Sabtu, 15 Desember 2018

Tangisan Rais Aam

Logo Nahdlatul ulama

Oleh: H Saliyun Moh Amir

SALAH satu agenda Munas Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Kaliurang, Yogyakarta, pada 30 Agustus-3 September 1981 adalah pembaiatan rais aam PBNU yang baru. Sejak KH Bisri Syansuri berpulang pada 30 April 1980, hampir setahun jabatan itu dibiarkan kosong. Bukan karena ada apa-apa melainkan pengisian jabatan puncak dalam struktur PBNU itu tidaklah sederhana. Musyawarah para ulama dan kiai akhirnya bersepakat bulat memilih KH Ali Maksum, pengasuh Ponpes Krapyak Yogyakarta menjadi rais aam menggantikan Bisri Syansuri. 

Pembaiatan dilakukan Prof KH Anwar Musyaddad, wakil rais aam. Untuk beberapa saat suasana munas/konbes itu hening karena para kiai peserta munas larut dalam keharuan mendengar Kiai Ali Maksum menangis sesenggukan setelah dibaiat Ajengan Anwar Musyaddad dari Garut, Jabar. 

Dalam kehidupan sehari-hari, menangis biasanya pertanda sedih atau bisa juga luapan kegembiraan. Tapi tangis Kiai Ali Maksum saat itu benar-benar karena sedih akibat dipilih sebagai rais aam.

Di sela tangisnya, putra sulung KH Maksum yang lahir di Lasem, 15 Maret 1915 itu mengatakan dirinya merasa sangat berat menerima jabatan itu. Ia merasa kurang mampu mengisi kedudukan tertinggi dalam jam'iyah NU, yang penuh rasa tanggung jawab itu. Di sela tangisnya, kalimat yang diucapkannya dalam Bahasa Arab begitu indah sehingga para kiai pesera munas kagum dan tertegun. Ia yang menguasai bahasa dan sastra Arab, tidak lupa mengutip pidato Sahabat Abu Bakar as- Shidiq, "Inni qad wullitu alaikum walastu bi khairikum. Idza raaitum fiyya I'wijajan fa qawwimuny wa'ziluny watharahuny fi al-mazbalah." Artinya, sesunguhnya aku telah diberi kepercayaan atas kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik dari kalian. Oleh karena itu, jika kalian melihatku melenceng, maka luruskanlah aku, hindarkan aku dari kesalahan, dan tegurlah aku sampai ke tempat yang baik." Bahwa dengan alasan masih banyak ulama lain yang lebih alim darinya, ia menolak menjadi rais aam. Baru setelah dirayu KH Dr Idham Chalid, ketua umum PBNU akhirnya Kiai Ali Maksum bersedia. 

Dari riwayat hidupnya, ia memang memiliki kepribadian yang sarat dengan sifat sederhana, berpembawaan tenang, dan wira'i. Tak mau menonjolkan diri, apalagi meminta untuk dipilih. Namun di balik kesederhanaanya, ia mampu menyelesaikan persoalan pelik NU lewat pemikiran jernihnya. Di antaranya saat konflik di tingkat elite menjelang munas dan konbes itu. Pemikirannya bisa diterima kedua belah pihak. Ia juga ikut memediasi konflik berat kubu Cipete (Idham Chalid) versus kelompok kiai pimpinan KHR As'ad Syamsul Arifin, menjelang Muktamar Ke-27 NU di Situbondo.

NU Berubah Membaca sejarah NU sejak lahir 1926, kita bisa melihat kealiman, kesederhanaan, keikhlasan, dan keistikamahan para ulama dan kiai. Seperti penolakan dari Kiai Ali Maksum menjadi rais aam. Hal serupa terjadi di Muktamar Ke- 12 NU di Malang 1937 tatkala KH Mahfudz Siddiq terpilih sebagai ketua umum PBNU mendampingi KH M Hasyim Asy'ari sebagai rais akbar. Kiai Mahfudz Siddiq yang saat itu berusia 30 tahun menolak dengan alasan masih muda, banyak kiai lain yang lebih senior dan berpengalaman. Kendati pun akhirnya ia berucap," sendika dhawuh. Sami'na wa atha'- na" setelah gurunya di Tebuireng, KHM Hasyim Asy'ari, memintanya berkhidmat sekuat-kuatnya pada NU. 

Zaman dulu, kiai NU pasti berebut "tidak mau" alias menolak bila dipilih atau ditunjuk memangku jabatan apa pun. Begitu rendah hati dan sangat hati 5hati menjaga diri untuk tak melanggar amanah dan agamanya. Tetapi itu dulu mengingat kini NU berubah 180 derajat. Kita bisa melihat di muktamar di Jombang saat itu terjadi perubahan dan erosi di lingkungan warga nahdliyin. 

Apakah benar penilaian para pengamat bahwa NU kini jauh dari ulama, tak lagi mau mengikuti tuntunan ulama sepuh? Mengapa muktamarnya orang Islam ahlussunnah wal jamaah yang bercirikan tawasuth wal'itidal, tamazzun, tasamuh, dan tasawur, juga pioner sikap toleran itu bisa ricuh. Bahkan tak malu disaksikan orang sejagat? [FM]

Sumber : SUARA MERDEKA, 6 Agustus 2015
H Saliyun Moh Amir | Sekretaris Utama PW GP Ansor Jawa Tengah 1964-1971, Ketua PW LKKNU Jawa Tengah 1983-1994

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini