanya mampu mencerdaskan masyarakat pembaca, pendengar, ataupun pemirsa, tetapi juga mencegah kesesatan. Masyarakat yang tidak sesat informasi tentu akan terhindar dari potensi adu domba, mencegah pada muara perpecahan bangsa dan negara.

Untuk bisa mencapai kondisi tersebut, media massa harus sehat, baik fisik maupun psikis. Sehat fisik berarti berbadan hukum sesuai ketentuan yang berlaku, mampu dalam manajerial dan keuangan, serta memiliki sumber daya manusia yang laik dalam menjalankan roda perusahaan sebagaimana fungsinya. Sehat psikis tentu terletak pada materi pemberitaan yang disampaikan, harus benar, tidak dipelintir alias sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Tidak dapat dimungkiri media massa saat ini menjadi salah satu bentuk bisnis yang banyak dipilih pemodal. Kondisi ini terkadang menjadikan media massa justru menjadi tidak sehat fisik dan psikis. Maka, dibutuhkan sikap tulus ikhlas yang dibarengi semangat mengabdi dalam menjalankan media massa, agar materi pemberitaan yang disampaikan tidak sesat menyesatkan sehingga dapat membantu mencerdaskan dan mencegah perpecahan bangsa dan negara.

Walhasil, harian Kompas, di mata saya sebagai bagian dari masyarakat yang mengonsumsi pemberitaan, sejauh ini sudah mampu menjalankan tiga fungsi media massa yang saya sebut di atas: menyampaikan informasi yang benar, mencerdaskan, serta menjadi perekat bangsa dan negara. Pada usianya yang sudah menginjak setengah abad, semoga harian Kompas dapat mempertahankan capaiannya, tak lelah terus meraih kebaikan yang memang harus diupayakan, dan teruslah sampaikan kejujuran layaknya Juhainah. Selamat ulang tahun harian Kompas. [FM]

Sumber ; KOMPAS, 28 Juni 2015

KH Said Aqil Siroj | Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini